“Aku bisa menghangatkanmu,” ujar Arka.
Mihika beranjak duduk, khawatir dan merasa berada dalam bahaya mendengar ucapan Arka. “Pak Arka jangan aneh-aneh ya, Pak Arka tidur di tempat lain deh jangan di sini.”
Arka sudah membuka matanya kembali, kantuk yang mendera seakan hilang. “Aneh-aneh gimana? Kamu lupa kalau kita sudah menikah, artinya aku suami dan kamu istri. Mau aneh bagaimanapun ya nggak masalah dong.”
“Ini sih Pak Arka cari gara-gara. Pak Arka mau pindah atau aku tendang,” ancam Mihika. Dia takut jika Arka akan menyentuhnya.
Arka berdecak mendengar ancaman Mihika. “Aku hanya bercanda, kamu pikir aku tertarik dengan kamu,” ujar Arka lalu sempat berdecak. “
Aku masih waras, karena menginginkan wanita yang cantik dan seksi bukan macam kamu ini.” Arka lalu berbaring miring memunggungi Mihika.
Mihika harus menambah stok kesabarannya mendengar hinaan dari Arka. Rasanya sungguh ingin memberikan pelajaran pada mulut bosnya itu. Situasi berikutnya mulai memanas tapi bukan karena Arka dan Mihika yang melakukan adegan dua puluh satu plus karena malam pertama mereka. Melainkan perdebatan, memperebutkan selimut.
“Jadi suami itu harus mengalah sama istri, ini gara-gara selimut aja udah kelihatan egoisnya.”
“Kamu jadi istri bar-bar banget. Kemarikan selimut aku, atau kamu mau aku selimuti dengan tubuhku?”
Kemudian terjadilah tarik menarik selimut, bahan yang bukan dari kualitas premium membuat selimut tersebut dengan mudah robek. “Gara-gara Pak Ark jadi begini ‘kan. Coba kalau diserahkan ke saya, masih utuh ini selimut.”
...***...
Keesokan pagi, terbangun lebih dulu. Terkejut karena dia sedang memeluk seseorang, “Mihika,” ucapnya dan menyadari jika tangannya juga berada di pinggang Mihika. Terasa pergerakan dari Mihika, Arka pun kembali memejamkan matanya berpura-pura tidur.
Mihika yang terbangun dan menyadari berada dalam pelukan Arka, bergeser untuk sedikit menjauh. “Kok aku bisa ada dalam pelukan Pak Arka?” tanya Mihika bermonolog lalu beranjak bangun dari posisinya, menuju kamar mandi setelah mengambil pakaian ganti.
Keadaan berikutnya kembali diwarnai perselisihan dan cekcok antara Arka dan Mihika. Arka yang ingin Mihika menyiapkan sarapan, tapi Mihika memilih kembali merebahkan tubuhnya dengan alasan kurang sehat.
“Hika,” panggil Arka.
Mihika bergeming masih berada di balik selimut tidak memperdulikan apa yang disampaikan Arka. “Ck, kita harus bertemu tokoh masyarakat lagi untuk urus persyaratan dari warga,” tutur Arka.
“Itu bukan tugas aku, urus saja sendiri.”
Sore itu urusan yang berhubungan Mihika dan Arka sudah selesai, Mihika mengajak Arka pulang ke Jakarta.
“Aku nggak mau lama-lama disini, walaupun Pak Arka nggak pulang, aku akan pulang sendiri.”
Mendengar ancaman Mihika, Arka pun meminta supir untuk menyiapkan kepulangan mereka. Selama perjalan Mihika dan Arka saling diam bahkan saat keduanya tertidur, Mihika menyandarkan kepalanya pada bahu Arka.
Mobil yang membawa Arka dan Mihika tetap pada koridornya. Mihika meminta supir berhenti di salah satu halte, dan memperhatikan pengunjung yang ada di daerah tersebut. Mihika bukan tanpa alasan ingin turun di halte, ingin menemui ayahnya termasuk menyampaikan kondisinya saat ini.
“Kamu ingin bertemu ayahmu? Kalau begitu aku ikut, ujar Arka.
“Hah, nggak ada?” tolak Mihika.
Akhirnya mobil yang membawa Arka dan Mihika pun kembali melaju membiarkan Mihika turun sendiri dan menunggu di halte.
“Seharusnya kamu kenalkan aku pada orangtuamu,” ujar Mihika
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
siti salamah
nma tkoh sering ke tukarr
2024-10-08
0
NouvitaLusiana
banyak typo nya tor
2024-07-07
0
Ida Kristyati
Typo 😀
2024-06-06
0