Hari ini ketika Safa akan menaiki mobil, ia melihat ban mobilnya kempes. "Aish pakai kempes segala lagi," gerutu Safa.
Ketika dia melihat Roni hampir jalan, Safa berteriak untuk menghentikan laju mobilnya. Roni seketika mengerem mendadak. "Ada apa?" Tanpa embel-embel panggilan Bu.
"Ban mobilku kempes bisakah aku menumpang sekalian?" Tanya Safa meminta izin.
"Tentu saja. Mari silakan masuk!" Safa pun segera masuk ke dalam mobil itu kemudian duduk di samping Willa. Setelah itu Roni mulai melajukan mobilnya.
Tak butuh waktu lama mereka tiba di depan sekolah Willa. Safa ikut turun untuk mengantarkan Willa.
Willa menyalami tangan sang ibu. "Willa masuk dulu ya, Bunda," pamitnya. Safa mengangguk lalu mencium kening Willa. Setelah itu Will berjalan menjauh sambil melambaikan tangan, Safa pun membalasnya.
"Beli satu dapat satu," gumam Zidan sambil mengulas senyum. Lalu ia turun untuk membukakan pintu mobil untuk Safa.
"Silakan!" Zidan membuka pintu mobil bagian depan. Safa mengerutkan keningnya. "Aku duduk di belakang saja." Zidan segera menarik tangan Safa.
"Akan lebih baik jika anda menemani saya ngobrol." Lagi-lagi tanpa embel-embel panggilan di belakangnya. Lidah Zidan terasa kelu jika harus memanggil orang yang seumuran dengannya Bu. Apalagi dia tidak pernah diperintah sebelumnya.
Safa terpaksa menuruti permintaan Roni meskipun dia sedikit kesal. Zidan menahan tawanya. Zidan memutari mobil lalu masuk ke dalam.
"Ayo jalan sekarang!" Perintah Safa karena dia sedikit terlambat.
Zidan melirik ke arah Safa ternyata sabuk pengamannya lupa di pasangkan. Lalu Zidan mendekati Safa. "Mau apa laki-laki ini?" Batin Safa. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Safa menutup mata sambil menahan nafas ketika jarak mereka sangat dekat. Zidan ingin sekali tertawa tapi ia tahan.
Ceklik
Safa baru sadar ketika mendengar suara itu. "Maaf,saya tidak berniat mencium anda," ucap Zidan sedikit angkuh. Safa mengepalkan tangannya karena kesal. Ia pun membuang muka dan memilih melihat pemandangan di luar jendela kaca mobil yang ada di sampingnya.
Setelah itu mereka menuju ke rumah sakit tempat Safa bekerja. Ketika sampai di tempat parkir mereka berpapasan dengan Selly.
Zidan turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Safa. Saat Safa keluar, tangan Zidan menutup bagian kepalanya agar kepala Safa tidak terbentur pintu. Hati Safa jadi menghangat mendapatkan perlakuan manis dari sopir sekaligus pengasuh anaknya itu.
"Ecie cie berangkat kerja bareng," ledek Selly pada Safa ketika melihat temannya keluar dari mobil yang sama.
"Apaan sih, ayo masuk! Oh ya Roni nanti tidak usah jemput saya, saya pulang bareng Selly." Selly melotot tak percaya.
Sementara menunggu Safa dan Willa, Zidan mencari ke sebuah konter handphone yang sudah buka. Ia ingin membeli handphone agar Safa maupun Willa mudah menghubungi dirinya. Akhirnya ia menemukan sebuah konter kecil yang buka. Lalu Zidan menepikan mobilnya di depan konter itu.
"Selamat pagi," sapa pemilik konter.
"Saya ingin membeli handphone," kata Zidan.
"Silakan, Pak dipilih handphonenya. Bapak mau cari kisaran harga berapa?" Tanya pemilik konter itu.
"Lima juta," jawab Zidan. Ia memang menabung uang gajinya selama bekerja di rumah Safa. Lalu semalam dia pikir dia perlu menggunakan uang itu membeli handphone. Jadi ia membawa sebagian uang yang ia simpan hari ini.
Pemilik konter itu tercengang pasalnya tidak ada yang pernah mencari ponsel dengan harga di atas empat juta. "Maaf, Pak. Tapi harga handphone di sini paling mahal tiga setengah juta."
