Cinta diantara kebencian. Apa yang akan terjadi? Mana yang akan lebih berkuasa.
🌸🌸🌸🌸
Degup jantung Ratna begitu kencang. Apa yang di pikirkan oleh Ratna, gadis polos yang baru pertama kali berada didalam kamar laki-laki. Ratna duduk di tepi ranjang, tangannya berkeringat. Masa iya aku tidur satu ranjang sama Mas Rehan?.
Pertama kali melihat Rehan, Ratna sudah jatuh cinta. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Ratna tersenyum geli, menertawakan betapa konyolnya dirinya sendiri.
"Ngapain kamu disini?" Suara menggelegar dari arah pintu membuyarkan lamunan manis Ratna.
"Mas--Mas Rehan?" ucap Ratna yang mendadak gagap.
"Ngapain kamu di kamar aku?" tanya kembali Rehan.
"Apaaa?" Ratna yang terpesona pada Rehan, membuatnya tak bisa mencerna perkataan Rehan.
"Kamu tuli?" ujar Rehan. Rehan menghampiri Ratna dan menarik kasar dari ranjangnya.
"Aku tanya sekali lagi, ngapain kamu di kamar aku. Sudah jelas?" tanya Rehan penuh penekanan.
"Mamah Donita nyuruh aku tidur di sini," jawab Ratna dengan rasa gugupnya.
"APA....!" teriak Rehan, memekikkan telinga Ratna.
Rehan langsung keluar dan menghampiri Donita dan Gunawan yang sedang berada di ruang tengah.
"Mah, Pah. Apa-apaan sih. Ngapain nyuruh anak kampung itu tidur dikamar Rehan ada kamar tamu kan?" tanya Rehan kesal kepada Donita dan Gunawan.
"Loh dia kan Istri kamu sekarang. Wajar dong kalian tidur satu kamar." jelas Donita.
"Dan satu lagi. Mama peringati kami, jangan di bobol dulu, dia masih sekolah." lanjut Donita.
"Apaan sih, Mah. Rehan gak napsu liat dia." ketus Rehan.
Rehan kembali ke kamarnya, rasanya malas melihat Ratna di dalam kamarnya. Rehan berjalan ke kamar mandi melewati Ratna. Beberapa menit kemudian Rehan keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian santai.
"Kamu boleh tidur disini, tapi jangan di kasur. Terserah kamu mau tidur dimana, di sofa apa di lantai." ucap ketus Rehan.
Ratna menghela nafasnya, seketika nyalinya menjadi ciut. Dia tahu kalau Rehan tidak mungkin menyukai gadis seperti dirinya. Melihat Rehan yang tampan, pasti banyak gadis-gadis cantik di luaran sana yang memuja Rehan. Lebih tepatnya memuja harta orangtuanya. Ratna akhirnya memilih untuk tidur di lantai ber- alas karpet.
Keesokan paginya Ratna terbangun karena mendengar suara adzan. Ratna berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu menjalankan sholat Subuh. Ratna melihat Rehan masih tertidur dengan sangat pulas. Ratna memutuskan untuk keluar dan membantu untuk menyiapkan sarapan.
Ratna melihat lampu dapur sudah menyala, ternyata sudah ada yang sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi Mbak." sapa Ratna sopan kepada dua pekerja di rumah mertuanya.
"Pagi juga, mbak." sapa salah satu dari dua asisten rumah tangga itu.
Kedua pembantu itu sudah tahu kalau Ratna di jodohkan dengan Rehan. Salah satu dari mereka tak menyukai Ratna. Apa sih bagusnya Ratna, pikirnya.
Ratna membantu Sari dan Mia, pembantu di rumah mertuanya. Sari sudah berumur 28 tahun, dia seorang janda beranak 1. Sedangkan Mia berumur 21 tahun, tiga tahun lebih tua dari Ratna. Ketiganya menyiapkan meja makan dan juga nasi goreng. Setelah semuanya siap, Ratna kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah.
Ratna masuk ke kamar dan mendapati suaminya sudah tak ada di atas ranjang. Ratna mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, dia sedang mandi rupanya.
Ratna segera mengenakan seragam sekolahnya, lalu menguncir rambutnya di belakang, seperti ekor kuda. Bertepatan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Rehan menyumbulkan kepalanya, Ratna melihat rambut Rehan yang basah dan itu terlihat keren dimata Ratna. Ratna terus memandang wajah Rehan dari cermin dihadapannya.
"Ngapain bengong aja, cepat keluar. Aku mau ganti baju," suruh Rehan kasar.
Ratna terlonjak kaget, dengan segera keluar dari kamar itu, setelah mengambil tasnya di atas sofa di sudut kamar. Ratna berjalan menuruni anak tangga. Dia melihat semua orang sudah berkumpul di meja makan.
