Menemukan Willa

Safa mengajak Roni ke kediaman Willy. Ketika ia sampai di depan gerbang tenyata gerbangnya dikunci dan tidak ada penjaga rumah di sana.

"Willy, kembalikan Willa," teriak Safa sambil menggoyang-goyangkan pagar terali besi itu.

"Percuma saja kamu teriak-teriak. Sepertinya dia tidak ada di rumah."

"Dari mana kamu tahu?"

"Lihat saja, mobilnya tidak ada di halaman rumahnya kan?" Jawab Roni. "Di mana kalian dulu pernah menghabiskan waktu ketika sedang bersama-sama?" Tanya Roni lebih lanjut.

"Di pusat permainan anak, mungkin Willy membawa Willa ke sana," jawab Safa. Mereka pun menuju ke sana.

*

*

*

"Kemana mereka?" Tanya Safa saat tak melihat mantan suami dan anaknya itu. Safa mulai panik dan menitikkan air mata.

"Willa," panggilnya.

Saat ini Willa berada di rumah Willy. Safa dan Roni tak tahu kalau mereka bersimpangan dengan Willy dan anaknya.

"Ayah, Willa mau pulang," rengek Willa. Ia terlihat capek karena terus menangis memohon agar Willy memulangkannya.

Sebagai ayah, Willy sebenarnya tak tega pada Willa tapi dia juga ingin sesekali bersama Willa. "Sayang, tidak bisakah kamu sehari lagi tinggal bersama Ayah?" Willa menggeleng. Dia memang telah memaksa Willa untuk ikut dengannya tapi dia tidak mau menyiksa Willa dengan memaksanya tinggal bersamanya.

Willy memeluk Willa. "Ayah sayang padamu, kenapa kamu tidak menyayangi ayah?"

"Ayah yang meninggalkan bunda berarti ayah juga meninggalkanku," jawab Willa dengan polos.

...Flashback on...

"Aku sangat menginginkanmu saat ini," bisik Willy ke telinga sekretarisnya. Wanita yang sedang duduk di pangkuan Willy itu pun tersenyum pada Willy.

Ia perlahan menempelkan bibirnya ke bibir Willy. Mereka memulai ciuman panas itu di siang hari ketika jam makan siang. Semua karyawan keluar ruangan kecuali mereka. Willy dan sekretarisnya menghabiskan siang mereka di dalam kantor.

Suatu hari Safa pernah memergoki suaminya jalan berdua dengan seorang wanita tapi tak ia kenal. Saat diinterogasi menurut pengakuan Willy, wanita yang dimaksud Safa adalah sekretaris barunya. Awalnya Safa tak curiga sampai ia menemukan chatingan mesra di handphone suaminya.

Safa pun berniat melabrak suami dan sekretarisnya yang genit itu.

Brak

Safa membuka pintu ruangan Willy yang kebetulan lupa dikunci dengan kasar. Betapa terkejutnya dia saat melihat Willy sedang bermain dengan wanita ja*lang itu.

Willy dan Lusi, sang sekretaris menghentikan aktivitasnya. Lusi membenahi pakaiannya yang berantakan.

"Sayang, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Willy seolah tak pernah terjadi sesuatu antara dirinya dengan wanita yang berdiri di sana.

Dada Safa naik turun melihat Willy lalu Lusi secara bergantian. "Kalian kira aku ini wanita yang bisa dibodohi, hmm?" Bentaknya.

"Sayang, aku bisa jelaskan," Willy meminta ampunan.

Mata merah Safa menatap tajam ke arah suaminya. "Baik, jelaskan padaku!" Kata Safa meminta jawaban dari Willy.

"Aku aku khilaf."

Plak

Safa menampar pipi bagian kiri Willy dengan sangat keras hingga Willy meringis kesakitan. "Kamu pikir itu cukup untuk membalas sakit hatiku? Meski kubunuh dirimu dan wanita sialan ini, sakit hatiku masih berbekas," ucapnya dengan penuh penekanan.

Ia sangat marah karena tak habis pikir pria yang dianggap sebagai suami idola ternyata ada main di belakangnya.

Willy hendak meraih tangan Safa tapi Safa membuangnya. "Kumohon maafkan aku!" Willy memohon pada istrinya.

Di saat drama antara suami istri itu sedang berlangsung, Lusi menggunakan kesempatan untuk melarikan diri. Namun, Safa berhasil menarik rambut Lusi. "Aw sakit, lepaskan aku!" Pekik Lusi yang merasa kesakitan.

"Jadi kamu bisa merasakan sakit? Kamu pikir ini sepadan dengan rasa sakit dan pengkhianatan yang kalian lakukan di belakangku?" Safa ingin sekali merontokkan rambut wanita sialan yang menggoda suaminya itu. Tapi ia takut dikenai pasal penganiayaan, sedangkan dia masih memiliki balita yang harus dia jaga.

"Safa lepaskan dia!" Gertak Willy.

"Apa? Ceraikan aku sekarang juga!" Tekad Safa sudah bulat. Meskipun dikatakan dalam keadaan emosi tapi keinginannya untuk berpisah dengan Willy sangat kuat. Ia tak mau hidup bersama laki-laki yang suka berbagi cinta dengan wanita lain.

"Tidak, ini hanya masalah sepele aku tidak akan menceraikanmu." Willy berkata dengan tegas.

"Baik, kalau begitu aku yang akan menceraikanmu," putus Safa. "Ingat jangan lagi menginjakkan kaki di rumahku, mulai saat ini kita berpisah jangan lagi menemui Willa," ancam Safa pada suaminya.

"Safa, Safa," teriak Willy memanggil nama istrinya tapi dia tak dihiraukan.

Safa mengusap air matanya dengan kasar. Ia menangis sesenggukan. Setelah itu Safa pulang ke rumah. Willa menyambutnya saat pulang. "Bunda, mana Ayah? Ayah tidak pulang bareng Bunda?" Tanyanya polos menunggu kepulangan ayahnya.

"Mulai malam ini ayah tidak tidur bersama kita, Willa tidurnya cuma berdua bareng Bunda nggak apa-apa ya?" Safa mencoba memberi pengertian kepada putrinya.

"Kenapa Bunda?" Tanyanya tak mengerti.

"Suatu hari nanti kalau Willa sudah besar, pasti bunda kasih tahu alasannya." Safa tak bisa menjelaskan alasannya berpisah dengan sang suami pada anaknya yang belum genap lima tahun itu.

Mulai saat itu Willa menganggap ayahnya yang telah meninggalkan dia dan ibunya. Sehingga Willa membenci Willy.

...Flashback off...

Safa tak tahu harus kemana mencari Willa. Tapi Roni tiba-tiba menyarankan agar mereka kembali mendatangi rumah Willy.

"Kenapa kamu berpikir mereka ada di sana?" Tanya Safa tak mengerti.

"Mungkin saja saat kita tak melihat mereka di rumah mereka sedang ada di taman bermain sedangkan saat kita mendatangi taman bermain bisa jadi mereka sudah pulang waktu itu, makanya kita tidak menemukannya."

Alasan Roni ada benarnya juga. Safa pun menurut arahan Roni. Keduanya kembali ke rumah Willy pada petang hari.

Benar saja, saat mereka baru sampai di depan gerbang rumah Willy, mobilnya terlihat terparkir di halaman. Itu artinya Willy baru saja pulang. "Ayo kita turun," ajak Roni.

"Willa, Willa ini bunda nak. Willy kembalikan anakku," teriak Safa. Emosinya sudah tidak terkontrol akibat efek ditinggalkan anaknya. Zidan mencoba memahami perasaan Safa. Dia merasa kasihan pada wanita yang bersamanya itu.

"Andai Tuhan mengizinkan aku ingin menjadi orang yang bisa kau andalkan dan selalu bisa melindungimu," gumamnya dalam hati.

Tak lama kemudian Willy keluar bersama Willa. Willa berlari ke arah Safa. "Willa anakku," Safa meraih tangan Willa yang terhalang oleh pagar besi di rumah Willy.

Tak lama kemudian mantan suami Safa itu membukakan pintu gerbangnya. "Bunda," Willa hendak berhambur ke pelukan Safa tapi Willy menarik tangannya.

"Willy tolong kembalikan Willa padaku," mohon Safa sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.

Willy menarik ujung bibirnya. "Boleh, tapi berjanjilah jika suatu hari aku menjemput Willa di sekolahnya kau tak boleh menghalangiku."

"Baik, tapi sekarang kembalikan Willa padaku. Aku tidak bisa hidup tanpanya." Mohon Safa sambil menangis.

Apakah Willy akan membiarkan Willa pulang bersama Safa atau Willy berubah pikiran lalu menahan Willa kembali?

Ikuti kisah kelanjutannya di episode selanjutnya. Mampir juga ke novel temanku ya sambil nunggu othor up

Terpopuler

Comments

Ririe Handay

Ririe Handay

👍👍

2022-12-06

1

Nirwana Asri

Nirwana Asri

aih terima kasih banyak akak

2022-11-29

0

Nana Shin

Nana Shin

Wanita satu malam nyicil sampai sini ya.

2022-11-28

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!