*Bab 14

Malam yang panjang Icha lalui dengan kesedihan yang berteman kan dengan air mata. Hampir satu malam dia terus menangis menyesali apa yang sudah terjadi. Sampai akhirnya, saat subuh menjelang, dia baru bisa terlelap karena kelelahan. Bukan karena memang ingin tidur karena mengantuk.

Tapi sayangnya, tidur itu harus terbangun oleh alarm yang dia pasang. Alarm yang selalu dia nyalakan untuk membangunkannya agar bisa sholat subuh dan menyiapkan semua kebutuhan juga pekerjaan sebelum berangkat ke rumah sakit.

Icha terdiam sambil menatap layar gawai. Memikirkan apa yang harus dia lakukan. Akankah dia tetap harus mengerjakan pekerjaan seperti biasa setelah semua yang dia lalui tadi malam? Atau bahkan, membiarkan dirinya tetap diam di kamar ini sebagai tanda kalau semua yang rusak kini sudah hancur lebur?

Terdiam beberapa saat, akhirnya dia memutuskan untuk tetap melakukan pekerjaannya. Tapi, tidak untuk berangkat ke rumah sakit pagi ini. Karena rumah sakit akan membuat hatinya yang sakit akan bertambah semakin sakit saja nantinya.

Bagaimana tidak? Setiap hari itu adalah pertunjukan kedekatan antara suaminya dengan perempuan lain. Hati siapa yang tidak sakit, coba?

Icha lalu beranjak menuju pintu kamarnya. Menarik napas dalam-dalam, lalu melepas napas itu dengan perlahan. Ritual itu dia lakukan sebelum membuka pintu kamar agar hatinya merasa tenang setelah sakit parah tadi malam.

****

Usai memasang, Icha langsung masuk kembali ke kamar. Tentunya setelah menyiapkan makanan buat Aditya sarapan nantinya. Yah ... walaupun sekarang, Aditya sudah terbilang jarang sarapan di rumah selama dua minggu terakhir ini. Karena dia lebih sering sarapan di kantin, atau bahkan di bawakan sarapan dari rumah oleh Serry. Hal yang sangat-sangat romantis bukan? Itulah yang ada dalam pikiran Icha sekarang.

Setelah berada di kamar, Icha langsung menghubungi Dwi lewat chat singkat dari Wa untuk mengatakan kalau dia tidak bilang hadir.

*Dwi sayang. Aku izin hari ini. Tidak bisa masuk karena sedang tidak enak badan. Tolong sampaikan izin libur buat aku ya.*

Icha langsung mengirim pesan itu. Setelah pesan terkirim, dia langsung mematikan sambungan data agar Dwi tidak banyak tanya lagi nantinya. Maklum saja, sahabatnya ini memang terkesan sedikit heboh dan terlalu perhatian. Jadi, dia yang malas menjelaskan, ya hanya bisa pakai cara ini saja.

Dwi yang baru saja membuka mata, langsung menjangkau gawai yang dia letakkan di atas nakas ketika gawai itu berbunyi. Matanya membulat ketika melihat pesan singkat dari sahabatnya.

"Izin tidak enak badan lagi?" Dwi bergumam pada dirinya sendiri.

"Kenapa sih Icha sebenarnya? Dalam dua minggu ini, dia sudah dua kali izin karena tidak enak badan. Lah hari ini ... masa iya izin lagi."

"Aku curiga ada yang tidak beres dengan anak ini. Dia itukan tidak suka berterus terang. Jangan-jangan ada yang tidak beres nih. Ada yang sedang dia rahasiakan dari aku."

"Mm ... aku harus cari tahu sendiri deh kek nya. Jika nanya pada orangnya, mana mungkin akan dia jawab."

"Awas saja jika ada yang dia sembunyikan. Aku pasti akan marah besar padanya nanti," ucap Dwi sambil bangun dari baringnya.

Akhirnya, karena merasa ada yang janggal dengan si sahabat, dia pun membulatkan tekat untuk mencari tahu sendiri. Dia memutuskan untuk izin juga hari ini. Itu dia lakukan agar bisa menyelidiki apa yang Icha sembunyikan dari dirinya.

