Rehan mengamuk saat mengetahui kalau Monica menghilang. Harusnya Winda menjemput Monica. Namun Winda berkilah kalau Monica akan pulang diantar oleh sahabatnya. Tentu saja Winda senang, karena tak perlu repot-repot menjemput anak tirinya.
Rehan belum mengetahui kalau Monica pulang bukan bersama temannya, tetapi di jemput oleh orang suruhan Reivan, adiknya sendiri.
Rehan dan Winda berputar-putar di kota itu untuk mencari Monica, Winda juga sudah menghubungi teman-teman Monica untuk menanyakan keberadaan Monica. Namun hasilnya nihil.
"Siaaal.. kemana anak itu," geram Rehan.
Rehan berfikir sejenak, disaat emosinya sudah mereda, dia baru mengingat kalau Monica pernah meminta kepada dirinya untuk menemui mantan istrinya, Ratna. Monica memaksa untuk bertemu dengan ibu kandungnya itu, tetapi Rehan hanya menjanjikan saja.
Rehan mengambil ponsel di saku jasnya. Dia meminta temannya yang bekerja di Bandara untuk mencari tahu informasi nama penumpang pesawat yang menuju ke Indonesia dua hari yang lalu.
-
-
-
Monica duduk di meja makan bersama keluarganya saat Reivan datang.
"Hallo Monica, ponakan om yang cantik," sapa Reivan.
"Gombal nih, om Rei," cibir Monica.
"Bener tuh. Palingan biar diajak sarapan sama Mamah," sahut Rangga dan sontak membuat Angga, Ratna dan Monica tergelak.
"Pinter banget si kamu," ucap Monica sambil menarik pipi gembul Rangga.
"Mbak Ratna, ada yang mau aku omongin sama mbak dan Angga, bisa kita bicara bertiga nanti?" tanya Reivan.
Ratna menangkap wajah serius Reivan begitu juga dengan Angga.
"Oh ya sudah, kita bicara di ruang kerjaku saja." ajak Angga setelah dia membersihkan mulutnya dari sisa makanan.
"Monica, Rangga, kalian lanjutkan sarapannya. Dan kalau kalian jadi pergi jalan-jalan, ajak Mbak Nani sama Pak Teguh ya."
"Iya, Ayah," sahut Monica dan Rangga bersamaan.
-
-
-
Di ruang kerja
Reivan memulai pembicaraan, tetapi sebelum itu, dia ingin memastikan kalau Monica tak bisa mendengarnya. Reivan menyuruh Angga untuk menutup pintu rapat-rapat.
"Ada apa Rei, serius banget kayaknya?" tanya Ratna.
"Mbak, Rehan sudah tahu kalau Monica ada di negara ini. Aku juga mendengar kalau Rehan dan Winda akan segera kemari."
"Terus bagaimana? Rehan pasti akan marah karena kita membawa Monica tanpa seizinnya," ucap Ratna cemas.
"Mbak tenang saja, kita gak membawa Monica secara paksa, Monica sendiri yang memutuskan ini sendiri. Dan Mbak....." Reivan menghela nafas berat, sepetinya dia tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
"Kenapa Rei..?" Ratna menatap wajah Reivan penuh tanya.
"Aku rasa Rehan tak benar-benar menyayangi Monica. Aku baru mengetahui hal yang sangat mengejutkan semalam." Reivan menundukkan kepalanya lalu mengusap wajahnya gusar.
"Setelah Mbak Ratna dan Mas Rehan resmi bercerai, Mamah sama Papah berencana memberikan 50% dari harta mereka untuk Monica, termasuk aset perusahaan. "Mereka menginginkan Mbak Ratna untuk menjadi wakilnya. Sepetinya Rehan mengetahui hal itu makanya dia merebut hak asuh atas Monica dari Mbak. Semalam dia sudah menghubungi pengacaranya untuk mengubah isi dari surat wasiat yang sudah disiapkan oleh Papah kalau sewaktu-waktu beliau dijemput oleh malaikat," jelas Reivan.
Kalau saja pengacara keluarganya tak memberitahu dirinya semalam, Reivan tak akan mengambil kesimpulan seperti itu. Untung saja pengacara keluarganya lebih memilih setia dari pada uang yang di janjikan oleh Reivan nanti.
"Keterlaluan sekali, apa dia tidak punya perasaan. Dia tega memanfaatkan anak kandungnya sendiri untuk harta." Ratna menangis sesak.
