BAB 12

"Hah? Saya rapat di sini? Kapan rapatnya? Kenapa saya tidak mengingatnya sama sekali?"

Dilla mengerutkan keningnya. "Anda jangan bercanda. Tadi pagi kita kan rapat. Akhirnya rumah sakit ini akan melakukan uji coba alat terapi yang baru dirakit oleh perusahaan kita." terang Dilla.

"Hah? Kapan? Siapa yang memimpin presentasinya?" Angela masih merasa bingung atas segalanya.

"Bu ... Jangan Ibu bilang tiba-tiba mengalami amnesia?" ucap Dilla dengan wajah serius.

"Apaan sih kamu? Saat ini kondisiku oke banget. Nafas tidak sesak, dan tidak ada hal atau kecelakaan besar yang bisa membuatku amnesia."

Dilla menepuk keningnya melihat sang atasan yang sedikit aneh.

*

*

*

braaaak

Dokter Hardan, pimpinan Rumah Sakit Pelita Harapan, baru saja menggebrak meja kerjanya. Dia terlihat marah besar mendapat tudingan karena berita yang baru saja melejit. Rumah sakit tersebut dianggap tidak becus dalam menangani pasien, sehingga pasien hilang begitu saja, pihak rumah sakit tidak ada yang tahu.

Bermacam komentar negatif mulai bermunculan, hingga rating Rumah Sakit Harapan Kita yang biasanya sempurna, hari ini turun. Bagi Dokter Hardan si penyuka kesempurnaan, merasa ada yang tengah mencoreng wajahnya.

"Anak sialan yang hampir mati saja, bisa menjatuhkan ratting rumah sakit ini dengan sekejap." gumamnya sendirian di ruang kerja Dirut Rumah Sakit Harapan Kita.

"Beruntung berita sebenarnya masih tertutupi. Jika masyarakat tahu kenyataan sebenarnya, maka rumah sakit ini akan bangkrut. Ini semua karena bocah preman itu! Semoga saja dia telah ma .ti tanpa ada yang mengetahui keadaannya." monolog Dokter Hardan.

Dokter Hardan menelan panggilan cepat menghubungi asistenya. Beberapa detik kemudian, terdengar ketukan dari balik pintu ruangannya.

"Masuk!" ucap Dokter Hardan.

Seorang pria berpakaian putih, sama sepertinya muncul dari balik pintu itu. Dia adalah Dokter Bagas, orang kepercayaan Dokter Hardan—ayah Sonya.

Dokter Bagas menundukan kepalanya sebagai tanda penghormatan kepada pimpinan utama rumah sakit terbesar di kota ini. "Apa ada yang Anda butuhkan, Dok?"

"Coba kamu lacak pria yang terekam oleh CCTV itu! Setelah ini perintahkan untuk para officer untuk memasang CCTV di dalam ruang perawatan juga! Jangan hanya sekedar di lorong dan beranda saja!"

Dokter Bagas tampak sedikit tercekat. "Bukan kah hal tersebut terlalu berlebihan, Dok? Pasien akan merasa tidak nyaman."

"Lakukan saja! Saya tidak ingin kecolongan lagi!" Dokter Hardan mengepalkan tangannya kesal.

"Cari informasi pria yang masuk, dan tidak keluar-keluar lagi itu! Saya rasa, dia lah pelaku yang membuat pasien remaja pria itu hilang dari rumah sakit ini!"

Dokter Bagus menganggukan kepalanya, lalu memohon diri keluar dari ruangan tersebut. Tak beberapa lama Sonya, putrinya masuk sembari menggulung rambutnya pada ujung jemari.

"Daddy ...." Sonya menyelonong masuk tanpa kode.

Dokter Hardan hanya mendelik. "Kenapa tidak ketuk pintu terlebih dahulu?"

Sonya langsung duduk di sofa yang terdapat di ruangan tersebut. "Aku ini anak Daddy ... Aku rasa aku tak perlu terlalu formal sama Daddy. Lagian kita cuma berdua aja."

"Hmmmfff ...." Dokter Hardan menahan amarahnya. Seakan sudah hafal pada tabiat sang putri, Dokter Hardan segera mengeluarkan ponselnya. "Berapa?" tanyanya langsung pada Sonya.

Sonya mengeluarkan sengiran manjanya terhadap sang ayah. "Daddy is the best deh. Kali ini lima aja, Dad ..."

"Uang minggu lalu ke mana?" Kening Dokter Hardan berkerut kesal.

"Kameraku rusak, Dad. Kemarin jatuh dengan hempasan yang sangat keras. Jadi, uang ini buat perbaikan kameraku."

"Apa kamu tidak bisa meniru Sony, kakakmu? Dia tidak pernah membuat ulah sama sekali. Bukan seperti kamu yang setiap saat bikin rusuh. Bahkan saat ini melanjutkan S-3 di Harvard tanpa merogoh uang Daddy sepersen pun."