Sementara itu, Aditya yang baru saja keluar dari kamarnya langsung beranjak menuju meja makan. Dia berniat untuk sarapan dulu sebelum berangkat ke rumah sakit pagi ini.

Aditya sudah berjanji, mulai dari hari ini, dia akan menghargai sarapan yang Icha buatkan. Dia akan makan masakan itu, dan tidak akan makan di luar selagi Icha bersedia masak untuknya.

Sedikit rasa kagum muncul dalam hati Aditya saat tahu kalau Icha masih memasak untuk dirinya. Walaupun saat ini, Icha sedang dalam suasana hati yang tidak baik-baik saja. Maka dari itu, dia akan belajar menghargai perempuan itu walau terasa cukup sulit buatnya.

Setelah makan, Aditya ingin menuju kamar Icha buat bicara dengan istrinya. Namun sayang, gawai yang dia simpan dalam saku celana itu tiba-tiba saja berdering. Hal itu sontak langsung menggagalkan niat Aditya buat bicara.

Saat ponsel itu sudah ada dalam genggaman, tertera nama Serry dengan foto yang sedang berpose imut di sana. Awalnya, Aditya ingin mengabaikan panggilan itu. Tapi sayangnya, Serry tidak membiarkan Aditya melakukan hal itu.

Karena setelah panggilan pertama Aditya abaikan. Panggilan yang kedua datang dengan cepat. Hal itu membuat Aditya tidak bisa menolak untuk tidak menjawab. Bukan tidak bisa, tapi lebih tepatnya, tidak sampai hati untuk menolak.

"Iya, Ser. Ada apa?" tanya Aditya ketika panggilan sudah tersambung.

"Kamu di mana, Ditya? Berangkat atau belum sekarang?"

"Belum sih. Aku masih di rumah ini. Ada apa ya, Ser?"

"Aku gak enak mau bilang."

"Katakan saja. Jangan pakai gak enak gak enak segala. Jika ingin bicara, ya langsung katakan saja. Tidak perlu sungkan, Serry."

"Ya udah deh kalo kamu bilangnya gitu. Tapi jangan berpikir aku ini suka memanfaatkan kamu pula ya."

"Ada apa sih? Jangan berbelit-belit deh."

"Gak sabaran banget sih. Aku itu cuma mau bilang, bisa jemput aku ke rumah gak? Soalnya, lagi malas banget buat pesan taksi online. Pengen hemat dikit soalnya. Ada pengeluaran besar yang sedang aku pikirkan."

Serry terdengar berucap dengan nada yang tidak enak. Hal itu membuat Aditya merasa tidak sampai hati lagi dan lagi.

"Oh ... pengen bilang itu aja pakai gak enak segala. Pakai ritual gak enak panjang lebar pula lagi. Tentu saja aku bisa. Tunggu di sana baik-baik. Aku berangkat sekarang."

"Beneran gak merepotkan kamu, kan Ditya? Aku beneran gak enak lho asal kamu tahu."

"Ah, jangan bilang gak enak lagi gak enak lagi. Ketimbang jemput doang kan gak akan bikin aku repot, Ser."

"Makasih banyak deh kalo gitu. Aku jadi nyusahin kamu lagi. Gak banyak kenal orang di sini sih. Jika banyak kenal, maka gak akan merepotkan kamu terus-terusan kok. Aku janji."

"Ngomong apa sih kamu, Serry? Aku gak merasa kamu repot kan kok. Sama sekali nggak. Jangan terlalu sungkan ya. Ya udah, aku ke sana sekarang. Tunggu aku baik-baik ya."

Akhirnya, panggilan itu putus juga. Aditya langsung menyimpan gawai nya ke tempat semula. Lalu beranjak dari depan kamar Icha dengan cepat.

Ada hati yang terus terluka sekarang. Obrolan barusan itu didengar oleh Icha dengan sangat baik. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menutup mata sambil memegang dada.

Air mata terasa seperti sudah tidak ada lagi. Sudah terkuras habis untuk meratapi apa yang sudah dia lalui tadi malam. Sekarang, meski terasa sangat perih. Tapi tetap tidak mengeluarkan air mata sedikitpun.

Terpopuler

Comments

sella surya amanda

sella surya amanda

lanjut

2022-09-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!