*Bab 12

Icha terdiam. Berusaha menahan rasa sakit yang terasa sangat perih menyayat hatinya, akibat bentakan yang Aditya berikan barisan. Ingin menangis, tapi sepertinya, air mata tidak ingin tumpah. Seperti sudah kering saja sekarang.

"Baiklah. Maafkan saya dokter Aditya yang terhormat. Saya datang ke sini hanya ingin bilang satu hal, perempuan yang bersama anda tadi itu ...."

"Aku sudah bilang padamu, jangan bahas soal pribadi barusan. Kenapa kamu malah bahas lagi. Kamu ini tahu bahasa manusia atau nggak sih sebenarnya?"

Sudah perkataannya dipotong oleh Aditya. Eh, Aditya malah bicara kata-kata yang terdengar seperti makian secara halus buat Icha. Hal itu semakin menambah sakit hati Icha saja lagi sekarang.

"Bisakah anda tunggu saya selesai bicara baru menjawab apa yang saya katakan, dokter Ditya? Selaku manusia yang punya ilmu pelajaran tinggi, anda harusnya tahu, kalau memotong pembicaraan orang itu tidak baik bukan?"

Kata-kata itu sukses bikin hati Aditya marah. Dia begitu kesal, tapi juga merasa malu entah karena apa. Yang jelas, dia marah tapi tidak bisa menumpahkan kemarahannya. Hanya bisa dia pendam dalam hati saja.

"Cepat bicara! Aku tidak punya banyak waktu untuk melayani kamu bicara omong kosong. Karena sekarang, masih banyak tugas yang harus aku kerjakan. Aku yakin kamu juga begitu."

"Oh ya, jika kamu ingin tanya siapa perempuan yang bersama aku tadi. Maka akan aku jawab secara langsung tanpa menunggu kamu mengulangi pertanyaan kamu untuk yang kedua kalinya. Dia adalah suster baru yang akan bekerja di rumah sakit ini. Apa jawaban itu sudah cukup buat kamu puas? Jika iya, kamu bisa pergi sekarang."

"Sejak kapan kamu kenal dia? Kenapa kamu dan dia bisa bersama?"

Aneh tapi nyata. Icha malah menanyakan hal itu pada Aditya. Hal yang sama sekali tidak ingin hatinya tanyakan. Dan yang lebih anehnya lagi adalah, Aditya malah tidak berontak. Dia malah langsung menjawab pertanyaan itu langsung.

"Aku kenal dia baru tadi. Ketemu di jalan saat ingin berangkat ke sini. Tunggu! Apa hubungannya dengan kamu semua hal itu? Mau aku kenal dia kapan juga aku rasa itu bukan urusan kamu deh kayaknya."

"Memang tidak ada urusannya dengan aku. Tapi ... aku perlu tahu karena aku merasa dia agak mirip dengan seseorang. Dia seperti mirip dengan .... "

"Kamu mau bilang dia mirip dengan Putri, kan?" Aditya memotong kata-kata Icha yang sempat dia gantungkan tadi.

Ucapan Aditya malah membuat mata Icha membulat tak percaya. Karena yang ingin dia katakan bukan nama itu, melainkan nama perempuan yang lain.

"Salah. Aku tidak ingin bilang perempuan itu mirip dengan mbak Putri. Tapi ... aku ingin bilang kalau perempuan itu seperti mbak Merry."

Kini giliran Aditya pula yang membulatkan matanya karena tak percaya dengan apa yang Icha katakan. Bagaimana bisa Icha mengatakan kalau perempuan yang mirip Putri itu seperti Merry?

Mereka adalah dua orang yang sangat jauh berbeda. Bagai bumi dengan langit jika dibandingkan keduanya. Dan perempuan yang dia temui tadi itu sudah pasti cukup mirip dengan Putri sahabatnya. Bukan Merry musuh yang sudah membuat dia terjerat dalam kehidupan yang sulit.

"Apa kamu sudah mulai rabun, suster Icha? Jika iya, maka aku sarankan kamu untuk beli kaca mata agar penglihatan mu bisa normal kembali. Sudah jelas-jelas kalau perempuan itu mirip Putri, tapi kamu malah bilang dia mirip Merry. Benar-benar tidak bisa melihat dengan baik kamu ternyata."

