Aku mencintai kamu

"Maaf, Dok saya kira kalian adalah sepasang kekasih karena sepertinya usia kalian tidak jauh berbeda," ungkap Selly.

Sofia terkekeh mendengar perkataan jujur teman sejawatnya. "Apakah saya semuda itu dokter Safa? Padahal saya tidak pernah melakukan perawatan apalagi botox," ucapnya

"Anda memang cantik, dok," puji Safa pada Sofia. Wanita berhijab yang masih single itu memang tak jauh beda dengan ibunya sangat cantik dan awet muda. Kulitnya begitu mulus meski tertutup rapat oleh pakaiannya.

"Bagaimana dengan wajah adik saya? Apa dia juga tampan?" Safa dan Selly saling bertukar pandang. Ketika melihat keanehan sejenak Sofia berpikir.

"Ah maaf saya hampir lupa wajahnya sudah anda rubah sedemikian rupa." Sofia terkekeh. Zidan malah terlihat mencebik kesal.

"Apakah anda ingin tahu wajahnya yang dulu seperti apa?" Sofia menanyai Safa tapi Selly yang antusias dengan mengangguk cepat.

Sofia mengeluarkan handphone miliknya. "Lihatlah, apa wajahnya yang dulu tampan?" Sofia meminta pendapat pada Safa dan Selly. Tapi tampaknya Safa tak peduli. Ah yang betul pura-pura tak peduli padahal ia penasaran dengan wajah Zidan sebelum kerusakan wajah yang dialami saat terjadinya kecelakaan.

"Kakak, hentikan!" Zidan mulai terusik dan merasa tidak nyaman dengan sikap kakaknya. "Sebaiknya kita keluar saja," ucapnya tegas pada Sofia.

"Sayang, aunty keluar dulu ya, kapan-kapan kita bertemu lagi," tangan Sofia terangkat seolah mengajak Willa untuk tos. Willa merespon.

"Terima kasih aunty. Willa suka sama aunty," ucap anak kecil itu dengan polos.

Setelah itu, Zidan dan Sofia keluar dari ruangan. Ketika ia baru menutup pintu, kakak beradik itu melihat seorang laki-laki berjalan cepat ke ruangan Willa.

Sekilas ia melirik Zidan lalu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Brak

"Willa," panggil Willy. Selly dan Safa menoleh karena terkejut melihat kedatangan mantan suaminya.

"Willy tidak bisakah kamu masuk dengan cara yang lebih sopan?" Safa menegur mantan suaminya.

Plak

"Kenapa kamu tidak mengabarimu saat Willa berada di rumah sakit? Kamu ingin menyembunyikannya. Kamu sengaja kan karena kamu sudah punya laki-laki lain?" Tuduh Willy.

Mata Safa memerah dan menatap tajam suaminya. Ia tak mau membalas perbuatan Willy di depan Willa. Willa sangat syok ketika ibunya ditampar oleh ayahnya.

Sedangkan di luar pintu, Zidan merasa geram ketika mendengar Safa ditampar oleh Willy. Namun, ketika ia akan melangkah, Sofia melarangnya. "Saat ini kamu tidak berhak ikut campur urusan keluarga mereka." Sofia memperingatkan adiknya.

"Tapi mereka bukan suami istri lagi, kak," protes Zidan sambil mengepalkan tangan.

"Iya, kakak tahu. Tapi kalau kamu masuk, suasana akan makin tegang. Willa akan menangis lebih histeris dari pada sekarang. Zidan cobalah menahan diri dulu jangan bertindak gegabah!"

Zidan mengembuskan nafas. Ia mencoba mendengar kata-kata kakaknya. "Sekarang kita pulang. Pikirkan cara untuk melindungi Safa ketika kamu sudah sampai di rumah."

Zidan mengikuti langkah Sofia yang berjalan lebih dulu.

Kembali ke kamar rawat Willa.

Selly memeluk Willa yang menangis ketakutan. "Willy kedatanganmu hanya membuat Willa semakin sakit, kamu lihat dia sekarang. Dia ketakutan karena perbuatanmu padaku," ucap Safa dengan nada bergetar setelah mendapat tamparan dari suaminya.

Willy bersimpuh di depan anak gadisnya. "Maafkan ayah sayang." Willy meraih tangan mungil Willa. Namun, Willa membuang tangan Willy.

"Aku takut sama ayah," rengeknya.

"Kamu dengar dia berkata apa? Sekarang aku minta kamu keluar." Safa meminta dengan baik-baik.