Angga menenangkan istrinya dengan memeluknya. "Sudahlah Bun, kita sudah tahu semuanya. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menjaga Ratna dari Rehan dan juga Winda." Angga mencium ujung kepala Ratna. Reivan bisa melihat ketulusan dari Angga terhadap Monica dan juga Ratna. Beruntunglah dulu Ratna mau menerima lamaran Angga.
-
-
-
Malam hari di rumah Angga terdengar pertengkaran yang luar biasa. Angga dan Ratna tak mengira kalau Rehan akan datang secepat itu. Beruntunglah Monica dan Rangga belum pulang.
Egi dan Angga terlihat adu mulut dengan Rehan, begitu juga Winda sedang dicekal oleh Talita dan Ratna supaya tidak masuk ke kamar Monica.
"Kalian tidak bisa membawa dan menahan Monica disini tanpa seizin ku," ucap Rehan.
"Apa? anak? Kamu itu menginginkan Monica demi harta orang tua mu, bukan karena kamu benar-benar menyayanginya sebagai seorang anak." geram Angga.
Mendengar ucapan Angga yang memang benar, membuat Rehan tak terima dan langsung meninju wajah Angga. Untung saja Egi menahan tubuh Angga agar tidak jatuh ke lantai.
"Jangan bicara sembarangan kamu, Angga," ujar Rehan kasar.
Angga yang sudah menahan amarah lagi, mendorong tubuhnya Rehan, "dengar Rehan, aku dan Ratna tidak akan membiarkanmu membawa Monica kembali. Kalau kau mau harta orangtuamu ambil saja, kami tidak membutuhkan semua itu, karena Monica lebih berharga bagi kami." tegas Angga.
"Jangan ikut campur urusanku, urus saja bekas istriku itu." Rehan menujunjuk Ratna dengan tangannya. "Sekarang, biarkan aku menemui Monica aku akan membawanya kembali."
"Monica tidak ingin ikut Papah lagi, Papah sama Tante Winda jahat sama Monica."
Suara itu membuat keributan berhenti, semua mengalihkan pandangannya ke arah Monica yang ternyata sedang melihat pertengkaran orang- orang dewasa itu.
"Monica..!" guman semua orang.
Rehan berniat menghampiri anaknya. Namun Monica lebih dulu berlari kearah Ratna dan memeluknya. Monica terisak di pelukan Ratna.
"Mah, Monica gak mau ikut mereka lagi. Monica mau disini saja sama Mamah." ucap Monica. Angga meminta Ratna membawa Rangga dan Monica ke kamar dan Ratna pun mengangguk.
"Mbak Nani bawa anak-anak ke kamar."
"I-Iiiiya baik Bu."
Nani langsung berlari menggandeng tangan Rangga dan Monica.
"Jangan lupa kunci pintunya, Mbak," suruh Angga.
Rehan dan Winda berlari ke arah tangga untuk mengejar Monica, tetapi dengan cepat Angga dan Egi menahan mereka.
"Kamu kasih racun apa sama Monic, dia sekarang berani membangkangku." ucap Rehan garang.
"Cepat pergi dari sini, kami muak liat muka kalian. Dan lagi, Monica tidak mau ikut dengan kalian, dia sudah besar dia bisa tahu mana yang tulus menyayanginya," ucap Ratna.
Rehan masih tak terima dengan ucapan mantan istrinya. Rehan kolot dan menjambak rambut Ratna.
"Jangan sombong kamu, mentang-mentang kamu sudah sukses. Tapi bagiku kamu tetaplah perempuan kampungan."
Anggap melihat istrinya diperlakukan kasar di hadapannya langsung naik pitam. Angga langsung menghadiahi Rehan bogem mentah. Rehan tersungkur ke lantai, tak puas Angga menarik kasar jas Rehan dan menyeretnya keluar rumahnya, bertepatan dengan datangnya Reivan dan kedua orangtuanya.
"Ada apa ini?" tanya Donita yang melihat anaknya dilempar keluar oleh Angga. Donita juga bisa melihat luka lebam di wajah Rehan.
Ketiganya bisa menebak kalau sudah terjadi perkelahian.
"Maaf Tante Donita, tapi saya tak terima istri saya diperlakukan kasar oleh manusia bejat
seperti dia." Dan detik itu juga semua menoleh ke arah Rehan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Bundanya Robby
ya semoga reivan bisa jadi penengah yg bijak buat semuanya ya
2021-02-18
1
3 semprul
angga suami idaman..😘😘😘
2021-02-10
0
Eka Sulistiyowati
seru
2021-02-09
1