Hari pertama.
Rion, George dan Sachi bersiap untuk berangkat ke luar kota untuk menemukan kebenaran apakah saat ini Ren memang masih hidup. Tak lupa mereka membawa Liam ikut bersama mereka.
Rion telah mengetahui dimana titik lokasi Ren saat ini. Jadi mobil yang dikendarai Liam langsung melesat ke sana.
Rion berharap jika seseorang yang menghubunginya itu adalah Ren. Setidaknya jika itu benar-benar kembarannya, dapat sedikit mengurangi rasa bersalahnya selama ini.
Liam memperhatikan ketiga bocah itu yang saat ini tengah bernyanyi gembira layaknya anak sebayanya yang sedang menikmati sebuah liburan.
Mungkin jika orang lain yang melihatnya, mereka tidak akan percaya jika ketiga bocah itu bukanlah anak biasa seperti pada umumnya.
Sejujurnya Liam tidak tahu ke mana arah tujuan perjalanan ini. Dia hanya menjalankan perintah Rion untuk pergi ke sebuah desa terpencil sesuai dengan lokasi yang ditunjukkan Rion.
Saat ini mobil yang mereka kendarai sudah hampir sampai di lokasi yang mereka tuju. Ryan dan kawan-kawan semakin berdesir kala mendekati lokasi tersebut.
"Kita sudah hampir sampai , tuan muda,"ucap Liam.
"Iya, aku tahu, Liam." sahut Rion.
Lalu mobil tersebut berhenti tepat di depan rumah Dewa. Mereka semua turun dan langsung menuju rumah tersebut.
Rumah itu nampak terlihat mencolok dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya.
Pelan, Lia mengetuk pintu tersebut. Sementara Rion, George, dan Sachi sudah tidak sabar untuk melihat penghuni di dalam rumah tersebut.
Berapa lama pintu terbuka dan menampilkan seseorang di sana. Dewa, dengan wajah terkejutnya ketika melihat ada beberapa tamu. Salah satu diantara mereka adalah Ren. Iya, Dewa mengira jika Rion adalah Ren.
"Boy, kau datang kemari? Lalu siapa mereka?" Dewa nampak bingung dengan siapa yang berada di antara Ren.
Sementara Dion mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan yang dilontarkan oleh pria dewasa di depannya. "Maaf uncle, Apa maksud uncle? Saya tidak mengerti dengan perkataan yang uncle katakan. Kami datang kemari karena seseorang menghubungi ku. Dan aku yakin jika dia adalah saudaraku." ucap Rion
Dewa semakin bingung dengan perkataan anak kecil yang ia anggap sebagai Ren. Ren seolah tak mengenalinya.
Tepat di saat itu Ren datang bersama dengan paman Lucas. Dan membuat keterkejutan di antara mereka. Ketiga pria dewasa yakni Liam, Dewa, dan Paman Lukas begitu terkejut melihat Ren atau Ron ada dua.
"Ka-kalian ada dua?" Ketiga pria itu begitu terkejut. Sementara Rion, George dan juga Sachi langsung menghambur memeluk Ren. Mereka begitu merindukan Ren.
Ketika mereka sedang mengharui biru karena pertemuannya itu, tiba-tiba suara sebuah tembakan mengejutkan mereka semua. Dengan gerakan waspada, Liam dan Dewa mengeluarkan senjata yang mereka sembunyikan sejak awal.
Dewa langsung menyuruh mereka semua untuk masuk ke dalam rumah, lalu pria itu segera menutup pintu rumahnya. Dewa langsung menekan sebuah tombol yang ada di dekat televisi rumahnya dan menampilkan tampilan dalam rumah tersebut menjadi memiliki sebuah layar monitor yang besar dan dengan banyak tombol-tombol di sana.
Dewa menekan sebuah tombol untuk melindungi rumahnya dari sebuah tembakan yang dapat menembus rumahnya. Entah bagaimana, sebuah pagar besi tiba-tiba keluar dari bawah tanah dan menjulang tinggi mengelilingi rumahnya untuk melindungi.
"Apa yang terjadi?"Liam tampak tak mengerti dengan semua ini. Ada sebuah bahaya yang mengintai mereka semua.
Apalagi Paman Lukas, dia siap dengan yang terjadi saat ini. Selama ini dia tidak pernah melihat sebuah adegan tembak menembak di dunia nyata. Iya hanya melihat dari televisi tua miliknya.
"Ya uncle, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba ada seseorang yang menembak ke arah kita?" Ren menimpali.
"Dia adalah musuh. Sebenarnya misiku di sini adalah memata-matai seorang musuh yang berkedok menjadi warga desa ini. Sepertinya mereka telah mengetahui jika aku sedang memata-matanya," jelas Dewa.
