"Ri-rion ...," ucap gadis kecil itu terkejut. Sudah sangat lama ia mencari keberadaan twins R, namun tak kunjung menemukannya.
Sejenak Rion terdiam. Ia pun juga begitu terkejut melihat gadis kecil yang sangat di kenalnya. Tapi ia dapat mengatur ekspresi wajahnya.
"Siapa Rion?" tanya Rion berpura-pura tidak tahu. "Kenalin, mamaku Ronald." Rion tidak ingin ada seseorang yang mengenalinya. Ia tidak ingin mengungkap identitas aslinya sebelum mengetahui siapa mafia kejam yang sudah mencelakakan keluarganya.
Gadis kecil itu mengerutkan keningnya. Ia menatap keseluruhan wajah Rion dengan rasa kerinduan yang sangat. Tapi ia juga tidak yakin kalau bocah laki-laki di depannya adalah Rion, mengingat tadi bocah kecil itu mengenalkan namanya Ronald. Tapi sungguh ia merasa yakin jika bocah laki-laki di depannya itu adalah Rion.
Perubahan fisik dan sikap bocah laki-laki di depannya berbeda jauh dari terakhir mereka bertemu. Membuat gadis kecil itu begitu ragu. Apalagi namanya yang berbeda.
'Semoga Sachi percaya dengan ucapan ku' ucap Rion dalam hati.
"Jadi Kamu bukan Rion ya? Aku pikir Kamu Rion. Tapi mungkin Kamu memang bukan dia. Karena di mana ada Rion pasti di situ ada Renon. Dan lihatlah, Kamu sendirian, tidak ada anak yang mirip dengan mu." Sachi berkata panjang lebar.
Sementara Rion menahan kerinduannya kepada Renon. Sachi terus saja menyebutkan nama Renon. Membuat Rion begitu sedih.
Hingga pelajaran pertama selesai pun, Sachi masih saja memperhatikan Rion. Sachi begitu merindukan sosok sahabatnya itu. Dengan memandang Ronald membuat rindunya sedikit terobati.
Rion begitu menghindari tatapan Sachi. Ia takut tidak bisa menahan dirinya jika dia juga sangat merindukan sahabatnya itu. Apalagi dengan George.
Jam istirahat, Rion tergesa-gesa meninggalkan kelas. Ia ingin menghindari Sachi.
"Eh, mau kemana?" Sachi bertanya ketika melihat Rion yang terburu-buru keluar kelas.
Rion tak menjawab pertanyaan Sachi. Hingga Sachi terus saja mengikutinya.
"Kenapa Kamu diam terus sih? Aku kan bertanya ini. Kamu berasal dari mana, terus rumah kamu di mana? Boleh tidak Aku main ke rumah kamu." Sachi terus saja mengeluarkan rentetan pertanyaan kepada Rion.
"Tidak boleh. Kamu ini begitu cerewet. Berhentilah bertanya."
"Baiklah, Aku akan diam," ucap Sachi. Gadis kecil itu benar-benar diam tak berkata apapun lagi. Namun ia masih mengikuti langkah Rion.
Rion memutuskan untuk menuju taman belakang sekolah. Di sana ia mengeluarkan buku dan membacanya.
Sachi masih setia mengikutinya. Dia terus saja memperhatikan Rion sejak tadi.
"Kamu beneran mirip banget sama kak Ron," celetuk Sachi.
Rion menatapnya tajam. Walaupun di luar ia begitu dingin terhadap Sachi, tapi ia senang melihat Sachi di dekatnya. Ia merasa begitu dekat dengan keluarganya.
"Ssst...."
"Oke, Sachi diam."
Sachi berjingkat untuk berdiri. Ia teringat dengan sang pujaan hati, George. Gadis kecil itu pun menarik ujung bibirnya. Ia ingin George berkenalan dengan Ronald. Sepertinya George bisa memastikan apakah Ronald adalah Rion.
Sachi pun hendak pergi dari sana. Namun Rion mengerutkan keningnya. "Mau kemana?"
"Mau memastikan kebenaran," ucap Sachi dan langsung meninggalkan Rion.
Sementara Rion hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Rion melanjutkan membaca buku yang ia bawa. Buku bacaan orang dewasa tentang melumpuhkan lawan.
Namun tak berapa lama, Sachi kembali datang dengan memanggilnya.
"Kak Ron...." Panggilnya dengan suara cempreng Sachi.
Rion menoleh, ia menutup telinganya yang berdenging karena suara Sachi. Tapi sesaat kemudian Rion kembali terdiam. Ia begitu terkejut melihat sosok seseorang di belakang Sachi.
