“Siapapun, tolong buka pintunya. Ada orang di sini,” teriak Mihika sambil terus memukul pintu hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Bahkan tangannya terasa kebas dan merah. Menyesal melupakan ponsel dan meninggalkannya di meja ruang kerja Arka. Mihika menghentikan pukulannya, mengatur nafasnya yang terengah.
“Siapapun, tolong buka pintunya,” ucap Mihika lirih.
Saat menuju ke ruang arsip, Mihika tahu jika waktu sudah sore dan hampir berakhirnya jam kerja dan sudah cukup lama dia berada di ruangan tersebut. Mihika duduk bersandar pada pintu, mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah karena berteriak dan sekuat tenaga memukul pintu yang nyatanya hanya sia-sia.
Hari sudah malam, bahkan hampir seluruh karyawan sudah meninggalkan perusahaan, kecuali beberapa orang yang masih mengejar target laporan atau persiapan kegiatan. Bahkan para security dan office boy sudah berganti shift.
Tubuh Mihika lemas, sepertinya dia mengalami dehidrasi. “Siapapun, tolong aku,” ucap Mihika lirih dengan mata terpejam dan kepala yang menempel pada pintu.
Dua orang office boy yang sedang membersihkan lantai di mana ruang arsip berada, bekerja sambil bercanda. Tidak sengaja menyenggol meja dan kursi membuat bunyi yang cukup keras karena suasana malam yang cukup hening membuat suara apapun terdengar sangat keras. Bahkan salah satunya memutar lagu di ponsel dan bernyanyi sambil berteriak.
Mihika sayup-sayup mendengar suara, menegakkan kepalanya memasang telinga baik-baik untuk memastikan jika dia benar mendengar suara manusia. Mihika berusaha berdiri dan kembali menggedor pintu dari dalam, sambil kembali berteriak.
Bruk.
Bruk.
Bruk.
Salah seorang OB yang mengepel tidak jauh dari pintu ruang arsip menghentikan gerakannya, memastikan jika dia mendengar sesuatu.
Bruk.
Bruk.
Bruk.
Orang itu menatap pintu ruang arsip dan meyakini jika suara tersebut berasal dari ruangan di hadapannya. “Ucup,” panggilnya pada rekan kerjanya yang sedang mengepel lantai tidak jauh darinya.
“Ucup,” teriaknya lagi.
“Apaan sih,” jawab Ucup menghentikan nyanyiannya dan menoleh pada Udin yang memanggilnya.
“Lo dengar nggak?”
Ucup terdiam lalu menjawab, “Iya.”
“Dengar apa?” tanya Udin.
“Dengar suara lo.”
“Ah, kampr*t. Maksud gue lo dengar suara dari ruangan itu nggak?” tanya Udin sambil menunjuk pintu ruangan dimana Mihika berada. Ucup pun menghampiri Udin, keduanya terdiam dan mencoba mendengarkan apa yang Udin risaukan.
Bruk.
Bruk.
Udin dan Ucup saling tatap, tidak lama kemudian mereka berteriak dan berlari menuju pintu tangga darurat menuruni tangga secepatnya masih saling memaki dan menghardik karena rasa takut. Sampai di lantai berikutnya mereka memasuki ruangan divisi marketing.
Masih ada beberapa karyawan yang sepertinya sedang lembur, termasuk Dio. Melihat kedua office boy yang berlarian dengan wajah ketakutan dan nafas terengah, Dio pun menghampiri dan bertanya. “Kalian kenapa?”
“Mas, tobat Mas. Saya janji setelah ini bakal sholat tepat waktu. Nggak akan bohong sama orangtua saya,” tutur Ucup.
“Sama Mas, saya janji akan sayang sama istri dan anak saya. Tapi jangan diganggu sama yang kayak begituan, Iman saya nggak kuat,” ungkap Udin.
Dio mengernyitkan dahinya. “Kalian bicara apa sih?”
“Ada apa?” tanya rekan kerja Dio.
“Tau nih, mereka nggak jelas.”
“Kita diganggu setan Mas, di lantai atas. Saya pernah dengar dari tim lain ternyata benar-benar mengalami sendiri,” ujar Ucup.
“Setan,” ucap Dio dan rekannya serempak.
Ucup, Udin, Rio dan rekannya pun bermaksud membuktikan apa yang disampaikan Duo U. Mereka sudah tiba di lantai yang dimaksud. Menatap sekeliling ruangan yang memang sudah sepi. “Itu Mas, di ruangan itu,” ujar Udin menunjuk sebuah pintu.
Dio melangkah menghampiri pintu yang ditunjuk oleh Udin. “Mas, jangan. Lebih baik kita kembali saja. Ucup menjelaskan bunyi yang seperti apa yang mereka dengar. Dio mengetuk pintu ruangan, lalu terdiam.
“Mungkin kalian salah dengar,” ujar Dio lalu berbalik.
Bruk.
Bruk.
Ucup dan Udin saling berpelukan karena kembali mendengar bunyi yang sejak tadi mengganggunya. Dio kembali menatap pintu dihadapannya. Lalu dia mengetuk pintu itu dan kembali mendengar suara gedoran dari dalam.
“Siapa yang pegang kunci ruangan ini?” tanya Dio.
“Security mungkin,” jawab rekan Dio.
Dio menghubungi extension pos security melalui pesawat telepon di ruangan tersebut dan menanyakan perihal kunci ruang arsip. Menyampaikan jika kemungkinan ada sesuatu di dalam ruangan dan khawatir akan merusak arsip.
Dio dan rekannya kembali mengetuk pintu dan lagi-lagi dijawab gedoran. Sedangkan Ucup dan Udin memilih berdiri sedikit lebih jauh dari pintu.
Hampir lima belas menit menunggu security membawakan kunci ruangan. “Lama bener sih,” tegur Dio.
“Maaf Pak, tadi kita ijin dulu.” Akhirnya pintu ruangan berhasil dibuka.
\=\=\=\=\=\=\= Hmm
Mampir yuk ke karya rekan author, sambil menunggu Mihika Up lagi
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Alanna Th
bpk n putriny pasti kena phk tdk trhomat
2024-02-03
1
RATNA RACHMAN
awas aja si lela belum tau dia mihika tuh siapa 😡
2022-11-13
2
lestary😉
aduh perasaan td habis nlpn Jo Thor,masa lupa,🤭tapi saya suka ceritanya,good job ,di tunggu lanjutannya thor
2022-09-10
0