Pada saat jam makan siang, Safa mendengar keributan dari ruangan yang dibuat untuk praktek dokter Sofia.
"Ada apa sih ribut-ribut?" Tanya Safa pada Selly. Selly menggedikkan bahu.
"Ayo kita lihat!" Safa dan Selly pun mendekat. Mereka membuka pintu ruang praktek dokter Sofia.
"Bu, tolong jangan lakukan hal yang bisa membahayakan hidup anda!" Sofia mencoba membujuk pasiennya yang sedang mengarahkan pisau ke tangannya.
"Untuk apa saya hidup dok kalau suami saya berselingkuh dengan wanita lain, dia bahkan tidak mau menafkahi saya. Malah dia yang meminta uang dari saya tapi saya selalu disalahkan oleh mertua saya dok. Apa itu adil?"
"Saya mohon serahkan pisau itu pada saya, Bu. Kita bisa bicara baik-baik. Nanti saya akan bantu bicara dengan suami anda." Lagi, Sofia masih mencoba mengambil hati ibu itu.
Lalu Safa memberikan kode pada Sofia karena dia ingin ambil tindakan. Safa menangkap tangan ibu itu. Namun, ia tak mau melepaskan pisau kecil yang dia pegang. Safa mencoba merebutnya tapi ibu itu malah memberontak.
"Siapa kamu, lepaskan tangan saya!" Ucap wanita yang mencoba bunuh diri itu.
"Jangan ambil tindakan bodoh Bu. Hidup anda lebih berarti daripada harus menangisi suami anda."
Selly memanggil security untuk meminta bantuan. Safa dan wanita itu masih bergulat. Wanita itu tak mau melepaskan pisaunya lalu ia malah mendorong Safa sampai ia terjatuh. Kepala Safa membentur dinding hingga dia pingsan.
Saat itu Zidan dan Willa berniat menjemput Safa tapi melihat Selly berlari ia jadi curiga. "Ada apa, dokter Selly?" Tanya Zidan.
"Ada keributan di ruang praktek kakakmu," jawabnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Titip Willa," pesannya pada Selly. Zidan segera berlari ke ruang praktek Sofia. Ia khawatir dengan kakaknya akan tetapi saat pemuda itu masuk, Zidan malah melihat Safa terbaring di lantai.
Zidan melihat seorang wanita memegang pisau. Ia pun meraih pisau itu dari tangan wanita itu lalu menyerahkannya pada security yang masuk bersama dengannya.
"Zidan, tolong dokter Safa!" Perintah sang kakak. Sofia panik melihat Safa yang pingsan gara-gara ingin menolongnya.
"Bagaimana dia bisa pingsan?" Tanya Zidan meminta penjelasan dari kakaknya.
"Nanti saja ku jelaskan, yang penting bawa dia ke UGD dulu!" Perintah Sofia pun dituruti oleh sang adik.
Dengan sekali hentakan, Zidan mengangkat tubuh Safa. "Kumohon sadarlah!" Ucapnya sambil menggendong Safa.
Lalu ketika bertemu perawat Zidan meletakkan Safa di atas brankar. Mereka membawanya ke ruang UGD. Sofia ikut masuk sedangkan Zidan menunggu di luar. Selly dan Willa menyusul Safa.
Willa menangis ketika melihat sang ibu terbaring karena pingsan. Zidan menggendong Willa dan menenangkannya. "Papa mohon Willa jangan menangis lagi. Bunda tidak apa-apa ada dokter yang akan merawatnya." Willa mengangguk.
"Tunggu sebentar ya," Selly pergi guna membeli minum untuk Willa. Setelah memberikan air mineral pada Willa Selly pamit untuk meneruskan praktek.
Tak lama kemudian Sofia keluar dari ruangan itu. "Bagaimana keadaannya kak?" Tanya Zidan cemas. Sofia memandang wajah Willa yang penuh dengan air mata.
"Ibumu tidak apa-apa sayang, sebentar lagi juga sadar. Dokter sudah memberikan obat untuknya." Sofia mencoba memberikan pengertian pada Willa.
"Kapan dia akan sadar?" Tanya Zidan.
"Mungkin sebentar lagi. Dia hanya terbentur syukurlah tidak ada yang cidera hanya memar di bagian kepalanya," jawab Sofia.
"Bagaimana ceritanya dia bisa sampai pingsan? Lalu kenapa wanita tadi memegang pisau? Apa dia mengancammu?" Cecar Zidan pada kakaknya.
