Willy turun dari mobil. Ia mencoba mendekat ke hotel. "Tolong pertemukan aku dengan atasanmu!" Pintanya pada security.
Dua orang security tersebut saling melempar pandang. "Siapa kau?" Tanyanya tak ramah.
"Aku adalah orang yang akan memberitahu di mana orang hilang yang sedang mereka cari," jawab Willy sedikit angkuh.
Lalu salah seorang di antaranya menemui asisten pribadi atasan mereka yang bernama Leo. "Pak, ada orang yang mengaku mengetahui keberadaan tuan muda," lapornya. Leo tak banyak bicara dia langsung menemui orang itu.
Leo berjalan cepat lalu berhenti di hadapan Willy. "Benarkah anda mengetahui keberadaan tuan muda?" Tanya Leo to the point.
"Cih, tuan muda? Benarkah Roni sekaya ini? Ah aku tidak peduli yang penting dia menyingkir dari kehidupan Safa," batin Willy geram.
"Apa anda keluarganya?" Tanya Willy lebih lanjut.
"Katakan saja!" Gertak Leo.
"Aku tidak akan mengatakannya kalau tidak berhadapan langsung dengan keluarganya," balas Willy tak mau kalah.
Leo berbalik. "Usir dia! Orang ini hanya ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan," kata Leo dengan tegas saat memberi perintah pada bawahannya.
"Sial, dasar orang sombong," batin Willy geram. Ia sampai mengepalkan tangannya. Ternyata menemui keluarga Roni tak semudah yang ia bayangkan.
Kedua security tersebut mengusir Willy secara tidak hormat. "Lepaskan! Aku bisa pergi sendiri." Willy memberontak ketika kedua tangannya dipegang oleh security. Ia merapikan kembali pakaian yang ia pakai.
Willy memasuki mobil dalam keadaan kesal. Ia menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. "Aku harus cari cara lain untuk memisahkan laki-laki itu dengan Safa dan Willa," gumam Willy dengan bersungut-sungut.
Tak lama kemudian Julian, ayah Zidan kembali dari suatu tempat ke hotelnya. Leo menyambut atasannya itu. "Apa ada sesuatu yang terjadi ketika aku tidak di tempat?" Tanya Julian pada Leo.
"Seseorang mengaku menemukan keberadaan tuan muda, Pak," lapor Leo.
"Lalu di mana dia?" Tanya Julian antusias. Akhirnya ia menemukan titik terang setelah berbulan-bulan mencari keberadaan anaknya yang hilang. Tak ada yang melapor soal kecelakaan yang menimpa Zidan. Sebab ketika Zidan dibawa ke rumah sakit, tidak ada tanda pengenal yang bisa dijadikan petunjuk untuk menghubungi keluarganya. Kemungkinan dompet dan handphone milik Zidan ikut terbakar saat berada di dalam mobil.
"Saya mengusirnya, Pak," jawab Leo menunduk.
Julian menatap asisten barunya itu dengan tajam. "Kenapa kamu mengusirnya?" Julian meminta penjelasan. Ia sudah bahagia saat ada orang yang memberi informasi keberadaan putranya tapi kini Leo mengusirnya begitu saja.
"Dia hanya orang yang memanfaatkan situasi, Pak. Dia tidak bersungguh-sungguh mengetahui keberadaan tuan muda," Leo menyampaikan pendapatnya.
Julian mengusap wajahnya kasar. Ia sedikit kecewa dengan sikap Leo. "Seharusnya kamu menungguku, jangan mengambil keputusan tanpa perintahku," kata Julian dengan nada kecewa.
Leo menunduk karena merasa bersalah. "Maafkan saya, Pak."
"Bukankah kamu tahu sendiri keadaan istriku setelah menghilangnya Zidan. Karena saat itu dialah orang terakhir bertemu dengan Zidan." Ada gurat kesedihan di wajah Julian. Dadanya terasa sesak mengingat putra satu-satunya di keluarganya harus menghilang tanpa kabar.
"Cepat cari orang tadi. Aku mau membuktikan apakah dia benar-benar mengetahui keberadaan Zidan atau tidak. Meskipun Zidan ditemukan dalam keadaan tak bernyawa sekalipun," ucapnya menahan diri. Julian berusaha tegar di hadapan siapapun.
Leo pun menuruti perintah atasannya. Leo bingung harus mencari kemana orang tadi. Sebab ia tak memiliki petunjuk sama sekali. "Ah CCTV, pasti ada plat mobilnya," gumam Leo yang menemukan sedikit titik terang.
