Fika yang merasa kalau apa yang Icha ucapkan itu mengatai dirinya, langsung memasang wajah marah. Dengan tangan yang digenggam erat, dia berusaha meredam emosinya yang siap meledak.
"Dua hati yang saling mengerti? Apakah itu kalian miliki, mbak Icha? Karena aku lihat, jika kalian punya apa yang kamu katakan barusan, lalu kenapa kamu masih belum hamil juga sampai detik ini? Bukankah pernikahan kalian sudah lebih dari satu tahun?"
"Sudah aku katakan sebelumnya, bukan? Semua yang kami alami sekarang, sudah sama-sama kami pertimbangkan baik-baik. Jika kami sekarang masih belum diberikan keturunan, maka itu bukanlah kehendak kami. Karena kuasa Allah lah yang menentukan segala. Lagian, tidak punya momongan dalam waktu satu tahun juga bukan hal yang buruk. Karena aku masih bisa bermanja-manja dengan suamiku sepenuhnya."
Semakin kesal dan semakin sakit lah hati Fika beserta keluarganya mendengar ucapan Icha barusan. Sementara kedua orang tua Aditya, terutama mamanya Aditya malah sangat bahagia. Wajah puas terlihat dengan sangat jelas di raut wajah mereka.
Menantu idaman. Tidak menanggapi masalah dengan emosi dan kemarahan. Tapi, menangapi masalah dengan penuh ketenangan. Hal itu membuat kedua orang tua Aditya merasa bangga akan sikap yang Icha miliki.
Apalagi apa yang Icha ungkapkan barusan itu dapat pembenaran dari semua tamu undangan yang mendengarkan pembicaraan hangat itu. Para tamu undangan malah mendukung Icha sepenuhnya. Bertambah lah rasa bangga dalam hati kedua orang tua Aditya akan menantu mereka ini.
Sementara Aditya yang ada di samping Icha hanya diam saja. Tapi sejujurnya, dia juga merasa bahagia. Merasa bangga akan sikap istrinya barusan. Selalu bisa dia andalkan saat menghadapi masalah keluarganya. Terutama, menanggapi masalah dengan tantenya ini.
Tapi sayangnya, rasa bangga juga bahagia itu tidak pernah dia akui ada oleh Aditya. Karena saat rasa itu muncul, dia yang egois langsung menutup hatinya dengan sikap tidak suka secepat mungkin. Bahkan, dia timbun rasa itu dengan rasa benci. Yang pada akhirnya, apapun yang Icha lakukan tidak ada yang bisa membuat dia bahagia. Hanya bisa terlihat biasa-biasa saja di matanya.
Acara pertunangan Fika berakhir dengan lancar. Meski dengan wajah kesal dan sangat tidak puas hati karena kalah saat berdebat dengan Icha tadinya. Namun mama Fika masih bisa menyela apa yang Icha katakan. Pukulan mereka langsung dituju pada Aditya yang sibuk dengan profesinya.
"Jangan terlalu percaya dengan kak Aditya, mbak Icha. Dia seorang dokter kandungan yang setiap harinya selalu berhadapan dengan perempuan. Ya kamu paham lah apa yang aku maksudkan," ucap Fika sambil berbisik ke telinga Icha sebelum dia beranjak meninggalkan tempat dia berdiri sebelumnya.
Icha hanya diam saja. Tidak berniat untuk menjawab lagi. Karena sekarang, bisikan itu tidak ada yang mendengarkan selain dia.
Sejujurnya, sejak pertama kali perdebatan itu terjadi, hati kecil Icha sudah tersayat akibat kata-kata yang keluarga tante suaminya ucapkan. Bagaimana tidak? Apa yang mereka katakan itu sangat-sangat benar.
Ingin rasanya dia bicara, atau bahkan berteriak untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan rumah tangga yang sedang dia jalani. Tapi ... perempuan yang punya hati baja seperti dia mana mungkin akan melakukan hal bodoh itu. Hal yang sama sekali tidak ada untungnya.
Bukan malah merubah keadaan ke yang lebih baik. Tapi akan memperburuk keadaan. Juga akan merusak segalanya. Hal yang sudah rusak, akan semakin rusak jika dia tidak menahan rasa sakit yang dia rasakan.
