Satu minggu sudah Monica bersekolah di SMA Nusantara itu. Selama satu Minggu dia masih di antar jemput oleh sang supir, gara-gara insiden Monica terlambat di jemput, dia meminta sang supir datang 2 jam sebelum jam pulang sekolah. Di sana juga Monica belum terlalu punya banyak teman, satu satunya teman dekatnya adalah Panji yang juga merupakan teman sebangkunya.
Monica merasa aneh di sana, entah kenapa banyak sekali yang kadang menjahilinya. Sepeti terjatuh kesandung kaki seseorang dan Monica tahu itu sebuah kesengajaan. Monica masih saja diam, dia tak mau mencari masalah disini.
Monica sedang berjalan di koridor sekolah, dia berniat pergi ke perpustakaan. Tapi belum sampai ke tempat yang dia tuju, Monica lebih dulu di tarik dan diseret ke dalam kamar mandi. Monica tak bisa berontak karena kedua tangannya di cekal oleh dua orang, dan Monica tak kenal siapa mereka.
"Eh lo anak baru. Kayaknya lo masih belum kapok juga. Jangan pernah deketin Panji, dia pacar gue," tegas siswi itu yang ternyata bersama Selina, kakak kelasnya.
"Apa..!" Monica terlihat terkejut, bukan karena Panji punya pacar, tapi karena perempuan di hadapannya sekarang menuduhnya mendekati Panji.
"Kenapa? Lo terkejut kalau ternyata Panji Bagaskara sudah punya pacar?" tanya Selina.
"Tidak." ucap Monica cepat. "Aku hanya terkejut kamu menganggap ku mendekati Panji. Aku hanya menganggapnya sebagai teman saja." ucap Monica dengan santainya.
Selina dan kedua temannya merasa geram melihat wajah Monica yang nampak tenang.
"Jadi sekarang lepasin aku, kalau tidak aku akan berteriak meminta tolong."
Selina geram dan berniat melayangkan tangannya ke wajah Monica, tapi belum sempat mendarat di pipi mulus Monica, tangan Selina lebih dulu di cekal oleh seseorang. Seorang perempuan yang penampilannya nampak biasa saja tapi terkesan tomboy.
"Lo suka ya cari masalah sama orang." Di seragam sekolahnya tertera nama Miranti.
"Lepasin tangan gue, sialan," teriak Selina.
Miranti tersenyum miring laku menghempaskan tangan kasar Selina.
Selina dan kedua temannya keluar dari kamar mandi meninggalkan Miranti dan Monica. Selina tak mau berurusan dengan Miranti yang merupakan sahabat dekat Panji.
"Lo enggak apa-apa?" tanya Miranti kepada Monica.
Monica menggelengkan kepalanya sembari mengusap pergelangan tangannya yang terasa panas. Mereka mencekal tangannya sangat keras membuat bekas merah di pergelangan tangannya yang putih membuatnya terlihat sangat jelas.
"Makasih sudah nolongin aku," ucap Monica.
"Sama-sama." Miranti mengulurkan tangannya kehadapan Monica. " Gue Miranti, Lo bisa panggil gue Ranti."
"Aku Monica," jawab Monica seraya menyambut tangan Miranti. Ini adalah awal terjadinya persahabatan di antara mereka.
Keduanya keluar dari kamar mandi, mereka menuju kantin. Monica sudah tak mood ke perpus karena perutnya berteriak meminta makan setelah menghabiskan tenaganya untuk melepaskan diri dari Selina dan teman-temannya meski tak berhasil.
"Ran. Memang benar perempuan tadi itu pacarnya Panji?" tanya Monica penasaran.
Miranti tertawa tipis, "bukan kok. Dia memang suka sama Panji. Tapi Panji gak pernah merespon perasaannya. Dia kayaknya cemburu melihat lo dekat sama Panji." Monica manggut-manggut mengerti.
"Sudahlah tidak udah di pikiran." Miranti tersenyum kepada Monica dan Monica membalas senyumannya.
Di kantin Monica dan Miranti menuju meja tempat Panji dan teman-temannya berkumpul. Panji melihat Miranti dan Monica berjalan kearahnya dan dia langsung tersenyum menyambut kedatangan Monica.
"Hay semua," sapa Miranti.
"Hay juga Ran," sapa mereka.