"Oh iya, aku lupa kalau kamu sebenarnya tidak cukup kenal dengan Putri. Kalian kenal sebatas pertemuan singkat ketika Putri datang untuk berobat saja. Mana mungkin kamu begitu kenal dan bisa memahami dia."

"Aku mungkin tidak mengenal mbak Putri dengan sangat baik, dokter Aditya. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa membedakan antara dia dengan mbak Merry. Tapi ... jika kamu masih meragukan seperti apa aku kenal dengan mbak Putri, maka lupakan soal aku yang kenal dengan mbak Putri. Sekarang, mari kita bahas soal aku yang kenal dekat dengan mbak Merry."

"Aku kenal dengan mbak Merry sudah cukup lama. Sejak pertama kami sama-sama masuk ke rumah sakit ini dan bekerja menjadi suster selama bertahun-tahun hingga akhirnya dia menghilang. Dan saat melihat perempuan itu tadi, batinku ini merasakan kalau perempuan itu adalah mbak Merry."

"Tidak mungkin! Aku tidak yakin kalau apa yang batin mu rasakan itu benar. Karena aku sama sekali tidak merasakan apa yang kamu rasakan itu, suster Icha. Karena itu, tolong jangan bahas soal yang tidak penting ini lagi."

"Percaya padaku, dokter Aditya. Jika tidak, kita akan bahaya nantinya."

"Sudahlah. Tidak perlu cemas dengan apa yang batin mu rasakan. Karena itu tidak benar, jadi tidak akan ada bahaya. Sebaliknya, jangan jadikan itu alasan untuk urusan pribadi antara kau dan aku. Karena seharusnya kamu masih ingat siapa dirimu sekarang."

Icha terdiam. Mematung karena kata-kata yang Aditya ucapkan barusan itu dia sungguh tahu apa maksudnya. Aditya secara tidak langsung mengingatkan kalau dia bukan siapa-siapa. Hanya istri yang sebatas dinikahi saja. Tidak punya hak untuk cemburu, apalagi ikut campur dalam urusan pribadi Aditya.

Icha menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan secara perlahan. Berusaha menahan atau bahkan mengesampingkan rasa sakit hati yang sedang dia rasakan, demi keselamatan Aditya dan dirinya.

"Baiklah, dokter Aditya. Jika anda tidak percaya dengan apa yang saya katakan, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, satu hal yang saya minta pada anda. Tolong berhati-hatilah jika bersama dengan perempuan itu." Icha berucap dengan nada sedih.

"Kalau bisa ... tolong selidiki latar belakang perempuan itu jika anda ingin aman dekat dengannya. Karena jika dia memang mbak Merry, maka anda sedang dalam bahaya. Karena dia adalah anak gangster ternama. Aku takut jika kedatangannya untuk balas dendam dengan kita."

"Tapi jika dia bukan mbak Merry. Maka aku rela anda dekat dengannya sesuka hati. Karena seperti yang anda katakan sebelumnya, aku bukan siapa-siapa."

Selesai berucap, Icha langsung beranjak. Meninggalkan ruangan tersebut secepat yang dia bisa. Karena semakin lama dia bicara dengan Aditya, maka rasa hatinya semakin sakit pula.

Air mata yang susah payah dia tahan, rasanya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan. Bendungan seakan sudah benar-benar akan jebol. Karena hal itu dia harus segera pergi.

Dia tidak ingin menangis di depan Aditya. Karena tangisan itu tidak akan membuat Aditya merasa iba. Tapi malahan hanya membuat Aditya merasa jengkel.

Namanya laki-laki yang tidak pernah punya cinta untuk perempuan tersebut. Baik pun sikap perempuan itu, tidak akan baik menurut pandangan matanya. Tapi, begitu pula sebaliknya. Penentu semua itu adalah cinta. Cinta yang akan membawa kasih sayang datang.

Terpopuler

Comments

Irma Wati177

Irma Wati177

tinggalin aja si adit nya cha biar tau rasa

2022-09-29

2

MochoLatTe

MochoLatTe

jgn" si merry oplas biar mirip putri

2022-09-22

1

Zayyan💕💞💖

Zayyan💕💞💖

aduh ... gantung banget author ... cepat up yah

2022-09-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!