I always remember you, love and miss you.
❤️❤️❤️❤️❤️
10 tahun kemudian,,,,,,,,
Monica tersenyum gembira, akhirnya setelah sekian lama dia akan bertemu dengan Ratna, ibu kandungnya. Monica Alandra putri, kini berusia 17 tahun dan hanya tinggal menunggu beberala bulan lagi akan dia akan genap berusia 18 tahun.
Monica sudah memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk pertama kali jika bertemu dengan Ratna. Dia akan mencium bahkan rela bersujud untuk menebus kesalahannya pada Ratna selama ini.
"Ini gara-gara si nenek sihir itu," gumannya lirih. Monica menghapus air matanya setelah sang pramugari mengumumkan kalau pesawat yang dia tumpangi akan mendarat di Bandara, di negara kelahirannya.
-
-
-
-
Angga dan Egi sedang berada di Bandara, mereka sedang menunggu seseorang yang sudah lama mereka tunggu. Keduanya nampak sesekali melihat ke pintu keluar Bandara berharap seseorang yang mereka tunggu segera terlihat.
Senyum Angga mengembang saat melihat gadis muda yang dia tunggu, siapa lagi kalau bukan anak tirinya, Monica Alandra putri. Terakhir Angga melihatnya saat Monica masih berumur 7 tahun, sebelum Rehan membawa Monica keluar negri.
Angga melambaikan tangannya saat Monica berjalan keluar Bandara. Angga menghampirinya dan langsung memeluk anak tirinya. Kedekatan keduanya memang sudah lama, semenjak Monica masih berumur 2 tahun setelah Ratna berpisah dari Rehan.
"Apa kabar, Monica?" tanya Angga.
"I am fine," jawab Monica. Mata Monica berkaca-kaca dan cairan bening meluncur bebas dari matanya.
"Jangan menangis, sebentar lagi kamu akan Bertemu dengan Mamah kamu." Angga menghapus air mata Monica. Angga tak menyangka bisa bertemu lagi dengan anak tirinya dan sekarang anak tirinya bahkan sudah setinggi bahunya, tingginya hampir sama dengan Ratna. Angga segera menuntun Monica ke mobilnya.
"Hay Monica, apa kabar?"
Monica mendongak saat seseorang menanyakan kabarnya. Monica mengerutkan keningnya, dia merasa pernah melihat laki-laki tampan di sebelahnya.
"Kamu tidak mengenalnya, Monica?" tanya Angga.
Monica menggelengkan kepalanya cepat, Angga tersenyum sedangkan laki-laki di sebelahnya merajuk, tepatnya pura-pura merajuk.
"Lihat Mas Angga. Dia jahat sekali tidak mengenaliku. Padahal dia waktu kecil dulu selalu menangis saat aku tinggal pergi. Dia lupa kalau dia senang sekali saat duduk di pangkuanku bahkan sampai dia tertidur." keluhannya.
Wajah Monica tiba-tiba memerah, ini sungguh memalukan, bagaiman bisa dia duduk di pangkuan laki-laki di hadapannya. Tapi itu kan dulu saat Monica masih berumur 3 tahun, Egi sangat menyukai Monica yang berbadan gemuk dan pipinya yang chubby.
"Dia Om Egi, Monica!" jelas Angga. "Kau sudah ingat?"
Monica tersenyum saat ingatannya kembali di saat terakhir dia bermain dengan Egi dulu. Monica terakhir bertemu dengan Egi saat usia 5 tahun, Egi kuliah ke luar negeri dan Monica juga ingat saat Egi meninggalnya dirinya sedang tidur. Alhasil saat Monica tak melihat Egi beberapa hari di rumahnya dia menangis sejadi-jadinya.
Monica langsung memeluk Egi dan meraung di pelukannya. Monica memukul dada Egi berulang-ulang melampiaskan kekesalannya.
"Om Egi jahat. Om Egi pergi gak bilang sama Monic."
Egi tersenyum, Ya ampun ternyata si gendut nya itu masih sangat manja padanya. Egi lalu mengusap rambut panjang Monica. Sadar banyak orang di Bandara yang menatap pada dirinya, Egi menjauhkan tubuh Monica dan menghapus air mata nya.
"Maafin Om Egi ya."
Monica mengangguk meski masih menangis sesenggukan.
Angga merangkul pundak anak tirinya itu," ayo kita beri kejutan buat Mamah kamu." ajak Angga.
