Willy membiarkan Willa pulang bersama ibunya. Safa mendekap erat anaknya ketika Willa berhambur ke pelukannya.
"Terima kasih, kau boleh menemui Willa asal kau memberi tahuku lebih dulu," ucap Safa sebelum pergi.
Willy hanya bisa menatap kepergian Willa bersama ibunya dan laki-laki asing yang menumpang di rumahnya. Willy mengepalkan tangan ketika melihat ketiganya tampak serasi seperti keluarga yang utuh. Bahkan ia melihat Willa membalas senyum Roni.
Hati Willy terasa sakit ketika sang putri lebih menyukai orang lain ketimbang dirinya. "Tunggu saja waktunya, aku akan membuat Safa dan Willa kembali padaku," gumam Willy sambil tersenyum kecut.
Sebelum pulang ke rumah Roni berinisiatif mengajak Willa ke restoran mahal yang biasa dia kunjungi. "Kenapa kita tidak langsung pulang?" Tanya Safa tidak mengerti.
"Bukankah di rumah tidak ada makanan, kita ajak Willa makan dulu di sini," jawabnya sambil mematikan mesin mobilnya.
Safa mencondongkan badannya ke depan. "Dari mana kamu tahu tempat seperti ini?" Selidik Safa.
"Aku tidak sengaja melihat saat kita melewatinya tadi," bohong Zidan. Lalu ia membantu Will turun.
Setelah memasuki restoran tersebut, Roni membawa Safa dan Willa duduk di meja yang kosong. Roni menggeser kursi untuk Safa. "Terima kasih," ucapnya merasa sungkan. Roni mengangguk. Di mata Safa sikap Roni begitu elegan seperti sering datang kemari.
Lalu seorang pelayan membawa sebuah buku menu. "Silakan dipilih menunya!" Ucap pelayan itu kemudian.
"Bukankah ini terlalu mahal untuk ukuran 1 porsi makanan?" Batin Safa sambil melirik ke arah Roni.
"Aku tidak tahu makanan di sini," jawab Safa yang tak pernah makan di restoran mahal seperti yang ia kunjungi sekarang. Meski ia mampu membayarnya tapi Safa tipe orang yang suka makanan yang sederhana ketimbang menghabiskan uang hanya untuk sekali makan.
"Bagaimana kalau kita pesankan es krim untuk nona Willa?" Roni memberikan usul.
"Darimana kau tahu di sini juga menyediakan menu es krim?" Tanya Safa ia makin curiga dengan sopir pribadinya itu.
"Anda bisa lihat di halaman terakhir buku menunya." Tanpa melihat Roni seolah hafal dengan isi halaman di buku menu tersebut. Safa pun membuktikan omongan Roni.
"Wah aku suka es krim," seru Willa kegirangan.
"Baiklah, pesan es krim ini dan ini," Safa menunjukkan gambar es krim yang ia pesan pada pelayan restoran tersebut. "Kau tidak pesan makanan?" Tanya Safa pada Roni.
"Aku pesan se-" Zidan tak meneruskan omongannya. "Ah tidak aku tidak usah pesan makanan dia akan curiga, sebaiknya aku berpura-pura saja," batin Zidan.
"Tidak, terima kasih," kata Roni menjawab omongan Safa.
"Pesanlah biar aku yang bayar," bujuk Safa. Tapi selama ini dia tak pernah dibayarkan oleh seorang wanita karena urusan membayar hanya perlu menggesek kartu kredit tanpa limit yang ia miliki.
"Tidak, saya sudah makan di warteg," bohong Zidan. Safa menyembunyikan tawanya. Padahal dia tahu kalau sopirnya itu seharian mencari Willa bersamanya.
"Baiklah, es krim saja!" Safa mengembalikan buku menu itu pada pelayan restoran tersebut.
Tak lama kemudian pelayan itu menyuguhkan pesanan di meja Safa. "Silakan dinikmati." Zidan mengangguk.
Safa hendak menyendok es krim itu tapi tiba-tiba Safa menyodorkan mangkuk berisi es krim yang penuh itu ke arah Roni. "Untukmu," ucap Safa.
Roni mengerutkan keningnya. "Jangan salah paham, itu sebagai ucapan terima kasihku karena telah membantuku menemukan Willa," kata Safa dengan gugup.
