Bismillahirohmanirohim.
"Kenapa anak bodoh itu bisa mendekam di penjara?"
"Maafkan saya tuan, sepertinya king Derrell tertangkap saat menjalankan misi keduanya"
"Dasar bos aneh, kalau king Derrell berhasil menjalankan misi saja dia akan menyebut king Derrell jenius, coba kalau sedang seperti ini dia mengatakan king Derrell bodoh" batin laki-laki yang sedang berdiri disamping sang bos.
"Tak usah mengumpat Titan! aku mendengarnya kau sedang mengataiku kan?" tudingnya.
"Maafkan saya tuan, saya sama sekali tidak berani" ujar Titan gemetar.
"Sudah lupakan, sekarang tugas kamu terus awasi anak bodoh satu itu. Satu lagi apa tuduhan dia bisa masuk penjara?"
Dengan cepat Titan menjawab pertanyaan tuan nya dari pada dirinya terkena semprot lagi. "King Derrell dipenjara atas tuduhan sebagai mata-mata tuan, tadinya king Derrell akan dibiarkan pergi secara bebas, tapi karena pihak gedung pemerintah lebih berhati-hati lagi, mereka memutuskan untuk memenjarakan king Derrell selama tiga bulan, jika tak ada bukti kalau king Derrell sebagai mata-mata dia akan dibebaskan tanpa bersyarat" jelas Titan.
"Anak itu benar-benar ceroboh! bisa-bisanya dia baru menjalankan misi keduanya sudah tertangkap basah oleh mereka" Zegra menggelengkan kepalanya kuat sambil meneguk segelas air putih yang ada di depannya dengan sekali teguk.
"Tuan Ze maaf sebelumnya saya harus mengatakan ini, menurut saya bagus king Derrell berada di dalam lapas, itu artinya dia bisa mengawasi keadaan disana dan dia bisa mengetahui semua keburukan orang-orang itu" cicit Titan pelan, dia takut kena semprot lagi oleh sang bos.
"Kamu benar Titan, tapi apakah anak bodoh itu akan melakukan semua itu, sedangkan magic system sedang tidak aktif yang ada didekatnya" maki Zegra.
Titan hanya menggaruk kupingnya yang terasa gatal. "Bukankah tuan sendiri yang mengatakan jika king Derrell adalah seorang jenius" tambahnya lagi. Sepertinya Titan tidak sadar jika dirinya sudah banyak bicara.
Zegra menabok sedikit kuat kepala Titan. "Kau sudah banyak bicara Titan! dan sedari tadi kau terus membantahku! walaupun aku bilang anak itu jenius, tapi aku mengatakannya seorang jenius yang bodoh! paham kau!"
"Iya tuan saya paham" sambil mengelus kepalanya yang sakit.
"Lalu kenapa kau masih disini Titannn!" Zegra menatap tajam Titan.
"Salah lagi dah!" Titan hanya bisa mengelus dadanya, agar bisa lebih sabar menghadapi monster di depanya ini.
"Saya permisi tuan" lebih baik pergi daripada menjadi santapan harimau pikir Titan.
"Dasar kau membuatku hampir darah tinggi Titan sialan!"
Sementara itu di dalam lapas Derrell sedari tadi tidak berhenti bersin.
"Hacin….hacin…hacin..!" mungkin ini sudah ketujuh kalinya Derrell bersin.
"Kau kenapa sih Rel? dari tadi bersin terus, sakit lo?" Ajo bertanya sambil memeriksa kening Derrell.
"Ada yang ngomongin gue deh kayaknya" Derrell menjawab dengan pede.
"Mitos dipercaya!"
"Yee! siapa tau ada yang beneran lagi ngomongin gue Jo"
"Serah lo Rel, yang penting lo bahagia"
"Ngomong-ngomong bapak-bapak yang masuk sini tiga hari yang lalu kayaknya emang nggak bersalah deh Re" ucap Ajo tiba-tiba.
Derrell menoleh pada Ajo yang duduk disampingnya. "Gue kira cuman gue doang yang mikir kayak gitu, ternyata lo juga sama Jo"
"Ya Iyalah, secara gitu gue tahu yang mana yang bohong sama yang nggak bohong, ketebak sih dari gerak-gerik mereka, lo curiga nggak sih sama kumpulan polisi yang mengurus lapas 1-5. Yang komandannya Marjo Samba" tambah Jo lagi.