"Apa? Aku bahkan biasa menggunakan handphone dengan harga puluhan juta," batin Zidan.
"Baiklah, tidak apa-apa. Tunjukkan padaku!"
Lalu pemilik konter mengambilkan handphone yang Zidan mau. "Ini, Pak." Ia hanya menunjukkan serinya.
"Bukalah!" Perintah Zidan.
"Saya akan membukanya setelah anda membayar terlebih dahulu," kata pemilik konter. Zidan kemudian mengambilkan sejumlah uang untuk membayar handphone yang dibelinya.
Pemilik konter segera membuka segel setelah melihat uang pembelinya berada di atas meja. "Terima kasih banyak, Pak. Kalau ada yang perlu diperbaiki anda bisa kembali lagi ke sini," ucapnya saat Zidan beranjak keluar.
Setelah itu, Zidan ke sekolah Willa. Namun, saat waktunya pulang ia tak melihat Willa keluar dari gedung itu.
"Mas Roni cari Willa ya?" Tanya seorang ibu-ibu yang merupakan wali murid. Roni mengangguk.
"Tadi saya lihat ayahnya membawa Willa sebelum jam pulang sekolah," kata ibu-ibu itu.
"Apa?" Sial, Roni kecolongan. Willy telah membawa Willa tanpa seizin Safa.
*
*
*
"Aku mau turun," rengek Willa yang ketakutan di dalam mobil.
"Sayang, ayah mau bawa Willa ke pusat permainan," Willy mencoba membujuk Willa agar dia mau ikut.
"Nggak mau, Willa maunya pulang sama om Roni," tolaknya. Menyebut nama Roni membuat darah Willy semakin mendidih. "Diam!" Bentaknya pada sang putri. Willa menangis dengan kencang. Ia pun menepikan mobilnya.
"Willa, diam!" Willa pun diam tapi menahan tangis dan ketakutan.
Sementara itu, Roni menuju ke rumah sakit untuk menemui Safa. Saat ia berjalan dengan terburu-buru ia tak sengaja bertabrakan dengan Sofia. "Maaf, kak," tanpa sadar Roni mengucapkan kata itu.
Sofia terkejut mendengarnya. "Kakak?" Tanyanya pada Roni yang hendak melewatinya. Roni menghentikan langkahnya. Ia merutuki kebodohannya itu. "Aku lupa kalau saat ini aku berperan sebagai Roni."
Roni pun berbalik. Ia mendekat ke arah Sofia. "Maaf saya tidak sopan memanggil dokter dengan sebutan kakak, saya terbiasa karena dulu saya pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran." Roni berharap Sofia percaya.
"Oh, baiklah. Tidak apa-apa," jawab Sofia sambil tersenyum ramah.
Dari kejauhan Safa tak sengaja melihat interaksi antara Sofia dan Roni. Entah kenapa hatinya tak suka melihat kedekatan mereka. "Cemburu ya?" Ledek Selly. Ia selalu menempel pada Safa saat pekerjaanya selesai.
"Bukan, aku heran saja kenapa Roni ada di sini tapi aku tak melihat Willa. Ah Willa di mana?" Safa yang tersadar lalu mempercepat langkahnya ke arah Roni.
"Di mana Willa?" Tanya Safa to the point. Ia tak menghiraukan Sofia.
Roni menghembuskan nafasnya berat. "Saya ingin memberi tahu bahwa Willa diajak oleh ayahnya sebelum jam pulang sekolah."
"Kok bisa?" Safa menyilangkan tangannya untuk meminta penjelasan dari Roni.
"Setelah saya mengantar anda saya mampir sebentar ke konter," terang Roni.
Safa melotot tak percaya. Safa membuang jas kedokterannya ke arah Selly. "Suek," umpat Selly. Lalu Safa langsung menarik tangan Roni dan membawanya menuju ke parkiran mobil.
Jantung Zidan berdebar sekaligus senang. Ia pun beralih menggenggam tangan Safa. Kini Safa yang terkejut. Langkahnya terseret mengikuti langkah Roni yang berjalan lebih dulu. Roni membukakan pintu mobil untuk Safa. "Masuklah kita cari Willa sama-sama."
"Dia bersikap aneh akhir-akhir ini, apa ingatannya sudah kembali?" Batin Safa seraya menatap curiga pada Roni.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ririe Handay
dah ada cinta nih
2022-12-06
0