Semenjak Zidan kembali ke keluarganya, rumah Safa terasa sepi karena di rumah yang lumayan besar itu mereka hanya tinggal berdua. Saat ini Safa sedang menemani anaknya tidur.
Ketika dia menatap langit-langit rumahnya tiba-tiba ia membayangkan wajah Zidan yang setiap hari ia lihat.
"Ah apa aku sudah gila karena memikirkan dia terus," gumam Safa merutuki tingkahnya yang dirasa konyol.
"Sadar Safa kamu hanya seorang janda, mana mungkin perjaka seperti Zidan mau denganmu," gumam Safa seorang diri.
Di saat yang sama Zidan juga sedang memikirkan Safa. "Ah padahal baru berpisah tapi kenapa rindu seberat ini, apa dia juga merasakan hal yang sama padaku?" Tanya Zidan pada dirinya sendiri.
Ia ingin mengungkapkan perasaannya pada janda beranak satu itu. Zidan memang mudah sekali jatuh cinta pada wanita tapi tak pernah seberat ini ketika berpisah dengan Safa.
Saat kamu mencintai seseorang kamu tidak tahu kapan cinta itu dimulai.
Kehidupan Zidan sudah kembali seperti semula. Tapi ia harus menghadapi karyawan yang belum terbiasa melihat wajahnya. Meskipun sama-sama tampan jika dibandingkan dengan wajahnya yang dulu, tapi ia seperti orang baru yang baru masuk kerja di kantor.
Pagi ini hari pertama Zidan masuk ke kantor dengan wajah yang berbeda. Ia ditemani oleh Leo asisten pribadi ayahnya. Leo mengumpulkan sejumlah orang untuk menyambut kedatangan Zidan kembali di kantornya.
"Selamat pagi," sapa Leo pada orang-orang yang hadir di ruangan itu.
"Pagi," jawab mereka secara serempak.
"Hari ini saya akan mengumumkan kembalinya putra pemilik hotel ini, tuan muda Zidan..." belum selesai Leo meneruskan kata-katanya orang-orang itu riuh membicarakan Zidan.
"Mohon tenang." Leo meninggikan suaranya. "Beberapa waktu lalu beliau mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan di wajahnya sehingga ia harus menjalani operasi plastik, jadi inilah tampilan tuan muda saat ini," tegas Leo.
Mereka mengangkat hormat pada Zidan. Zidan pun membalasnya. Usai memperkenalkan Zidan, Leo memperkenalkan seorang wanita muda dengan penampilan yang modis
"Namanya Astrid, dia yang akan membantu pekerjaan anda di sini," ucap Leo memperkenalkan sekretaris baru pada Zidan. Astrid tersenyum sebagai tanda hormat pada Zidan. Zidan hanya menarik ujung bibirnya sedikit ketika melihat Astrid.
"Baik, tugas saya selesai. Saya akan kembali ke kantor pusat," pamit Leo.
"Terima kasih, Leo," ucap Zidan pada laki-laki yang usianya tak jauh beda dengan Zidan itu.
Setelah kepergian Leo, Zidan meminta Astrid melaporkan apa saja yang perlu ditangani oleh Zidan. Ia sudah banyak ketinggalan karena beberapa bulan tidak kembali ke rumah setelah kejadian kecelakaan itu.
Zidan fokus mengerjakan pekerjaannya hingga jam makan siang tiba. Ia melirik ke arah handphonenya. Ingin sekali ia mengajak Safa makan siang hari ini. Lalu ia memiliki ide.
"Astrid, apa ada jadwal penting setelah jam makan siang?" Tanya Zidan pada sekretarisnya.
"Tidak ada, Pak."
"Baiklah, mungkin aku akan sedikit terlambat masuk setelah makan siang, jadi kamu handle dulu pekerjaan sampai aku kembali," perintah Zidan pada Astrid.
"Baik, Pak."
Lalu Zidan berjalan hingga ke area parkir mobil. Ia masuk ke dalam mobil berwarna merah menyala itu. Lalu ia menyalakan mesin kuda besi yang ia kendarai. Siang ini Zidan berencana mengajak makan siang Safa sehingga ia pergi ke rumah sakit tempat Safa bekerja.
Mobil Zidan tengah memasuki area parkir rumah sakit. Semua mata tertuju pada mobil mewah berwarna merah tersebut.
"Wah, siapa kira-kira yang punya mobil itu? Pasti dia sangat kaya," seseorang sedang membicarakan Zidan.
