BAB 17

*Hanya fiktif belakan, jangan lupa bantu tebar gift dan vote ya kakak, agar cepar lolos kontrak.*

Di dalam ruangan tersebut, terdapat banyak frezer daging yang berukuran besar. Di atas bagian masing-masingnya, terdapat label dengan tulisan : Jantung, Hati, Ginjal, Kornea, Pankreas, Paru-paru.

"Ini semua—" Antonie tidak melanjutkan ucapan dan terus masuk ke bagian dalam.

Di hadapan mereka, tampak persiapan pembedahan terhadap seseorang yang masih memiliki denyut jantung, terlihat pada layar Elektrokardiograf (EKG). Namun, muncul beberapa pertanyaan mencurigakan dalam kepala Antonie.

'Kenapa harus di tempat ini?'

'Apa tidak bisa melakukan semuanya di ruang bedah biasa?'

"Sepertinya mereka akan melakukan pembongkaran pada tubuh manusia secara ilegal, Tuan." jawab System.

'Bukan kah hal itu dilakukan jika sesuai persetujuan keluarga dan si pasien sendiri?' batin Antonie.

Layar kaca mata Antonie kembali menjadi gelap. Di sana, terdapat keterangan bahwa pasien ini memiliki kasus yang sama seperti Rizki. Dalam keadaan mati otak (koma) tetapi keluarga tidak bisa dihubungi.

Dia seorang perempuan muda berusia delapan belas tahun. Dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan mati otak semenjak sebulan lalu. Tetapi orang yang menabrak dan yang biasa membiayainya menghilang semenjak seminggu yang lalu. Orang tuanya tidak diketahui, dan pihak rumah sakit tidak tahu harus menghubungi ke mana.

'Jadi hal ini lah yang membuat mereka begitu gigih mencari Rizki? Ini lah rahasia di balik semua?' batin Antonie berbicara dengan System.

'Sebelum semuanya dimulai, bantu aku untuk menghentikan para mafia ini, System!' ucap Antonie mulai bergerak.

Langkah pertama yang dia lakukan adalah dengan mengacak persiapan yang hampir rampung. Pria tadi yang mereka ikuti, telah menggunakan pakaian operasi.

braaaak

Alat-alat medis didorong Antonie hingga pisau, pingset, gunting, dan alat bedah lainnya berceceran di lantai. Semua yang menyaksikan kejadian tersebut, hening dalam sesaat.

"Kamu berhati-hati dalam bekerja! Semua benda itu sudah disterilkan. Kalau jatuh begini, alat-alat tersebut tidak bisa digunakan lagi!" ucap seseorang yang terlihat penting dalam tim tersebut.

"Segera ganti peralatannya! Kita harus melakukan ini dengan cepat!" ucap pria yang diikuti oleh Antonie tadi, yang tak lain adalah Dokter Bagas.

"Siap!" semua anggota tim dalam ruang ini mengucapkannya dengan serempak.

Setelah mereka menyiapkan alat-alat yang baru, kali ini Antonie memilih memukul bok*ng salah satu dari anggota tim bedah itu.

"Hey, lu? Kita ini tidak sedang main-main!" marah kepada seorang yang berada di sebelahnya.

"Apaan sih lu?" ucap yang dimarahi protes.

Semua sudah memasang sarung tangan bedah. Dengan anggukan kepala, mereka seperti akan memulainya.

Namun, meja bedah tersebut bergetar hebat. Membuat yang ada di sana tercenung dengan sesaat.

"Siapa yang goyang-goyangkan?" bentak salah satu dari mereka.

Lalu, mereka saling melihat dan tidak ada yang tersentuh meja bedah. Lampu ruangan itu mulai mati dan hidup berulang kali. Semua yang ada di dalam sana mulai terlihat panik.

"Apa yang terjadi?" Mereka mulai terlihat takut.

"Jangan-jangan, mereka marah kepada kita?" salah seorang yang menggunakan baju bedah memeluk teman yang ada di sampingnya.

"Maksud lu hantu?" Orang yang dipeluk mendorong temannya yang memeluk.

