Membuatmu Gila

Safa turun sambil menggendong Willa yang terlihat lemas. "Ayo cepatlah!" Suara Safa membuyarkan lamunan Zidan.

"Biar aku saja yang menggendongnya," Zidan mengambil alih tubuh Willa. Lalu mereka menuju ke mobil.

Zidan menidurkan Willa di bagian belakang ditemani oleh ibunya. "Kenapa demammu belum turun?" Safa terlihat khawatir.

Tak butuh waktu lama mereka sampai di area parkir rumah sakit. Zidan kembali menggendong Willa. Safa mengarahkan Zidan ke ruang UGD. "Tolong periksa dia," pintanya pada dokter yang bertugas.

"Anaknya ya, dok?" Tanya dokter umum yang memeriksa Willa.

"Demamnya dari kapan, dok?" Tanyanya.

"Kemaren, terhitung sudah dua hari belum turun," jawab Safa.

"Nanti kita lakukan tes lebih lanjut, sekarang biar dia dirawat saja dulu," saran dokter yang menangani. Safa mengangguk setuju.

Safa menoleh pada Zidan. "Terima kasih sudah mengantar aku rasa kamu bisa ke kantormu sekarang," Safa tak bermaksud mengusir Zidan tapi ia hanya tidak enak dengan laki-laki baik itu.

"Baiklah, aku tinggal. Jika ada perkembangan kabari aku!" Pinta Zidan dengan lembut. Safa mengangguk.

Kini perawat memindahkan Willa ke ruang perawatan VIP. Safa meminta salah seorang perawat menjaga anaknya karena dia harus kembali praktek.

Safa menuju ke ruangannya. "Dok, ada pasien yang mengalami luka bakar di bagian wajahnya. Ia menginginkan operasi plastik," terang suster pendamping Safa.

"Baik, kita lihat dulu seberapa parah wajahnya," Safa pun menuju ke ruangan pasien yang akan diperiksa.

"Selamat pagi, bagaimana keadaan anda hari ini?" Tanya Safa ramah pada pasien.

"Dok, bagiamana dengan kondisi wajahnya apakah bisa kembali seperti semula?" Tanya anggota keluarga pasien.

"Kalau dilihat dari lukanya kita perlu operasi beberapa kali untuk mengembalikan bentuk wajahnya. Anda tenang saja di sini sudah dilengkapi alat yang setara dengan rumah sakit di Korea Selatan."

Ucapan Safa membuat keluarga pasien bisa bernafas lega. Setidaknya ada harapan wajah anak mereka tidak akan cacat setelah dioperasi.

Rumah sakit tempat Safa bekerja memang memiliki fasilitas lengkap karena merupakan rumah sakit swasta yang dikelola dengan baik oleh perusahaan yang menaunginya.

"Saya permisi," pamit Safa keluar ruangan.

"Saya akan ke ruangan anak saya. Dia sedang dirawat di sini jika ada masalah kamu bisa telepon saya," ucap Safa meninggalkan perawat yang menemaninya.

"Baik, Dok."

Safa menuju ke ruang rawat Willa di sana ia melihat Zidan sudah duduk di samping Willa sambil becanda dengan anaknya.

"Kapan kau datang?" Tanya Safa.

"Baru saja," jawab Zidan singkat.

"Bunda, om Roni, ups," Willa menutup mulutnya ketika dia salah menyebut nama. "Maksudku om Zidan baik deh, Willa dikasih ini." Wila menunjukkan sebuah boneka kucing berukuran besar pada ibunya.

"Tidak usah terlalu berlebihan." Wanita beranak satu itu menegur Zidan.

Zidan mengulas senyum. "Hanya boneka, apa aku tidak boleh memberikan hadiah untuk dia," Zidan berkata sambil mengelus rambut Willa yang lurus. Willa membalasnya dengan senyuman.

Hati Safa menghangat melihat kedekatan Willa dan Zidan. Ia berharap Zidan adalah jodohnya. Sesaat kemudian handphone Safa berbunyi.

"Maaf aku terima telepon dulu," wanita yang masih mengenakan jas kedokterannya itu pamit keluar.

"Hallo."

"Apa hari ini Willa tidak masuk?" Tanya Willy melalui sambungan telepon.

"Iya, dia sakit," jawab Safa ringan. Sebenarnya ia tak ingin memberi tahu Willy karena ia malas sekali jika harus berpapasan dengan mantan suaminya itu.

