“Kamu terlihat sangat buruk dan seperti orang bodoh,” ejek Arka membuat Mihika terdiam mematung. “Aku yakin tidak akan ada laki-laki yang siap menikahi kamu, kecuali dirinya bodoh sama seperti dirimu."
Kedua tangan Mihika meremmas roknya karena menahan amarah. Memejamkan kedua matanya agar tetap sabar. Memang saat ini penampilan Mihika angat tidak elegan karena pakaiannya yang kotor akibat ulah Lela.
“Cukup! Cukup kamu menghina saya. Kamu hanya direktur di sini dan mulai saat ini aku memecatmu. Aku Mihika Yodha putri dari Aditya Yodha tidak membutuhkan pimpinan seperti kamu. Mesum dan arrogant, hanya bisa menghina dan merendahkan orang lain,” ungkap Mihika mengungkap identitasnya.
Arka tetap berdiri menatap Mihika dengan pongah. Sedikitpun tidak terpengaruh dengan kalimat yang diucapkan oleh Mihika, karena hal itu hanya ada dalam benak Mihika tanpa sanggup terucap.
“Apa? Tidak suka dengan apa yang aku sampaikan? Sana bercermin,” titah Arka.
Mihika menghela nafas, “Jadi, bagaimana Pak, apa saya tetap harus ikut atau ....”
“Apa menurut kamu saya harus membawa asisten dengan tampang seperti kamu saat ini?” Mihika menggelengkan kepalanya. “Hubungi Lela, minta dia yang menemaniku,” titah Arka.
“Baik Pak.” Meninggalkan ruang kerja Arka sambil tertunduk. “Kamu kenapa?” tanya Mae pada Mihika yang berdiri di depan mejanya sambil menunduk. “Aaaaaa,” teriak Mihika membuat Mae terkejut sampai harus berdiri karena khawatir jika Mihika ternyata kerasukan mahluk halus penunggu perusahaan.
“Hika, kamu jangan bikin aku takut dong.”
“Mae, hubungi Lela minta dia temani Pak Arka,” titah Mihika lalu berjalan meninggalkan meja Mae. “Kamu mau kemana?”
“Ke kutub utara, mendinginkan otakku agar tetap waras.” Mae hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban absurd Mihika.
...***...
Hari sudah menjelang malam, saat Mihika tiba di rumah. Berjalan lunglai dengan wajah terlihat sangat lelah bahkan rambutnya sudah tidak beraturan, bahkan tas kerjanya terseret-seret.“Non Mihika kenapa? Kok berantakan begini?” tanya Bibi ketika melihat Mihika yang baru saja datang.
“Jadi penampilanku benar-benar berantakan Bi?” Bibi pun menganggukan kepalanya.
“Aaaaa.” Mihika kembali berteriak. “Lalu aku harus bagaimana Bi? Rasanya ingin aku beri kopi bersianida pimpinan yang hanya bisa menghujat dan menghina karyawannya. Bagaimana Ayah bisa mempercayakan perusahaan pada orang seperti itu,” jelas Mihika yang ditanggapi dengan wajah heran karena tidak dimengerti oleh Bibi.
Terdengar dering ponsel Mihika yang berada di dalam tas. Merogoh dan mengeluarkan ponselnya, “Halo Om Johan.”
“Bagaimana hari pertamamu bekerja, apa sudah mendapatkan titik terang mengenai masalah yang dihadapi?”
Mihika mengacak rambutnya mendengar pertanyaan Johan melalui sambungan telepon. “Kalau mencekik leher manusia itu tidak akan menimbulkan efek kematian, ada dua orang yang saat ini ingin aku cekik. Apa Om Johan tahu siapa orang yang ingin aku cekik?”
“Entahlah, apa hubungannya mencekik dengan permasalahan perusahaan.”
“Tentu saja ada, karena sudah membuat aku frustasi dan kedua orang itu adalah Arka dan Om Johan,” ucap Mihika lalu tertawa terbahak.
“Hey, Mihika. Kamu baru sehari bekerja sudah seperti orang gila. Aku yang sedari lulus sarjana sudah ikut dengan Ayahmu masih waras.”
Mihika mengakhiri panggilan telepon dan beranjak menuju kamarnya. Mihika sengaja berendam di bathup dengan air hangat selain untuk melepas lelah, berharap aromatherapy dapat menenangkannya.
Tidak lama kemudian membilas tubuhnya menggunakan shower lalu keluar kamar hanya mengenakan bathrobe. Mengirim pesan untuk menanyakan kabar sang Ayah pada Om Johan, padahal dia berencana ke rumah sakit sepulang kerja tapi lelah psikisnya sangat berat dibandingkan lelah fisik. Merebahkan tubuhnya di ranjang, lalu terdengar dering ponselnya.
Mihika mengernyitkan dahinya karena layar ponsel menampilkan kontak baru yang belum tersimpan. “Halo.”
“Besok pagi siapkan kebutuhanku untuk keluar kota, juga pastikan aku tidak telat. Akan aku share alamat apartemen dan password untuk masuk,” titah Arka di ujung telepon. Mihika baru akan menjawab tapi Arka sudah mengakhiri sambungan teleponnya.
“Baik Pak, akan saya laksanakan,” ujar Mihika sambil meletakan ponselnya. “Dipikir aku benar-benar bodoh, jelas-jelas tadi suara musik seperti di club. Aku harus segera menemukan penjahat berkerah di perusahaan, agar bisa merombak struktur organisasi kepengurusan. Termasuk juga Arka Rocio,” ujar Mihika dengan geram.
Mihika membaca pesan masuk dari Arka kemudian mengatur alarm agar dirinya tidak kesiangan. “Oke, kita lihat apakah si buruk dan bodoh ini bisa diandalkan oleh Bapak sok sempurna Arka Rocio,” cetus Mihika.
\=\=\=\=\=\=
Mihika kesiangan enggak ya ? 😁
Yuhuuuu jangan lupa mampir ke karya rekan author yesss
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
pdhal hobby nya aja gimana?? sdh lelah psikis nya, baru 1hr
2024-08-20
0
RossyNara
kirain beberan di maki si arka eh ternyata hayalan belaka.cik cik cik
2024-05-14
0
Rumini
mihika JD orang gak gentleman
2024-04-13
0