Sonya mendengkus, setiap saat dia selalu jadi perbandingan dengan kakak yang berbeda sepuluh tahun di atasnya. "Sudah lah, Dad. Aku ke sini sebagai anak Daddy, bukan untuk dibandingkan seperti ini."

"Bagaimana pun, antara aku dan Kak Sony tak akan pernah sama."

Setelah notifikasi dana masuk pada akun keuangannya, Sonya bangkit dan pergi begitu saja, tanpa pamit.

"Hmmmmfff ... Anak itu, jika masih seperti itu, aku akan mengembalikan dia pada wanita si alan itu." gumam Dokter Hardan dengan wajah dingin.

*

*

*

Keesokan pagi, Antonie bangun dari tidurnya duluan. Dia bersiap menyambut adik barunya yang akan dijadikan sebagai koki.

Tubuh Rizki terlihat menggeliat. Perlahan dia membuka mata, dan langsung terbelalak melihat wajah Antonie yang terlalu dekat dengan wajahnya.

Dengan segera dia menggulingkan tubuhnya turun ke lantai. "Lu siapa?" tanyanya mulai bangkit.

"Lhoh? Rizki? Kamu melupakan aku? Aku ini kakakmu!" ucap Antonie ikut bangkit memegang bahu Rizki.

"Jangan gila! Gue itu tak punya kakak! Adik gue pun masih kecil jauh di kampung!"

"Rizki, setelah apa yang aku lakukan, kamu melupakanku begitu saja?"

Antonie terus melanjutkan drama adik kakaknya hingga beberapa waktu kemudian. Padahal dia sudah tahu lewat informasi yang diberikan oleh System, bahwa pria muda ini tak mengingatnya sama sekali.

"Kamu harus sopan padaku! Jika kamu bersedia tinggal di sini, aku akan memberikan dua keping emas dengan masing-masing berat sepuluh gram. Kamu bisa menjualnya dengan bebas."

Otak Rizki langsung menghitung jumlahnya. Setelah menghitungnya, Rizki memasang wajah tak percaya. "Emas yang ada di sana, murni gak sih? Jangan-jangan emas palsu?"

"Kamu bisa mengeceknya langsung di toko emas atau perhiasan. Jika kamu sudah percaya, kamu bisa kembali ke sini lagi. Kamu cukup mengerjakan satu hal untukku!" terang Antonie.

"Ogah gue! Ogah diatur-atur sama orang aneh kayak lu! Lagian punya emas segitu banyak, masa tinggal di gubuk reot penuh derita ini?" Rizki membuang mukanya. Dia masih belum percaya sepenuhnya pada Antonie.

Antonie bergerak menuju lemari di mana emas-emas itu disimpan. Antonie mengambil dua keping yang sedikit tebal. Lalu dia hendak menyerahkannya pada Rizki.

Namun, reaksi Rizki sungguh di luar dugaan. Dia menempelkan kedua telapak tangan ke telinga. "Ampuun ampuuun, jauh kan benda itu dari gue! Itu bukan emas, tapi pikachu kan? Gua gak mau disentrum lagi." Rizki setengah merengek menolak mentah-mentah benda berharga yang diberikan Antonie.

tok

tok

tok

"Antonie? Ada orang di dalam?" terdengar sebuah panggilan dari balik pintu.

Orang yang dipanggil pun bergerak membukakan pintu. Seorang pria separuh baya terlihat sedikit gusar. "Antonie, tolong saya. Ayo ikuti saya." Pria paruh baya tersebut langsung menarik Antonie menuju rumahnya.

Rizki yang merasa pemasaran pun mengikuti langkah kedua orang tersebut. Pria paruh baya tersebut membawa Antonie ke sebuah rumah.

Antonie sudah mendeteksi apa yang terjadi di dalam sana. Tampak seorang wanita muda tengah kesakitan dengan perut yang sangat besar. Antonie pun segera bergerak menuju wanita muda itu kesakitan.

Di samping wanita muda itu tampak wanita paruh baya menangis memeluk wanita muda yang kesakitan tadi.

Di dalam perut wanita muda itu, terlihat makhluk panjang yang sangat banyak.

...****************...

Hay hay ... Jangan bosan ya baca hingga bagian bawah. Author selalu ingin memperkenalkan karya keren dari sahabat-sahabat Author yang kece baday. Yuk kepoin ....

Napen: Chika SSi

Judul: Sisi Gelap Seorang Hakim

Terpopuler

Comments

Jumadi 0707

Jumadi 0707

knp anak teman dijadiin adek mc mending kalo cewe bt mantap thor

2024-12-28

0

yuce

yuce

nocah preman ditolong gak guna. sonya sianak manja tahunya cuma mina duit.

2022-11-15

1

Hades Riyadi

Hades Riyadi

MC-nya Naif bangeett...si Rizky suruh minggat ajaahh... payaaahh 🤔🙄👎👎👎

2022-09-22

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 104 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!