Sofia mengembuskan nafasnya berat. Ia sangat takut mengingat kejadian tadi. "Wanita itu pasienku yang terkena gangguan depresi akut. Dia frustasi karena suaminya selingkuh dan dijahati oleh mertuanya. Lalu ia mencoba bunuh diri di depanku. Dokter Safa berniat mengambil pisau dari tangan wanita itu malah ia didorong hingga pingsan."
"Pekerjaanmu rupanya beresiko juga. Apa kau tidak apa-apa?" Ia memindai kakaknya dari atas hingga bawah.
"Aku tidak apa-apa," jawab Sofia. "Apa kau ingin menunggui dokter Safa?" Tanya Sofia. Zidan mengangguk.
Tak lama kemudian seorang perawat keluar mengabari bahwa Safa sudah sadar. Zidan mengajak Willa ke dalam untuk melihat ibunya. Sofia pun tidak jadi pulang.
Safa ingin bangun. Zidan segera membantunya. Laki-laki itu menegakkan bantal agar bisa digunakan Safa untuk bersandar. "Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Zidan dengan lembut. Safa mengulas senyumnya. "Aku tidak apa-apa," jawabnya masih dalam keadaan lemah.
"Bunda, aku khawatir sama bunda," ucap Willa dengan polos sambil berderai air mata.
Safa mengusap air mata Willa. "Bunda tidak apa-apa sayang."
"Dokter Safa," Sofia menyela. "Terima kasih sudah menolong saya," ucap wanita berhijab itu.
Safa mengulas senyum. "Sama-sama dok. Maaf saya membuat anda khawatir."
"Ehem," Zidan merasa diabaikan sedari tadi Safa tak memandangnya. "Kamu tidak meminta maaf padaku karena aku mengkhawatirkanmu?" Zidan mencebik kesal.
Safa memutar bola matanya jengah tapi tetap meminta maaf. "Iya, maaf." Ucapnya malu-malu. Wajah Safa jadi memerah karena Zidan terus memandangnya. Laki-laki itu seperti ingin menerkam mangsanya hingga Safa menjadi salah tingkah di depan Willa dan Dokter Sofia.
"Sebaiknya dokter istirahat. Baiklah kalau begitu saya permisi," pamit Sofia meninggalkan ruangan itu. Safa mengangguk.
Safa menurunkan kakinya. "Kamu mau kemana?" Tanya Zidan.
"Aku ingin pulang saja, aku akan izin sebentar." Ketika Safa ingin berdiri kepalanya terasa pusing ia pun duduk kembali.
"Jangan banyak bergerak dulu. Apa tidak sebaiknya kamu dirawat di sini saja?" Zidan memberikan saran.
"Tidak, Willa harus pulang ke rumah. Lagi pula lukaku tidak parah." Safa bersikeras untuk pulang. Zidan mau tak mau menuruti permintaan kekasihnya itu.
"Apa perlu aku gendong?" Goda Zidan. Wajah Safa kembali memerah.
"Gendong, gendong, gendong." Willa mendukung tindakan Zidan. Zidan lalu mengajak Willa tos.
"Hish kalian ini kompak sekali," cibir Safa.
"Tentu saja, bukan kah aku calon ayah yang baik?" Zidan mengeringkan matanya pada Willa.
Safa menutup mulutnya tak percaya Zidan begitu yakin menjalani hubungan dengannya. Jantungnya berdegup kencang karena omongan Zidan.
"Ah sudahlah, aku ingin cepat sampai di rumah, ayo antar aku pulang sekarang," seru Safa.
"Kamu yakin bisa berjalan sampai ke tempat parkir? Apa tidak mau pakai kursi roda?" Tanya Zidan memberikan pilihan. Safa menggeleng. Setelah itu Zidan membantu Safa berjalan sampai ke mobil.
"Lho dokter Safa tidak dirawat saja di sini?" Tanya Selly yang baru selesai praktek. Safa menggeleng.
"Sini aku periksa apa ada yang perlu dioperasi atau tidak," gurau Selly.
"Kamu pikir kepalaku gegar otak?"
"Ya kali aja, kan tadi terbentur. Syukurlah kamu tidak sampai amnesia," ledek Selly hingga membuat Zidan sedikit tersinggung.
Safa memberikan kode agar Selly menutup mulutnya. "Ups, maaf Zidan aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu," ucap Selly kemudian.
Apakah Zidan tersinggung dengan perkataan Selly? tunggu jawabannya di episode selanjutnya.
sambil nunggu aku up kalian bisa mampir di novel temanku ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ririe Handay
Selly
2022-12-06
1
Melisa Author
Terimakasih udah di promoin.. sukses selalu buatmu..😘
2022-09-15
2