Memang benar mulut Safa telah memaafkan mantan suaminya. Bagaimana pun Willy telah menorehkan luka di hati Safa dan bekasnya masih ada. Layaknya piring yang pecah meski disatukan kembali tapi tidak akan sempurna.

"Dia sakit apa?" Willy terdengar penasaran mengenai kabar anaknya.

"Hanya demam," jawab wanita itu.

"Aku akan ke sana sekarang," putus Willy.

"Haish nggak usah Willa butuh istirahat, jika kau datang ke sini kau akan menggangu waktu tidurnya. Sebaiknya kau temui dia setelah sakitnya sembuh. Maaf aku hanya khawatir Will tambah sakit karena kedatanganmu."

Safa berharap Willy mengerti kalau dirinya tidak nyaman dengan keberadaan mantan suaminya itu.

"Baiklah, aku mengerti." Setelah itu, Willy menutup teleponnya. Safa bernafas lega.

Zidan menyusul Safa. "Apa itu dari mantan suamimu?" Tanya Zidan. Safa tidak peduli. "Bukan urusanmu," jawabnya ketus.

Zidan menarik lengan Safa yang berniat masuk ke ruangan anaknya. "Willa sedang tidur, sebaiknya kita membiarkannya beristirahat."

Safa menganggap ucapan Zidan ada benarnya. Ia pun memilih untuk kembali ke ruangannya. "Tunggu, apa begini sikapmu padaku?" Zidan menegur Safa yang terlihat cuek padanya. Ia tidak tahan saat janda beranak satu itu mengabaikan keberadaannya.

Zidan bukan orang yang mudah menyerah. Meski Safa terang-terangan menolaknya, tapi ia selalu mencari kesempatan untuk bisa bersama dengan wanita yang berprofesi sebagai dokter itu.

"Hah rasanya aku ingin mendatangi praktek dokter psikolog," sindir Safa.

"Kenapa kamu sakit mental?" Zidan tak mau kalah.

Safa menghentikan langkahnya lalu menatap tajam ke arah Zidan. "Kamu nggak sadar siapa yang bikin aku kena mental?" Cibir Safa.

Zidan terkekeh mendengar pertanyaan Safa. "Ini nggak seberapa aku akan menyiksa kamu setiap hari bahkan setiap saat. Aku akan membuatmu gila."

"Iya, aku akan membuat kamu gila karena terlalu mencintaiku," batin Zidan yang masih menyembunyikan perasaannya.

Safa bergidik ngeri mendengarkan kata-kata Zidan. "Nih orang psiko apa gimana ya? Aku kira dia laki-laki baik-baik tapi ternyata dia..." Tiba-tiba Safa mengangkat bahunya karena membayangkan sikap Zidan.

Sedangkan Zidan menahan tawa ketika dia berhasil mengerjai Safa. Semenjak hari itu, Zidan selalu datang ke rumah sakit kapan pun dia mau.

*

*

*

"Fa, ponakan aku katanya masuk rumah sakit ya?" Tanya Selly.

"Kemana aja? Udah tiga hari yang lalu," jawab Safa sambil menulis sesuatu di bukunya.

"Eh, kok nggak pernah cerita. Aku mau jenguk. Di ruangan mana?" protes Selly.

"Dia nggak apa-apa kok, kata dokter cuma kecapekan, tapi darahnya rendah jadi harus dirawat di sini sementara. Mungkin nanti sore aku bawa pulang kalau memungkinkan. Usai praktek," terang dokter Safa.

"Yuk ajak aku sekalian. Apa dia masih ingat aku? Sudah lama aku tidak pernah main dengannya," kata Selly antusias. Safa menggedikkan bahunya.

Setelah selesai kerja, Safa dan Selly ke ruangan Willa. Di sana sudah ada Zidan yang menemani bersama dokter Sofia. Safa dan Selly terkejut melihatnya.

"Eh, kalian?" Tunjuk Safa. Sofia dan Zidan menoleh.

"Sore, dokter Safa. Maaf saya ke sini tidak bilang-bilang dulu," kata Sofia memecah kecanggungan.

"Ah jadi kalian?" Selly lebih terkejut. Ia mengira Zidan dan Sofia adalah sepasang kekasih.

"Ternyata dia adik saya," omongan Sofia mematahkan dugaan Selly. Selly jadi merasa lega karena ia tahu kalau Safa menyukai Zidan.

"Syukurlah."

...♥️♥️♥️...

Kalian yang masih penasaran dengan ceritanya bisa tunggu kelanjutannya. By the way mampir juga ke novel temanku

Terpopuler

Comments

Ririe Handay

Ririe Handay

semangat zid

2022-12-06

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!