Menyambut awal baru dengan senyuman
🌸🌸🌸🌸
Akhirnya selama 10 tahun Monica terpisah dari ibu kandungnya, kini akhirnya ia bisa berkumpul kembali dengan ibu kandungnya. Kesalahpahaman yang dulu ada antara Monica dan Ratna, ibu kandungnya itu, akhirnya terselesaikan. Monica baru mengetahui ternyata itu ulah ibu tirinya. Ah bukan! Monica menyebut Winda hanya istri papahnya, Dia tidak mau menyebut Winda sebagai seorang ibu. Sepertinya memang wanita tidak pantas mendapat gelar sebagai seorang ibu.
Setelah Ratna dan Angga mengurus surat kepindahan Monica, kini Monica resmi menjadi salah murid di salah satu sekolah elit di Jakarta, SMA Nusantara.
Untung saja Monica masih bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia jadi Monica tidak kesulitan untuk berkomunikasi di sekolah barunya itu.
Monica masuk ke kelas 11 dan guru yang membawanya menyuruh Monica untuk memperkenalkan diri.
"Hallo, namaku Monica Alandra Putri. Kalian bisa memanggilku Monica," ucap Monica.
"Katanya dari luar negeri, ko kayaknya lancar banget bicara pake bahasa Indonesia?" tanya salah seorang siswa perempuan dengan nada mengejek.
Monica menghela nafas untuk meredam emosinya, "Kalau seandainya aku berbicara menggunakan bahasa Inggris, apa kamu bisa membalas semua ucapan ku?" tanya Monica yang berniat membalas ejekan murid yang sudah mengejeknya.
Semua orang tertawa, ternyata tebakan Monica benar, siswi yang mengejeknya tadi tidak pintar dalam bahasa Inggris.
"Huff, menyebalkan sekali," gerutu Monica.
Lalu guru itu menyuruh Monica untuk duduk di bangku kosong, di sebelah seorang murid laki-laki. Dari penampilannya seperti bad boy, kemeja seragamnya saja tidak terkancing semua dan menampakan kaos putih polos di dalamnya, tetapi setelah Monica perhatikan dari dekat, menurut Monica anak laki-laki itu terlihat tampan dan manis.
"Hai, aku Monica," sapa Monica.
"Udah tahu, kan tadi kamu udah kenalin diri kamu di depan kelas," jawab siswa itu.
Monica melebarkan matanya setelah mendengar kalimat yang keluar dari siswa itu, "Menyebalkan."
"Aku Panji." Siswa itu berucap setelah melihat Monica duduk dengan wajah cemberut.
Monica menoleh ke arah siswa menyebalkan itu saat mendengar suaranya dan Monica melihat dia tersenyum.
"Sungguh manis," batin Monica.
Monica pun membalas senyuman dari siswa yang bernama Panji itu.
Pelajaran sudah dimulai dan Monica belum mempunyai buku. Beruntung teman sebangkunya itu sangat baik, karena mau membagi bukunya dengan Monica.
Jam istirahat tiba, Monica ingin keluar dari kelas namun ia belum tahu setiap sudut sekolah ini.
"Kamu tidak ke kantin?" tanya Panji.
Monica langsung menoleh ke arah Panji, "Tidak, aku belum tahu area sekolah ini," jawab Monica.
"Oke kalau begitu …." Panji beranjak kursinya lalu mengulurkan tangannya ke arah Monica. "Ayo kita berkeliling sekolah, aku akan menjadi tour guide mu hari ini."
Monica terpaku saat melihat Panji tersenyum dan itu makin membuat Panji terlihat tampan, tetapi bagi Monica, Panji masih kalah sama pesona om Egi nya.
Monica nampak ragu untuk menerima uluran tangan Panji namun Panji dengan cepat meraih tangan Monica dan langsung menggenggamnya, dengan erat.
Monica bisa merasakan tangan Panji yang sedikit kasar. Sepetinya dia pekerja keras dan suka bermain gitar.
Monica dan Panji berjalan menelusuri koridor sekolah dan Panji menunjukan semua sisi sekolah itu pada Monica.
Dan pada saat itu juga Monica baru mengetahui jika Panji adalah ketua OSIS di sekolah itu. Monica sedikit kurang percaya atas apa yang ia dengar karena penampilan Panji sama sekali tidak mencerminkan ketua OSIS.
