Terima kasih banyak atas dukungan🤗🤗🤗🤗, mohon like, Rate ⭐⭐⭐⭐⭐, vote dan favoritnya. Jika ada Kritik dan sarannya tinggalkan di kolom komentar.
Happy reading 😘😘😘
Monica menuruni anak tangga di rumahnya. Dia terlihat sangat bahagia setelah mendapatkan kejutan semalam. Dia berjalan ke ruang makan di mana orang tuanya.
"Pagi ayah, bunda dan gembroot." Monica mencium gemas pipi gembul Rangga. Dan karena badannya yang gemuk, membuat Monica selaku memanggilnya gembrot.
"Ayah, Bunda...! Rangga gak mau di panggil gembrot," rengek Rangga pada Angga dan Ratna, dan membuat ketiganya tertawa.
"Kamu kan menang gembrot, Rangga." ujar Angga.
"Ayah ....!" teriak Rangga pada ayahnya itu.
Sarapan pagi terasa hangat bagi Monica. Selama dia tinggal bersama Rehan, Monica tak pernah merasakan hal yang seperti ini.
"Monica.." panggil Ratna
Monica mendongak menatap ibunya.
"Kenapa, Bun?"
"tolong... Jangan bersikap seperti semalam lagi pada Tante Talita, dia sangat sedih." ucap Ratna.
Entah kenapa ucapan Ratna membuat mood Monica turun. Dia tak suka kalau ibunya selalu membela Talita.
"Hmmm. Monica sudah kenyang, Monica berangkat dulu."
"Monica....Monica," panggil Ratna berulang-ulang. Monica dengan kasar beranjak dari kursi meja makanya, tanpa mendengar panggilan Ratna. Monica berteriak memanggil- manggil pak teguh.
"Pak teguh, pak Teguh, ayo berangkat. Monica bisa telat nih!" seru Monica. Monica sengaja berteriak untuk menghindari panggilan Ratna.
Ratna yang melihat kelakuan anaknya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kenapa anak perempuannya sekarang begitu kasar. Dia sungguh menyesal melewati sepuluh tahun tumbuh kembangnya.
Angga yang melihat kekhawatiran istrinya, dia lalu menggenggam tangan istrinya itu.
"Tidak usah difikirkan, beri dia sedikit ruang."
Ratna pun mengangguk. Angga beranjak dari duduknya dan menyusul Monica.
Monica kesal pada Ratna karena selalu saja membela Talita. Berkali-kali Monica menghentakkan kakinya untuk melampiaskan kekesalannya.
"Loh, anak ayah yang cantik kenapa? Pagi-pagi sudah marah-marah." Monica menoleh ke belakang, ke arah Angga dengan raut wajah yang masih kesal.
"Pak Teguh mana sih yah, lama banget. Bisa telat Monica."
Angga tersenyum melihat wajah kesal Monica. Meski Monica bukan anak kandungnya, tetapi Angga sangat menyayanginya begitu tulus. Dari bayi, dari saat pertama kali melihat wajah polos Monica, dia sudah jatuh hati pada gadis kecil itu, meski Monica sudah dewasa, rasa sayangnya pada Monica tak berkurang sedikitpun.
"Ayah yang anter ya," ujar Angga seraya mengusap rambut panjang Monica.
"Enggak usah, nanti ayah telat ngantornya."
"Ayah libur hari ini, khusus buat Monica."
Monica sedikit menyunggingkan senyum, Monica merasa beruntung punya ayah tiri seperti Angga. Dalam benaknya kenapa ayah kandungnya tidak seperti itu.
"Ayo berangkat." ajak Angga, tangannya melingkar ke pinggang Monica dan membuat Monica tersentak kaget.
Angga mengerutkan keningnya saat merasakan keterkejutan Monica, "Kakak melamun ya?" tanyanya.
Monica tersenyum kaku, lalu masuk ke dalam mobil setelah Angga membukakan pintu mobil untuknya.
Di perjalanan Monica masih diam di pikirannya sendiri, Angga melihat anak tirinya hanya diam memandang ke luar.
"Kakak kenapa? kok melamun terus," tanya Angga.
"Ayah manggil Monica?" tanya Monica yang heran kok tumben ayah tirinya itu memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Iya donk, kan cuma ada kita berdua." ujar Angga yang masih konsentrasi menyetir.
"Ko tumben ayah manggil Monica kakak?"
"Kenapa, Monica gak suka ayah panggil kakak?"
"Ih ayah, Monica nanya kok malah balik nanya," protes Monica dengan manjanya.
