Selesai bicara, Aditya langsung kembali melanjutkan langkah kakinya. Meninggalkan Icha dengan pikiran sedih yang terasa sungguh perih menyayat hati.
Icha membiarkan Aditya melangkah pergi meninggalkan dirinya. Rasa sedih membuat perutnya terasa lapar. Dia kunyah habis semua bolu yang masih tersisa. Lalu, dia teguk habis jus naga yang masih ada setengah gelas lagi.
Lega ... walau pada dasarnya, apa yang dia lakukan sama sekali tidak bisa membantu meringankan sakit dalam hatinya. Tapi setidaknya, perut lapar yang dia rasakan bisa terasa kenyang.
Aditya yang melangkah pergi sempat melirik apa yang Icha lakukan. Satu tahun bersama, dia sungguh bisa mengerti seperti apa sifat Icha walau tidak terlalu memahami maksud dan tujuan sikap perempuan manis itu.
Tanpa sadar, Aditya mengukir senyum tipis sambil berjalan setelah melihat sikap Icha barusan. Dia juga tidak tahu kenapa dia begitu senang melihat sikap yang dia sendiri pikir aneh dari perempuan yang bergelar istrinya ini.
Sementara Aditya masuk ke dalam rumah, Icha yang masih duduk di taman menarik napas dalam-dalam. Dia memikirkan apa yang Aditya katakan tadi.
Memang, selama ini, mama Aditya, atau lebih tepatnya di sebut mama mertua oleh Icha itu adalah orang yang paling sayang pada Icha. Sejak menikah, wanita itu begitu lembut memperlakukan Icha. Dia bersikeras ingin Aditya mengadakan pesta pernikahan yang mewah untuk Icha.
Katanya, semua perempuan itu sangat mendambakan jadi ratu sehari. Karena kenyataan pernikahan yang sakral itu hanya satu kali dalam hidup. Maka dari itu, semua perempuan sangat mendambakan pernikahan yang mewah dan megah.
Tapi sayangnya, Aditya tidak menginginkan hal itu. Dia bilang, dia belum siap untuk memperlihatkan Icha pada dunia. Karena pernikahan mereka masih dalam tahap belajar. Belajar mencintai, belajar memiliki, belajar menata semua nya bersama.
Dia berjanji, jika dia sudah bisa dan lulus dalam belajarnya itu, maka dia akan membuat pesta pernikahan yang megah untuk Icha. Tapi ... itu sudah satu tahu berlalu. Sampai detik ini, tidak ada perubahan sedikitpun dengan hubungan mereka. Makin rusak iya.
Icha menyeka air mata sambil mendengus pelan. "Huh ... sudahlah, Cha. Jalani aja apa yang telah ada. Ikuti saja bagaimana jalan takdir menuliskan langkah seperti apa untuk kamu. Karena apa yang kamu lakukan sekarang, semua itu sudah dituliskan oleh takdir buat kamu."
"Yah ... anggap saja apa yang dia minta barusan itu bagian dari takdir yang sudah ditetapkan untuk kamu. Jika merasa keberatan buat melakukannya, maka lakukan buat mama mertua yang sudah sangat baik padamu selama ini. Intinya, kamu harus melakukan segala yang dia minta dengan sebaik mungkin."
"Ayo mulai bersandiwara, Icha. Buatlah seperti kamu memang benar-benar bahagia bersamanya," ucap Icha sambil bangun dari duduk, lalu beranjak meninggalkan taman itu.
Dia akan melakukan persiapan untuk nanti malam. Dia akan berdandan sebaik mungkin agar semua takjub akan dirinya. Walaupun sebenarnya, Icha merasa itu sungguh tidak penting. Karena dia yakin, acara nanti malam pasti akan membuat emosinya jadi naik akibat ulah tante, atau lebih tepatnya, adik kandung sang mama mertuanya itu.
***
Jam tujuh lewat lima belas malam. Icha sudah siap berdandan dengan dandanan yang terlihat sangat cantik maksimal. Mbak suster yang satu ini jika sudah berdandan, aura elegan plus kecantikan yang luar biasa pasti akan muncul dengan sendirinya. Model mungkin akan seimbang dengan kecantikan yang dia miliki.