"Tolong! hiks…..hiks….hiks! tolong saya mohon lepaskan saya, saya tidak bersalah" belum sempat Derrell menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ajo pada dirinya, suara keributan dari luar lapas membuat mereka berdua buru-buru melihat apa yang sedang terjadi.
Bahkan kakek Harto saja yang sedang beristirahat beranjak kaget. "Apa yang terjadi?" tanya kakek Harto yang sudah berada diantara Derrell dan Ajo.
"Entahlah!" jawab keduanya kompak.
"Hiks…! tuan saya mohon lepaskan saya, saya tidak bersalah, kenapa kalian mau memenjarakan saya tanpa bukti" suara lirih seorang perempuan yang ditarik oleh kedua polisi menuju salah satu sel disana masih bisa didengar oleh Derrell dan yang lainnya.
"Mereka memang seperti itu asal memenjarakan orang tanpa mencari bukti terlebih dahulu" suara seseorang dari belakang mereka, membuat ketiganya menoleh secara bersama.
"Bapak kau sudah baik-baik saja?" tanya kakek Harto dengan suara paruh.
"Ya jauh lebih baik dari sebelumnya"
"Maaf menyela, maksud bapak barusan apa ya?" tanya Derrell penasaran.
Laki-laki yang dipanggil bapak itu menghela nafas sejenak. "Kita bicara sambil duduk saja" ajaknya pada ketiga orang itu.
"Sebelum mulai bercerita panggil saja saya pak Arton, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan kang Arton, untuk kalian terserah mau manggil saya bapak atau kang" ujar Arto sebelum bercerita.
"Baik pak Arton"
"Baik kang Arton" ucap Derrell dan Jo bersama dengan kata yang berbeda.
"Sudah terserah kalian saja mau manggil Arton dengan apa!" kesal kakek Harto.
"Iya kek"
Arton memulai ceritanya bagaimana dia bisa sampai ke dalam lapas ini. "Jadi begini saya adalah seorang detektif yang menyelidiki kasus kematian orang-orang di kota X"
Mendengar ucapan Arton, Jo hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. "Jadi anda detektif Ar yang sangat terkenal itu?" Ajo memotong pembicaraan Arton dengan bertanya terbata-bata. Arton mengangguk mantap atas pertanyaan Ajo.
"Jangan dipotong dulu Joo! biarin pak Arton selesaikan dulu ceritanya" kesal Derrell.
"Lanjut pak" ucap Derrell kemudian.
"Tapi saat saya menyelidiki kasus satu minggu lalu ternyata saya dijebak oleh komandan Marjo Samba dan beberapa anggota polisi lainnya" Arton kembali melanjutkan ceritanya, sampai tiba-tiba Ajo menggebrak meja dengan kuat.
"Brak!" gebrakan meja itu terdengar sampai ke luar.
"Jangan berisik!" seru seorang polisi dengan nada keras dan ketus.
"Jo apa-apaan lo" tegur Derrell.
"Benarkan apa yang gue bilang mereka itu bukan orang baik!" ucap Jo dengan mata yang menyala-nyala seakan ingin membunuh musuhnya saat itu juga.
"Nak Jo tenanglah dulu, katanya kamu mau bertobat" tegur kakek Harto seketika Ajo langsung melunak.
"Maafkan saya, saya terlalu kesal" sesalnya.
Tak menyangka setelah tiga hari akhirnya bapak Arton mau bicara dengan mereka bertiga. Derrell benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan para polisi itu yang ternyata sama saja dengan kelakuan pejabat di kota X.
Di Kosan Derrell sistem ajaib yang telah memilih Derrell sebagai taunya tak pernah berhenti bekerja dia terus melakukan pekerjaannya magic system itu juga memantau keadaan Derrell di dalam lapas.
"King Derrell sudah tidak terlalu bodoh lagi! dia sudah bisa memanfaatkan tempat dan bisa memahami situasi" magic system itu mengirimkan gambar dan video ke sebuah aplikasi yang tak kalah aneh dari bentuk aplikasi magic system.
"King Derrell akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya" ujar magic system, selama tidak ada Derrell di kosan nya magic system itu tak pernah berhenti beroperasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
REY ASMODEUS
hati hati so bakso lewat. hh
2022-11-14
0
Jimmy Avolution
Asyiek...
2022-11-07
0
Lonayma
ganti aja jadi samb.......so bakso
2022-09-26
1