Ketiganya berjalan menuju mobil yang terparkir di depan Bandara. Angga dan Egi memang sengaja tak ingin memberi tahu pada Ratna tentang kedatangan Monica.
❤️❤️❤️❤️
Mobil Angga sudah memasuki gerbang rumahnya. Rumah sekarang berbeda jauh dari rumah kontraknya dulu. Monica masih mengingat masa-masa sulit saat Angga belum sesukses ini. Angga harus berterima kasih kepada Egi karena berkat dirinya, Angga bisa sukses sepeti ini. Bukan hanya dirinya yang merasakan kesuksesan dari tangan Egi, tapi sang istri, Ratna pun berkat bantuan dana dari Egi, dirinya bisa mempunyai toko kue yang besar.
Seorang pekerja rumah tangga di kediaman Angga membukakan pintu untuk majikannya.
"Ibu sudah pulang belum, mbak?" tanya Angga.
"Belum Pak," jawab Nani.
"Ya sudah kalau sudah pulang nanti, mbak Nani panggil saya sama Egi di kamar atas ya. Dan satu jangan bilang saya bawa gadis ini ke sini. Kalau Mbak Nani bilang ke ibu, nanti saya pecat," ancam Angga yang sebenarnya hanya bercanda tapi Angga membuat seolah serius dengan wajah yang dibuat segarang mungkin. Monica dan Egi hanya senyum-senyum saja.
Asisten rumah tangga Angga hanya cengengesan mendengar ancaman dari bos nya. Lima tahun Nani bekerja di rumah besar itu, dia tahu sifat bos-nya itu sepeti apa. Kalau saja Monica tak mirip dengan ibu bos-nya, pasti Nani akan merasa curigai, dan juga Nani sudah pernah mendengar cerita tentang Monica dari Ratna.
"Surprise ya, Mba. Janji loh jangan bilang-bilang sama ibu," tegas Angga sekali lagi.
"Beres Pak, tapi tanggal satu nanti ditambahin ya, Pak" pinta Mbak Nani sambil cengengesan.
"Bereslah, Mbak..!" ucap Angga dengan mengacungkan jempol tangan kanannya.
Angga berjalan sambil merangkul pinggang anak tirinya, meski Monica anak tiri namun Angga sangat menyayanginya.
"Gi, antar Monic ke kamar atas paling ujung itu ya, aku mau lihat Rangga dulu."
Egi mengangguk, lalu menggandeng tangan Monica menuju kamarnya yang sudah disiapkan oleh Angga. Monica berjalan dengan pandangan yang terus tertuju pada sosok Egi. Laki-laki yang selama ini sangat dia rindukan, mungkin karena saat dirinya masih kecil, Egi begitu menyayanginya dan saat Monica tahu Egi pergi tanpa berpamitan padanya, Monica kecil merasa ada yang hilang dari dalam dirinya.
Monica terperangah saat melihat kamar tidurnya, kamar yang didominasi warna kesukaannya, ungu. Hmm Ayah Angga tahu apa yang aku sukai. Monica menitihkan air mata saat mengingat ayah kandungan, Rehan. Monica merasa kasih sayang Rehan masih kalah jauh dari kasih sayang ayah tirinya. Rehan selalu memanjakannya dengan uang, barang apapun yang Monica inginkan pasti selalu dia kabulkan. Tetapi Rehan sama sekali tak pernah meluangkan waktu hanya untuk sekedar makan malam bersama.
"Monica kenapa menangis, gak suka sama kamar ini?" tanya Egi.
Buru-buru Monica menghapus air matanya, "Gak kok, Om. Monica suka kok, suka banget malah."
"Ya sudah kamu istirahat, Om turun dulu." Egi tersenyum, tangannya mengusap lembut pipi Monica. Egi berjalan melewati Monica namun tangganya di cekal oleh Monica.
"Ada apa Monica?" tanya Egi. Monica tak menjawab malah mendekatkan wajahnya ke wajah Egi dan mendaratkan satu kecupan di pipinya.
"Makasih Om Egi..!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Sulati Cus
anak gadis main sosor aja awas tar cinta
2021-06-02
0
Hasnah Rias Pengantin
thooorr Rehan gmna kbr nya ya
2021-04-13
0
Nur Lela
wadau...monica nyosor kaya soang
2021-04-02
0