Sepanjang perjalanan pulang, Icha hanya diam sambil melihat ke arah luar. Tidak ada satu patah katapun yang dia ucapkan sejak dia duduk di dalam mobil tersebut.
Sementara Aditya yang dingin, malah membiarkan saja apa yang Icha ingin lakukan. Tidak ada satu kata maaf, atau mungkin ucapan terima kasih yang terucap dari bibirnya sebagai tanda imbalan atas apa yang Icha lakukan di tempat pesta tadi.
____
Setelah kejadian tadi malam, Icha berusaha mengabaikan segala yang terjadi dengan hati juga pikirannya. Dia bagun dan berangkat lebih awal dari Aditya. Setelah menyiapkan sarapan untuk Aditya tentunya. Kegiatan rutin yang dia lakukan setiap hari sejak dia menikah dengan Aditya.
Anehnya, Aditya tidak pernah menolak jika Icha menyiapkan sarapan buat dirinya. Hal itu selalu Icha manfaatkan sebagai cara untuk lebih dekat, atau bahkan cara agar bisa mencuri hati suaminya. Namun sepertinya sama sekali belum berhasil.
Saat Aditya sampai ke lantai dasar, dia langsung menuju meja makan. Tapi, hari ini ada yang aneh. Dia sama sekali tidak menemukan Icha di sana.
Perempuan yang biasanya selalu duduk menanti dia untuk sarapan bareng tak kira hari libur maupun hari tugas. Tapi pagi ini malah tidak ada.
Entah perintah yang datang dari arah mana. Aditya langsung mencari Icha ke arah dapur. Dia juga tidak melihat Icha di sana. Bahkan, Aditya sempat mengecek ke kamar mandi dapur tersebut. Juga tidak ada.
"Ke mana dia?" Aditya bergumam sambil berjalan menuju meja makan kembali.
Di sana, dia melihat sebuah kertas kecil yang terselip di antara piring sarapan. Aditya langsung mengambil kertas tersebut dengan cepat.
Karena rasa penasaran yang sangat besar akan keberadaan Icha sekarang. Aditya langsung membaca tulisan yang ada di kertas itu dengan cepat.
*Maaf, kak Adit. Aku sarapan dan berangkat duluan. Kamu silahkan sarapan sendiri, karena hari ini aku sedang buru-buru.
Aditya langsung meremukkan kertas kecil itu dengan penuh emosi.
"Dia pikir siapa dia? Bisa-bisanya dia bikin aku merasa cemas barusan. Cemas dengan keadaan ya yang baik-baik saja. Dasar perempuan tidak tahu diri kamu."
Entah marah atau kesal pada siapa Aditya saat ini. Yang jelas, dia memutuskan untuk langsung berangkat tanpa menyantap atau mencicipi sedikitpun sarapan yang Icha sediakan.
"Kau pikir aku hanya bisa sarapan di rumah saja? Hanya bisa makan sarapan yang kau buatkan? Tidak! Aku juga bisa makan di luar. Ah ... merusak mood pagi ku saja," ucap Aditya sambil masuk ke dalam mobil, lalu membanting pintu mobilnya dengan keras.
"Lihat saja! Aku akan makan diluar hari ini." Dia bergumam lagi.
"Aghhh ...!" Aditya berteriak sambil memukul stir mobil dengan penuh emosi.
Karena tidak fokus dengan jalan yang dia lalui, Aditya langsung menabrak mobil yang ada di depannya. Untung saja dia tidak ngebut. Jika tidak, mungkin akan berakibat fatal.
Sementara itu, Icha yang sudah berada di rumah sakit langsung di samber oleh Dwi. Dengan wajah yang agak panik, Dwi langsung menarik Icha agar duduk di sampingnya.
"Ya ampun, Wi .... Ada apa sih kamu ini? Apa gak bisa ajak aku duduk secara baik-baik kah? Main tarik aja. Kamu pikir aku tambang yang sesuka hati bisa kamu tarik-tarik?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Zayyan💕💞💖
kpn lh bucinnya ini thor? kok lma bnget
2022-09-08
2
Zayyan💕💞💖
kna memtal tuh
2022-09-08
1