"Pagi Ratna." sapa Donita.
"Pagi Tante, eh Mamah." jawab Ratna malu-malu.
"Pagi Ratna." Kini giliran Gunawan yang menyapa Ratna.
"Pagi, Pah." Pandangan Ratna kemudian ber alih pada Reivan. "Pagi Kak Reivan."
"Hmmmm." jawab Reivan datar. "Kalo di rumah kamu gak usah panggil aku Kakak. Sekarang kamu kakak ipar aku." jelas Reivan.
Ratna hanya menanggapi perkataan Reivan dengan senyuman. Bagaiman bisa, Ratna sudah terbiasa memanggil Reivan dengan sebutan Kakak.
Rehan berlari kecil sambil menuruni anak tangga. Langkahnya sedikit terburu-buru, sesekali Rehan juga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Mah, Pah. Rehan berangkat dulu, yah."
"Gak sarapan dulu."
"Gak, Mah. Rehan takut telat sampai kampusnya."
Meski Rehan nampak sangat kasar namun masalah pendidikan dia sangat disiplin.
"Rehan," panggil Donita yang langsung menghentikan langkah Rehan. "Ratna berangkat bareng kamu yah."
Rehan mendengus kesal, kenapa mamahnya selalu saja menyuruh dirinya melakukan hal yang tak dia sukai. "Mah, kalo Rehan nganterin dia ke sekolah, Rehan bisa telat ke kampus. Dan lagian kenapa gak bareng sama Reivan saja. Mereka satu sekolah kan."
Setelah mengatakan itu, Rehan langsung bergegas keluar rumah dan masuk kedalam mobilnya. Sedang didalam rumah Donita menggelengkan kepalanya.
"Ratna, maafin Rehan ya." ucap Donita.
"Tidak apa-apa, Mah. Mas Rehan mungkin lagi buru-buru." ujar Ratna.
"Ya sudah, kamu berangkat bareng Reivan saja." suruh Gunawan.
Ratna melirik kearah Reivan, sebenarnya Ratna merasa tak enak jika harus merepotkan semua orang. Dan bagaimana kalau teman-temannya di sekolah bertanya, bagaimana bisa aku berangkat dan pulang sekolah bareng dengan Reivan setiap hari.
-
-
-
Waktu seolah berputar dengan sangat cepat. Ratna sudah naik ke kelas 3 dan juga sudah menjadi istri Rehan selama 5 bulan. Selama itu pula, Rehan belum bisa menerima Ratna sepenuhnya. Rehan masih saja acuh dan sedikit kasar pada Ratna.
Ratna sedikit kecewa, rasa tulusnya belum terbalaskan. Meski kecewa, Ratna tak menyerah untuk terus memberi perhatian pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Seperti malam itu, Ratna mendengar Rehan membuka pintu kamarnya. Rehan merasa sangat lapar. Ratna mendengar Rehan memanggul Mia untuk membuatkan makanan untuknya.
Ini sudah tengah malam pasti Mia sudah tidur. Ratna mengikuti Rehan dan memperhatikannya dari lantai atas. Ratna tersenyum lalu berjalan menghampiri Rehan.
"Mas Rehan ngapain tengah malam di dapur." tanya Ratna dengan penuh kelembutan.
"Aku lapar. Kamu gak masak apa?"
"Masak kok. Tapi sudah aku masukin kulkas."
Rehan masih gengsi untuk berhadapan dengan Ratna. Namun kali ini Rehan terpaksa harus menurunkan gengsinya demi cacing yang sudah menabuh genderang di dalam perutnya. Ratna sedang memanaskan makanannya dan Rehan terus memperhatikan tubuh Ratna dari belakang. Rehan baru menyadari tubuh Ratna yang semampai, dan juga nampak padat, ternyata kalau di perhatikan, tubuh bagian belakang Ratna sangat menggoda bagi Rehan.
Ratna meletakan nasi, beberapa lauk dan juga sop ayam di meja makan di hadapan Rehan. Rehan mulai menyendok makanan di hadapannya, bisa terlihat jelas, Rehan sangat kelaparan.
"Pelan-pelan, Mas Rehan. Itu masih panas." ujar Ratna merasa sangat senang.
"Aku udah laper banget."
Ratna tersenyum, ini baru pertama kalinya Rehan bersikap padanya lebih baik dari biasanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Hasnah Rias Pengantin
nyimak aja thoooorrr
2021-04-12
0
Yani Basith
kelamaan flashbacknya .. ini kan cerita anaknya ..
2021-02-22
2
3 semprul
semangat ratna.....😁
2021-02-10
0