Zidan mengulas senyum tipis. Ia pun menerimanya. "Baiklah, tapi izinkan aku memberikan satu suapan sebagai ucapan terima kasih telah menampungku selama ini." Omongan itu tulus dari dalam hati Zidan.
Safa menatap ke dalam mata laki-laki yang duduk di hadapannya itu. "Bunda, es krimnya meleleh kalau bunda nggak buka mulutnya," suara Willa membuyarkan lamunan kedua insan manusia itu.
Roni menggoyangkan sendoknya agar Safa membuka mulut. Demi memenuhi keinginan Willa akhirnya Safa membuka mulut. Wajah Safa terlihat memerah usai menerima suapan pertama dari tangan Zidan. Willa yang melihat dua orang itu jadi senyum-senyum sendiri.
Usai menghabiskan es krim Zidan menaruh sejumlah uang di meja tersebut. "Biar aku saja yang bayar," kata Safa agar Roni memasukkan kembali uangnya.
"Tidak apa, kebetulan gaji yang saya terima masih banyak," tolak Roni. Dalam hatinya Zidan masih tidak bisa terima jika seorang wanita membayarkan makanannya.
Safa tak ambil pusing. "Baiklah, jangan minta ganti rugi setelah sampai di rumah," ancamnya lalu melewati Roni seraya menggandeng tangan mungil Willa. Zidan hanya menggelengkan kepalanya.
*
*
*
Leo yang telah berhasil menemukan alamat Willy kemudian mendatanginya. "Ada perlu apa anda mendatangi saya padahal waktu itu anda mengusir saya secara tidak hormat," ledek Willy diiringi senyum mengejek.
Leo sadar ia telah melakukan kesalahan waktu itu. Ia pun terima ketika Willy menolak kedatangannya. "Atasan saya ingin bertemu dengan anda secara langsung," ucapnya menyampaikan perintah ayahnya Zidan.
"Saya tidak mau bertemu dengannya," tolak Willy mentah-mentah. Ia ingin membalas perlakuan tidak sopan dari Leo waktu itu.
Leo menghembuskan nafasnya berat. "Apa alasan anda menolak undangan dari atasan saya?" Leo ingin mendengar alasan yang jelas dari Willy.
Willy menarik ujung bibirnya. "Bukankah Anda sendiri yang bilang saya hanya orang yang memanfaatkan keadaan dan situasi?"
"Maafkan saya, saya mengambil kesimpulan tanpa memikirkannya terlebih dulu." Leo mengakui kesalahannya agar Willy mau bertemu dengan atasannya.
"Baiklah, aku akan menemui atasanmu." Keputusan Willy membuat Leo bernafas dengan lega.
"Baik, anda bisa mendatangi kantor kami..." Belum selesai Leo berucap Willy menyelanya lebih dulu.
"Tidak, atasanmu yang harus menemuiku di kantor ini." Leo terdiam tak menanggapi perkataan Willy. "Kenapa apa kau keberatan?" Tanya Willy untuk memastikan.
"Akan saya sampaikan pada atasan saya. Kalau begitu saya permisi. Oh ya, anda bisa mengubungi saya di nomor ini." Leo menyerahkan sebuah kartu nama pada Willy.
Willy pura-pura tak membutuhkannya. Namun, ketika Leo beranjak keluar ia mengambil kartu nama pemberian Leo.
Leo pun menyampaikan permintaan Willy pada Julian. "Baiklah, aku akan menemuinya hari ini juga. Lebih cepat lebih baik. Aku ingin tahu di mana keberadaan Zidan. Antarkan aku ke kantornya." Perintah Julian pada asisten pribadinya.
Tak lama setelah itu Leo kembali ke kantor Willy bersama atasannya. Namun, sesampainya di sana mereka tak menemui Willy karena Willy sedang keluar.
"Pak apa tidak sebaiknya kita buat janji dulu dengannya agar tidak terjadi seperti ini lagi." Leo memberikan usulan pada Julian.
Apa jawaban Julian yang tak lain adalah ayah Zidan? Apakah mereka akan segera bertemu Zidan?
...♥️♥️♥️...
Sambil nunggu aku up, mampir ke novel temanku juga ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ririe Handay
👍👍👍
2022-12-06
0
chyunyuuu
next
2022-11-14
1