Miranti bertos ria dengan Panji dan teman-temannya. Terlihat mereka begitu akrab.
"Panji.." panggil Miranti, Panji langsung melengos kearah Miranti. Panji bertanya dengan isyarat matanya.
"Selina berulah lagi. Nih Monica jadi korbannya. Dia diseret ke kamar mandi. Untung pas gue di sana, hampir kena tampar dia sama fans fananitik Lo." Panji langsung melebarkan matanya dan melihat ke arah Monica.
"Benar itu, Nic?" tanya Panji.
"Enggak apa-apa kok, cuma salah paham aja."
Panji langsung memukul meja dengan kepalan tangannya. Selina benar-benar sudah keterlaluan. Darahnya rasanya mendidih setiap kali Selina berlaku seenaknya sendiri, mengatas namakan dirinya sebagai kekasihnya.
Selesai duduk bersama di kantin saling melempar umpatan serta candaan, kini segerombolan orang yang berstatus pelajar di sekolah itu membubarkan diri dan kembali ke kelas masing-masing.
Miranti mengantar Monica ke kelasnya, mereka satu angkatan tapi berbeda kelas. Sedangkan Panji sudah pergi terlebih dahulu entah kemana, tapi Miranti tahu kemana Panji pergi.
Suara riuh menggelegar di salah satu ruang kelas 12 di SMA Nusantara. Kelas dimana Selina berada. Panji masuk ke dalam kelas, semua mata tertuju pada tubuh kekar dengan langkah angkuh itu. Adik kelas mereka yang juga ketua OSIS serta laki-laki yang paling populer di kalangan siswi perempuan di sekolahnya masuk kedalam kelas mereka.
Panji tak mau bertele-tele di kelas itu, segera dia berjalan ke arah Selina. Teman Selina yang melihat kehadiran Panji memberi isyarat mata pada Selina. Selina langsung tersenyum saat Panji sudah berdiri di sampingnya.
"Panji..." ucap Selina dengan manja. Selina juga bergelayut manja di lengan Panji.
Panji yang risih langsung melepaskan tautan tangan Selina di lengannya dan langsung mencengkram kuat lengan Selina.
"Lo berani macam-macam sama Monica, Lo akan berhadapan langsung sama gue." tegas Panji. "Dan satu hal lagi, gue bukan pacar lo karena gue enggak pernah merasa jadian sama lo," ucap Panji penuh penekanan pada Selina.
Setelah mengatakan kata-kata yang pasti membuat malu Selina di hadapan teman-temannya, tanpa bertanggungjawab Panji langsung hengkang dari kelas itu, dia bersumpah tidak akan menginjakan kaki ke kelas itu lagi.
Selina memang menyukainya sejak Panji baru masuk ke kelas 10, Selina yang merupakan kakak kelasnya selalu mem-spesialkan Panji. Dan sampai saat ini Selina masih terus mengejar Panji meski selalu mendapat penolakan darinya. Dan sekarang kehadiran Monica merupakan ancaman bagi misinya untuk mendapatkan Panji.
Panji tak biasanya semarah ini saat Selina mengerjai perempuan-perempuan yang selalu berusaha mendekatinya. Tapi kali ini lain, Monica perempuan pertama yang berhasil menerobos kerasnya dinding pertahanan di hatinya, yang sudah berkomitmen untuk tidak pacaran sebelum dirinya lulus SMA. Sejak pertama melihat Monica, wajah manis itu langsung menempati ruang di hatinya.
Dalam perjalanan kembali ke kelasnya, Panji berpapasan dengan Miranti.
"Habis labrak si cewe bar-bar itu?"
Anggukan kepala Panji menjadi jawaban atas pertanyaan Miranti. Miranti menghela nafasnya berat, selama dia mengenal Panji dari kelas satu SMP, ini baru pertama kalinya Panji melakukan hal ini.
"Lo suka sama Monica?" Dan kali ini diamnya Panji sudah cukup untuk menjawab pertanyaannya, lalu senyum tipis menghiasi bibir tipis Miranti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Bundanya Robby
hmmm kayaknya Miranti juga suka tuh sama Panji 😁😁😁💪💪💪
2021-02-18
1
3 semprul
👍👍👍👍
2021-02-10
0
Eka Sulistiyowati
lnjuy
2021-02-09
0