Zidan keluar dari mobilnya dengan gagah. Setelan jas yang rapi dengan kacamata hitam yang sesuai membuat orang-orang yang melihat Zidan terpesona terutama kaum hawa.
"Bukannya itu sopirnya dokter Safa?" Gumam salah seorang yang mengenalinya.
Zidan berjalan dengan gagah menyusuri koridor rumah sakit. "Apa anda melihat dokter Safa?" Tanya Zidan pada salah seorang perawat yang kebetulan lewat di depannya.
"Beliau ada di ruang operasi sedang melakukan bedah plastik," ungkap perawat yang ditanya oleh Zidan tersebut.
"Baiklah, terima kasih," jawab Zidan sambil tersenyum.
Lalu Zidan menunggu di depan ruang operasi. Tak lama kemudian Safa keluar dari ruangan itu. Ia melihat sesosok laki-laki yang berdiri membelakanginya.
"Anda suami pasien?" Tanya Safa pada Zidan.
Sedangkan Zidan yang mengenali suara itu langsung berbalik badan. "Apa aku ini terlihat sudah menikah?" Ledeknya.
Wajah Safa terlihat merah merona. Ia malu sekali bertemu dengan laki-laki yang dia sukai. Apalagi pakaian yang ia kenakan masih berantakan karena habis menjalankan operasi.
Safa merapikan rambutnya dengan cara menyisirnya dengan jari. "Ada apa datang kemari?" Tanyanya ketus pura-pura tak menginginkan kehadiran Zidan padahal dalam di dalam hatinya ia sedang tersenyum bahagia.
"Apa aku tidak boleh datang ke sini? Padahal aku ingin mengajakmu makan siang." Zidan berbalik hendak meninggalkan Safa.
"Tunggu!" Safa menghentikan Zidan. "Ayo," Safa berjalan lebih dulu melewati Zidan.
"Jadi kita makan di mana?" Tanya Safa yang telah rapi seusai mengganti baju seragamnya.
"Bagaimana kalau di kantin rumah sakit saja?" Zidan meminta pendapat. Safa terlihat kecewa mendengar ucapan Zidan.
"Kenapa tidak di restoran mewah seperti waktu itu sih?" Batin Safa.
Zidan memperhatikan wajah Safa yang terlihat kecewa. "Maaf waktu istirahatku hanya sedikit." Zidan mencoba memberi pengertian pada Safa.
Tak lama kemudian Selly datang. "Etcie...cie... Ada yang datang berkunjung eh ngapel," Selly menyenggol bahu Safa. Wajah Safa sudah seperti kepiting rebus.
"Mau ikut makan siang sekalian?" Tawar Zidan.
"Ah tidak usah, nanti aku ganggu acara kalian. Sudah sana pergi habis ini kamu kan ngisi kuliah." Selly mendorong Safa hingga Safa hampir saja terjatuh. Untung saja tangan Zidan sigap menangkapnya. Sejenak pandangan mereka bertemu. Antara Zidan dan Safa sama-sama canggung.
Safa yang salah tingkah memilih berjalan lebih dulu meninggalkan Zidan. Zidan mengulas senyum melihat tingkah Safa yang menggemaskan.
"Perjaka dapat janda, aih kalian ini bikin iri," gumam Selly sambil senyum-senyum sendiri melihat pasangan itu.
"Mau pesan apa?" Tanya Safa mulai pembicaraan lebih dulu.
"Apa saja," jawab Zidan.
"Kamu tahu jawaban apa saja itu ambigu, banyak artinya," cibir Safa.
"Kenapa kamu jadi sensitif sekali," Zidan terkekeh. "Bagaimana kabar Willa?" Tanya Zidan.
"Sementara aku bekerja aku menitipkannya di tempat penitipan anak sampai aku selesai bekerja. Aku sudah sepakat dengan Willy untuk gantian menjaga Willa."
"Jadi apa kau merasa kesulitan setelah aku tidak lagi bekerja denganmu?" Tanya Zidan.
"Tentu saja, sampai sekarang aku belum sempat mencari penggantimu, maksudku pengasuh Willa yang baru."
"Bagaimana kalau kita asuh Willa sama-sama?"
Deg
Jantung Safa berdebar kencang. "Apa maksudmu?" Tanyanya lirih.
Aku kasih visualnya ya
Safa Kamila
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ririe Handay
Zidan to the poin we
2022-12-06
0