Jika kita mencintai seseorang katakan saja. Jangan pikirkan dia mau terima atau tidak, karena cinta yang tulus ibarat kata kita memberi dengan ikhlas. Dan jika kita memberi dengan ikhlas tidak akan mengharapkan sebuah balasan.
❤️❤️❤️❤️
Gelak tawa Noval terdengar nyaring di telinga Panji, kalau saja Panji tak menutup telinganya bisa dipastikan dirinya akan mengalami masalah pendengaran di telinganya.
Noval tergelak karena mendengar Panji mendadak mengatakan dirinya suka pada Monica di kelas dan lucunya Panji menarik kembali ucapnya.
"Berhenti ketawa gak, gue sumpel mulut Lo pake mangkok bakso baru tahu rasa," ancam
Panji pada Noval.
"Gue gak nahan lihat muka Lo, pas bilang aku suka sama kamu ke Monica." Noval benar-benar tergelak sambil memegangi perutnya.
"Lo jagoan di sekolah, giliran nyatain perasaan sama cewek lo kaya kesiksa banget." Imbuh Noval. Untung saja, saat ini mereka cuma berdua jadi Panji hanya mendengar gelak tawa Noval.
Panji mengingat saat pagi tanpa terasa kata-kata itu meluncur lurus dari mulutnya. Bisa-bisanya dirinya mengatakan kalau dirinya menyukai Monica, itu memang benar adanya, tetapi tidak dengan cara seperti itu.
"Udah deh, cepetan kalau suka ya katakan suka, dari pada Monica diembat duluan sama yang lain," ujar Noval memberi semangat pada Panji.
-
-
-
Jam pelajaran telah usai dan seperti janjinya, Angga menjemput Monica. Angga dengan penampilan nya yang tak kalah dengan anak muda membuat ia menjadi pusat perhatian seluruh siswi di sekolah itu.
Dari kejauhan Monica melihat ayah tirinya berdiri di samping mobil dengan memasukan kedua tangan di saku celananya. Monica melambaikan tangan ke arah Angga dan di balas olehnya.
"Ayah, beneran jemput Monica?"
"Iya dong, kan Ayah sudah janji sama kakak"
Panji, Ranti, Noval dan teman-temannya datang menghampiri Monica dan Angga. Semua memperkenalkan diri kepada Angga. Angga menyambut mereka dengan sangat ramah. Angga memberi tatapan khusus pada Panji.
"Oh jadi ini yang namanya Panji?" Angga bertanya pada Panji seusai menjabat tangannya. Panji pun membalas dengan senyuman ramahnya.
"Bener Om Reivan, Panji ganteng loh kak," goda Angga kepada Monica.
"Ayaaaah...!" Monica mencubit perut Angga, membuatnya terkikik geli. "Om Rey ngomong apa aja sama Ayah," lanjut Monica
"Banyak"
Panji dan teman-temannya melihat Monica dan Angga sangat akrab. Monica terlihat sangat manja pada Angga.
"Ya sudah ayo pulang," ajak Angga.
"Semuanya, Om pamit dulu. Kapan-kapan main ke rumah Om ya," suruh Angga.
"Baik, Om Angga," jawab mereka serempak.
"Om Angga," panggil Noval. "Panji gak diajak sekalian." Selorohnya.
Panji langsung membekap mulut Noval dengan tangannya. "Maaf Om, gak usah dengerin Noval, mulutnya emang kaya ember bocor."
"Ayo, kalian ikut saja. Main ke rumahku," ajak Monica.
"Ah, tidak-tidak. Kita ada acara sehabis ini." ucap Miranti terburu-buru.
"Ya sudah kami permisi." Miranti menyeret teman-temannya lalu melambaikan tangan ke arah Monica.
Masih dengan membekap Noval, Panji langsung menyeretnya pergi dari parkiran sekolah.
"Permisi, Om," pamit Panji pada Angga.
Angga tersenyum melihat ulah anak muda di hadapannya. Angga membukakan pintu mobil untuk Monica.
"Silahkan masuk, Tuan putri," ucap Angga.