Panji mengajak Monica ke lapangan sepak bola dan tanpa melepas genggaman tangan mereka. Panji langsung memperkenalkan Monica pada teman-temannya.
"Wiiih … pacar baru nih," ledek salah seorang dari teman Panji.
"Sembarangan, dia anak baru di sini. Namanya Monica," ujar Panji.
"Ooooooooh," sahut mereka bersama sebelum tertawa serempak. Panji menggeleng kecil menanggapi teman-temannya dan Monica hanya diam saja karena dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"Sudahlah kalian puas-puasin tertawa, gue pergi dulu," pamit Panji.
Panji kembali membawa Monica dan sekarang Panji mengajak Monica ke kantin sekolah itu. Panji mengajak Monica duduk kursi kosong di sudut kantin itu.
Sesampainya di kantin, Monica melihat tempat itu ramai sekali. Monica bingung harus bagaimana dan pesan apa. Suasananya berbeda sekali dengan kantin sekolahnya dulu, tempatnya tidak seperti itu karena Monica bersekolah di sekolah asrama dan makanan nya pun langsung di sajikan di atas meja.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Panji membuat Monica kembali fokus pada laki-laki itu.
Monica mengerutkan keningnya, karena merasa bingung apa yang harus ia lakukan. "Terserah kamu saja, aku tidak tahu menu apa saja disini," jawab Monica.
Panji terlihat bingung juga, Panji menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku dulu tinggal di asrama, dan kamu pasti tahu lah seperti apa asrama," ucap Monica.
Panji manggut-manggut sebelum ia berdiri dan berjalan ke salah satu pedagang makanan. Setelah itu Panji kembali ke kursinya dengan dua botol air mineral di tangannya.
"Ini untukmu." Panji memberikan satu botol air mineral pada Monica.
Monica menerima botol air mineral yang diberikan oleh Panji, "Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
Tidak lama kemudian dua mangkok berisi bakso yang Panji pesan datang. Panji memberikan satu mangkok bakso itu pada Monica dan satu mangkok lagi untuk dirinya sendiri.
Monica menoleh ke kanan dan ke kirinya ada banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Dalam benak Monica mungkin mereka tidak suka melihatnya bersama Panji.
Monica dan Panji mulai memakan makan bakso itu dan bagi Monica ternyata rasanya cukup enak. Monica memakan satu mangkok bakso dengan lahap tanpa Monica tahu Panji sedang memperhatikan dirinya.
Setelah sadar jika Panji sedang memperhatikan dirinya, Monica pun bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Monica.
"Kamu laper apa doyan?" tanya balik Panji.
Spontan Monica melepaskan tawanya, ini sungguh memalukan bagi Monica. Panji hanya menanggapi itu dengan senyumannya saja.
"Maaf aku tidak pernah memakan makanan seperti ini, dan ternyata ini rasanya lumayan," ucap Monica
"Kamu mau tambah, aku pesenin lagi." Panji kembali beranjak dari tempat duduknya tetapi Monica langsung mencegahnya.
"Aaah tidak! Tidak usah," tolak Monica cepat.
Setelah berada di kantin cukup lama, dan saling berbicara tentang diri mereka, Panji dan Monica memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Belum sehari mereka saling mengenal mereka terlihat sudah sangat akrab.
Keduanya masih melanjutkan obrolan mereka di sepanjang koridor menuju ke kelas mereka. Dan dalam perjalanan telinga mereka mendengar bunyi bel masuk.
"Ayo cepat kita harus segera masuk ke dalam kelas," ajak Panji.
Panji kembali mengandeng tangan Monica seolah takut jika anak baru itu tersesat ke tempat lain.
Monica pun tidak menolak saat Panji kembali menggenggam tangannya ia sendiri juga takut jika ia tersesat di sekolah barunya itu.
"Hay Panji, barang baru nih?" ucap seorang siswa saat berpapasan dengan meraka.
"Kampret," umpat Panji.
Monica hanya tersenyum melihat candaan mereka, lalu mereka pun berjalan kembali menuju kelas mereka.
