Perjalanan menuju gedung tempat di mana pertunangan itu dilaksanakan berlangsung tanpa ada kata yang terucap. Keduanya saling diam hingga mobil yang mereka tumpangi sampai ke tempat tujuan.
Gedung khusus yang biasanya digunakan sebagai tempat pernikahan itu mereka sewa sebagai tempat pertunangan. Hal itu membuat Icha berpikir kalau ini terlaku berlebihan sebenarnya.
Karena jika pertunangan semewah ini, harus seperti apa pernikahannya nanti. Apakah harus mengundang orang satu kota sebagai tamu undangan? Itulah yang Icha pikirkan sampai mobik berhenti pun dia masih tidak turun juga.
Aditya yang melihat hal itu langsung mendengus kesal. Terpaksa, dia harus membuka pintu mobil untuk Icha. Hal yang seharusnya tidak perlu dia lakukan saat ini. Karena sandiwara akan di mainkan di dalam gedung, bukan di tempat parkiran.
"Silahkan turun, nyonya! Haruskah aku bentang karpet merah dulu baru kamu turun, ha?" Aditya bicara penuh dengan penekanan. Hal itu membuat Icha sadar, kalau Aditya sedang kesal sekarang.
"Maafkan aku, kak Adit. Aku gak tahu kalau kita sudah sampai."
"Jika belum sampai, mana mungkin aku turun. Bicara jangan terlalu banyak sandiwara. Karena sekarang belum saatnya bermain peran."
"Aku pikir sudah, kak. Lihatlah di sana, itu adalah suami tante mu, bukan?"
Aditya langsung melirik ke arah yang Icha tunjuk dengan matanya. Di sana, dia melihat orang yang Icha maksud sedang bicara dengan papa dan mamanya.
Sekali lagi, Aditya mendengus kesal karena melihat keluarganya yang berada di luar gedung sekarang. Karena keberadaan mereka membuat dia harus bersandiwara lebih awal.
"Baiklah kalau begitu. Ayo mulai bermain peran masing-masing. Ingat! Jangan buat mama malu karena kita berdua. Harus bersandiwara sebaik mungkin agar tidak ada yang curiga."
"Baiklah. Percayakan saja padaku," ucap Icha sambil menggandeng tangan Aditya.
Mereka langsung berjalan sambil bergandengan tangan. Terlihat sangat mesra. Persis seperti pasangan harmonis pada umumnya.
Saat sampai ke tengah-tengah keluarganya, mereka berdua langsung di sambut hangat. Senyuman juga ucapan manis tentunya tidak terlewatkan di antara perbincangan singkat tersebut. Selanjutnya, mereka langsung masuk ke dalam gedung secara bersama-sama.
Si biang onar, tantenya Aditya langsung menyapa kakaknya sekeluarga. Awalnya sih masih terdengar normal. Namun itu tidak bertahan lama. Karena sudah sifatnya tante Aditya itu biang onar. Mana mungkin betah untuk bersikap normal terlalu lama.
"Ah, Ditya ... keponakanku yang tampan. Kamu dan istrimu datang juga ternyata."
"Sudah pasti kami datang, tante. Karena kami diundang. Jika tidak, mana mungkin kami mau datang. Iyakan?" Aditya bicara dengan nada kesal yang terdengar penuh dengan penekanan.
"Ah kamu ini, Ditya. Kalo gak tante undang juga kamu harus tetap datang dong. Orang yang bertunangan itu adik sepupu kamu. Masa iya kamu gak ada di hari bahagianya adik sepupu sendiri."
"Oh iya, Mbak Maya. Calon menantu aku itu orang kaya lho. Dia apa-apa maunya serba mewah. Sampai-sampai, acara pertunangan aja maunya sangat besar. Kami terpaksa sewa gedung ini buat acara pertunangan Fika. Selain biar terlihat mewah, juga biar semua orang tahu, kalau Fika itu sudah bertunangan. Jadi tidak ada yang di sembunyikan lagi."
Tante Aditya bicara sambil melirik Aditya dan Icha. Jelas sekali kalau perempuan paruh baya itu sedang memberikan sebuah sindiran buat keluar Aditya barusan. Hal itu bikin Aditya sangat kesal sebenarnya. Hanya saja, tidak ingin terlalu terpancing karena tidak ingin menyebabkan keributan hanya gara-gara masalah sepele.
