Sofia dan Leo tak sengaja mendengar seseorang menyebutkan nama Zidan. Lalu keduanya mendekat ke arah laki-laki itu. Sofia menepuk pundak Roni dari belakang. Sofia terkejut karena wajahnya berbeda.
"Maaf saya kira saudara saya," ucapnya tak enak.
"Kak Sofia, aku memang adikmu, kak," batin Zidan menatap nanar ke arah kakaknya yang tak mengenali adiknya sendiri karena wajahnya yang telah berubah. Zidan merasakan sesak di dadanya.
"Maaf, ada keperluan apa datang ke rumah sakit ini? Apa ada keluarga anda yang sakit?" Tanya Safa pada wanita berhijab yang ada di depannya itu.
"Bukan, saya baru dipindahtugaskan di sini. Perkenalkan nama saya Sofia saya seorang psikolog." Sofia mengulurkan tangan dan tersenyum ramah pada Safa.
Safa pun membalas uluran tangan Sofia. "Saya Safa, dokter kecantikan dan bedah plastik. Oh iya ini Roni sopir sekaligus pengasuh anak saya dan itu," Safa menunjuk Selly. Selly melambaikan tangan. "Selly dia juga seorang dokter di sini," ucap Safa memperkenalkan satu per satu orang yang ia kenal.
"Senang berkenalan dengan kalian. Aku harap kita bisa ngobrol lagi. Sekarang aku harus menemui direktur rumah sakit ini dulu," pamit Sofia. Tak lupa ia menyunggingkan senyum manisnya. Leo mengangguk pada Safa dan lainnya. Sejenak ia menatap beberapa saat ke arah Roni. Lalu mengikuti anak atasannya itu.
"Willa," panggil Safa namun anaknya entah kemana. Lalu semua orang mencari keberadaan Willa. Ternyata ia bersembunyi di ruangan pasien yang sedang terbaring akibat kecelakaan.
Roni yang melihat pasien itu mendadak kepalanya sakit. Ia memegang kepalanya sambil mendesis. Safa menjadi panik. "Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya sambil memegangi tangan Roni.
Ia membawa Roni duduk. Willa yang baik hati memberikan botol minumannya pada Roni. Roni melihat anak itu tulus memberikan bantuan. Roni jadi tersentuh. Tiba-tiba pusing di kepalanya menghilang.
"Terima kasih, non," ucap Roni pada Willa.
"Kamu tunggu di sini aku akan mengambilkan obat untukku." Ketika Safa hendak berdiri, tangannya ditarik oleh Roni. Safa jadi terkejut.
Sesaat kemudian ia melepasnya. "Maaf," ucap Roni merasa tak enak.
"Sebaiknya kamu pulang," pinta Safa. "Apa perlu aku yang mengemudi?" Tawarnya.
"Ah tidak usah, Bu."
"Nanti Willa biar bareng aku aja."
"Nggak mau Bun, aku mau pulang bareng om Roni aja," rengek Willa.
Sebenarnya Safa sangat khawatir tapi saat Roni berhasil meyakinkannya, Safa akhirnya menyetujui. "Kalian pulangnya hati-hati ya!" Pesan Safa pada sopir dan anaknya.
Willa melambaikan tangan ketika sedang digendong Roni.
"Aku nggak nyangka anak Willa bisa selengket itu dengan sopirmu. Roman-romannya sang sopir sebentar lagi naik jadi suami majikan nih," ledek Selly. Wajah Safa jadi memerah.
"Apaan sih?" Safa berjalan lebih dulu meninggalkan Selly.
*
*
*
Setelah sampai di rumah Safa langsung menuju ke dapur. Ia ingin mengambil air minum dingin dari dalam kulkas. Saat menutup pintu kulkas tiba-tiba Roni sudah berada di belakang pintu.
"Astaghfirullah, kamu ngagetin aja. Aku kira hantu," kata Safa setengah meledek.
Roni mengulas senyum. "Saya belum mati mana mungkin bisa menjadi hantu."
"Kamu mau?" Safa menawari minuman yang ia buat. Roni menggeleng.
"Apa aku boleh bertanya?"
Aneh menurut Safa sudah beberapa hari ini sikap Roni berbeda dari biasanya. Safa meneguk minumannya. "Tanya apa?"
"Apa anda tidak menyimpan tanda pengenal saat aku diselamatkan?"
Safa mengerutkan keningnya. Ia jadi curiga jangan-jangan ingatan laki-laki di depannya ini sudah kembali. "Kenapa? Apa kau sudah ingat siapa dirimu?" Selidik Safa.
"Tidak, setidaknya saya tahu nama asli saya jika ada tanda pengenal," kilah Roni.
