“Pak Arka saya sudah ... astaga,” ucap Mihika terkejut dengan apa yang sedang dia lihat.
“Hikaaaa!” teriak Arka saat Mihika terkekeh lalu menutup kembali pintu ruang kerja Arka. Saat Mihika membuka pintu Arka terlihat sedang bertelanj*ng dada, entah ada apa dengan jas dan kemejanya.
“Ngapain coba buka baju segala, tapi tubuh Pak Arka oke juga deh,” oceh Mihika masih berdiri di balik pintu ruang kerja Arka. Sengaja tetap berada di sana karena tidak ingin ada orang lain yang menyaksikan apa yang baru saja dia lihat.
Tidak lama kemudian datanglah Mae membawa goody bag, “Kebetulan kamu ada di sini, bawa masuk nih,” titah Mae sambil mengulurkan goody bag yang dibawanya kepada Mihika.
“Bawa kemana?” tanya Mihika.
“Ke dalamlah, kasihkan ke Pak Arka. Itu kemeja ganti, yang tadi dia pakai ketumpahan kopi. Beliau ada janji dengan klien satu jam lagi,” ujar Mae.
“Kamu aja yang kasihkan,” tolak Mihika. Tidak ingin kembali berada di situasi canggung melihat tubuh Arka yang kekar.
“Kerjaan aku masih banyak, lagian kamu ‘kan asisten pribadi Pak Arka. Sudah tugas kamu mengurus kebutuhan beliau, aku harus menyiapkan ruang meeting,” tutur Mae lalu meninggalkan Mihika.
Mihika berdecak, kemudian mengetuk pintu ruang kerja Arka. “Pak saya mau antar kemeja, Pak Arka masuk ke toilet dulu deh. Saya hitung sampai lima ya,” ujar Mihika. Setelah selesai menghitung layaknya sedang bermain petak umpet, Mihika membuka pintu dan melihat tidak ada Arka di meja kerjanya lalu berjalan pelan menuju meja Arka.
“Mana bajuku?”
Mihika meloncat kaget mendengar pertanyaan Arka. Ternyata pria itu bersembunyi di belakang pintu. “Pak Arka ngapain sih ngagetin saya. Diminta sembunyi di toilet dulu malah ada di sini,” tutur Mihika.
“Ini ruang kerja aku, kenapa kamu yang banyak instruksi,” hardiknya sambil merebut goody bag yang dibawa Mihika. Mihika baru akan beranjak pergi saat Arka kembali memberikan perintah “Setelah ini ada pertemuan dengan klien penting, siapkan bahan yang akan dibahas,” titah Arka.
Satu jam kemudian, pertemuan itu akhirnya benar-benar berlangsung. Kerja sama pembangunan perumahan baru dan bersubsidi, tetapi ada masalah karena ada pihak-pihak yang kembali mempermasalahkan pembebasan lahan yang sudah dilakukan.
“Sebaiknya Pak Arka survey dulu ke lokasi, agar tahu masalah real di lapangan." Kalimat yang menjadi kesimpulan untuk penanganan masalah yang saat ini dihadapi.
“Hm, baiklah. Kami akan berangkat besok pagi menuju lokasi,” jawab Arka. Mihika yang mendampingi Arka hanya bisa diam karena belum mengetahui detail masalah yang terjadi.
Arka kembali ke ruang kerjanya dengan Mihika berjalan mengekor. Tiba-tiba Arka menghentikan langkahnya, Mihika yang tidak menyadari menabrak tubuh Arka. wajahnya menempel pada punggung Arka, "Kalau jalan gunakan juga mata kamu. Wajar saja kalau pekerjaanmu banyak yang tidak beres, berjalan saja kamu melamun," ujar Arka.
"Pak Arka kenapa tiba-tiba berhenti," sahut Mihika.
"Persiapkan kebutuhanku untuk beberapa hari, termasuk juga berkas-berkas yang mungkin dibutuhkan," titah Arka.
"Oke."
"Kamu juga ikut serta," tambah Arka.
"Hahh, kenapa saya Pak?"
Arka berdecak, "Karena kamu asisten saya," ucap Arka lalu kembali melangkah menuju ruang kerjanya. Mihika menghentakan kakinya karena kesal harus ikut dengan Arka keluar kota meninjau lokasi pembangunan yang masih bermasalah.
"D kantor aja nyebelin, gimana lagi di luar. Apalagi cuma aku sendiri yang nemenin Pak Arka. Nggak kebayang bakal gimana," gumam Mihika.
\=\=\=\=\=\=\= Ayo, Mihika dan Arka mau kemana?
Promo lagi gaesss, mampir yuks, cerita punya rekan author nihhhh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Whatea Sala
Hika..terlalu banyak bermain main,gak gercep denga apa yang jadi tujuan awal dia masuk kerja,masa iya dekat dengan arka jadi bodoh dan o'on
2024-05-26
2
Alfi
gak ada greget kaya candaan
2024-04-24
1
Atang Priatna
Monotor thor ceritanya!!!
2024-01-24
1