"Willa, ayah ke sini buat jenguk Willa." Willy mencoba membujuk anaknya. Tapi Willa sudah terlanjur ketakutan. Ia makin mengeratkan pelukannya ke pinggang Selly. Karena saat itu Selly berada di sampingnya.

"Willy," panggil Safa agar mantan suaminya itu mau mengerti.

Willy merasa kecewa. Ia berharap mendapatkan perhatian anak dan mantan istrinya kembali tapi dia sendiri yang membuat mereka menjauh.

"Baiklah, ayah akan kembali lain kali," ucap Willy sendu. Raut mukanya tampak sangat kecewa bercampur kesal. Tapi ia mencoba menahan diri agar tidak lepas kontrol lagi.

Safa memeluk Willa ketika mantan suaminya itu pergi. "Kamu nggak usah takut, ada bunda di sini," ucapnya untuk menenangkan sang putri.

Willa mengusap pipi ibunya yang habis tertampar. "Apakah sakit? Pipi bunda merah." Anak itu terlihat prihatin karena bundanya mendapatkan siksaan dari sang ayah. Safa menggeleng.

"Sekarang Willa istirahat ya, bunda mau antar Tante Selly keluar." Willa mengangguk patuh.

*

*

*

Keesokan harinya Willa diperbolehkan pulang. Safa bingung karena ia juga mencari pengasuh akhirnya ia ambil cuti beberapa hari untuk menemani Willa.

"Bunda kerja aja, aku nggak apa-apa kok ditinggal sendiri." Ucapan Willa membuat Safa terharu.

"Nggak apa-apa sayang, bunda sudah izin nggak kerja kok, bunda pengen menemani Willa sampai Willa sembuh," balas Safa tak lupa mengulas senyum pada sang putri.

"Willa sayang sama bunda," ucapnya sambil memeluk erat sang bunda. Safa membalas pelukannya. "Bunda juga sayang sama Willa." Wanita itu mengelus rambut panjang anaknya.

Ting tong

Ketika Safa mendengar suara bel rumahnya, ia membukakan pintu. "Kamu?" Safa terkejut kenapa Zidan selalu datang dan pergi seenaknya.

"Ada apa?" Tanya Safa dengan ketus.

Zidan tak menjawab ia malah menerobos masuk begitu saja. "Willa," panggil Zidan.

Safa memutar bola matanya jengah. "Pelankan sedikit suaramu!"

"Willa kemana?" Tanya Zidan.

Willa turun ketika ia mendengar suara Zidan. "Om Zidan," panggil Willa. Namun, ketika Willa akan menuruni anak tangga kakinya tersandung.

Zidan yang kebetulan di bawah tangga langsung menangkap Willa sehingga Willa tidak jadi terguling.

Jantung Safa rasanya ingin copot melihat anaknya hampir saja terjatuh. "Willa, hati-hati ya nak," ucap Safa begitu khawatir. Matanya memerah karena menahan air mata.

"Terima kasih," ucap Safa dengan tulus pada Zidan.

"Sebaiknya pindah saja kamar Willa di bawah." Zidan memberi saran. Safa mengangguk setuju.

"Nanti akan ku pindah setelah aku mendapat asisten rumah tangga baru."

"Biar aku saja yang bantu memindahkan barang-barang Willa ke bawah."

"Tidak, aku tidak mau merepotkanmu," tolak Safa.

Zidan mengulas senyum. "Aku sangat ingin kau repotkan." Ucapan Zidan membuat Safa tertegun. "Maksud kamu?" Tanya Safa tak mengerti.

"Mintalah bantuanmu jika kamu membutuhkan bantuan."

Jantung Safa berdegup kencang. Entah kenapa Safa meras diperhatikan. Tapi Zidan tak pernah mengatakannya dengan jelas.

"Aku semakin tidak mengerti apa tujuanmu selalu datang ke rumahku?" Safa ingin mendengar penjelasan Zidan bukan sekedar menebak.

"Apa aku perlu mengatakannya dengan gamblang. Aku mencintai kamu."

Blush

Safa dibuat mematung di tempat. Willa berseru ketika mendengar Zidan menembak bundanya. "Yee.. aku akan punya ayah lagi."

Safa melotot tak percaya ketika Zidan malah bertos ria dengan Willa.

...♥️♥️♥️...

Jangan lupa mampir ke novel temen aku ya buat kasih dukungan

Terpopuler

Comments

Benazier Jasmine

Benazier Jasmine

zidan gercep bngt

2022-12-27

2

Ririe Handay

Ririe Handay

cie kompak

2022-12-06

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!