2 tahun berlalu.
Kini usia Rion sudah menginjak 7 tahun. Dan dia akan memasuki sekolah barunya. Dia akan masuk sekolah dasar yaitu kelas satu.
Selama hampir dua tahun Rion belum juga menemukan siapa dalang di balik kecelakaan yang merenggut keluarganya.
Bocah kecil itu menyugar rambutnya kasar. Dirinya terus saja di bayangi oleh rasa bersalah beberapa tahun lalu.
Andai saja ia tidak mempengaruhi saudara kembarnya untuk menyentuh dan ingin tahu mengenai barang-barang daddy-nya, mungkin semua kecelakaan itu tidak mungkin terjadi.
Namun kembali lagi pada takdir. Bocah itu segera menaiki kasurnya untuk istirahat. Karena besok dirinya akan memasuki sekolah barunya. Dahulu Rion selalu memimpikan akan bersekolah bersama dengan saudara-saudaranya. Rion jadi merindukan mereka, terlebih saudara kembarnya.
Walaupun ia tahu jika Mommy, Daddy dan saudara kembarnya ikut terjatuh dalam mobil itu, tapi sampai saat ini ia masih berharap jika keajaiban itu ada. Satu sisi lain dalam dirinya masih meyakini jika keluarganya mungkin masih saja selamat, walaupun sangat kecil sekali kemungkinannya.
Dua tahun belakangan ini Dexter juga begitu menyayangi dirinya. Rion merasa jika Dexter sebenarnya adalah sosok Ayah yang baik. Dexter selalu saja bersikap seperti Ars. Hingga terkadang Rion merasa jika Daddy-nya ada di sampingnya.
Dexter pernah mengatakan kepada Rion bahwa dirinya pernah memiliki seorang putra. Namun sayangnya Dexter enggan untuk menceritakannya.
***
"Pagi, Tuan muda Ronald. Sekarang sudah saatnya Anda untuk bangun." Suara Liam mengganggu tidur nyenyak Rion.
"Emh." Rion menelungkup kan badannya dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya.
"Tuan muda. Tuan Dexter telah menunggu Anda di ruang makan," ucap Liam kembali dan langsung membuat Rion berjangkit terbangun. Rion lupa jika hari ini dia akan memasuki sekolah barunya.
Rasanya ia begitu malas. Pelajaran yang akan dia terima pasti akan terasa begitu mudah untuknya. Padahal otaknya di atas rata-rata untuk anak seusianya.
Bahkan Dexter sendiri juga tidak tahu mengenai kejeniusan Rion. Dia hanya tahu jika Rion begitu lihai dalam berstrategi. Ia tidak mengetahui kepandaian Rion untuk hal lainnya.
'Astaga, Aku hampir lupa jika sekarang Aku harus bangun pagi ini memasuki sekolah baru' gumamnya dalam hati. Rion duduk dan mulai mengumpulkan nyawanya yang baru terkumpul setengah.
Rion menoleh pada Liam. Dia tidak kenal dengan pria yang membanggakan dirinya itu.
"Siapa Kamu? Kenapa Kamu ada di kamar ku?" tanya Rion memperhatikan Liam. Karena biasanya yang membanggakan dirinya adalah pelayan yang biasanya.
"Saya Liam, Tuan. Saya di tugaskan Tuan Dexter untuk mendampingi Anda," jelas Liam.
Rion memperhatikan Liam dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seorang pria muda dengan postur tubuh sempurna dengan pakaian hitam yang membalut tubuhnya. Mirip seperti bodyguard yang ada di film-film.
Rion jadi memikirkan bagaimana dengan tampilan dirinya ketika sudah dewasa nanti. Mungkinkah dirinya akan memiliki postur tubuh yang good looking seperti Liam. Rion terkekeh memikirkannya. Karena akan membutuhkan waktu puluhan tahun agar dirinya dewasa.
"Baiklah, Aku akan segera turun. Tapi Aku mau mandi dan menyiapkan tas sekolah ku dulu, Li." ucap Rion.
"Semua perlengkapan sekolah Anda sudah di siapkan, Tuan muda. Anda hanya tinggal mandi saja saat ini. Apa Anda ingin Saya memandikan Anda, Tuan muda?" tawar Liam. Seketika Rion terbelalak.
"No, Liam. Apa kamu pikir Aku masih kecil? Aku sudah besar," ucap Rion dan langsung berjalan menuju bathroom dan langsung menutupnya.
Sementara Liam ingin sekali tertawa melihat Rion yang tak sadar diri jika Rion memanglah seorang anak kecil yang masih berusia 7 tahun.
***
Kini Rion telah siap dengan stelan seragam sekolah barunya. Ia berjalan di depan Liam. Hingga ia berhenti di ruang makan.
Di lihatnya Dexter yang tersenyum menatapnya. Dexter seperti seorang Ayah yang menunggu putranya.
"Morning, Paman Ex." sapa Rion seraya mendudukkan tubuh mungilnya di kursi makan. Tadinya Liam ingin membantunya kala melihat Rion yang sedikit kesusahan saat duduk di kursi makan. Namun Rion langsung menatap tajam ke arah Liam , sehingga Liam mengurungkan niatnya.
"Morning, Son," balas Dexter. "Kau sudah siap memasuki sekolah barumu? Sekarang Kau sudah naik satu tingkat, dari TK ke Sekolah Dasar. Apa Kau senang, Son?"
'Tidak, Paman. Aku tidak senang' ucap Rion dalam hati.