"Terima kasih, Ayahanda," balas Monica.
Angga menutup pintu mobil kembali, Ia berjalan memutar, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
"Kak Monica...!"Monica terkejut saat ada yang melingkarkan tangan ke lehernya.
"Gembroot..." ucap Monica girang, Rangga pun pasrah pipinya menjadi sasaran gemas kakaknya.
Angga tertawa melihat anak-anaknya saling menyayangi meski mereka saudara tiri.
"Sudah siap?" tanya Angga pada kedua anaknya.
"Kita mau kemana, yah?" tanya Monica.
"Kita jalan-jalan, ini kan hari spesial Kakak."
Monica tertawa bahagia kalau memeluk Angga, ayah tirinya. "Makasih Ayah. Ayah Angga yang terbaik."
"Sama-sama sayang." ucap Angga mengusap rambut Monica dan Rangga.
"Bunda gak ikut?" tanya Monica.
Angga langsung diam, dia terlihat memikirkan jawaban apa yang akan berikan pada Monica.
"Kenapa?" tanya Monica dengan alis terangkat sebelah.
"Bunda ada pesanan kue banyak, jadi Bunda tidak bisa ikut," jelas Angga.
Raut wajah Monica berubah suram dan terlihat kecewa karena bundanya tidak bisa ikut dengannya. Angga yang melihat wajah kecewa anaknya langsung menghiburnya.
"Jangan sedih, Bunda nanti nyusul kok." Monica mengangguk lalu tersenyum penuh paksaan.
Angga langsung melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan. Angga sengaja meluangkan waktunya untuk Monica dan Rangga.
Angga memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah pusat perbelanjaan tersebut. Ketiganya keluar dari mobil bersama-sama. Monica. Monica dengan manjanya mengandeng tangan ayah tirinya itu. Begitu juga dengan Rangga, yang tak kalah manjanya dari kakaknya.
"Kakak sama Ade, boleh beli apa saja yang kalian mau," ujar Angga.
"Horee!!!" Monica dan Rangga bertos ria.
Ketiganya sedang berada di butik di salah satu mall terbesar di Jakarta Selatan. Monica memilih merek baju ternama. Angga juga meminta Monica untuk membeli dress untuk acara makan malam keluarga, untuk merayakan hari ulang tahunnya.
Mata Monica menangkap dua sosok yang dia sangat dia kenal, Rehan dan Winda, ayah dan ibu tirinya. Wajah Monica berubah sendu melihat ayah kandungnya sendiri tak memperhatikannya, bahkan mungkin lupa hari ulang tahunnya seperti tahun-tahun sebelumnya.
Angga memperhatikan wajah Monica. Angga juga mengikuti arah pandang anak tirinya itu. Angga mengerti kenapa Monica berubah muram. Angga menghampiri Monica, "Kakak, gak mau kesana?"
Monica menggelengkan kepalanya lesu, ia masih ada sedikit rasa takut pada ayah dan ibu tirinya. Angga menggenggam tangan Monica erat. Angga menarik tangan Monica untuk menghampiri Rehan bersama-sama. Angga tahu meski Rehan pernah melakukan kesalahan besar terhadap Monica, tetapi tetap Rehan adalah ayah kandung Monica.
"Apa kabar, Rehan?" tanya Angga.
Rehan dan Winda langsung menoleh ke arah Angga. Monica langsung bersembunyi di balik punggung kekar Angga saat Rehan melihat kearahnya.
"Oh, jadi ada Tuan Angga Pratama!" ucap Rehan dengan nada menyindir.
Angga tersenyum tipis menanggapi ucapan Rehan yang dia tahu adal sindiran didalamnya.
"Anda tidak bertanya, apa yang sedang kami lakukan disini, Tuan Rehan Alandra," balas Angga. Rehan tersenyum sinis kepada Angga. Cih.....
"Anda, tidak merindukan anak kandung Anda, Tuan Rehan?" Angga masih belum mendapat jawaban dari Rehan, malah Rehan terkesan acuh pada pertanyaan yang keluar dari mulut Angga. "tapi sepertinya Monica merindukanmu, Rehan."
