Hal yang paling dinanti wanita yang sedang mengandung adalah kelahiran bayinya. Meski sakit tapi tak akan sebanding dengan kebahagiaan yang akan didapat setelah melihat malaikat kecilnya lahir ke dunia.
❤️❤️❤️❤️❤️
Usia kandungan Ratna sudah memasuki trimester ke 3. Prediksi hari perkiraan lahir satu Minggu lagi. Tetapi semua itu hanya prediksi manusia, tetap saja yang menentukan adalah sang pencipta.
Ratna sedang berbelanja pakaian bayi bersama Donita dan Safitri, berulang kali Ratna mengeluh sakit pada perutnya dan berulang kali Ratna berhenti berjalan untuk menetralkan rasa sakit di area intinya serta perut bagian bawahnya. Sepertinya sang bayi sedang mencari jalan keluar dari perut sang ibu.
Safitri yang melihat anaknya merasa khawatir, lalu menghampiri anaknya yang sedang duduk di kursi di sudut toko pakaian bayi.
"Ratna, kamu kenapa sayang?" tanya Safitri sambil mengusap rambut anaknya.
"Perut Ratna sakit, Bu. Mules juga." jawab Ratna lirih.
Safitri mulai panik, lalu dia memanggil Donita dan memberi tahu kondisi Ratna. Segera Donita dan Safitri menghampiri Ratna dan membawanya keluar toko pakaian bayi itu. Dan untung saja mereka tak berbelanja di mall, karena pasti akan repot.
Keduanya menuntun Ratna menuju mobilnya.
"Pak Bowo, ke Rumah sakit ya!" perintah Donita.
"Baik, Bu," jawab pak Bowo supir di rumah Donita.
Di dalam mobil Ratna masih mengerang kesakitan, rasanya sangat sakit. Donita dan Safitri menenangkan Ratna. Donita mengusap keringat di wajah Ratna.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ujar Safitri.
Donita geram melihat lalu lintas yang sangat padat. Meski masih siang kenapa jalannya sudah padat sekali? Dan jawabnya adalah karena ini malam minggu.
Berulang kali Bowo membunyikan klakson mobilnya, namun tak ada yang mau mengalah. Meski sudah ada polisi yang mengatur lalu lintas tetap saja tak bisa mengendalikan padat nya lalu lintas.
Donita makin geram dia sudah tidak sanggup melihat menantunya menahan sakit sepeti itu. Donita turun dari mobil dan berjalan menghampiri polisi lalu lintas. Mungkin saja hanya satu dari sepuluh mertua yang akan melakukan tindakan itu.
"Pak, saya minta tolong. Menantu saya mau melahirkan. Saya sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Tolong bantu saya mengantar saya ke rumah sakit." ucap Donita secara tegas kepada polisi.
Tak pikir panjang, salah satu polisi yang sedang bertugas di jalan menaiki motornya lalu menyalakan sirine. Donita menyuruh supirnya untuk mengikuti polisi didepan mobilnya.
Suara sirine dari motor polisi itu seakan membelah jalanan yang sangat padat. Mobil yang ditumpangi Donita berjalan tanpa hambatan dan sampai cepat di rumah sakit.
Donita mengucapkan terima kasih kepada polisi yang mengawalnya. Dan segera membawa Ratna masuk ke ruang IGD. Dokter dan perawat memeriksa kondisi Ratna yang ternyata sudah memasuki pembukaan empat.
Ratna menggenggam tangan Safitri dan Donita. Harusnya sang suaminya lah yang ada di sisinya untuk menguatkan dirinya. Tapi kemana Suaminya sekarang? jawabnya adalah dia sedang memadu kasih di atas ranjang dengan kekasih gelapnya, Karin. Dari dua hari yang lalu Rehan belum kembali dari luar kota.
Donita menghubungi Reivan dan juga Gunawan, mengabari mereka kalau Ratna akan melahirkan. Satu jam Reivan dan Gunawan baru sampai di rumah sakit. Keduanya langsung menemui Donita.
Gunawan melihat kondisi Ratna, dia menanyakan keberadaan Rehan kepada Donita, namun gelengan Kepala Donita yang dia dapat. Gunawan kecewa pada Rehan, dia ingat saat Donita akan melahirkan, yang paling dibutuhkan istri saat melahirkan adalah suaminya, tetapi sekarang bahkan keberadaan Rehan pun tak diketahui.
