Janda Lebih Menggoda

Zidan menjemput Willa ke sekolahnya. Saat ia baru turun dari mobil, ibu-ibu yang menjemput anaknya lagi-lagi mencari perhatian di depan Zidan.

"Mas Roni," panggil ibu itu seperti itu karena setahu mereka nama laki-laki itu Roni.

"Saya penasaran kok sekarang mas Roni tampilannya beda sih. Tambah ganteng," puji ibu-ibu itu.

Zidan hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tak lama kemudian Willa keluar dari kelasnya.

"Papa," teriak Willa sambil merentangkan tangannya. Ia berlari ke arah Zidan. Zidan menyambut pelukan Willa.

"Papa?" Ibu-ibu yang menyapa Zidan tadi saling bertukar pandang karena merasa bingung.

"Jadi dokter Safa menikahi sopirnya sendiri?" Gumam mereka membicarakan Safa dan Zidan di belakang. Tapi Zidan tak ambil pusing dia langsung membukakan pintu mobil untuk Willa.

Setelah itu dia mulai mengendarai mobilnya. Zidan agak bingung ke mana harus menitipkan Willa tapi dia memiliki ide untuk mengajak Willa ke kantornya.

Tak butuh waktu lama mobil Zidan memasuki area parkir kantor. "Kita ada di mana, Pa?" Tanya Willa yang merasa asing dengan tempat itu.

"Kita sedang berada di kantor papa," terang Zidan. Laki-laki itu pun mengajak anak kecil itu turun. Semua orang memperhatikan anak kecil yang menggandeng tangan Zidan ketika sedang berjalan beriringan.

Lalu Zidan membawa Willa masuk ke dalam lift. Setelah keluar dari lift Zidan berpapasan langsung dengan ayahnya. Julian melotot tak percaya ketika melihat Zidan menggandeng anak kecil.

"Siapa dia?" Tanya Julian pada putranya. Laki-laki tua itu menatap anak kecil yang berambut panjang tersebut. Willa merasa ketakutan hingga ia bersembunyi di belakang Zidan.

"Willa jangan takut, panggil dia opa." Pinta Zidan dengan lembut pada anak kecil itu.

Willa keluar dari tempat persembunyiannya. "Opa," panggil Willa lirih.

Hati Julian menghangat ketika anak kecil itu memanggil dirinya opa. Tapi setelah menatap Zidan kembali, tatapannya berbeda. "Sebenarnya siapa anak ini?" Tanya Julian.

Leo maju dan berbisik ke telinga Julian. "Dia adalah anak dokter Safa," ungkapnya.

Julian membelalakkan matanya tak percaya. "Beri aku penjelasan!"

"Papa, aku capek," rengek Willa. Zidan pun menunda untuk memberi ayahnya penjelasan. Dia membawa Willa ke ruangannya. Julian merasa kesal karena diabaikan oleh putranya.

"Cih, belum menikah saja sudah minta dipanggil papa," cibir Julian.

Sementara itu dokter Safa ingat kalau sekarang jam pulang sekolah Willa. Ia pun menghubungi gurunya melalui sambungan telepon.

"Hallo, apakah anak saya Willa masih di sana? Mungkin saya agak terlambat menjemputnya," ucap Safa pada wali kelas Willa.

"Maaf, Bu. Willa sudah dijemput sejam yang lalu oleh... Oleh sopirnya tapi saya agak ragu sekarang penampilannya beda," jawaban guru Willa membuat Safa melotot.

"Bagaimana mungkin dia tidak izin dulu padaku. Ah aku tidak punya nomor teleponnya. Bagaimana ini?" Safa terlihat resah.

"Kenapa?" Tanya Selly. yang baru datang.

"Willa dibawa Zidan tapi dia tida izin padaku aku jadi merasa khawatir," ungkap Safa.

"Kamu kan bisa menelepon untuk memastikan keberadaan anakmu," usul Selly.

"Masalahnya aku tidak punya nomor teleponnya," terang Safa.

"Apa? Yang benar saja. Kau kan kekasihnya bagaimana mungkin kalian tidak bertukar nomor telepon. Dan lagi bukannya dia pernah bekerja di rumahmu, sejak dulu kalian tidak pernah teleponan gitu?" Tanya Selly tak percaya. Safa mengangguk.

Lalu Selly mengeluarkan handphone miliknya. Ia menekan nomor kontak Zidan. Setelah tersambung ia memberikannya pada Safa. "Nih ngomong sama mas pacar," ledek Selly.