"Iya ...." Dia kembali memeluk.

"Ekheemm ...." Dokter Bagas berdehem dengan penujh wibawa. Sehingga semua yang ada di sana berdiri mencoba untuk tenang meski penerangan terus berkelap-kelip.

"Kita tunggu beberapa saat, siapa tahu di luar sana sedang melakukan perbaikan sistem pada kelistrikan rumah sakit ini." ucap pria yang terihat cukup disegani dalam ruangan ini. Pria itu berdiri di samping Dokter Bagas.

Setelah beberapa waktu, pencahayaan kembali normal. Lalu mata mereka saling menatap serius dan mengangguk.

"Kita harus cepat!" titah Dokter Bagas.

Namun, kali ini semua peralatan melayang. Semua terperenjat dan ada yang terjatuh duduk dan ketakutan.

"Ha-ha-hantuuuuu ...." Salah satunya bangkit dan keluar dari ruangan tersebut. Beberapa orang mengikuti dan berlari menuju lift dan naik ke permukaan.

Sementara, Dokter Bagas dan pria di sebelahnya hening menunggu alat-alat itu turun kembali. Dokter Bagas menyentuh pundak pria yang ada di sampingnya.

"Kamu tenang saja, Denish!" ucapnya.

"Tapi, Pa? Apa yang terjadi?"

Antonie dalam mode tak terlihatnya menyunggingkan senyum tipis. 'Ayah dan anak ternyata.' batinnya.

Antonie menjentikan jemari, sehingga membuat seseorang yang hendak dibedah terduduk. Hal ini membuat Dokter Bagas dan anaknya mundur dan turut keluar.

Sementara, Antonie baru teringat bahwa yang ada di meja bedah ini adalah seorang remaja perempuan. Dia tercengang atas apa yang dilihat, sehingga hidungnya mengeluarkan darah.

System membungkus tubuh gadis itu dengan selimut bedah. "Apa Anda sudah nyaman jika begini, Tuan?" tanya System.

"Lalu kita akan berbuat apa?" Antonie mulai merasa gugup.

"Kita bawa pulang." ucap System langsung meneleportasi mereka berdua.

Beruntung, saat mereka sampai, Rizki sedang tidak ada di tempat. "Ke mana dia?" tanya Antonie.

"Tenang, saja Tuan. Rizki tidak akan bisa pergi darimu karena System telah membuat dia akan kembali otomatis ke sini pada jadwal makan Anda." terang System.

"Jadi, gadis muda ini akan kita apakan?" tanya Antonie bingung.

"Sama seperti yang Anda lakukan Pada Rizki, Tuan." ucap System.

"Ta-tapi, dia ini cewek, Syst—" ucapnya gugup.

"Dalam dunia kedokteran, tak ada perbedaan gender dalam pemberian perawatan dan pengobatan. Begitu juga dengan Anda." ucap System lagi.

"Ta-tapi aku—"

"Lakukan lah secepatnya!" terdengar bentakan dari System.

Hal ini membuat Antonie sedikit takut. System yang biasanya calm, tiba-tiba saja membentak dia. Sehingga dengan terpaksa, Antonie bergerak melakukan ritual yang sama seperti dengan yang dilakukan sebelumnya kepada Rizki.

Saat sedang melakukan penyembuhan pada gadis yang tidak dikenal itu, sebuah bayangan dengan wajah yang sama datang mendekat. Bayangan itu adalah jiwa gadis muda yang disembuhkan oleh Antonie.

Dia merasa sangat marah melihat Antonie seakan mengotak atik rambutnya yang indah. Namun, Antonie tidam menyadari kedatangan jiwa gadis tersebut.

Jiwa gadis muda itu mendekat dan terlihat marah. —plaaaak—

Antonie membuka matanya mendapat sebuah tamparan. Kali ini hidungnya kembali mengeluarkan darah.

Terpopuler

Comments

Sang M

Sang M

Matamu...

2025-02-27

0

shadow life

shadow life

yes

2022-12-07

1

shadow life

shadow life

ya

2022-12-07

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 104 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!