Menemui Dia

Julian memilih menunggu kedatangan Willy dengan sabar. "Leo hubungi Willy melalui handphonenya!" Perintah Julian pada asisten pribadinya.

Leo bingung karena tidak memiliki nomor handphone Willy. Namun dia tidak kehabisan akal. Leo meminta nomor handphone Willy melalui sekretarisnya.

Leo mencoba menelepon ke nomor Willy. Namun panggilan tersebut tidak diangkat. Leo pun melapor pada Julian. "Pak nomornya aktif tapi panggilan saya tidak dijawab."

Julian akhirnya menyerah dia pulang dengan perasaan kecewa. Harapan untuk segera bertemu dengan putranya harus ditunda untuk sementara waktu sampai dia mendapatkan informasi yang jelas dari Willy.

Willy tak menyadari saat dia mendapatkan panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenalnya. Karena saat itu handphonenya dalam mode silent. Willy pun tidak mengetahui kalau panggilan tersebut berasal dari Leo.

Setelah beberapa hari menunggu Willy tidak juga bertemu dengan Julian. Dia meminta Julian untuk datang tapi sepertinya mereka mengabaikan permintaannya.

Willy yang tidak sabar ingin memisahkan Roni dengan Safa dan anaknya, akhirnya memilih mengalah dan datang ke kantor Julian. Saat itu Leo melihat kedatangan Willy ke kantornya. Kali ini Leo tidak mengusir laki-laki itu melainkan langsung memintanya menemui Julian di ruangannya.

"Selamat datang tuan Willy kami sempat ke kantor anda tapi saat itu anda tidak berada di tempat sehingga kami kembali dan akhir-akhir ini saya sedang sibuk mengerjakan proyek baru sehingga saya tidak sempat mendatangi kantor anda," terang Julian.

"Baiklah saya bisa memaklumi. Bagaimana kalau kita membicarakan masalah intinya saja," ucap Willy.

"Jadi apa benar Anda mengetahui informasi tentang putra saya?" Tanya Julian yang antusias menunggu jawaban Willy.

"Saya tidak yakin karena wajah mereka berbeda tapi saya bisa jelaskan. Saat itu korban yang ditemukan pada tanggal kejadian mengalami kerusakan wajah. Kebetulan mantan istri saya adalah dokter bedah plastik yang menanganinya kemungkinan besar dia telah mengoperasi wajah anak anda," jawab Willy panjang lebar.

"Apa ucapan Anda bisa kami percaya?" Julian meminta kepastian pada Willy.

"Anda bisa membuktikannya sendiri setelah anda menemuinya," kata Willy dengan penuh percaya diri. Dia yakin kalau Roni adalah Zidan berdasarkan tanggal kejadian kecelakaan yang dialami.

"Baik nanti kita atur waktunya." Julian telah sepakat untuk bersama dengan Willy mengungkapkan jati diri Roni yang sebenarnya.

Sebelum berpamitan Willy mengulurkan tangan untuk berjabat tangan lalu dia pergi meninggalkan kantor Julian. Ada perasaan lega di hatinya karena usahanya untuk memisahkan Roni dengan mantan istri dan anaknya sepertinya berjalan dengan mulus.

*

*

*

Semakin hari Roni semakin dekat dengan Willa. Yang awalnya anak yang susah diatur kini menjadi anak penurut setelah Roni mengajarkannya banyak hal.

Safa pun kagum dengan kemampuan yang dimiliki Roni dalam mengambil hati putrinya itu. Bahkan Willy yang ayah kandungnya saja tidak sedekat itu dengan Willa.

Safa sedang memainkan pulpen yang ada di tangannya. Ia mengingat kembali ketika Roni baru tiba di rumah sakit sebagai pasien korban kecelakaan. "Seingatku dia memakai jas. Apa dia berasal dari keluarga kaya? Atau dia hanya seorang sales biasa?" Safa sibuk bermonolog.

Tiba-tiba Selly masuk ke dalam ruangan Safa. "Sepertinya aku lihat akhir-akhir ini kamu sering melamun," tegur Selly saat mendapati Safa menatap ke depan dengan pandangan kosong ketika sedang tidak ada pasien.

"Ah itu cuma perasaan kamu saja," elaknya.

"Jangan-jangan kamu sedang ngelamunin sopir kamu yang ganteng itu ya?" Ledek Selly. Wanita itu memang suka sekali menggoda sahabatnya.