"Aku sudah tanyakan pada pihak kepolisian yang menangani kamu saat kejadian kecelakaan itu tapi mereka tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk agar mereka bisa menghubungi keluargamu. Maka dari itu aku menamaimu Roni agar aku mudah memanggilmu," balas Safa.
Roni mendekat ke arah Safa. Safa reflek memundurkan langkahnya. Punggung Safa terbentur ke dinding. "Kamu mau apa?" Safa mulai ketakutan.
Roni mengulas senyum melihat tingkah Safa yang menggemaskan. "Sampai kapan saya boleh tinggal di sini?" Tanya Zidan sedikit menggoda Safa dengan berbisik ke telinganya.
Jantung Safa berdegup kencang ketika mereka hampir tak berjarak. Sontak ia mendorong Roni. "Pergilah kapanpun kamu mau!" Usir Safa lalu ia berlari meninggalkan Roni.
Roni terkekeh melihat tingkah Safa yang lucu. Sedangkan Safa menutup pintu kamarnya rapat-rapat. "Apa-apaan itu tadi?" Gerutunya sambil memegangi dadanya sendiri.
Lalu Safa memilih membaca buku-buku medis untuk menambah ilmu kedokterannya. "Hish kenapa wajahnya berputar-putar di kepalaku?" Safa tidak bisa berkonsentrasi. Roni seolah-olah memenuhi pikirannya.
Safa menutup wajahnya dengan buku untuk menghilangkan bayangan Roni di kepalanya. Namun, nyatanya sia-sia. Ia merasa malu dengan sikapnya sendiri. "Ingat Safa kamu harus jaga jarak dengan laki-laki kalau tidak mau dikatai janda gatel," gumam Safa seorang diri.
Dia melihat ke arah Willa yang tertidur lelap di atas kasur. Lalu ia berjalan mendekat dan mengelus rambutnya yang lurus.
"Maafin bunda ya nak. Sekecil ini kamu harus mengalami masa-masa sulit karena perpisahan bunda dan ayahmu. Bunda janji akan menjadi orang tua terbaik untukmu," ucapnya sambil menahan air mata agar tidak tumpah.
Safa tidak mengira pernikahannya dengan Willy akan berakhir dengan perceraian. Kalau saja waktu itu Willy tidak berselingkuh dengan sekretarisnya, maka perceraian ini tidak akan terjadi.
Safa tak kuasa menahan tangisnya. Di balik pintu kamar itu, Roni memperhatikan Safa yang sedang menangis. Ia merasa iba pada janda beranak satu itu.
"Mungkin saat ini sebaiknya aku menetap di sini dulu sampai aku bisa mendapatkan solusi. Lagipula ada seseorang yang merasa butuh perlindunganku," gumam Roni di balik pintu. Setelah itu dia berlalu dan berjalan ke kamarnya.
*
*
*
Keesokan harinya Safa bangun kesiangan. Sinar matahari yang masuk ke jendela kamarnya membuat matanya mengerjap. Ia menoleh ke arah jam dinding. "MasyaAllah aku kesiangan."
Dia melihat ke samping ternyata Willa sudah tidak ada. Safa panik dan mencari ke seluruh sudut kamar. Tapi ia tak menjumpai anak kecil itu. Safa terus meneriakkan nama Willa. Lalu ia turun dari lantai dua rumahnya. Ia terkejut ketika melihat Willa sudah ada di meja makan sedang disuapi oleh Roni.
Bahkan ia melihat Willa sudah memakai seragam sekolahnya. Safa mendekat pada kedua orang itu. "Maafkan bunda, sayang," ucap Safa merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Bunda. Kata om Roni bunda kecapekan karena lembur kerja semalam," jawab Willa yang terdengar bijak.
"Terima kasih sayang atas pengertian kamu. Bunda janji besok bunda tidak akan lembur lagi jadi bunda bisa bangunin kamu lagi," Safa mengelus pipi cabi sang anak. Lalu Safa mengalihkan pandangannya pada Roni.
Apa yang akan Safa lakukan pada Roni? Yuk kawal ceritanya sampai akhir. Buat yang berkenan bisa kasih vote kalian ke othor ya.
...♥️♥️♥️...
Mampir ke novel temen aku juga ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ririe Handay
Emang ga punya art apa si safa
2022-12-06
2
AdindaRa
Gak papa say, kalo gatel nanti tak bantu garukin. 🤣🤣🤣
2022-11-06
3
AdindaRa
Diiih, Roni! Kamu tuh bikin muka Safa jadi meroni tauuuk.
Eh. Merona dung ya 😂😂😂
2022-11-06
3