"Jangan dengerin omongan mereka tadi. Mereka memang suka ngejekin aku kalau lihat aku jalan sama perempuan," ucap Panji saat mereka sudah duduk di kursi mereka.
Monica hanya mengangguk dan tersenyum kepada Panji. Monica merasa senang bisa mengenal Panji dan menurut Monica Panji sudah menjadi tour guide yang baik untuk dirinya. Monica juga menilai Panji adalah orang yang sangat asyik untuk di ajak berteman. Mereka kembali fokus pada pelajaran saat guru masuk ke kelas mereka.
Jam pulang sekolah akhirnya datang, Monica sedang berdiri di depan pintu gerbang untuk menunggu mobil yang menjemputnya. Berulang kali Monica melihat jam yang melingkar di tangannya, Monica sudah setengah jam berdiri di sana tetapi belum ada tanda-tanda kemunculan supir keluarganya. Dan berulang kali juga Monica mencoba menghubunginya, tetapi tidak ada jawaban.
"Sebeeel …," gerutu Monica sambil menghentakkan kakinya berulang-ulang.
"Monica kamu ngapain berdiri di situ? Kamu belum pulang?"
Suara yang tiba-tiba muncul itu mengejutkan Monica dan membuat Monica berbalik. Monica mendapati Panji yang tengah duduk di motor gedenya tepat di sampingnya.
"Ah iya, jemputan ku belum datang," sahut Monica.
"Ya sudah, ayo aku antar!" ajak Panji.
"Tidak usah! Aku tidak bisa naik motormu," tolak Monica.
Monica melihat Panji tidak merespon ucapannya, "Apa dia kesal?" batin Monica.
"Maksudku, aku pakai rok sekarang … dan aku tidak mungkin naik ke motormu pasti kakiku..." Monica menjeda kalimatnya, "sebenarnya aku malu, saat ini aku rok yang pendek dan saat aku naik ke motormu, membuat pahaku terekspos," jelas Monica dengan suara lirihnya namun bisa di dengar oleh Panji.
Panji manggut-manggut mengerti maksud dari ucapan Monica.
"Baiklah kalau begitu aku akan menemanimu di sini sampai jemputan mu datang," ucap Panji
"Tidak, aku tidak mau merepotkan mu." Lagi-lagi Monica menolak tawaran Panji.
"Tidak apa-apa. Aku takut perempuan secantik kamu kenapa-napa jika disini sendiri."
Monica langsung tersipu malu saat mendengar ucapan Panji.
Panji masih setia menemani Monica untuk menunggu jemputannya dan kini sudah satu jam, mereka menunggu. Monica mengerutu kesal, kalau saja dirinya sudah hafal jalan menuju sekolah, Monica lebih memilih untuk membawa mobil sendiri.
Panji mengajak Monica mengobrol untuk mengalihkan rasa kesal Monica. Dan tidak lama mobil yang menjemputnya terlihat sedang melaju ke arahnya. Pak teguh keluar dari mobil dengan terburu-buru.
"Maaf, Non Monica, saya telat jemput nya. Ban mobilnya bocor, jadi harus ganti ban dulu,"
jelas pak teguh. Monica ingin marah tetapi saat melihat wajah cemas pak Teguh Monica mengurungkan niatnya.
"Iya, Pak. Tapi lain kali jangan gini lagi ya. Untung ada Panji yang nemenin aku," ucapku sedikit kesal.
"Maaf ya sudah merepotkan Den Panji," ucap pak teguh.
"Gak apa-apa, Pak," balas Panji.
"Mari Non Monica." Pak teguh membukakan pintu mobil untuk Monica dan Monica masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada Panji.
"Makasih Panji atas waktunya. Sampai ketemu besok." Monica pun melambaikan tangannya dari dalam mobil dan Panji pun membalas lambaian tangan Monica diiringi senyuman yang sangat manis. Pak Teguh mulai melajukan mobilnya dan melesat meninggalkan sekolah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Pasti Panji ini Playboy ya,Novel ini ternyata kusah Monica ya,Ku pikir kisah mamanya..
2024-05-12
0
Ratna0789
Mampir lagi kak aku di sini 🤗🤗🥰
2021-12-17
0
Bundanya Robby
semoga Panji sahabat yg baex ya...dn gak mecem2
2021-02-18
2