Ia pun menuju ke bagian keamanan. "Tolong perlihatkan rekaman satu jam lalu. Kau mencari nomor plat mobil seseorang." Perintah Leo pada orang yang berada di depan layar komputer.
"Baik, Pak," jawabnya patuh.
Lalu ia memutar isi rekaman. "Tunggu dia orangnya. Catat plat mobilnya!" Bawahannya pun menulis di secarik kertas lalu menyerahkan pada Leo.
"Baiklah, ada petunjuk. Aku tinggal pergi ke kantor polisi untuk mencari tahu siapa pemilik mobil ini," gumam Leo bermonolog.
Ketika Leo keluar dari ruangan itu ia bertemu dengan Sofia. Sofia adalah Kakak kandung Zidan.
"Leo," panggilnya. Leo tersentak kaget.
"Ada di ruangannya, non." jawab Leo gugup.
"Leo bisakah kamu antarkan aku ke sebuah rumah sakit, aku pindah rumah sakit hari ini, tapi mobilku kempes tak jauh dari hotel jadi aku sekalian meminta tolong padamu. Bisakah kamu mengabulkannya?"
Suara merdu wanita berhijab di hadapannya itu sungguh membius Leo. Leo selalu tak berkutik setiap berhadapan dengan nona mudanya itu. Parasnya yang cantik serta pembawaannya yang kalem membuat semua orang tertarik padanya.
"Ba-baik," jawab Leo gugup. Ia pun menuruti permintaan Sofia. "Tapi saya akan izin pada pak Bos dulu, Nona." Sofia mengangguk.
Setelah Leo mendapatkan izin, ia mengantarkan Sofia ke sebuah rumah sakit yang tak lain adalah rumah sakit dimana Safa bekerja.
*
*
*
"Woi," Selly menepuk bahu Safa yang sedang melamun.
"Siang-siang jangan melamun nanti kesambet setan lho," imbuhnya menakut-nakuti Safa.
"Nggak takut," Safa menjulurkan lidahnya.
"Eh gimana kabar sopir amnesiamu itu?" Tanya Selly penasaran.
"Kenapa tiba-tiba kepo gitu?"
"Ah nggak, udah lama aku nggak denger kabarnya? Sampai kapan dia akan menumpang di rumahmu?" Tanya Selly pada Safa.
Safa menggedikkan bahunya. "Aku nggak pengen dia cepet-cepet pindah," jawaban Safa membuat Selly geleng-geleng kepala.
"Wah parah, mau dijadiin simpanan ya?" celetuk Selly asal. Safa memicingkan matanya.
"Bukanlah, aku masih butuh sopir dan pengasuh untuk Willa. Aku belum sempat cari penggantinya Asih," akunya.
Selly menyenggol bahu Safa. "Halah itu mah alasan kamu aja. Lain kali ajaklah ke sini. Aku juga mau kenalan sama cowok ganteng kaya dia." Selly tak henti-hentinya menggoda Safa.
"Kamu mau dapat cowok ganteng kaya dia?" Selly mengangguk cepat.
"Dengerin ya!" Safa mendekatkan diri pada Selly. Selly tampak menurut. "Kamu cari korban kecelakaan yang wajahnya rusak nanti kamu operasi wajahnya biar sama gantengnya dengan Roni," ledek Safa. Selly refleks mendorong Safa.
Ia hampir saja terjatuh. Tapi dua buah tangan menangkapnya. Safa menoleh ke belakang. "Kamu?" Tanyanya heran. Safa menegakkan kembali badannya. "Kenapa kamu di sini?" Tanyanya lagi pada Roni.
"Bunda," panggil Willa yang berlari ke arah Safa. Safa pun menangkap tubuh Willa.
"Ehem," Selly berdehem untuk mengingatkan keberadaannya.
"Hai," dia melambai ke arah Roni. "Boleh kenalan nggak?" Selly yang genit mengulurkan tangannya kepada Roni.
Roni terdiam lalu Selly menggoyangkan tangannya agar Roni membalasnya. Roni yang baru sadar pun membalas uluran tangan Selly.
"Zidan," tanpa ia sadari. Roni menyebut nama aslinya. Hal itu membuat Safa dan Selly saling bertukar pandang. Zidan masih tak menyadari kesalahannya.
Dan tak sengaja seseorang yang baru sampai di tempat itu mendengar nama yang tak asing baginya.
♥️♥️♥️
mampir ya ke novel temen aku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ririe Handay
Sofia
2022-12-06
1
AdindaRa
Aku mampir lagi kak.
Ikut Kokka dan lanjut baca. Kereeen 😍
2022-11-06
2