Reivan prihatin dengan keadaan kakak iparnya, dia mencoba mengirim pesan pada kakaknya namun lama tak mendapat balasan. Sekarang Ratna sudah memasuki pembukaan sembilan dan sudah dipindahkan keruang persalinan untuk memulai proses persalinannya. Dokter menanyakan keberadaan suami Ratna, Gunawan beralasan sedang dalam perjalanan.
Di tempat lain
Rehan tak memperdulikan bunyi di ponselnya, apalagi setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Mamah. Dia lebih memilih melanjutkan menyatukan tubuhnya dengan Karin. Setan mana yang sudah merasuki Rehan, dia tega mengkhianati Ratna saat istrinya itu sedang mengandung anaknya bahkan sekarang dia sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan darah dagingnya.
Rehan lebih memilih melanjutkan hubungan terlarang nya dengan Karin, karena bagi Rehan tubuh Ratna sudah tidak menggoda lagi. Jelaslah Ratna sedang mengandung bayi dan porsi makannya bertambah, membuat tubuhnya gemuk. Sedangkan Karin, tubuhnya masih seperti biasa bak model, sexi tentu.
Puas merasakan kenikmatan berulang-ulang Rehan memutuskan untuk melihat pesan yang masuk ke ponselnya. Matanya terbuka lebar saat melihat pesan dari Reivan, adiknya.
"Ratna melahirkan," gumannya.
Rehan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dengan secepat yang dia bisa Rehan memakai baju ganti yang dia bawa. Karin menghentikan tangan Rehan yang sedang mengancing kemejanya.
"Kenapa buru-buru, sayang," tanya Karin dengan suara manjanya.
"Maaf Karin, Ratna sedang melahirkan. Aku harus segera pulang."
Karin memajukan bibirnya tanda dia tak suka mendengar alasan Rehan meninggalnya. Rehan terus menyakinkan Karin untuk bersabar untuk menunggunya. Karin terus mendesak Rehan untuk meninggalkan Ratna dan menikahinya, namun Rehan tak bisa meninggalkan Ratna karena orangtuanya. Dan tanpa sepengetahuan Ratna dan orangtuanya, Rehan dan Karin sudah menikah siri.
-
-
-
-
Di rumah sakit, Ratna sedang berjuang untuk melahirkan, rasa sakit masih terasa. Ratna terus menggenggam tangan dua wanita yang tak lain ibu dan mertuanya. Setelah melalui proses yang cukup panjang, Ratna akhirnya bisa mendengar tangis bayi. Air mata Ratna mengalir dari sudut matanya, semua orang pun akhirnya bisa bernafas lega.
Dokter dan perawat yang membatu persalinan menaruh bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu ke atas dada Ratna, memberi kesempatan bagi kecil itu untuk melakukan Inisiasi menyusu dini, tapi ternyata bayi itu sudah tertidur.
Senyum Ratna mengembang saat melihat putri kecilnya begitu mungil, wajahnya mirip dengan Rehan, namun mata dan hidung seperti dirinya. Suster membawa bayi perempuan dengan berat 3,5 kg dan panjang 48 itu ke ruang bayi.
Ratna sudah dipindahkan ke ruang perawatan, namun Rehan belum juga datang. Sebenarnya dia kemana, tanya Ratna dalam hatinya. Tak terasa air matanya menetes, dan segera Ratna menghapusnya setelah melihat ada yang membuka pintu ruangan itu.
"Hallo sayang." Rasa kecewa lagi-lagi harus Ratna rasakan, dia pikir kalau suaminya yang datang tetapi ibu dan mertunya serta keluarganya yang masuk kedalam kamar rawat inapnya. Ratna merasa kecewa dan sedih namun sebisa mungkin untuk tetap tersenyum, demi orang-orang yang sangat menyayanginya.
Safitri mencium dan menghapus air mata Ratna yang keluar di sudut mata anaknya. Sebagai seorang ibu pasti tahu kalau anaknya pasti sedang mencari keberadaan suami yang sampai sekarang belum datang.
"Sabar ya, Nak. Mungkin suamimu sedang dalam perjalanan kemari." bisik lembut Safitri di telinga Ratna, mencoba menghibur anaknya.
Ratna tercengang mendengar perkataan ibunya, Ratna tak mengira kalau ibunya tahu apa yang sedang dia pikirkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Tiwik Refresi Wiyono
dasar si Rehan.......gak punya perasaan,semoga dapat karmanya dia
2022-08-20
0
mryti75
laki2 kaya Rehan tu harus dikasi karma, buat spy rehan g bs puxa anak kalau nikah lg
2022-01-16
0
Sulati Cus
g py perasaan istri bertaruh nyawa demi melahirkan benihnya dia malah gelap celup nanam benih di wanita lain
2021-06-02
0