Safa terdiam bagaimana bisa Selly menyimpan nomor Zidan. "Hallo, hallo," terdengar suara laki-laki dari ujung telepon. Selly menggoyangkan ponselnya agar Safa segera menerimanya.

"Kenapa kamu bawa Willa tidak bilang-bilang?" Omel Safa to the point.

"Maaf sayang, aku tidak punya nomor teleponmu," jawab Zidan dengan santai. Selly yang mendengarnya jadi terkekeh kecil.

"Antarkan Willa kemari. Nanti dia malah mengganggu kerjamu." Perintah Safa pada Zidan.

"Kamu tenang saja, Willa anak yang penurut. Dia tidak menggangguku sama sekali. Akan aku antar saat menjemputmu nanti. Kamu pulang jam berapa?" Tanya Zidan.

"Jam tiga sore," Safa sontak menutup mulutnya. Padahal niatnya tak ingin memberi tahu Zidan malah keceplosan begitu saja. Ia pun memukul mulutnya sendiri.

"Baiklah akan aku jemput kamu nanti, love you sayang," ucap Zidan sebelum menutup teleponnya.

Safa menjauhkan ponsel Selly dari telinganya ketika mendengar rayuan maut Zidan. dia merasa risih karena belum terbiasa. Selly sejak tadi menahan tawa melihat tingkah laku sahabatnya itu.

"Ngapain ketawa sendiri? Belajar gila?" Ledek Safa pada Selly.

"Kamu tuh yang gila. Masak punya pacar gitu ga mau. Gila ya mas Zidan sampai kelepek-kelepek sama janda, padahal yang perawan masih ada," cibir Selly.

"Yee, janda lebih menggoda," ucap Selly tak mau kalah.

Di kantor Zidan.

Willa sedang tertidur di atas sofa karena ia merasa bosan. Zidan memindahkan anak kecil itu di kasur yang ada di ruangan tersebut. Zidan memang memiliki ruangan khusus untuknya beristirahat.

"Di mana anak kecil itu? Kenapa aku tak melihatnya? apa dia bersembunyi?" Tanya Julian yang menerobos masuk ke ruangan Zidan.

"Ssstt pelankan suaramu, Yah. Dia sedang tidur." Pinta Zidan setengah berbisik.

Julian duduk dan meminta Izin menjelaskan padanya. "Sebenarnya apa hubunganmu dengan orang tua anak itu?"

"Aku berpacaran dengan ibunya." Ucapan Zidan membuat Julian tersedak ludahnya sendiri.

"Apa ayah tidak salah dengar? Kamu memilih janda sebagai pasangan hidupmu?" Tanya Julian memastikan. Ia tak habis pikir dengan keputusan anaknya.

"Aku tidak mempermasalahkan statusnya, Yah. Bukankah pantas atau tidaknya seseorang menjadi pasangan itu dilihat dari caranya bersikap?"

"Memangnya apa kelebihannya hingga kau begitu tergila-gila pada janda beranak satu itu."

"Namanya Safa, Yah. Safa Kamila." Protes Zidan yang tidak terima sang ayah terus menyebut kekasihnya dengan sebutan janda.

"Zidan, kamu ini laki-laki yang sempurna kenapa kamu menjatuhkan pilihanmu pada seorang janda?"

"Begitulah ayah menilai seseorang hanya berdasarkan statusnya? Seharusnya ayah berterima kasih pada dokter Safa karena dialah yang menyelamatkan nyawaku. Dia yang membiayai pengobatanku hingga aku sembuh. Dia juga menampungku meskipun dia tak mengenalku, apa itu kurang cukup membuktikan kalau dia wanita yang baik?" Ucap Zidan penuh penekanan.

"Hanya masalah biaya rumah sakit? Ayah bisa mengganti dua kali lipat uang yang dikeluarkan," ucap Julian angkuh.

"Ayah, aku sangat mencintai Safa jangan berusaha memisahkan kami karena jika itu terjadi aku lebih baik mundur dari kartu keluarga." Gurau Zidan.

"Anak ini bicara yang benar."

"Baiklah kenalkan dia pada kami, aku ingin menilainya secara langsung saat makan malam besok."

Bagaimana kisah Zidan selanjutnya ikuti terus ya kawal sampai tamat. Othor kasih bonus pict mas Zidan

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

knp jd gk punya no hp nya bknnya sebelumnya pernah telp atau chat an kan 🤦‍♀️🤦‍♀️

2023-11-23

0

mei

mei

di part brapa sepertinya zidan pernah deh hubungi safa dan menyuruhnya save bahwa ini zidan..apa saya yg salah y?

2023-01-31

1

Ririe Handay

Ririe Handay

kau gentle zid

2022-12-06

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!