"Mas bagaimana pencariannya?" Tanya sang istri pada Julian.
"Bersabarlah Ma. Kita sudah menemukan titik terang," kata Julian menyampaikan kabar yang melegakan.
"Apa ayah sudah menemukan Zidan?" Tanya Raina bersemangat. Julian mengangguk.
"90 % ayah yakin itu dia. Tapi ada yang membuat ayah tak nyaman saat dekat dengannya," kata Julian berkata jujur.
"Apa itu, Yah?"
"Wajahnya berbeda," jawab Julian dalam hati. Ia sangat kasian melihat keadaan istrinya yang memprihatinkan setelah kehilangan Zidan. Ia tak mau menyakiti hatinya dengan mengatakan Zidan telah dioperasi plastik oleh dokter ahli kecantikan dan bedah plastik di rumah sakit tersebut.
Dua Minggu kemudian
Leo mengambil hasil tes DNA yang mereka lakukan. Lalu ia menyerahkan hasil tes tersebut pada atasannya.
"Apa ini?" Tanya Julian ketika Leo menaruh sebua amplop di meja Julian.
"Itu hasil tes DNA yang telah anda lakukan Pak," lapor Leo. Julian antusias membukanya. Seperti dugaannya Roni memanglah Zidan.
"Jemput dia dan bawa pulang ke rumah," perintah Julian pada Leo. Leo mengangguk paham. Akhirnya pencarian nya selama ini tidak sia-sia.
"Ayah akan membawa Zidan padamu lagi, Ma," gumam Julian seorang diri.
Lalu Leo menuju ke rumah Safa. Meski ragu tapi ia sangat senang akhirnya pencariannya membuahkan hasil.
Leo pun mendatangi rumah Safa. "Tuan muda," panggil Leo saat sudah berada di halaman rumah Safa. Saat itu Zidan sedang bermain air dengan Willa.
Zidan menoleh. "Kau sudah datang," kata-kata Zidan membuat Leo terkejut.
"Apa ingatan anda sudah kembali?" Tanyanya antusias menunggu jawaban dari Zidan. Zidan mengangguk.
"Mari kita pulang ke rumah Anda. Ibu anda sangat merindukan anda," kata Leo.
"Baiklah, tapi aku akan mengajak Willa, karena dia tidak ada yang jaga."
"Bukankah sebaiknya dia dikembalikan pada ibunya."
Zidan menghalangi langkah Leo. "Kamu akan menakutinya. Ia tidak menyukai orang asing yang berusaha menyentuh kulitnya." Terang Zidan mengenai kebiasaan Willa.
"Bawa serta dia bersamaku," dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Leo mengangguk setuju.
"Kita mau kemana om?" Tanya Willa polos.
"Kita akan menemui kakek dan nenek," jawab Zidan agar Willa tak khawatir sama sekali.
Willa pun berseru kegirangan. Ia tak pernah merasakan kasih sayang dari kakek maupun neneknya. Baik keluarga dari Safa maupun Willy sama sekali tak pernah mengunjungi dirinya. Ia merasa tak memiliki kakek maupun nenek.
Setelah itu Zidan menggendong Willa ke dalam mobil mewah yang disediakan untuk membawanya. "Wow mobilnya keren," puji Willa. Anak berambut panjang itu memang sangat menggemaskan.
Di tempat lain Safa yang sedang bekerja mendapatkan kabar kalau hasil tes DNA nya positif. "Itu berarti dia benar-benar tuan muda kaya raya," batin Safa ketika mendengar jawaban staf yang menguji DNA di rumah sakit tempatnya bekerja.
Sesaat Safa teringat akan Willa anaknya. Lalu Safa pun melepas jasnya. Setelah itu Safa mengambil mobil lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah. Tak butuh waktu lama ia sampai di halaman rumahnya. Ia melihat mobil yang biasa dikendarai Zidan masih terparkir. Ia merasa lega. Namun, ia ingin mengecek sendiri keadaan Willa.
Saat itu ia merasa putus asa ketika orang yang ia cari tidak ada padahal ia sudah mencari id seluruh ruangan. Safa terduduk lemas. "Apa Roni membawanya?" Tebak Safa.
"Bagaimana ini?" Safa mulai panik. Tapi pikirannya masih jalan. Ia pun mengambil kartu nama yang sempat diberikan Leo padanya.
Safa mencoba menghubungi nomor tersebut. Katanya Safa harus menjemput Willa di rumahnya. Safa mengendarai mobilnya menuju ke kediaman Julian.