Angga terkikik geli melihat wajah kesal Monica. Monica yang melihat Angga tertawa semakin kesal, dia melihat tangannya di depan dan sengaja memajukan bibirnya.
"Ayah jahat sama Monica." ucap Monica
"Gak kok, ayah sayang sama Monica," ucap Angga yang masih terkikik geli. Angga sangat senang menggoda anak tirinya. Usia Monica yang sudah beranjak dewasa membuat Angga berusaha untuk menjadi teman bagi Monica.
"Ayah, Monica boleh nanya gak?"
"Boleh, kakak mau nanya apa?"
"Kenapa ayah baik banget sama Monica, papa Rehan saja gak sebaik ini."
Angga tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Monica. "Karena ayah suka sama Monica."
"Hah..maksud ayah?" Monica terkejut mendengar penuturan Angga. "Ayah suka sama Monica, suka seperti apa?" mendadak Monica menjadi gagap.
Angga tertawa lepas, Angga bisa menebak isi pikiran Monica. Pasti Monica berfikir yang bukan-bukan tentang dirinya.
"Kok ayah ketawa"
"Kakak lucu. Pasti kakak mikir kalau ayah suka sama kakak seperti ayah suka sama Bunda." Monica mengangguk.
"Ya enggak lah, kakak. Ayah suka sama kakak dari kakak masih bayi. Waktu itu Ayah berdoa semoga ayah punya anak sepeti Monica. Dan ternyata doa ayah terkabul, ayah nikah sama Bunda kamu. Susah loh ayah dapetin Kakak sama Bunda, masa ayah mau sia-siakan kalian." ucap tulus Angga.
Monica terharu mendengar ucapan Angga yang terdengar begitu tulus. Tanpa terasa air mata Monica meluncur deras dari matanya.
"Kok kakak nangis, ada yang salah dengan ucapan ayah." Angga melirik sekilas ke arah Monica, tangannya terulur untuk menghapus air mata anak tirinya.
"Enggak kok yah. Monica terharu aja sama ucapan ayah."
"Makasih ya Yah. Ayah sudah menyayangi bunda sama Monica," ucap Monica.
"Sama-sama sayang."
Mobil yang di kendarai oleh Angga pun berhenti di gerbang sekolah. Monica mencium tangan Angga dan mengucapkan salam. Monica membuka pintu mobil dan kembali menutupnya. Angga menurunkan kaca mobilnya untuk bertanya pada Monica.
"Nanti Kakak pulang jam berapa?" tanya Angga.
"Seperti biasa, yah"
"Ya sudah, nanti ayah jemput kakak"
"Makasih ayah, Monica masuk dulu." Monica melambaikan tangannya kepada Angga, lalu Angga pun membalas lambaian tangan Monica sebelum kembali menyalakan mesin mobilnya dan menutup kaca mobilnya.
Mood Monica sedikit berubah, dari rasa kesalnya sekarang menjadi sedikit bahagia, karena Angga, ayah tirinya sangat baik, bahkan memahami dirinya.
"Monica..!"
Monica menoleh ke sumber suara yang ternyata Miranti lah yang memanggil namanya.
"Pagi, Monica," ujar Miranti.
"Pagi juga, Miranti," balas Monica.
Keduanya berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. Meski berbeda kelas tak menyurutkan rasa persahabatan mereka.
Monica melambaikan tangannya pada Miranti setelah sampai di kelasnya, Miranti membalas lambaian tangan Monica dan berjalan menuju kelasnya sendiri.
Monica melihat Panji di bangkunya yang sedang membaca buku. Monica mengapa Panji dan duduk di sebelahnya.
"Pagi, Panji"
Panji yang sedang serius membaca buku novel horor tersentak saat Monica menyapanya.
"Eh, pagi Monic"
"Serius banget baca bukunya," ucap Monica dengan nada meledek.
Monica tersenyum pada Panji, namun Panji membalasnya dengan senyuman canggung karena menahan debaran jantungnya saat dekat dengan Monica.
"Ah sial, bisa sakit jantung gue kalau terus deket sama Monica."
Monica mengerutkan keningnya saat melihat raut wajah aneh Panji saat memandangi dirinya.
"Panji..! Panji..!" panggil Monica berulang-ulang, sembari menepuk lengan kejar Panji.
"Monica aku suka sana kamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Hasnah Rias Pengantin
d dunia nyata gak ada ayah tiri seperti Angga maka sy was2 jgn2 Angga suka SM monika
2021-04-13
0
Bundanya Robby
Angga super keren.....
2021-02-18
0
3 semprul
mudah" an di dunia nyata semua ayah tiri seperti angga..😗😗😗😗
2021-02-10
6