"Ya, Paman. Ronald sangat senang. Terimakasih karena Paman selama ini sudah sangat baik kepada Ron. Sudah memberi tempat tinggal dan makan untuk Ron. Dan juga sudah memberikan pendidikan untuk Ron." Rion berkata dengan tulus.
"Kau jangan berkata seperti itu, son. Saat ini Kau sudah ku angkat menjadi Putraku. Jadi Kau harus mendapatkan yang terbaik."
Rion menampilkan senyum manisnya. Sepertinya ia mulai nyaman dengan semua sikap Dexter.
"Aku sudah mengutus Liam untuk menjagamu dari hal-hal yang buruk yang mungkin terjadi. Jika Kau membutuhkan sesuatu, Kau bisa memintanya kepada Liam," ucap Dexter. Rion hanya mengangguk.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Rion dan Liam segera pergi dari mansion.
Dexter sudah menyiapkan mobil sport miliknya untuk Liam mengantarkan Rion ke sekolahnya. Dexter tak ingin ada orang yang meremehkan Rion nantinya.
Sekitar tiga puluh menit, Liam dan Rion telah sampai di sekolah ternama di kota itu.
Sebelum melangkah untuk turun, Rion menghembuskan napas panjang. Sepertinya hari-hari selanjutnya akan menjadi hari yang membosankan.
"Silahkan, Tuan muda." Liam membukakan pintu untuk Rion sebelum Rion membuka pintu mobil tersebut.
Rion menatap Liam sejenak. "Kamu tidak usah ikut masuk mengantarkan ku, Liam. Tunggulah di sini saja." titah Rion.
Namun Liam menolaknya. Tidak mungkin dirinya membiarkan Rion berjalan sendirian. Bisa-bisa ia di gantung oleh Dexter nantinya.
"Maaf, Tuan muda. Tapi Tuan Dexter ingin Saya selalu mengawal Anda kemanapun Anda pergi."
Rion menepuk keningnya sendiri. "Yang benar saja, Liam. Apa Kamu mau membuat ku malu?!" Rion berkata dengan menatap tajam Liam.
"Tapi Saya harus melakukan tugas dari Tuan Dexter, Tuan muda." Liam masih bersikeras.
Sungguh saat ini Rion di buat jengkel dengan bodyguard nya itu. Ia harus memutar otak agar bisa lepas dari Liam. Mana mungkin dia kemana-mana harus diikuti oleh Liam. Bisa-bisa dirinya akan di tertawaan siswa-siswa di sini nantinya.
"Jika Kamu masih mengikuti ku masuk ke dalam, Aku mau mogok sekolah saja. Tunggu sampai Paman Dexter memarahi mu nanti!" ancam Rion.
Lian menelan ludahnya kasar. Membayangkan jika Tuan Dexter mengetahui jika putra angkatnya tidak bersekolah, pasti dia akan mendapatkan masalah besar. Pria itu benar-benar bingung dalam memilih. Dan akhirnya Liam menyerah. Dia membiarkan Rion masuk kedalam sekolahannya sendiri.
Bel masuk berbunyi. Banyak siswa yang berhamburan memasuki kelasnya masing-masing. Sementara Rion berjalan dengan santainya memasuki kelasnya.
Ia menggelengkan kepalanya melihat beberapa anak yang berebut tempat duduk. "Dasar anak kecil," gumam Rion.
Rion memperhatikan tempat duduk lainnya yang akan dia tempati. Rion melihat ada gadis kecil yang menelungkup kan kepalanya di meja tempatnya duduk.
Rion berpikir akan duduk di kursi kosong di seberang gadis kecil itu. Sepertinya di sana terlihat begitu tenang, walaupun tempat duduknya hampir di belakang.
Rion mulai mendudukkan dirinya di sana. Dia masih menggelengkan kepalanya melihat gadis kecil itu yang asik tertidur di tempatnya.
Ketika guru datang, semua murid langsung duduk dengan begitu tenang. Namun gadis kecil itu masih setia pada posisinya yang nampak sedang tertidur.
Tadinya Rion ingin membiarkan nya. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan gadis kecil itu.
Rion menyobek kertas dan menggulungnya menjadi bola-bola kecil. Lalu melemparkannya kepada gadis kecil itu.
"Ssst... Bangunlah! Dasar pemalas," ucap Rion.
Awalnya gadis kecil itu merasa sedikit terganggu. Tapi ia begitu mengantuk, jadi dia membiarkannya saja. Namun lama-kelamaan banyak sekali bola-bola kertas kecil yang menimpa kepalanya. Hingga gadis kecil itu merasa begitu geram. Sebenarnya siapa yang berani mengganggunya.
"Dasar gadis pemalas! Cepat bangun!" Rion sedikit mengeraskan suara.
Gadis itu mulai bergerak dan langsung menatap tajam kearah Rion. Namun bila mata gadis kecil itu hampir lepas ketika melihat Rion.
***
Tebak, kira-kira siapa gadis kecil itu ya 🤔
mohon maaf jika author hanya bisa up 1 bab perhari jika tidak ada kendala. jika bosan bisa baca karya ongoing othor lainnya yang berjudul "Hasrat Mencintai Suami Orang" tapi jangan proses karena itu karya yang gak ada faedahnya. Jika sempat sih, othor gak maksa 😂✌️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Siti Nurjanah
apa gadis kecil itu Sachi saudaranya?
2022-11-05
0
Sania Puteri Makasar
gadis itu sachi
2022-10-30
1
Sugiarti Jambi
lanjut kak
2022-09-04
1