Hanya saja, dia terbilang perempuan yang tidak suka berdandan terlalu lebai. Jika tidak terdesak, mana mungkin dia akan berdandan lengkap seperti malam ini. Karena dia lebih suka terlihat natural dengan kecantikan alami yang dia miliki.
Icha menganggap, tampil apa adanya adalah bentuk rasa syukur atas apa yang sang maha pencipta berikan buat dirinya. Untuk itu, dia tidak ingin menambahkan apa yang telah dia punya dengan tambahan yang terlalu berlebih. Setidaknya, itulah yang dia pikirkan saat ini.
Aditya yang sudah siap kurang dari sepuluh menit yang lalu, langsung merasa kesal karena tidak kunjung melihat Icha muncul. Namun, rasa kesal itu menghilang kala pintu kamar Icha terbuka, lalu ... Icha muncul dengan pesona cantik luar biasa.
Untuk sesaat, Aditya tertegun sambil mengangumi dalam hati kecantikan paras istri yang selama ini dia nikahkan, tapi hanya sebatas menikah saja. Entah mengapa, dia masih tidak bisa mengubah status yang dia berikan pada Icha walau sudah bersama selama satu tahun.
Entah benar-benar tidak bisa, atau hanya karena dia tidak ingin. Tapi yang jelas, jauh di lubuk hati Aditya yang paling dalam, dia tidak pernah membenci Icha selama ini. Hanya saja, dia selalu menumpuk rasa suka yang dia miliki dengan rasa benci. Sehingga tak jarang, dia selalu menyesali apa yang dia lakukan pada Icha setelah perbuatan itu dia lakukan.
Aditya masih tertegun ketika Icha sudah berada di hadapannya. Hal itu membuat Icha langsung menatap Aditya dengan tatapan aneh. Karena manusia dingin kutub selatan yang biasanya dia kenal, tidak pernah bersikap demikian. Melihat seorang perempuan dengan tatapan penuh dengan kekaguman. Apalagi perempuan itu adalah dirinya. Lebih mustahil lagi buat Icha.
"Kak Adit. Hei ... apa yang kau pikirkan, ha? Apa kamu sedang berkhayal sekarang?" tanya Icha sambil menyentuh pelan bahu Aditya.
Tentunya, setelah usaha melambaikan tangan di depan Aditya gagal total. Makanya, mau tidak mau, dia harus menyentuh langsung laki-laki yang ada di hadapannya ini jika ingin menyadarkan laki-laki tersebut dari lamunannya.
"Apa maksud kamu? Siapa yang sedang menghayal, ha? Jangan banyak pikiran yang tidak-tidak. Karena itu sama sekali tidak penting."
"Lah ... aku hanya bertanya. Habisnya, kamu tertegun bak patung pajangan di museum ternama."
"Siapa yang tertegun! Jangan banyak bicara. Tidak ada yang tertegun barusan."
"Jika tidak ada yang tertegun, pasti saat aku panggil tadi ada yang ngeres pon. Tapi nyatanya, aku panggil berulang kali juga tidak ada yang nyahut tuh. Mana aku sudah melambai-lambaikan tanganku di hadapannya lagi.Tidak juga ada respon. Lah aku harus pakai jurus terakhir deh buat membangunkan seseorang itu."
Icha berucap dengan nada meledek. Hal itu membuat Aditya yang merasa kalau seseorang yang Icha maksud adalah dirinya, langsung merasa malu. Malu bercampur kesal tentunya.
Aditya langsung memutar tubuh.
"Ayo jalan! Jangan banyak omong yang tidak penting."
Melihat wajah itu. Wajah malu yang terlihat sekali penuh dengan rona merah, Icha hanya bisa tersenyum kecil tanpa menjawab. Dia langsung mengikuti langkah kaki Aditya yang berjalan cepat meninggalkan ruangan tersebut.
Hal itulah, hal satu-satunya yang membuat Icha bertahan untuk tetap berada di sisi Aditya. Karena dia percaya, kalau sudah ada cinta di antara mereka. Hanya saja masih belum terucap keluar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments