Cinta yang tulus di balas dengan sebuah penghianatan. Rasa sakit yang dirasa seperti tertusuk pedang yang berkarat.
💔💔💔💔
Ratna sedang mematut dirinya di depan cermin, sesekali dia memutar badannya ke kanan dan ke kiri untuk melihat kalau ada yang masih kurang. Kini Ratna akan mulai memasuki gerbang universitas.
Ratna tertegun saat ada yang memeluknya dari belakang, siapa lagi kalau bukan suami tercintanya, Rehan Alandra. Senyum mengembang di bibir Ratna dan rona merah terpancar di wajahnya. Meski sudah sering melihat suaminya telanjang dada, tapi tetap saja Ratna masih merasa malu.
"Mas, sudah siang loh. Nanti kamu terlambat ke kantor." ucap Ratna.
Rehan masih betah memeluk istrinya manja, kepalanya menelusup ke leher Ratna serta menghirup aroma tubuh Ratna. Ratna merasa geli saat Rehan mengigit kecil di lehernya..
"Mas, geli." rengek manja Ratna.
Beberapa menit kemudian Ratna merasa mual, dengan segera Ratna melepaskan pelukan suaminya dan berlari ke kamar mandi. Ratna terus memuntahkan cairan bening yang terasa pahit. Sudut mata Ratna sampai mengeluarkan airmata.
Di luar kamar mandi Rehan masih menunggu Ratna. Ada rasa sedikit cemas di hatinya, melihat istrinya mendadak mual seperti itu. Rehan melihat kearah pintu kamar mandi yang mulai terbuka. Rehan melihat wajah Ratna yang pucat, serta tubuhnya yang nampak lemas. Rehan berjalan menghampiri Ratna dan memeluknya.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Rehan.
Ratna menjawab dengan gelengan kepala, rasanya sangat lemas, pandangannya mulai kabur dan seketika semuanya menjadi gelap. Ratna pingsan di pelukan Rehan.
Rehan terkejut, dengan segera mengangkat tubuh Ratna dan membaringkannya di atas ranjang. Dia langsung berlari keluar kamar dan memanggil Donita.
"Mah, Mamah," panggil Rehan dengan berteriak.
Suara Rehan mengangetkan seluruh orang di rumah.
"Kenapa sih Nak? Pagi-pagi udah teriak-teriak. Mau bikin Mamah sama Papah jantungan?" tanya Donita kesal.
"Mah, Pah. Ratna pingsan." ucap Rehan.
"APAAAAAH" teriak Donita, Gunawan, juga Reivan yang langsung membuat Rehan terjengit kaget. Kini dia lah yang akan sakit jantung.
"Kamu apain Ratna sampai pingsan?" tanya Gunawan panik.
"Pasti kamu mainnya kasar nih sama Ratna?" seloroh Donita, yang langsung mendapat tatapan tak percaya dari ketiga laki-laki di dekatnya.
Aduh punya Mamah kok enteng banget kalo ngomong.
"Aduh kok malah pada diem, cepetan donk ke kamar Rehan." ujar kesal Rehan.
Keempat orang disana langsung berlari ke kamar, tak lupa Gunawan memberi tahu Sari untuk segera menghubungi Dokter pribadi keluarga mereka. Rehan membuka kamarnya dan melihat istrinya yang masih belum sadar.
Donita membawa minyak angin dan menempelkan di hidung Ratna berharap Ratna bisa menghirup aroma minyak angin dan segera sadar. Benar saja, tak lama setelah itu Ratna mulai membuka matanya, dia bisa melihat Donita di sampingnya dengan wajah cemas.
"Mah, kepala Ratna pusing, mual Mah." ucap lirih Ratna.
Donita berfikir sejenak dan tiba-tiba senyumnya mengembang, "kamu bulan ini sudah datang bulan belum?" tanya Donita.
Ratna mengerutkan keningnya, kenapa mertuanya tiba-tiba menanyakan hal itu. Masih tak mengerti apa maksud mertuanya tapi Ratna tetap mencoba mengingat-ingat, dia baru sadar bulan ini dia sudah telat selama 2 minggu.
Donita yang sudah memperkirakan hal itu dia langsung pergi ke kamarnya dan mengambil alat tes kehamilan yang dia simpan. Segera Donita menuntun Ratna ke kamar mandi dan memberitahukan cara memakai alat tes kehamilan itu.
Keempat orang yang berada di kamar Rehan menanti dengan cemas, Donita berharap kalau hasilnya positif sesuai keinginannya. Pintu kamar mandi terbuka perlahan, Donita orang yang pertama kali menghampiri Ratna.
