Panggil Aku Papa

Semenjak menyatakan cintanya secara terang-terangan pada Safa, Zidan mulai memberanikan diri untuk mengantar jemput kekasihnya.

"Selamat pagi," sapa Zidan yang datang untuk menjemput Safa dan anaknya.

Safa nampak salah tingkah. "Pa-pagi," balasnya.

"Ayo om kita berangkat," ajak Willa sambil menarik tangan Zidan.

Zidan berjongkok. "Willa sayang mulai sekarang panggil papa, oke?" Zidan meminta dukungan pada Willa. Safa melotot tak percaya.

Willa pura-pura berpikir. "Oke," jawab Willa dengan riang.

Zidan langsung mengangkat anak kecil itu. Safa hanya bisa geleng-geleng kepala.

Setelah itu mereka naik ke mobil Zidan. Mobil SUV berwarna merah yang ia beli dari hasil kerja kerasnya.

"Wow keren," Willa kagum dengan interior mobil yang super mewah itu.

"Suka?" Willa mengangguk cepat. "Kita berangkat sekarang ya." Imbuhnya.

"Emm besok tidak usah menjemputmu," ucap Safa. Zidan melirik ke arah kekasihnya. "Kenapa?" Lalu ia fokus lagi ke depan.

"Aku tidak ingin merepotkanmu setiap hari. Bukankah aku sudah biasa pulang pergi sendiri tanpa sopir."

"Apa? Jadi kamu masih menganggap aku sopirmu?" Zidan sedikit tersinggung.

"Bukan, bukan begitu maksudnya." Safa menggerakkan sepuluh jarinya cepat. "Aku hanya tidak terbiasa itu saja."

"Mulai sekarang biasakan. Willa apa kamu keberatan kalau papa antar jemput kamu tiap hari?" Tanya Zidan meminta pendapat calon anaknya.

"Pakai mobil ini?" Zidan mengangguk menjawab pertanyaan Willa.

"Tentu saja tidak, teman-temanku pasti kagum kalau aku naik mobil bagus ini tiap hari."

"Willa tidak boleh seperti itu. Kita tidak boleh pamer pada orang lain." Safa menasehati anaknya.

Willa jadi menunduk merasa bersalah. Zidan melirik ke arah Willa. "Sayang bunda tidak bermaksud memarahi Willa tapi bunda mengajarkan agar Willa menghargai orang lain." Zidan menambahkan penjelasan Safa.

"Maaf, om. Eh, pa."

"Good girl," Zidan mengacak rambut Willa dengan sayang. "Terus panggilan bunda Safa buat papa Zidan apa dong?" Goda Zidan pada wanita yang duduk di sampingnya.

Wajah Safa jadi memerah karenanya. "Apaan sih jangan norak deh," ledek Safa.

"Will menurut kamu panggilan apa yang cocok buat bunda untuk papa?" Zidan meminta pendapat Willa. Willa menggedikkan bahu. "Terserah bunda aja," jawabnya sok bijak.

Setelah itu mereka sampai di depan sekolah Willa. Safa dan Zidan ikut turun mengantarkan Willa sampai memasuki halaman sekolah.

"Mas Roni?" Panggil ibu-ibu yang biasa menyapa Roni dulu ketika ia masih menjadi sopir Safa.

Zidan mengangguk hormat. "Wah saya pangling dengan penampilan mas Roni," ucapnya usai memindai Zidan dari atas hingga ke bawah.

Setelan jas mahal serta sepatu yang terlihat mengkilap membuat tampilan Zidan terasa begitu mewah.

"Mas Roni sekarang kerja jadi sales ya?"

Gubrakkk

Safa menahan tawa mendengar omongan ibu itu ketika menerka pekerjaan Zidan yang sekarang. Zidan memicingkan matanya pada Safa. Safa mengalihkan pandangannya.

Lalu Safa pura-pura melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ibu-ibu saya sudah terlambat bagaimana kalau obrolan kita lanjutkan lain kali saja?"

Setelah itu Safa masuk ke dalam mobil diikuti oleh Zidan. Di dalam mobil Safa terpingkal-pingkal ketika mengingat omongan ibu-ibu itu tentang Zidan.

"Masih belum puas menertawakan aku?" Ledek Zidan.

"Maaf-maaf," ucapnya tak serius meminta maaf karena diiringi dengan tawa mengejek.

