"Nak, Benarkah ini Kamu, Sayang?" Alexa seolah kehilangan kata-katanya kala menatap anak dalam pelukannya benar-benar putranya Rion. Air matanya tak berhenti mengucur kala luapan kerinduannya kini mulai terobati pada putranya, Rion.
"Mommy, Ron merindukan Mommy, sangat merindukan Mommy." Rion memeluk Mommy nya tak kalah eratnya.
Mereka semua yang menyaksikan seolah terdorong dalam larutan keharuan di depannya. Sementara bibi Viona keluar dari dalam rumah ketika mendengar suara tangisan Alexa.
Ia tercekat melihat ada dua Renon di depannya. Dan di sisi lainnya ada beberapa orang yang tidak ia kenal. Ia masih merasa bingung dengan situasi yang terjadi.
Namun tiba-tiba tembakan kembali terdengar. Sepertinya musuh mengetahui keberadaan mereka. Dengan cepat Liam, Dewa dan Paman Lucas segera berlari menghampiri Alexa dan juga bibi Viona beserta Rion untuk segera masuk kedalam mobil. Sungguh Alexa dan juga bibi Viona merasa takut dan juga bingung dengan semua ini.
Mobil mereka melesat dengan begitu cepatnya. Dari kaca spion luar terlihat ada beberapa mobil yang mengikuti mereka di belakang.
"Uncle, tambah kecepatan lagi!" Rion berteriak kala tembakan dari belakang semakin santer terdengar mencoba menembaki mereka.
"Shiit! Ini sudah kecepatan penuh, Son!" Dewa menjawab dengan fokus dengan kemudinya. Sementara para wanita begitu ketakutan dengan kecepatan mobil yang memacu adrenalin.
Sementara Liam mencoba menembaki para musuh di belakang dengan senapan angin yang banyak sekali di dalam mobil. Mungkin Dewa sudah mempersiapkan semuanya. Sesekali Liam juga melemparkan granat ke belakang.
Dan itu bisa sedikit berhasil, karena beberapa mobil musuh ada yang berhasil di lumpuhkan.
"Kau keren, Bung," Dewa memuji kelihaian Liam. Dan di balas dengan semirik senyum oleh Liam.
"Sekarang kita mau kemana?" Dewa masih belum menemukan tempat untuk mereka berhenti. Tempat di mana musuh tidak mengejar mereka lagi. Karena markas Dewa masih begitu jauh, dan peralatan untuk menghubungi polisi lainnya masih berada di rumahnya yang mungkin sudah di ledakan.
Namun di depan ternyata ada beberapa mobil yang menghadang mereka.
"Dobel shiit! Siapa mereka? Sepertinya kita akan tamat!" Dewa mengumpat seraya mengerem laju mobilnya hingga membuat mereka sedikit terguncang.
Musuh di belakang juga berhenti. Lalu dari depan mobil yang menghadang muncul beberapa orang yang juga menodongkan senjata api kearah mobil. Sementara musuh di belakang pun sama. Sepertinya mereka bersekutu.
"Bagaimana ini?" Alexa dan bibi Viona begitu ketakutan. Mereka saling memeluk. Mungkinkah hidup mereka semua benar-benar akan tamat di sini?
"Hei, Nak. Apa Kau masih memiliki lalat-lalat seperti tadi?" tanya Dewa. Namun George menggeleng ia tak banyak membawa beberapa alat hari ini. Ia tidak berpikir jika akan ada penyerangan saat ini.
"Ada," jawab Sachi menyela. Gadis kecil itu mengeluarkan suatu kotak yang lumayan besar dari tas yang semenjak awal ia bawa. Ternyata itu adalah lalat-lalat kecil yang begitu banyak. George menatap Sachi tajam. Sementara yang di tatap hanya terkekeh.
"Maaf kak. Aku membawa semua lalat kakak. Aku hanya ingin berjaga-jaga jika mendapatkan hal genting seperti ini." ucap Sachi polos.
"Kau memang bisa di andalkan, Aku akan mempertimbangkan mu saat sudah besar nanti," lanjut George tersenyum menatap Sachi.
Gadis kecil itu langsung meleleh, kemudian ia memberikan kotak itu kepada George.
