"Selamat Pagi, Pak,” sapa May.
"Hmm," ucapnya sambil berlalu. Hika tidak dapat berkata apapun, dia masih terkesima dengan Arka.
"Ayo masuk, aku kenalkan kamu dengan Pak Arka,” ajak May pada Hika.
May dan Hika masuk ke dalam ruangan Arka setelah mengetuk pintu, “Permisi Pak, ini Hika yang akan menjadi Aspri Bapak,” ujar May. “Oke, kamu boleh pergi, dia tetap tinggal,” jawab Arka sambil fokus pada layar komputernya.
“Kau tidak duduk atau mau tetap berdiri sampai sore di sana,” tegur Arka menoleh pada Hika yang berdiri di depan meja kerjanya yang disambut Hika dengan segera duduk pada kursi yang ada.
“Baca list yang diberikan oleh Mae, tanyakan padaku jika ada yang kurang jelas.” Hika membaca list dan menandai yang perlu ditanyakan. Arka yang duduk di hadapannya menatap sambil melipat kedua tangannya di dada.
Arka masih menatap Hika yang tengah menunduk membaca jobdesknya, sesekali wajahnya merengut bingung dan terkadang tersenyum.
“Sudah pak, tolong dijelaskan yang saya tandai,” ucap Hika sambil menyerahkan lembaran kertas. Arka mulai membaca, “Memastikan Direktur bangun tepat waktu dan menyiapkan keperluannya pada hari-hari tertentu, kamu harus bangunkan aku, siapkan pakaian dan sarapan untuk waktu-waktu tertentu. Contohnya kalau kita ada rapat atau pekerjaan sampai malam, atau waktu tertentu sesuai arahan aku, atau kalau kita ada perjalanan bisnis mendadak.”
“Kita?” tanya Hika.
“Ya, kita. Aku selaku Direktur dan kamu Personal Assistant,” jawab Arka.
“Jadi, aku harus ikut kemanapun Pak Arka pergi?” tanyanya lagi.
Arka menatap Hika, “Lalu kamu pikir apa tugasmu, apa iya aku harus didampingi security,” ujar Arka.
‘Enggak beres Om Johan, kasih aku posisi begini amat. Gimana aku bisa selidiki masalah kalau harus mengekor orang ini terus,’ ucap Hika dalam hati.
“Ada masalah?”
Hika menggelengkan kepala, “Tidak ada Pak. Silahkan dilanjutkan.”
“Harus siap kapan pun dibutuhkan, termasuk hari libur ataupun malam hari. Ketika hari libur kamu harus siap jika aku membutuhkan sesuatu baik itu urusan pribadi atau berhubungan dengan pekerjaannya,” jelas Arka.
Hika mengangguk.
“Tidak boleh pulang sebelum Direktur pulang atau memperbolehkan pulang. Apa yang tidak jelas dengan hal ini.”
“Jadi, jam kerja saya tidak pasti pak?”
“Hmm.”
“Oke, next,” ucap Hika.
Arka kembali menjelaskan uraian pekerjaan yang harus dilakukan oleh Hika, sesekali Hika menyela untuk bertanya atau menawar agar tugasnya lebih mudah yang sudah pasti ditolak oleh Arka.
Sampai akhirnya Arka melemparkan lembaran kertas tersebut, “Kamu pelajari sendiri, aku banyak pekerjaan tidak ada waktu membacakan hal ini untukmu.”
“Bukan membacakan Pak, tapi menjelaskan,” sahut Hika. Arka berdecak, “Kamu sekolah manajemen tidak mungkin awam masalah ini,” ujar Arka.
“Dari mana Pak Arka tau saya sekolah Manajemen?” tanya Hika. “Kamu pikir bagaimana mungkin HRD mudah menerima kamu sebagai personal assistant aku kalau tidak memiliki background pendidikan yang baik. Satu lagi, berdirilah!” titah Arka.
Hika pun berdiri. “Berputar!”
Hika pun memutar tubuhnya. “Apa penampilan kamu tidak bisa dirubah?” tanya Arka.
“Kenapa harus dirubah Pak? Seingat saya, pakaian yang saya kenakan tidak termasuk tidak boleh dikenakan saat bekerja.”
“Ya memang tidak melanggar, tapi nggak enak dilihat. Tidak menarik dan membosankan,” ungkap Arka menilai penilaian Hika. ‘Memang itu tujuannya, agar tidak ada yang mengenaliku,’ batin Hika. Terdengar pintu diketuk lalu masuklah seorang wanita, wanita yang tadi pagi menabrak Hika.
‘Hah, perempuan ini lagi,’ batin Hika.
“Pagi Pak Arka,” sapa Lela lalu menoleh pada Hika dan berdiri disamping kursi Hika. “Kamu siapa?” tanyanya.
“Saya Hika.”
“Aku tidak tanya nama kamu, tapi siapa kamu ada di ruangan Pak Arka?”
“Dia personal assistant ku yang baru, Hika kamu keluar dulu. Minta Mae tunjukan meja kerja kamu.”
“Oke.” Hika menatap Lela yang juga menatapnya lalu meninggalkan ruangan. Namun, saat sampai pintu, terdengar suara manja Lela. “Pak Arka kenapa sih abaikan telpon aku. Aku 'kan kangen.” Hika sengaja tidak menutup rapat pintu ruangan itu, dia lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan saat mendengar suara yang dia tau itu karena beradunya dua mulut manusia, suara decapan.
“May, mereka di dalam ...”
“Sudah, kamu nggak usah ikut campur. Pak Arka itu playboy, kamu harus terbiasa dengan pemandangan tadi,” jelas May sambil fokus pada layar komputernya. “Cukup tutup mata, tutup telinga aja,” tambahnya lagi.
Hika masih berdiri di depan meja May, saat Lela keluar dari ruangan Arka. Dia memperbaiki pakaiannya lalu mengibaskan rambut kemudian berjalan melewati Hika dan May. Tiba-tiba Lela menghentikan langkahnya kemudian berbalik, “May, kasih tau aspri Pak Arka yang baru siapa aku,” ujarnya.
“Memang kamu siapa?” tanya Lela.
Hika terkikik mendengar pertanyaan May, “Heran, sekretaris sama aspri Pak Arka nggak ada yang bener. Sama-sama be*go.”
Hika menuju ruangan kerjanya, meskipun lebih kecil dibandingkan ruang kerja Arka. Di ruang itu Hika bisa melakukan penyelidikan dengan menelusuri sistem perusahaan tanpa khawatir ketahuan oleh orang lain. Seperti saat ini, Hika sedang mempelajari dan mengenal siapa petinggi di perusahaan. “Oh, jadi Lela anaknya Pak Anjay, anjay bener deh,” ujar Hika.
Telepon di meja Hika berdering.
“Hika, Pak Arka manggil lo,” ucap May diujung telepon. “Ngapain ngehubungin May, bukan langsung telepon gue.
Bergegas masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Arka yang fokus pada berkas-berkas di mejanya. “Serahkan ini ke bagian marketing,” Arka menyodorkan map dan diterima oleh Hika. Menoleh pada wajah Arka, terlihat noda lipstik yang tertinggal di bibir pria itu. Sepertinya jejak Lela masih tertinggal di wajah Arka.
‘Oh my god, enak bener mereka mesum di perusahaan Ayah. Jangan-jangan orang yang terlibat di balik terpuruknya perusahaan ini adalah....’ batin Hika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Virgo Girl
ini mksdnya Mae yg nanya kan?
2024-10-05
0
dewi
😅😅
2024-04-03
0
sherly
dih sih ikan lele sok banget lu..
2024-03-23
1