Ditempat berbeda, Lela tertawa membayangkan Mihika yang terkunci di ruangan dan tidak ada yang mengetahuinya. Juga ponsel Mihika yang dibuang Lela ke salah satu tempat sampah tidak jauh dari ruang arsip.
Saat Lela mengendap masuk mengikuti Mihika yang terlihat berjongkok serius mencari berkas, tidak jauh dari posisinya ada meja dan Lela melihat ponsel tergeletak di sana sepertinya milik Mihika.
Sedangkan di perusahaan, akhirnya pintu ruang arsip berhasil dibuka. Ucup dan Udin penasaran dengan penyebab bunyi tapi takut jika kenyataan penyebabnya bukan manusia. Dio mendorong pintu dan melihat sosok wanita, “Mihika,” panggilnya. Penampilan Mihika sudah cukup kacau, dengan cepolan rambutnya sudah berantakan. Pakaian yang dikenakannya kotor, disebabkan dia duduk di lantai persis di balik pintu.
“Dio,” ucapnya sambil terisak. “Tadi aku takut sekali.”
Dio berusaha menenangkan Mihika. “Kenapa hantunya cantik ya?” tanya Udin sambil berbisik pada Ucup. Dio bertanya kenapa Mihika bisa berada di ruangan tersebut dan terkunci. Mihika menjelaskan kronologis dia berada di ruangan tersebut dan tidak menyadari jika terkunci, tanpa mengatakan tujuannya menjadi berkas sebagai bukti penyelidikan.
“Kamu nggak bawa ponsel?”
“Entahlah, perasaan tadi aku bawa tapi ....”
“Ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang. Biar aku antar,” tutur Dio cukup perhatian. Bahkan Ucup dan Udin berdehem mendengar penawaran Dio.
“Hm, tidak usah. Biasanya aku dijemput, mungkin sekarang masih menunggu. Sepertinya aku harus mencari ponsel aku,” sahut Mihika. Saat ini dia tidak tahu siapa lawan dan kawan, apalagi setelah kejadian barusan membuatnya harus semakin hati-hati termasuk juga pada Dio.
Mihika sudah berada di ruang Arka. Merapikan kembali meja kerja dan tidak menemukan ponsel miliknya.
...***...
Hari sudah cukup siang tapi Mihika masih berada di ranjangnya, terasa sangat nyaman membuatnya enggan beranjak meskipun waktu sudah bergulir semakin siang. Tapi mau tidak mau Mihika perlahan beranjak bangun sambil menguap. Menuju kamar mandi karena niatnya hari ini dia tetap harus ke kantor.
Setibanya di perusahaan, Mihika menuju ruang operator CCTV. Meminta diputar kembali rekaman kamera yang menangkap area ruang arsip untuk membuktikan bagaimana bisa dia terkunci di dalamnya.
Mihika menghela nafas menahan geram karena rekaman yang sedang disaksikan menampilkan Lela memasuki ruangan arsip kemudian keluar dan menutup pintu yang otomatis terkunci dan terlihat membuang sesuatu di tempat sampah. Sudah kuduga ada yang jahil, tapi tidak ku sangka kalau putri si anjaay yang melakukannya, batin Mihika.
“Tolong kirim rekaman tadi,” titah Mihika. Operator itu hanya bisa melakukan sesuai yang diperintahkan Mihika.
Bergegas menuju divisi keuangan berada. Sudah pasti untuk mencari Lela Gunawan. “Dimana Lela?” tanya Mihika pada salah satu staf yang akan keluar ruangan. Mihika menuju meja sesuai arah yang ditunjuk oleh staf tadi.
Brak
Mihika menggebrak meja Lela. Lela terkejut dan menoleh, “Apa-apaan kamu, punya nyali juga berani menggebrak meja aku,” teriak Lela. Membuat mereka menjadi perhatian, karena beberapa karyawan lain yang mejanya tidak jauh dari Lela menjadi penasaran dengan keributan yang terjadi. “Apa maksud kamu mengunci aku di ruang arsip?” tanya Mihika dengan berteriak.
“Mengunci kamu? Apa aku tidak salah dengar, kamu pikir aku ada waktu untuk menjahili kamu.”
Mihika semakin geram, akhirnya dia mengumpat dan mencaci Lela. Lela tidak terima lalu mendorong tubuh Mihika. Mihika membalasnya, entah siapa yang memulai kini mereka saling jambak rambut bahkan Mihika sudah mendapatkan tamparan dari Lela. Tidak terima, Mihika pun membalas menampar Lela.
Karyawan yang menyaksikan perkelahian tidak berani melerai, malah bersorak. Sampai akhirnya Anjay Gunawan keluar dari ruangannya karena merasa terganggu dengan keributan di divisinya. “Lela, hentikan!” teriak Anjaay Gunawan.
Lela dan Mihika yang sedang saling menjambak menghentikan gerakannya. Terlihat penampilan kedua wanita itu cukup kacau. Rambut yang berantakan bahkan kemejanya kotor dan di wajah keduanya ada bekas tamparan.
“Ada apa ini? kenapa tampak seperti di hutan,” tanya Anjaay gunawan saat mencoba melerai kemacetan.
“Ayah, dia yang memulai duluan,” ujar Lela. Anjaay menatap wanita di hadapannya, dari kepala sampai kaki. “Siapa kamu?” tanya Anjaay menelisik dengan pandangan pada Mihika.
\=\=\=\=\=
Gaes promo punya author lain nihhh, mampir yuks
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Senja
kalo di perusahaan alah kah baiknya jika pakai saya anda biar terlihat formal
2025-02-13
1
YuWie
suka berpetualang tapi gak bisa bela diri si hika..kok cuman jambak2an..gak kelas bgt
2025-03-29
0
Whatea Sala
Hika berantemnya gak keren...ngelabrak lela harusnya langsung tabok duluan,masa cuma jambak2an😆😆
2024-05-26
0