Wajah Safa memerah ketika Selly menyinggung mengenai sopir pribadinya. "Kelihatan ya?" Ledek Safa.

"Dih, narsisnya. Emang segitu cinta matinya ya kamu sama dia?" Jiwa kepo Selly mulai menggelora.

Tapi Safa malah mengelak. "Cuma becanda. Jangan dibawa serius."

"Bohong?" Tuduh Selly.

"Beneran," jawab Safa.

"Tuh kan beneran?"

"Maksudnya aku nggak bohong. Eh?" Safa menutup mulutnya sendiri. Bagaimana bisa dia sejujur itu. "Ah udahlah, nggak usah bahas yang nggak penting." Safa melepas jas kerjanya lalu ia menyambar tas yang ada di meja.

"Mau kemana?" Tanya Selly.

"Pulanglah," jawab Safa sambil berlalu. Safa lupa kalau mobilnya masih ada di bengkel dan belum diambil. Tapi tanpa ia duga rupanya Roni sudah ada di halaman parkir rumah sakit.

Ketika Safa baru keluar dari rumah sakit, Roni berjalan mendekat ke arahnya. "Mari saya antar pulang," ajak Roni dengan sopan.

"Aku kan tidak menyuruhmu menjemputmu? Lalu di mana Willa?" Tanya Safa.

Roni hanya mengulas senyum. "Dia ada di dalam mobil sedang tertidur," jawab Roni. Safa pun berjalan lalu membuka pintu mobil perlahan. Ia menengok anaknya yang tertidur di kursi belakang.

Safa melihat wajah damai anak itu jadi merasa bersalah karena memisahkan dia dengan ayahnya. Tak terasa mata Safa mengembun. Roni memperhatikan wajah Safa yang terlihat sendu. Tangannya refleks mengisap air mata Safa yang menetes di pipinya.

Safa terkejut sekaligus berdebar jantungnya mendapatkan perhatian tak terduga dari Roni. "Maaf," Roni tampak canggung setelah melakukannya. Setelah itu Roni fokus untuk mengemudi.

Di lain waktu, Willy sepakat mengantarkan Julian menemui putranya. "Ini rumah mantan istri saya. Orang yang anda cari tinggal di sini sebagai sopir pribadi mantan istri saya."

Julian kaget mendengar penuturan Willy. "Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Julian tak terima anaknya menjadi pegawai rendahan.

Lalu Julian buru-buru turun dari mobilnya. Leo dan Willy yang juga berada dalam satu mobil ikut turun. Lalu Julian pun berjalan mengikuti Willy. "Roni," Willy memanggil nama seseorang yang tidak dikenal oleh Julian dan Leo.

Roni menoleh. Dia sangat terkejut ketika melihat orang tuanya berdiri di hadapannya saat ini. "Ayah," batin Zidan.

Willy melihat ekspresi tak biasa pada wajah Roni. Ia bisa menebak kalau Roni memang orang yang mereka cari. Willy mengulas senyum tipisnya.

"Di mana Safa?" Tanya Willy yang mengukur waktu.

"Ada di dalam, silakan masuk!" Jawab Roni. Dia berusaha membunyikan rasa gugupnya.

Lalu mereka diminta menunggu di rumah tamu sementara Roni memanggil Safa keluar. "Ada apa ini kalian datang beramai-ramai?" Tanyanya ketika melihat mantan suaminya mengajak dua orang yang tak dikenalnya.

Namun, ketika melihat Leo dia ingat saat pertama kali Sofia datang ke rumah sakit bersama Leo. "Anda yang datang waktu itu bersama dokter Sofia bukan?" Tunjuk Safa pada Leo.

Leo mengangguk. "Benar sekali nyonya. Saya juga tidak menduga kita bertemu lagi," jawab Leo dengan mengulas senyum.

"Sebenarnya apa urusan kalian datang beramai-ramai seperti ini?" Tanya Safa lebih lanjut.

"Kenalkan ini tuan Julian dan asisten pribadinya Leo. Mereka mencari seseorang yang hilang."

Deg

"Apakah mereka mencari..." Safa tak meneruskan kata-katanya. Ia hanya menoleh pada seseorang yang sudah lumayan lama tinggal bersamanya.

Bagaimana kisah selanjutnya? ikuti terus ya cerita ini sampai akhir jangan lupa klik tombol favorit.

sambil nunggu aku up kalian bisa baca novel temanku

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

takut kehilangan......

2023-06-07

0

Ririe Handay

Ririe Handay

😊😊😊

2022-12-06

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!