Tepat saat itu pula, Fika dan calon tunangannya muncul di tengah-tengah mereka. Pasangan yang terlihat sangat bahagia itu juga tidak lupa memperlihatkan kemesraan juga keromantisan mereka di depan semua orang. Terutama di depan Aditya. Orang yang selama ini jadi perbandingan dalam keluarga mereka.
"Eh, kak Adit dan mbak Icha juga datang ke acara pertunangan aku? Aku pikir kalian gak berani datang ke sini malam ini. Tahunya ... datang juga ya," ucap Fika dengan nada penuh ejekan.
"Apa maksud kamu dengan kata gak berani yang kamu ucapkan barusan, Fika? Jangan gitu ah dengan kakak sepupu sendiri," ucap mamanya pura-pura menegur. Tapi pada kenyataan, hanya semakin ingin memancing ucapan anaknya agar lebih terbuka saja lagi.
"Ya aku bicara apa adanya saja lho, Ma. Bukankah harusnya, kak Adit ini malu buat datang ke acara pertunangan aku. Secara gitukan, dia nikah aja gak bikin acara. Cuma ijab kabul di kantor KUA saja. Gelarnya sih tinggi, dokter dan suster. Tapi nikah, gak ada acara sama sekali. Kan bikin malu keluarga itu namanya."
Mendengar ucapan Fika barusan, para tamu undangan yang ada di sana langsung berbisik-bisik satu sama lain. Hal itu bikin kuping Maya selaku orang tua dari Aditya merasa sangat panas.
"Jaga bicara kamu, Fika. Kakak kamu gak bikin acara bukan karena tidak punya dana. Hanya saja, belum punya waktu buat bikin saja. Karena mereka sama-sama sibuk dengan tugas yang mereka emban." Maya berucap kesal sambil melirik sekilas anaknya.
"Sibuk? Gak punya waktu, tante? Ah, yang benar saja alasan itu. Alasan yang terdengar sangat tidak masuk akal lho menurut aku. Kak Aditya sudah menikah selama satu tahun lebih, tapi acaranya masih tidak ada sampai sekarang. Jadi, nunggu sampai kapan sih sebenarnya."
"Alasan itu emang gak masuk akal, mbak. Apa yang Fika anakku katakan itu benar lho ya. Lihat nih, calon menantu aku aja bisa bikin acara megah kek gini. Dia juga punya profesi yang gak kalah ternama kok dari Aditya. Dia angkatan laut, toh masih bisa bikin acara kek gini kan?"
"Iya. Sebenarnya itu tergantung niat aja sih kalo menurut aku. Mau atau tidaknya saja." Calon suami Fika ikut nimbrung.
"Nah ... itukan benar apa yang calon suami aku katakan, kak Adit, mbak Icha. Tergantung niatnya saja. Lagian, aku itu salut lho sama mbak Icha. Salut sekaligus kasihan sih intinya. Salut sama sikap mbak yang tidak banyak nuntut. Tapi kasihan. Sebenarnya, tidak banyak nuntut atau emang tidak bisa nuntut."
Icha yang sedari tadi bersikap tenang. Kini bukannya marah, eh malah mengukir senyum manis di hadapan semuanya.
"Bukan aku yang gak bisa nuntut, Fika. Tapi hanya aku yang gak mau nuntut. Aku tahu kalau kami sama-sama sibuk. Maka dari itu, kami sama-sama mengerti. Karena bahagia itu sebenarnya tidak perlu mewah seperti yang kalian perlihatkan saat ini. Cukup sederhana saja. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya itu adalah, dengan dua hati yang saling memahami. Bukan saling menuntut untuk memperlihatkan kebahagiaan di depan umum."
Sontak, wajah bahagia dan puas yang Fika juga keluarganya miliki barusan mendadak lenyap karena kata-kata Icha barusan. Pukulan keras dengan tepat mengenai sasaran membuat mereka merasa sangat kesal saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Zayyan💕💞💖
ini si tnte ama kluarganya ama aj
2022-09-08
1