"Bagaimana Ratna?" tanya Donita antusias.
"Garis dua, Mah" Ratna sudah mengetahui arti dua garis merah di benda pipih yang ada di tangannya, positif hamil.
Donita langsung histeris lalu berhambur memeluk Ratna dan mencium pipinya bertubi-tubi. Setelah itu dia berlari menuju Rehan, dia melakukan hal hal yang sama kepada Rehan.
"Selamat sayang, kamu akan jadi seorang ayah" ucapnya pada Rehan.
Donita heboh sendiri. Senyum mengembang juga diperlihatkan oleh Gunawan dan Reivan. Rehan sedikit ada rasa kurang suka. Dia belum siap mempunyai seorang anak dan juga belum siap menjadi seorang ayah.
Sepeninggal keluarganya, Rehan mendekati Ratna. "Kok kamu bisa hamil, bukannya kamu tiap hari minum pil pencegah kehamilan?" tanya Rehan.
"Sebenarnya aku sudah gak minum pil itu, Mas," jawab Ratna. Ratna bukan sengaja tak meminumnya, hanya saja Ratna lupa membelinya karena kesibukannya di awal masuk ke universitas.
Rehan berdecak. "Kamu ini gimana sih?"
"Mas Rehan emang gak suka kalau Ratna hamil? ini kan anak kamu juga."
"Aku bukannya gak suka, aku belum siap."
Ratna menunduk sedih karena Rehan tak mengharap kehadiran bayi yang ada di dalam kandungannya. Ratna menangis lirih setelah kepergian Rehan.
Hari sudah berganti Minggu, dan Minggu sudah berganti bulan. Usia kandungan Ratna sudah 5 bulan. Pernikahannya dengan Rehan pun sudah di umumkan sejak usia kandungannya baru 4 minggu. Rehan masih belum sepenuhnya menerima kehadiran calon buah hatinya yang sekarang bersemayam di rahim Ratna.
Ratna juga melihat ada berubahan besar pada sikap sang Suami. Tak jarang suaminya pulang malam, bahkan tak pulang. Kini keduanya sudah tinggal terpisah dengan Donita. Rehan dan Ratna tinggal di apartemen milik Rehan yang dibelikan oleh Gunawan.
Ratna juga sudah berhenti kuliah dan fokus mengurus rumah tangganya. Ratna ingin lebih fokus mengurus suaminya. Tapi semua itu tak bisa membuat Rehan merubah sikapnya.
"Mas, kenapa kamu jarang pulang. Kamu kemana saja beberapa hari ini?" tanya Ratna saat sumainya sedang bersiap ke kantor.
"Aku kan sudah bilang, ada pekerja di luar kota. Kalo tidak percaya tanya saja sama Papah?" jawab Rehan datar sembari mengancing kemejanya.
Memang benar Rehan pergi keluar kota karena tugas dari Gunawan. Namun bukan cuma itu, tanpa sepengetahuan Gunawan dan Ratna, Rehan membawa Karin untuk memuaskan hasratnya. Rehan masih berhubungan dengan Karin, Rehan sudah tak pernah menyentuh Ratna. Dia melihat tubuh Ratna yang gemuk menjadi tak berselera.
Berulang kali Ratna mencium parfum wanita setiap Rehan pulang malam. Ratna bukan tak curiga, tapi dia memilih diam, dia selalu mencoba berfikir positif terhadap suaminya, meski nalurinya sebagai istrinya berbicara kalau Rehan memiliki wanita lain di luar sana.
Ratna selalu menutupi semua kelakuan suaminya terhadapnya dari mertua dan orang tuanya sendiri. Kadang hanya menangis yang bisa Ratna lakukan untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi Ratna tak bisa berbohong dari seorang Reivan. Reivan tahu tentang hubungan Rehan dan Karin. Bahkan dia pernah memergoki kalaknya itu keluar masuk hotel bersama Karin. Untuk apa mereka keluar masuk hotel kalau bukan untuk memuaskan hasrat mereka.
Ingin rasanya Reivan mengatakan kelakuan kakaknya kepada kakak iparnya, namun Reivan tak punya keberanian untuk itu. Dia takut akan menambah luka di hati kakak iparnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
runma
ceburin kali aja. laki2 bgtu
2022-09-11
0
AInun Alfin
udah mulai mengandung bawang nih,,....😅
2021-03-12
0
Raditt Algifari
laki2 bezad ga bermoral bikin malu 😡😡
2021-02-24
2