*
*
*
"Sudah sampai ya?" Tanya Willa ketika mobil berhenti di sebuah rumah yang amat besar itu.
Tak menjawab Zidan memilih mengajak Willa masuk ke dalam sambil menggandeng tangan Willa. "Aku sangat takut om, apa kakek dan nenek jahat seperti yang ada di film-film?" Tanya Willa dengan polos.
"Kamu bisa menilai setelah menemui mereka," jawabnya.
Julian memapah istrinya yang sakit-sakitan karena memikirkan putranya. "Siapa dia?" Tanya ibunya Zidan. Zidan merasa terluka karena sang ibu menjalani operasi plastik.
"Ma, wajahnya mengalami kerusakan saat kecelakaan mobil waktu itu. Maka dari itu seorang dokter bedah plastik mengoperasinya." Julian menjawab pertanyaan istrinya mewakili Zidan.
Raina berkaca-kaca mendengarnya. Ia lega akhirnya Zidan ditemukan. Tapi Zidan yang sekarang beda dengan yang dulu. Raina meraba wajah putranya. "Kenapa wajahmu berubah jelek begini?" Ledek Raina untuk mencarikan suasana. Setelah itu ia tertawa bersama Zidan.
"Apa kabar Ma?"
"Dasar anak durhaka kamu tidak lihat ibumu ini seperti apa?" Zidan memeluk erat sang ibu. Tiba-tiba Willa mengikutinya.
Orang tua Zidan merasa lucu ketika anaknya mengajak seorang anak perempuan ke rumahnya. "Dia siapa?"
"Ceritanya panjang. Biarkan dia duduk di sana sambil makan camilan. Ibunya sedang bekerja. Dia menitipkannya padaku," terang Zidan membela diri.
Tak lama kemudian Safa datang ke rumah Julian. "Sampaikan pada pemilik rumah aku hanya ingin bertemu dengan anakku."
"Baiklah," jawab penjaga rumah itu.
Setelah diizinkan, Safa masuk ke dalam. "Aku mencari anakku," suara Cindy memecah keheningan.
"Bunda," Willa berhambur ke pelukan ibu.
"Jadi dia ibu anak ini?" Tanya Raina. Safa mengangguk hormat.
"Mari silakan duduk, kita bicara sebentar sebelum kamu pulang," pinta Raina. Ia mengajak Safa duduk.
"Terima kasih sudah menampung Zidan selama ini," kata Raina dengan tulus.
"Saya melakukannya atas dasar perikemanusiaan."
"Apapun itu terima kasih sudah mengurus anak saya dan memberinya tempat tinggal sehingga ia tak mengalami kesulitan menjalani kesehariannya."
Raina tiba-tiba memeluk Safa. "Berkatmu kami menemukan kembali anak kami," Safa tersenyum pada ibunya Zidan.
"Hei kenapa kalian ini? Apa ini pertemuan calon mertua dan calon menantu?" Ledek Zidan. Wajah Safa terlihat memerah.
Setelah lama berada di rumah itu, Safa mengajak Willa pulang. "Kapan-kapan aku boleh main ke sini?" Tanya anak kecil berusia lima tahun itu pada Zidan.
"Tentu saja, mainlah bersama bunda jika sedang libur sekolah," ucap Zidan melirik pada Safa.
Sesungguhnya ini perpisahan yang tak diinginkan Zidan. Dia ingin tinggal lebih lama di rumah itu bersama Safa dan anaknya. Tapi tidak mungkin jika statusnya belum jelas. Maka Zidan memilih kembali pada keluarga yang telah mengakuinya meski wajahnya berubah.
Kembalinya Zidan ke rumah itu membuat Sofia kakaknya ikut senang. "Aku tidak menyangka ternyata kamu adikku, pantas saja waktu itu kau memanggilku kakak." Sofia ingat betul saat ia bertabrakan dengan Zidan di rumah sakit.
"Seandainya wajahku masih sama pasti kau yang akan mengakui aku sebagai adikmu duluan."
"Hei wajah itu tidak buruk setidaknya bersyukurlah karena dokter Safa mau mengoperasi wajahmu yang rusak."
...♥️♥️♥️...
sambil nunggu aku up yuk mampir ke novel di bawah ini
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ririe Handay
hahaha...bisa aja kau zid
2022-12-06
0
Merpati_Manis (Hind Hastry)
mksh kakak author,, udah rekomendasiin kisah bang Zaki dalam novel Finding Love di sini 😊🙏
semangat dan sukses selalu 🤗
2022-09-09
1