Mencari sebuah tempat

Beberapa hari berlalu. George dan Sachi tidak menceritakan kepada para orang tua jika mereka telah bertemu dengan Rion. Karena Rion yang melarangnya.

Rion yakin jika para penjahat itu masih mengintai keluarga besarnya.

Saat perjalanan ke sekolah, Rion sedang memikirkan sesuatu. Sesekali ia melirik ke arah Liam yang sedang fokus menyetir.

"Liam."

"Ya, Tuan muda."

"Aku mau memberitahukan sesuatu padamu mengenai sebuah rahasia. Tapi apa Kau mau menyimpan rahasia ku ini dari siapapun termasuk Paman Dexter?"

Liam mengerutkan keningnya dan sekilas menatap Rion. Ia menebak jika rahasia yang akan di katakan Rion adalah rahasia anak-anak seperti misalnya bertengkar di sekolah dengan anak lainnya atau mungkin hal yang lain.

"Baiklah, Saya berjanji tidak akan menceritakannya kepada siapapun, termasuk Tuan Dexter." ucap Liam.

Rion sudah menimbang apa yang akan dia katakan kepada Liam selama beberapa hari. Sebelumnya ia juga sudah menyelidiki bagaimana latar belakang Liam. Apakah pria di sampingnya itu dapat di percaya.

Rion membutuhkan orang dewasa untuk menjalankan semua rencana-rencana yang telah ia susun bersama dengan George dan juga Sachi. Dan menurutnya Liam adalah orang yang tepat.

"Apa Kau pernah mendengar tentang Mr Zero?" tanya Rion. Membuat Liam mengerutkan keningnya. Ia terkejut bagaimana Rion mengetahui tentang Mr Zero.

"Kenapa tiba-tiba Anda bertanya tentang Mr Zero, Tuan muda? Dari mana Anda bisa mengetahui tentang Mr Zero sang legendaris?"

"Jadi Kau mengenalnya?"

"Saya tidak mengenalnya. Tapi Saya salah satu orang yang mengagumi semua alat-alat yang telah ia ciptakan, terlebih dengan kecerdasannya. Sudah sangat lama sekali Saya tidak mendengar lagi tentangnya. Terakhir Saya mendengar beberapa tahun lalu Mr Zero telah menyelesaikan misi dari agen rahasia." ucap Liam panjang lebar.

Rion sedikit menarik sudut bibirnya. Ia tidak menyangka jika Liam sedikit banyak mengetahui tentang Papanya. Dan untuk misi terakhir dari Mr Zero, sejujurnya yang melakukannya adalah dirinya dan kembarannya, juga di bantu oleh George yang menciptakan alat barunya.

"Apa Kau akan percaya jika Aku sebenarnya adalah putranya Mr Zero?" tutur Rion.

Liam sejenak terdiam. Namun sejurus kemudian ia terbahak-bahak mendengar penuturan dari Rion.

"Hahaha, Tuan muda. Tolong jangan bercanda."

Rion menatap Liam dengan tajam. "Jadi Kau tidak percaya, Liam?"

Liam menggeleng. "Maaf Tuan muda."

Rion hanya menghela nafasnya. Sepertinya akan sulit untuk mengatakan hal sebenarnya mengenai dirinya kepada Liam.

"Kalau Aku mengatakan semua hal tentang mu, apa Kau akan mempercayai ku, Liam?"

"Memangnya apa yang Anda ketahui tentang Saya, Tuan muda?"

"Kau adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Paman Dexter mengambil mu ketika seseorang telah melenyapkan seluruh keluarga mu. Dan Paman Dexter juga yang sudah melatih mu menjadi Kau yang seperti sekarang ini," ucap Rion membuat Liam terperangah.

"Darimana Anda tahu, Tuan muda? Apakah Tuan Dexter menceritakannya kepada Anda?"

Dalam hati Liam tidak percaya jika Dexter yang telah menceritakan kehidupannya kepada bocah sekecil Rion. Tapi dia juga bingung dari mana Rion bisa mengetahuinya.

"Tentu Aku tahu. Bukankah sudah kukatakan padamu jika Aku tahu semuanya tentang kehidupan mu. Aku mewarisi keahlian Daddy ku."

