Pak Anjaay datang ke ruang kerja Arka karena perintah, tidak menyangka jika dia akan bertemu Mihika. Setelah menjelaskan laporan yang diminta oleh Arka, Anjaay pun membahas masalah Mihika. Mulai dari masalah keributan di divisinya juga Mihika yang berani menantang Anjaay.
Arka hanya diam mendengarkan apa yang disampaikan Anjaay. "Untuk apa Pak Arka merekrut karyawan seperti perempuan itu, kenapa tidak Lela diangkat menjadi asisten Pak Arka," usul Anjaay menawarkan putrinya seperti barang dagangan.
Sepertinya ada udang dibalik bakwan, Anjaay tidak semata-mata menawarkan Lela karena urusan pekerjaan. Dia tahu jika putrinya menyukai Arka, banyak jalan menuju Turki, mungkin begitulah motto hidup Anjaay yang selalu memanfaatkan kesempatan.
"Bahkan saya tidak bisa mengajukan usul pemecatan untuk perempuan itu," tutur Anjaay dengan lugas dan penuh keyakinan.
"Pak Anjaay merekomendasikan pemecatan asisten saya? Kenapa begitu, apa separah itu kesalahan Hika?"
"Membuat keributan dan menghina karyawan lain, saya pikir itu sebuah karakter yang tidak bisa diandalkan untuk.membuat perusahaan ini lebih maju," ungkap Anjaay. Arka menghela nafasnya, bicara dengan pria dihadapannya benar-benar membuat moodnya buruk dan Arka memang menghindari pertemuan dengan Anjaay jika bukan karena terpaksa.
"Pak Anjaay, kita tidak bisa asal memecat karyawan. Ada undang-undang yang mengatur hal tersebut," jelas Arka.
"Kalau alasan bisa kita buat, Pak. Nggak usah terlalu kaku," usul Anjaay membuat Arka semakin heran dengan ide aneh Anjaay. Daripada semakin pusing, Arka meminta Anjaay kembali ke ruang kerjanya.
Sedangkan Mihika saat keluar dari ruang kerja Arka menuju ruang HRD.
"Kami sudah panggil Nona Lela berdasarkan keterangan beliau dan rekaman CCTV sudah sesuai."
Mihika mengernyitkan dahi karena heran dengan penuturan bagian HRD. "Sesuai bagaimana Pak?" tanya Mihika.
"Nona Lela masuk ke ruang arsip tidak melihat siapapun di sana, kemudian menutup pintu untuk mengamankan isi ruangan."
"Lalu dari mana dia dapat ponsel saya dan buang ke tempat sampah?" tanya Mihika.
Mihika akhirnya kembali ke ruang kerjanya, percuma juga berharap agar Lela mendapatkan sanksi dari perbuatan nya karena bukti yang tidak kuat.
"Hey, dari mana kamu? Dicari Pak Arka," ujar Mae. Mihika menuju ruang kerja Arka dengan langkah malas.
"Apa tugas dariku sudah kamu kerjakan?" tanya Arka tanpa menatap Mihika, bahkan Mihika belum sampai meja Arka.
"Hmm."
Brak
Arka melemparkan berkas yang dipegang ke atas meja. "Aku pergi selama dua hari dan tugasmu belum selesai malah membuat keributan. Sebenarnya apa motivasi kamu bekerja di sini?" Mihika hanya diam. Arka bersandar dengan kedua tangan dilipat di dada menatap Mihika yang sedang menunduk.
"Ternyata kerjamu benar-benar tidak bisa diandalkan. Aku tidak mengerti bagaimana bisa kamu lolos seleksi dan diterima menjadi karyawan,” ucap Arka.
Tentu saja aku bisa dengan mudah bekerja disini, perusahaan ini milik Ayah, batin Mihika.
“Atau jangan-jangan kamu menggunakan cara licik, kamu gunakan keahlian lain kah?” tanya Arka.
“Keahlian lain bagaimana Pak?” tanya Mihika karena bingung dengan yang dimaksud oleh Arka.
“Misal dengan tubuhmu atau ....”
“Pak Arka jangan sembarangan. Bagaimana mungkin saya melakukan hal seperti itu, otak Pak Arka itu kelewat mesum. Bahkan Pak Arka sendiri yang suka aneh-aneh di ruangan ini,” ungkap Mihika. Arka menatap tajam Mihika karena keberanian menyinggung dirinya.
Mihika yang menyadari terlalu ekstrem berbicara, menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Maaf Pak,” ujar Mihika lalu kembali menutup mulutnya. Arka beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri Mihika. Khawatir jika Arka melakukan hal lebih dari yang sebelumnya, Mihika melangkah mundur. “Saya kerjakan dulu, Pak.” Lalu berlari keluar dari ruangan Arka.
“Shitt. Beraninya dia menghina Arka Rocio."
Mihika kembali ke ruangannya untuk melanjutkan tugas yang Arka minta, bahkan melewatkan makan siang. Menjelang sore apa yang Arka minta sudah selesai bahkan telah dikirim kepada Arka melalui email.
Melangkah dengan percaya diri menuju ruang kerja Arka sambil bersenandung. Mihika tidak melihat Mae di tempatnya, kemungkinan sedang beredar karena perintah Arka. Mihika tanpa mengetuk pintu langsung membuka pintu ruangan Arka. "Pak Arka saya sudah ... astaga," ucap Mihika terkejut dengan apa yang sedang dia lihat.
"Hikaaa!" teriak Arka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\= Ayo, Arka lagi ngapain 😁
Yuhuuu, mengandung promo lagi ya. Mampir yess ke karya rekan author.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
yg begini g perlu hika
2024-08-20
0
Whatea Sala
Ahh...hika lama2 jadi orang bodoh,lupa dengan tujuan awal
2024-05-26
2
dewi
apa yg dilihat ?....
2024-04-03
0