"Sebenarnya siapa mereka, uncle?" Rion juga menimpali.
"Mereka adalah seorang mafia berdarah dingin yang sering berbuat ulah. Mereka sering menculik anak dan mengambil organ tubuh mereka untuk dijual di pasar gelap. Kami sudah mengincarnya sejak lama, tapi sepertinya mereka mulai mengetahui jika Uncle sedang memata-matai mereka," ucap Dewa dengan tangannya yang sibuk mengetikkan sesuatu pada layar monitornya. Dia sedang menghubungi bantuan untuk segera datang.
Dari arah luar sana masih terdengar suara bunyi tembakan yang begitu keras. Lalu suara ledakan terdengar dari halaman rumah Dewa. Sepertinya mereka melemparkan sebuah granat.
"Tidak ada waktu, uncle. Sepertinya kita harus segera pergi dari sini," ucap Ren dan diangguki oleh semua.
Sementara George, Dia sedang mengeluarkan sesuatu dari sebuah kotak yang selalu ia bawa. Kemudian dia membukanya dan menekan sebuah tombol yang mirip dengan remote. Sesuatu benda yang begitu kecil terbang dari dalam kotak tersebut. Jumlahnya tidak hanya satu melainkan ratusan.
Itu adalah robot lalat yang sudah George rancang di saat genting seperti ini. Robot lalat tersebut dapat mengadakan apa saja yang dihinggapinya.
"Ini akan melumpuhkan mereka. Tapi jika jumlah mereka lebih dari lalat-lalat ini, maka kita harus segera pergi dari sini," ucap George.
"Kau terbaik Kak George," ucap Sachi mengacungkan kedua jempolnya.
"Kalau begitu kita akan keluar dari sini menggunakan mobil yang ada di garasi belakang. Karena mungkin mobil mu tadi sudah hancur berkeping karena sebuah ledakan tadi," ujar Dewa menatap Liam.
Lalu mereka semua pergi menuju ke garasi belakang. Terdapat sebuah mobil yang sudah dimodifikasi dengan peralatan canggih yang beberapa hari lalu Dewa beli dari Mr Zero. Dia tidak tahu jika mister Zero ada di dekatnya.
"Uncle, tolong jemput mommy dan bibi Viona sekarang juga. Ren takut mereka melibatkan Mommy dan Bibi Viona hingga menyakitinya," pinta Ren.
Dewa menurutinya. Mobil itu dengan cepat keluar dari garasi belakang rumah. Dan tak berapa lama terdengar sebuah ledakan besar di sana. Benar saja, pasti lalat-lalat dari George tadi berfungsi dengan baik.
"Jadi Mommy masih hidup? Mommy bersamamu Ren?" Rion bertanya dengan haru. Untuk sesaat mungkin tidak ada pengejaran dari para musuh, hingga mereka sejenak bernafas lega.
"Ya, Mommy masih hidup, Ron. Selama ini kami tinggal bersama dengan paman Lucas dan juga bibi Viona. Mereka yang sudah menyelamatkan kami," jawab Ren menahan tangisnya. Dalam hati Ron mengucapkan syukur karena ia telah menemukan keluarga lengkapnya.
Dewa yang melihat para bocah kecil itu merasa penasaran. Dia ingat apa saja yang mereka lakukan tadi. Ia melirik kearah Liam yang ada di sampingnya berharap pria yang duduk di sampingnya itu memberikan jawaban.
***
Tak berapa lama, mobil tersebut sampai di rumah paman Lucas. Ternyata di sana masih aman.
Alexa terlihat sedang menyiram tanaman yang ada di depan rumah paman Lucas. Alexa mengerutkan keningnya saat melihat sebuah mobil yang berhenti di halaman rumah tersebut.
Ron menatap haru Alexa ketika masih berada di dalam mobil. Bocah kecil itu langsung berlari keluar dan memanggil nama Alexa. Ron menangis.
"Mommy... Huhuhu...." Ron langsung memeluk Alexa. Sementara Alexa menatap bingung, kenapa Ren tiba-tiba menangis memeluknya. Namun ketika pandangannya melihat seseorang yang turun dari mobil tersebut dan mendapati salah satu dari mereka adalah Ren, Alexa baru menyadari jika yang memeluknya adalah Rion. Tangis Alexa langsung pecah. Ia mendekap erat tubuh mungil putranya yang sangat ia rindukan itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Yuli Billy
lanjut Thor jgn terlalu lama up nya,di tunggu thor
2022-10-04
1
Anita Firdiyah Permatasari
kapan up thor?
2022-10-04
1
Anita Firdiyah Permatasari
up thorrr,, dmnaaaa? up, udh dri tdi bolak balik lihat
2022-10-02
2