Liam semakin menatap tak percaya bocah kecil di sampingnya ini. Benarkah semua yang di katakannya? Liam masih terdiam memikirkan tentang ucapan Rion yang masih begitu sulit untuk dia percayai.

"Pulang sekolah nanti Aku ingin Kau mengantarkan ku ke suatu tempat, Liam."

Liam masih tercenung. Lalu dia mengangguk mengiyakan permintaan Rion.

***

Jam sekolah berakhir. Kini Rion, George dan juga Sachi akan mulai menjalankan rencananya. Mereka ingin mencari tempat untuk mereka melakukan hal-hal yang akan mereka kerjakan nantinya. Dan mereka membutuhkan seorang pria dewasa untuk menemani mereka dan dapat di percaya.

"Liam, bisakah Kau carikan tempat untuk kami. Sebuah tempat yang jauh dari pemukiman penduduk dan juga bangunan yang memiliki sebuah pintu bawah tanah atau pintu rahasia?" Pinta Rion.

Liam semakin tak mengerti menebak bocah kecil di depannya itu. Lalu ia juga menatap kedua bocah di belakang Rion yang tersenyum menatapnya.

"Sebenarnya untuk Apa tempat itu, Tuan muda?"

"Nanti Kau akan tahu. Sekarang cepat carikan kami tempat itu!"

Liam akhirnya menyetujuinya. Dia akan melihat apa yang akan Rion dan temannya lakukan dengan itu semua.

Tak berapa lama, Liam sampai di depan sebuah gedung tua di dekat hutan.

"Ini dimana, Liam?"

"Ini adalah tempat yang jarang sekali orang-orang datangi. Karena mereka meyakini jika tempat ini adalah tempat terlarang. Mereka masih mempercayai mitos tentang makhluk transparan penghuni tempat ini. Ayo ikuti Saya, Tuan muda." Liam berjalan lebih dulu. Sementara ketiga bocah itu saling menatap. Lalu mereka mulai mengikuti Liam memasuki gedung tua itu.

Di dalam gedung itu terdapat sebuah pintu menuju ruang bawah tanah. Mereka memasuki ruangan tersebut. Dan di dalam sana begitu luas. Membuat ketiga bocah itu tersenyum saling memandang.

"Ini adalah tempat yang cocok untuk kita, Rion."

"Ya, Kau benar, George."

"Kakak, Aku lebih tua dari mu!"

"Tapi Paman Rai adiknya Daddy. Jadi Kau yang seharusnya memanggil ku kakak," ejek Rion.

"Yasudah, Aku tidak akan membantumu," George mengerucutkan bibirnya.

"Baiklah, Kau yang menang, Kak George." Rion berkata setengah hati.

"Kalian ini selalu saja memperdebatkan tentang panggilan. Sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya kita bisa menaruh barang-barang kita ke tempat ini. Dan juga, siapa yang akan membersihkan ruangan ini?" Sachi menatap ke arah Rion dan George.

Ketiga bocah itu lantas langsung menatap ke arah Liam dengan senyum misterius.

"Liam, Kau harus membantu kami. Suruh seseorang untuk membersihkan tempat ini. Dan bantu kami membawa barang-barang milik kami ke tempat ini," titah Rion.

Liam masih bingung dengan yang di lakukan ketiga bocah itu. Tapi ia juga ingin tahu apa yang akan ketiga bocah itu lakukan. Apakah benar yang dikatakan Rion tadi pagi mengenai rahasia itu?

Liam juga ingin membuktikan tentang kebenarannya. Walaupun dalam hatinya masih begitu ragu dengan ucapan anak yang masih berumur 6 tahun itu.

Tapi ia juga heran, mengapa ketiga bocah itu bertutur kata layaknya seorang pria dewasa.

***

Terpopuler

Comments

Rhini Sah Rini

Rhini Sah Rini

bagus cerita tanya,di tunggu kelanjutanya

2022-09-08

1

Ellania sweethearth

Ellania sweethearth

liam kamu itu bukan ngasuh anak kecil tapi lebih tepatnya monster cilik😁

2022-09-07

1

Sumawita

Sumawita

sudah waktunya Mr zero kecil beraksi

2022-09-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!