George segera mengaktifkan lalat-lalat tersebut dengan sensor suaranya. Para lalat-lalat itu pun mulai keluar dan mulai melakukan pekerjaannya.
Lalat-lalat tersebut mulai meledak ketika satu-persatu mulai menghinggapi mobil di luar.
Seringai dan sorakan keempat bocah itu pun menjadi pusat perhatian para orang dewasa.
"Kalian harus menjelaskan semuanya tentang yang terjadi hari ini," ucap Dewa. Dan di angguki oleh yang lainnya.
***
Hari itu terlewati dengan begitu menegangkan. Keempat anak kecil itu menceritakan semuanya tentang yang terjadi.
Tak ayal membuat para pria dewasa begitu terkejut mendengarnya, kecuali sang Mommy. Alexa rasanya ingin para putra dan keponakannya itu menjauh dari hal yang akan membuat mereka dalam bahaya. Ia tidak ingin jika yang terjadi pada dirinya dan akan terjadi suatu saat nanti pada para bocah kecil itu.
Alexa begitu khawatir dengan bahaya yang selalu mengancam putranya dan keponakannya nantinya. Namun kedua putra dan juga keponakannya terus meyakinkan dirinya jika mereka kuat dan akan mampu dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan bahaya itu.
Alexa menatap kedua putranya dan juga keponakannya.
"Nak, Mommy tahu mungkin saat ini kalian masih mengatakan jika kalian akan mampu melewati setiap bahaya yang datang, namun jika kalian dewasa dan mulai merasakan jatuh cinta, maka kalian pasti ingin keluar dari dunia yang penuh dengan bahaya ini." ucap Alexa.
Namun para anak kecil itu hanya menatap Alexa sesekali mengerjapkan matanya tak mengerti dengan perkataan yang terlontar dari mulut sang Mommy. Sungguh, Alexa ingin sekali mencubit pipi mereka karena terlihat begitu menggemaskan dan lucu-lucu.
"Mommy...," panggil Renon. Alexa langsung beralih menatap putranya itu.
"Ya, Sayang."
"Memangnya cinta semacam buah apa ya Mom? Kenapa bisa jatuh? Apa terjatuh dari pohonnya? Apakah cinta itu buah yang manis? Kenapa semua orang dewasa selalu membahas tentang yang namanya cinta yang terjatuh itu, Mom?" Pertanyaan polos putranya itu membuat Alexa menepuk keningnya sendiri. Sepertinya dia salah menjelaskan tentang jatuh cinta kepada anak yang belum mengerti akan artinya.
Sementara dari sudut tempat tersebut terdengar suara tawa seseorang yang membuat Alexa dan para bocah kecil itu menoleh ke arah suara.
Dewa yang sedari tadi tak sengaja mendengar percakapan antara Alexa dan para anak-anak pun terpingkal-pingkal kala mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut Ren.
Saat ini mereka sedang berada di rumah pondok milik Paman Lucas dan bibi Viona. Karena tempat ini sangat jauh dari pemukiman, jadi sepertinya mereka akan aman berada di tempat ini.
"Apa yang Kau tertawa kan, Tuan?" Alexa menatap tajam ke arah Dewa.
"Maaf, Nona Saya tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Tapi mereka pasti belum mengerti dengan apa yang Anda ucapkan kepada mereka. Biarkanlah mereka mengetahui semua itu ketika mereka dewasa nanti." ucap Dewa. "Kau tak perlu khawatir dengan keselamatan mereka. Karena Aku dan para kepolisian lainnya pasti akan melindungi mereka." tutur Dewa. Namun tak membuat Alexa puas.
"Anda tidak mengerti perasaan cemas yang Saya rasakan, Tuan Dewa. Anda tahu yang terjadi dengan keluarga kami sebelumnya? Saya harus kehilangan Suami Saya karena hal ini!"
"Daddy masih hidup, Mom," celetuk Rion membuat Alexa terdiam dan langsung menatapnya.
Rion lupa mengatakan jika Daddy-nya mungkin masih hidup. Karena ia begitu yakin jika Javies adalah daddy-nya.
"A-apa maksud mu, Nak?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Yuli Billy
lama banget up nya
2022-10-09
2
Dimas Jr.
up thor
2022-10-07
1
Anita Firdiyah Permatasari
lanjut thor
2022-10-05
1