Mihika sudah berada di depan kamar perawatan ayahnya, ada Johan di sana menatap sambil melipat kedua tangan di dada. Sedangkan Mihika hanya berdiri mematung dengan wajah menunduk. Ulah Mihika dan Arka yang menyebabkan mereka harus menikah membuat Johan harus memutar otak menyampaikan dengan hati-hati agar Aditya mau memberikan haknya sebagai seorang Ayah kepada orang lain untuk menikahkan putrinya.
“Kalau tidak mau membantu aku mengurus perusahaan ayahmu, setidaknya lebih baik kamu diam di rumah dan tidak membuat semua semakin kacau. Kamu tahu apa yang aku takutkan waktu menyampaikan masalahmu, aku takut jantung ayahmu berhenti saat itu juga,” tutur Johan dengan suara lirih agar tidak terdengar sampai ke dalam kamar.
“Maaf.”
Johan menghela nafasnya, “Masuklah, ayahmu menunggu.”
Mihika langsung melangkah menuju pintu, bergegas berjalan menghampiri ranjang ayahnya yang ternyata saat ini ayahnya dalam keadaan terjaga.
“Ayah, maafkan Mihika,” ucap Mihika lalu duduk di samping brankar Aditya. Bahkan wajah Mihika dibenamkan di tangan Aditya yang terbebas dari jarum infus.
“Mihika,” panggil Ayah, Mihika pun menoleh.
“Pulanglah. Jalani rumah tanggamu dengan baik. Jangan pikirkan kondisi Ayah, ada dokter dan perawat yang lebih kompeten merawat Ayah.”
“Tapi, Yah. Aku ....”
“Apa Arka tahu siapa kamu?”
Mihika menggelengkan kepalanya. “Entahlah Yah.”
“Sekarang dia suamimu, kamu harus lebih patuh kepada Arka.”
“Ayah, kami tidak saling mencintai. Aku bisa ....”
“Jangan. Jangan pernah punya ide bodoh untuk mengakhiri pernikahan kalian. Kecuali kalian sudah menjalani dan tidak mungkin diteruskan, Ayah tidak masalah jika sudah menjadi keputusan kalian. Pulanglah dan jalani kehidupanmu yang baru. Kita akan bicarakan resepsi pernikahan kalian setelah Ayah sembuh.”
Mihika saat ini sudah berada dalam taksi menuju apartemen Arka. Sesuai perintah ayahnya, pakaian dan perlengkapannya akan disiapkan oleh Bibi dan diantar oleh supir. Aditya melakukan itu agar Mihika tidak ada alasan untuk pergi dari Arka atau menghindar dari pernikahannya.
Berjalan gontai setelah turun dari taksi. Bahkan saat ini Mihika sudah berada di depan pintu apartemen Arka, ragu untuk menekan deret angka untuk membuka akses kunci pintu. Dikejutkan dengan ponselnya yang bergetar ternyata panggilan telepon dari Arka. Memilih segera membuka pintu dibandingkan menjawab panggilan Arka.
“Kalau aku hubungi itu di jawab,” titah Arka saat melihat Mihika sudah berada di apartemennya.
“Kamar saya dimana Pak?” tanya Mihika, tanpa mengindahkan apa yang diucapkan oleh Arka sebelumnya.
“Kamar kamu?” Mihika menganggukan kepalanya.
“Hanya ada satu kamar, jadi kalau kamu mau bisa bergabung denganku atau tidur di walk in closet atau balkon terserah, asal jangan kamu tidur di sofa atau ruang kerjaku.” Mihika hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Arka.
“Duduklah, ada yang perlu kita bicarakan.”
Saat ini Mihika dan Arka duduk berhadapan. Arka menatap Mihika, “Mengenai pernikahan kita, kamu dengar sendiri bukan nasihat pemuka agama disana. Kita tidak boleh langsung bercerai, tapi aku tidak mencintai kamu.”
Mihika balas menatap Arka yang sedang bicara.
“Jadi, kita bisa jalani hidup kita masing-masing seperti sebelumnya. Sampai pada waktunya kita akan bercerai. Aku juga tidak ingin hal ini sampai didengar di perusahaan, kamu tetap bekerja sebagai asisten. Kalau kamu ada kekasih, lanjutkan saja hubunganmu begitupun denganku. Mari jangan saling mengusik,” ungkap Arka.
Entah kenapa ucapan Arka barusan membuat Mihika kesal dan jengkel. Bahkan ingin sekali melemparkan vas bunga yang ada dimeja dihadapannya ke kepala Arka.
“Terserah Pak Arka, aku lelah ingin istirahat.”
Mihika menuju kamar Arka atau bisa dikatakan kamar mereka untuk saat ini. Koper Mihika yang dibawa saat mereka ke luar kota ada di kamar Arka, Mihika mengambil baju gantinya dan menuju kamar mandi.
Cukup lama menghabiskan waktu berendam air hangat, sengaja Mihika lakukan untuk membuat tubuhnya rileks. Kejadian yang dia alami benar-benar mengejutkan, mulai dari pernikahan dan ayahnya yang mengusir Mihika atau lebih tepatnya meminta Mihika untuk berbakti pada Arka. Tapi kenyataannya Arka menyarankan mereka menjalani kehidupannya masing-masing.
Saat keluar dari kamar mandi, Arka sudah berbaring diranjang dengan tangan berada di belakang kepalanya menatap langit-langit kamar. Wangi sabun yang digunakan Mihika menguar membuat Arka mengetahui jika Mihika sudah keluar dari kamar mandi.
“Kamu bisa tidur di sofa,” titah Arka lalu menarik selimut, mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
***
“MIHIKA!”
“Lima menit lagi, Yah. Aku masih mengantuk,” ujar Mihika mengeratkan selimutnya dan semakin membenamkan wajahnya di atas bantal.
“MIHIKA!” teriak Arka sambil menendang sofa tempatnya tidur.
\=\=\=\=\=\=\=
Hmm, Arka galak beud ya. Kl udah.bucin mah klepek-klepek🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
duh ranjang arka bekasan iya2 nya arka, hadeeh😇😇🤨
2024-08-20
0
tris tanto
baru ini bc nopel yg asprinya jd bini trus tau kelakuan arka yg celup sono sini dn pernh dikmrnya jg dn hika jg tau.tp pas jd istrinya tuch gk ada bilng "sy gk mau ya tidur dikmr bekas bpk tidur dgn jlng" lha ini kesannya nrima aja
2024-01-29
2
Hearty💕💕
Belom tqhu aja kalau Hika anaknya owner
2023-12-17
0