"Aku tidak mau menerima maaf darimu kalau kamu belum tulus." Perkataan itu membuat Safa berhenti tertawa.

"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Safa merasa tidak enak.

"Tidak bisakah kita saling memanggil dengan nama panggilan saja?"

"Misalnya apa?" Tanya Safa bingung.

Zidan mendekat kan diri pada wanita yang duduk di sebelahnya. "Sayang." Zidan berbisik ke telinga Safa. Safa nampak keberatan.

"Aku masih belum terbiasa memanggilmu dengan kata itu."

"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Kita sudah sampai." Usai mematikan mesinnya, Zidan turun lebih dulu untuk membukakan pintu.

Safa turun dengan perlahan. Zidan menutupi bagian kepalanya agar tidak terbentur. Jantung Safa terasa berdebar kencang.

"Apa setelah ini aku akan terkena penyakit jantung?" Gumam Safa dalam hati ketika mendapat perlakuan manis dari Zidan. Tentu saja sudah lama semenjak ia bercerai dengan Willy, tragedi romantis seperti ini tidak pernah ia rasakan.

"Cie cie yang resmi pacaran?" Tebak Selly.

"Bagaimana kamu tahu?" Zidan memuji Selly.

"Tentu saja, mana ada pria yang memberikan perhatian jika dia tidak menyukai wanita itu." Lagi, wajah Safa mulai memerah.

Tapi dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan interaksi mereka. "Kali ini aku mengizinkanmu mendekati Safa tapi itu tidak akan terjadi nanti."

"Pagi," sapa dokter wanita yang berhijab.

"Pantas saja kamu tidak sarapan hari ini. Ternyata ini alasannya," ejek Sofia.

Sofia mengulur tangannya. Safa jadi terkejut. "Selamat datang di keluarga kami," ucapnya pada Safa.

"Kakak jangan buat adik iparnya malu begini." Zidan mencolek dagu Safa.

"Ah aku masuk dulu sudah waktunya praktek." Safa berlari kecil karena salah tingkah.

Setelah itu, Zidan kembali ke kantor.

"Zidan," teriak Julian.

Brak

Julian masuk ke ruangan Zidan dengan membanting pintu. "Kemana saja kamu?" Tanya Julian dengan tegas pada anaknya.

"Aku hanya bersenang-senang sebentar, Yah."

"CK, kau memang tidak pernah serius. Aku ragu apa ada wanita yang mau dengan sikapmu yang menyebalkan begini?" Ledek Julian.

"Ayah tidak tahu kalau ada seorang janda yang sangat kucintai," batin Zidan sambil menahan senyum.

"Zidan nanti malam ada makan malam dengan kolega ayah apa kau bersedia menggantikan ayah, sepertinya ayah lupa kalau ayah harus menemani ibumu berkunjung ke rumah saudara." Julian hanya beralasan agar Zidan mau menggantikannya.

"Bagaimana kalau makan malamnya ditunda besok saja, aku sudah ada janji dengan orang lain?"

"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Julian yang penasaran.

"Ah sebaiknya aku diam agar ayah tidak merusak pestaku nanti malam."

"Dasar sok sibuk," cibir Zidan. "Apa ku sudah memiliki calon pasangan?" Tanya Julian yang penasaran.

Zidan mengangguk. "Memangnya kenapa kalau belum?"

"Tentu saja ayah khawatir. Tapi kamu tenang saja ayah punya banyak kolega yang memiliki anak perempuan yang belum menikah. Kamu bisa pilih satu di antara mereka."

"Tidak, Yah. Aku tidak tertarik."

"Zidan, Zidan." Julian memanggil anaknya tapi tak dihiraukan.

"Leo selidiki siapa yang makan malam dengan Zidan nanti malam."

"Baik, Pak."

Sesuai perintah atasannya Leo mengawasi Zidan hari ini. Anehnya ketika jam sebelas, Zidan bilang keluar pada sekretarisnya.

"Kemana atasanmu pergi?" Tanya Leo.

"Saya kurang tahu, Pak. Pak Zidan tidak menyebutkan secara spesifik."

"Baiklah, sepertinya ini tugas yang merepotkan," gumam Leo menggerutu.

...♥️♥️♥️...

Maafkan othor jika ada kata-kata kurang nyambung bisa ditag langsung ya 🙏

sambil nunggu up silakan mampir ke novel teman ku

Terpopuler

Comments

Ririe Handay

Ririe Handay

Zidan konyol

2022-12-06

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!