Rehan langsung menoleh ke arah Angga. Monica mengintip dari balik pundak Angga. Rehan mencoba tersenyum kepada Monica, lalu mengulurkan tangannya kepada Monica.
Monica nampak ragu untuk menyambut tangan Rehan. Namun setelah Angga meyakinkan Monica, ia mau menyambut uluran tangan Rehan.
Monica perlahan keluar dari balik punggung Angga. Monica berjalan menghampiri Rehan.
Rehan memberikan senyum tulusnya pada Monica.
"Benar, Monica kangen sama papah?" Monica mengangguk. Rehan langsung membawa Monica ke pelukannya.
Winda melihat pemandangan itu langsung menampakkan wajah tak suka. Dia tak mau Rehan dekat dengan anak kandungnya. Dia juga tak mau kalau kasih sayang Rehan terbagi. Karena kini Winda sedang mengandung setelah melakukan program hamil tabung.
Winda segera menarik suaminya dari Monica, lalu meminta pulang. Rehan tak bisa menolak keinginan Winda yang sedang mengandung anaknya.
"Maaf Monica, papah pulang dulu. Kamu baik-baik sama mamah kamu. Lain kali kita ketemu lagi." Rehan mengecup kening Monica.
"Rehan, kamu tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk Monica,?" ujar Angga saat Rehan akan melangkah pergi.
Rehan terbelalak, ia sungguh tak ingat, atau bahkan tak tahu tanggal kelahiran Monica.
"Maaf Monica, Papah lupa."
"Selamat ulang tahun ya," ucap Rehan pada Monica. Monica pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.
Winda yang sudah sangat kesal langsung menarik Rehan secara paksa, dan Rehan pasrah dengan kelakuan Winda.
Monica juga meminta kepada Angga untuk pulang, Monica bilang dia sangat lelah.
"Sayang, kamu lupa kita ada acara makan malam keluarga?" tanya Angga.
"Boleh tida, kalau Monica tidak ikut?" tanya Monica lirih.
"Kakak..! Dinner ini untuk perayaan ulang tahun Kakak loh, masa dibatalin. Ayah udah siapin semuanya," ucap Angga dengan wajah sedihnya.
Monica melihat wajah sedih ayah dan adik tirinya. Monica merasa begitu egois jika menolaknya. Monica pun akhirnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya deh, Monica ikut."
Angga dan Rangga pun kembali sumringah. Angga juga menyuruh untuk semua berganti baju dan tak lupa mampir ke salah satu salon kecantikan di moll itu untuk menunjang penampilan mereka.
Semua sudah beres dan sudah siap untuk acara makan malam keluarga mereka. Ketiganya berjalan menuju mobil di parkiran bawah tanah. Angga berjalan lebih dulu untuk memasukkan belanjaan anak-anaknya. Sedangkan Monica berjalan menggandeng adik gendutnya, Rangga.
Tanpa Monica sadari, ada mobil yang sedang melaju kearahnya. Mobil itu berhenti tepat di hadapan Monica dan Rangga. Dua orang keluar dari mobil itu dan langsung menarik tangan Monica dan membawanya masuk kedalam mobil. Rangga terkejut dan segera berteriak. Angga yang mendengar teriakan Rangga langsung berlari menghampiri Angga.
"Ayah, kakak Monica diculik." Rangga menangis memeluk Angga.
*Mohon dukungannya
Like
Rate
Vote
Favorit
Mampir juga ke karyaku yang lain
❤️Raja bertemu Ratu
Terima kasih banyak*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Ratna0789
Wah wah Winda bikin ulah kayaknya...🙄
2022-01-03
0
Astri
kok ayah kandungx monic ky tkut ama istrix.. dlu ajha sm ratna suka slingkuh.. apa skr dia udah gak suka slingkuh yah slama sm winda.. hebat banget si winda it
2021-03-07
0
Bundanya Robby
haduh kenapa ada penculikan nya Thor...
2021-02-18
0