Begitupun dengan orang yang Sachi ajak. Dia adalah George, putranya Raiden dan Yuna. Adik sepupu Rion tapi usianya lebih tua dari Rion.
George yang selalu membuat alat-alat canggih untuknya dan Renon. Bahkan dulu mereka seringkali berdebat namun tetap saling menyayangi.
Ingin sekali Rion menghampiri George dan memeluknya. Tapi bagaimana dengan tujuannya?
Sementara George masih mematung menatap Rion. Tak perlu membuktikan apa-apa lagi ia sudah sangat yakin jika Ronald adalah Rion. Jika masih belum yakin, George tinggal mengambil rambut Rion saja untuk membuktikan kebenarannya.
Tapi George akan diam. Dia ingin Rion sendiri yang mengatakan jika dia adalah Rion, Saudaranya.
George berpura-pura tidak mengenal Rion.
Sachi segera menarik George menuju Rion.
"Kak G, sekarang katakan jika dia adalah kak Rion kan?"
George hanya diam menatap Rion. "Kenapa Kamu berpikir jika dia adalah Rion, Sachi? Kalau dia memang Rion, pasti akan langsung menyapa kita. Karena kita adalah Saudaranya."
"Tapi Aku hanya ingin tahu kebenarannya, Kak. Apa kakak juga tidak ingin tahu? Lihatlah dia begitu mirip sekali dengan kak Rion," sanggah Sachi.
"Sudahlah, jangan menggangguku!" George langsung pergi dari sana. Walaupun begitu ia sudah tahu jika Ronald adalah Rion. Dia bisa merasakannya. Namun dia ingin tahu kenapa Rion mengaku jika dirinya bukanlah Rion, tapi Ronald. George meyakini ada sesuatu yang terjadi sehingga Rion menyembunyikan identitasnya dan menggunakan identitas palsu.
George berjalan meninggalkan Sachi dan Rion dengan acuh. Ingin rasanya Rion berkata jika dia adalah Rion. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Rasa rindu yang dalam menguasai hati Rion. Dia sangat merindukan adik sepupunya itu.
"George, Aku merindukanmu, Aku merindukan semua anggota keluarga kita," ucap Rion lirih. Namun masih terdengar begitu jelas oleh George dan Sachi.
George menghentikan langkahnya. Sementara Sachi tercengang menatap Rion yang saat ini menangis.
Sachi berhamburan memeluk Rion, sementara George tersenyum. Ia kembali berjalan menghampiri Rion dan juga langsung memeluknya. Ketiganya melakukan pelukan bersama.
"Hwaaa, Aku sangat merindukan kalian. Aku merindukan semuanya." Tangis Rion pecah begitu saja.
Liam berjalan terpogoh-pogoh mendengar tangisan Rion. Pria itu langsung mencari di mana suara Rion terdengar.
Di lihatnya bos mudanya tengah dipeluk dua bocah kecil dengan Rion yang terisak-isak. Pria itu berpikir jika dua bocah itu sudah mengganggu bos mudanya.
"Apa yang kalian lakukan pada Tuan muda Ronald?! Lepaskan atau Aku akan menghukum kalian!" Suara Liam mengagetkan ketiga bocah kecil itu.
Sontak saja ketiganya menoleh ke arah Liam. Rion melupakan Liam yang sejak tadi mengawasinya.
"Liam, mereka teman-teman baru ku. Kenapa Kamu mengancam mereka? Apa Kamu tidak ingin Aku mempunyai teman di sekolah ini? Kamu mau menakuti mereka?" Rion menatap tajam Liam.
"Ta-tapi Tuan muda, bukankah tadi Kau sedang menangis karena mereka sedang mengganggu Anda?" Liam merasa bingung karena Rion yang malah membela dua bocah kecil di sampingnya.
"Kita sedang bermain pura-pura menangis. Cepat pergi dari sini. Kamu mengganggu kami saja!" titah Rion.
Liam memperhatikan wajah polos ketiga bocah itu. Ia menggelengkan kepalanya heran dengan permainan anak kecil jaman sekarang. Liam segera pergi dari sana menuruti perintah Rion. Liam kembali mengawasinya dari jauh.
Rion menghela nafasnya lega. Sementara George dan Sachi menatap Rion seolah meminta penjelasan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Diana Hayani
siapa Sachi ? apakah adik George ?
2022-10-23
1
Ellania sweethearth
aku penasaran sama Renon dan keluarga selamat ga ya, sungguh penuh misteri sekali🥺
2022-09-05
1
Sumawita
Akhirnya Rion bertemu SM sepupunya
2022-09-05
1