Ketika menjejakkan kakinya di perusahaan, Mihika terseyum membayangkan kepanikan dan kemarahan Arka mengetahui tidak ada pakaian dalam di kopernya.
“Seperti sedang berbahagia, senyam senyum terus,” ujar Dio yang sudah berjalan mensejajari Mihika. “Masih pagi, harus semangat dan ceria. Agar mood aku hari ini stabil,” sahut Mihika tanpa menoleh pada Dio. Mereka berdua bergabung pada antrian di depan lift.
Ternyata memang masih terlalu awal, Mihika tiba di ruang kerja Arka. Tidak melihat Mae di meja kerjanya. Mihika menuju meja Arka dan menghidupkan komputer yang biasa digunakan Arka. Mencari file yang mungkin saja membantunya menguak kebenaran. "Bingo," ujar Mihika membuka folder laporan dan membaca serta menganalisis satu persatu file yang ada.
Mihika membaca note di meja Arka untuknya, berisi tugas yang harus dilakukan oleh Mihika. Tapi sementara diabaikan, dia masih fokus dengan file-file yang mungkin saja memberikan bukti kecurangan atau pelaku yang harus bertanggung jawab.
Bahkan saat istirahat, Mihika memesan makanan untuk diantar ke ruang Arka. Mae sempat aneh melihat Mihika di ruang kerja Arka. Tapi jawaban dari Mihika cukup membuat Mae percaya jika Mihika memang sedang mengerjakan apa yang Arka tugaskan.
Menjelang sore, mendekati jam kerja berakhir, Mihika menemukan ada beberapa file laporan keuangan yang menurutnya aneh. Ada beberapa transaksi dan nominal yang tidak masuk akal. Memutuskan untuk ke ruang arsip dan mencari tahu sendiri siapa yang sudah memberikan approval sampai transaksi aneh itu terlaksana.
“Mau kemana?” tanya Mae saat Mihika melewatinya.
“Yang jelas bukan ke hati kamu,” jawab Mihika.
“Ya iyalah, hati gue cuma untuk calon imam yang entah masih ada di mana. Atau bahkan belum lahir,” sahut Mae.
Mihika menghubungi Johan untuk memberitahukan dimana ruang arsip, pertanyaan Mihika membuat geram Johan. "Mihika, ada lebih dari lima ratus pegawai di perusahaan dan bisa menunjukkan padamu dimana letak ruang arsip berada. Kenapa kamu malah menghubungiku," teriak Johan diujung sana. Mihika sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Tinggal jawab aja, malah teriak-teriak" ujar Mihika lalu mengakhiri panggilan. Akhirnya Mihika bertanya pada salah satu office boy dan diantar ke ruangan yang dimaksud olehnya.
Ruang arsip termasuk ruangan yang tidak bisa sembarangan dimasuki oleh orang lain. Karena jabatan Mihika sebagai asisten pribadi Arka, tentu saja membuatnya mendapatkan kemudahan. "Tunggu disini ya Bu, saya panggil security untuk membuka pintu."
Tidak lama kemudian office boy tadi datang kembali bersama seorang security, membuka kunci pintu dan mempersilahkan Mihika masuk.
"Pintu ini otomatis tertutup sendiri, jadi jangan ditutup ya Bu. Saya nanti ke sini lagi, nggak apa ditinggal?" tanya security pada Mihika.
"Tidak masalah saya hanya sebentar," jawab Mihika.
Lela Gunawan yang kebetulan berada di lantai di mana ruang arsip berada dan melihat Mihika masuk ke dalam ruangan tersebut pun penasaran. Ikut masuk ke dalm ruangan, tapi kembali ke luar berniat melakukan ide jahatnya. Lela menutup pintu ruang arsip dan ... terkunci otomatis.
"Rasain, jangan main-main dengan Lela putra dari Pak Anjay," ucap Lela sambil menghempaskan rambutnya seperti model iklan shampo.
Sedangkan di dalam ruangan, Mihika mencari berkas sesuai laporan yang tadi dibaca dan terdapat kerancuan. Betapa terkejut ketika mendapati berkas approval pengeluaran dana ditanda tangani oleh Arka.
Mihika heran, hanya dua kemungkinan yaitu Arka memang menyetujui pengeluaran karena dia terlibat dalam kecurangan tersebut atau ada yang memalsukan tanda tangan Arka.
Mihika merogoh sakunya bermaksud mengambil ponsel untuk memfoto berkas tersebut, membandingkan dengan tanda tangan Arka yang asli.
"Sepertinya ponsel ku tertinggal." Mihika berjalan ke arah pintu.
Sedangkan di luar ruangan, Security yang kembali ke ruangan arsip dan melihat pintu sudah tertutup dan terkunci menduga jika Mihika sudah keluar dari ruangan tersebut.
Mihika terkejut mendapati pintu yang sudah tertutup rapat. Meraih handle pintu dan menekannya tapi terkunci. Mihika panik dan memukul pintu sambil berteriak agar ada yang membuka pintu. Apa yang dilakukan Mihika percuma, karena pintu dan ruangan dibuat agar mengamankan data dan berkas, bahkan pintu yang cukup tebal tidak menimbulkan suara meskipun dengan keras Mihika berteriak.
\=\=\=\=\=\=
Yuhuuuu, mampir juga yuk ke karya rekan author
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
bego kebangetan nii
2024-08-20
0
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
wkwk Anjay gak tuh 🤣
2024-05-12
0
Osie
ya elah mihika ada sisi gobloknya juga ternyata..HP kok ya ditnggal
2024-01-31
2