BAB 3

Tanpa berpikir panjang lagi Antonie mengambil benda tersebut dari tangan Dewa itu. Bentuknya yang unik bin aneh membuat Antonie sedikit merasa geli membayangkan saat menggunakannya.

"Benda ini akan membuatmu menyembuhkan manusia tanpa obat-obatan."

"Kamu tidak boleh menghilangkannya! Jika kamu menghilangkannya, maka kamu akan kehilangan semua kekuatanmu."

"Lalu apa lagi dampak yang terjadi jika kaca mata ini hilang?" Antonie menilik benda tersebut bolak balik.

"Kamu akan kembali ke kondisi sebelumnya." ucap Sang Dewa.

"Meninggal?"

Dewa mengangguk dengan wajah datar, tanpa senyum. "Kamu bisa bertanya langsung pada benda tersebut setelah mengaktifkan sistemnya."

"Maksudnya?"

*

*

*

"Udah mati apa masih hidup?" tanya seseorang yang memegang karung, dengan pakaian lusuh, memegang sebuah besi yang ujungnya melengkug untuk menarik sampah.

Mereka semua tengah melihat sosok pria kurus berpakaian lusuh, dengan muka sudah tidak bisa diidentifikasi. Dia terlihat begitu lelap, seolah tak memedulikan aroma busuk yang keluar dari sampah-sampah yang ditidurinya.

Salah satu pemulung menempelkan teliganya pada dada pria yang tampak tidur dengan lelap tersebut. Pria yang tadinya tidur dengan lelap mulai menggeliat karena merasa geli.

"Weih, masih hidup ni orang."

Antonie mulai membuka mata secara perlahan. Tiba-tiba dia bangkit dengan cepat karena hidungnya tak kuat mencium aroma busuk yang sangat menyengat. Antoni berlari menjauh dari gunungan sampah sembari menutup hidung dan menahan nafas.

Antonie memuntahkan segala hal yang ada. Padahal perutnya tidak terisi sama sekali lebih dari 24 jam. Sehingga yang mampu dileluarkan hanya sesuatu berbentuk cairan bewarna kuning, hingga meninggalkan rasa pahit di lidahnya.

Antonie tak habis pikir. Biasanya aroma ini adalah sesuatu yang biasa bagi hidungnya. Namun kenapa kali ini jadi berbeda?

"Kenapa tidur di sini, Bung? Apa tidak ada tempat lain yang bisa kamu tinggali?" tanya pria yang memeriksa denyut jantung Antonie tadi telah berada di dekatnya.

"Kamu, sampai di sini karena akan mengemban tugas penting di bumi."

Suara itu kembali terngiang di telinganya. Dia teringat pada kejadian di saat tengah sibuk memilah-milah sampah, tiba-tiba saja tubuhnya mendapat hantaman yang luar biasa keras hingga mengantarkanya ke alam nirwana bertemu pria tua yang kemungkinan adalah seorang dewa.

Antonie kembali teringat akan kaca mata yang diberikan oleh dewa. Antonie memeriksa dan mencari benda tersebut di antara pakaian dan celananya yang lusuh dan kumuh.

"Bung? Apa kamu bisa mendengar dengan baik?" pria tersebut menyentuh pundak Antonie terlihat sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Antonie terkejut dan gelagapan menyadari ada sentuhan di pundaknya. "A-a—"

"Apa kamu mencari sesuatu? Kamu pasti sangat lapar? Ayo ... Kamu ke rumah saya dulu."

Antonie mencoba mencari benda yang dititipkan dewa kepadanya. Dan, akhirnya —pluk— sebuah benda berbentuk kaca mata jatuh dari dalam celana. Anehnya, kaca mata tersebut, terlihat berbeda dengan yang diberikan dewa. Benda yang ada di tangannya persis sama seperti kaca mata pada umumnya.

"Aku sengaja mengubah bentuknya supaya manusia-manusia di bumi tidak curiga. Jangan biarkan manusia lain mengetahui kekuatan kaca mata tersebut."

Sebuah suara seakan menggema di dalam telinganya. Kepala Antonie bergerak ke kiri dan ke kanan mencari sumber suara. Namun, tak satu pun bayangan dewa yang bisa dilihatnya.

"Kamu tidak perlu memikirkan aku. Yang harus kamu tahu, laksanakan lah misi dengan sebaik mungkin!"

"Baik lah, Dewa ...." jawab Antonie.

Pria paruh baya yang berdiri di hadapannya mencoba memasang telinga dengan baik. "Barusan kamu bilang apa?"

"Tidak apa, Pak. Baik lah, Pak. Saya akan ikut ke rumah Bapak."

Sepanjang perjalanan, di dalam pikiran Antonie keluar bayangan akan sebuah rumah sakit besar yang sangat terkenal di kota tempat dia tinggal. Ada beberapa bayangan wajah yang muncul dalam kepalanya.

'Sepertinya mereka adalah penyebab kematianku waktu itu.'

Antonie duduk pada sebuah kursi panjang yang terletak di depan rumah sederhana. Di sekeliling rumah tersebut telah terkumpul benda-benda bekas seperti botol air mineral, dus, dan sampah berbahan plastik lainnya. Benda-benda tersebut telah terkemas rapi siap untuk dijual.

Pria baik yang mengajaknya tadi adalah Pak Hasan. Saat ini di hadapan Antonie segelas teh hangat dan pisang goreng hangat buatan istri Pak Hasan.

"Nama kamu siapa, Bung?"

"Saya Antonie, Pak."

"Kamu berasal dari mana? Kenapa bisa tidur di pembuangan sampah itu?"

Antonie terdiam dan bingung memikirkan jawabannya. "Saya dari ibu kota, Pak."

"Lalu, kenapa bisa sampai ke batas provinsi seperti ini?" Antonie menggelengkan kepala.

Dalam heningnya, Antonie menyadari harus ke mana untuk meminta pertanggungjawaban atas kematiannya. Namun, saat ini dia tidak memiliki uang sepersen pun. Karena orang-orang tersebut ada di ibu kota. Setidaknya Antonie harus naik bus atau kereta agar bisa kembali ke sana.

"Pak Hasan ... Pak Hasan, tolong Ibu saya?" Seorang anak berkisar berusia sepuluh tahun berlari sambil menangis mencari pria yang duduk di samping Antonie.

"Ada apa Ron?" Pak Hasan pun melangkah kan kakinya menuju ke arah anak kecil tersebut.

"Ibu saya ... Ibu saya, Pak. Batuk-batuk dan ada darahnya." Air mata telah memenuhi pipi anak itu, dan wajahnya terlihat ketakutan penuh rasa khawatir.

Pak Hasan pun bersorak pada Antonie. "Tunggu sebentar! Saya ingin melihat ibu dari Roni ini terlebih dahulu." Tanpa menunggu jawaban dari Antonie, Pak Hasan mengikuti anak yang bernama Roni.

'Sepertinya ini adalah waktu untuk mencoba kaca mata ini.' batinnya.

Antonie mencoba mengenakan kaca mata tersebut. "Selamat, kamu baru saja mengaktifkan God System yang ada pada kaca mata ini."

"Anda akan merasakan perbedaan pada tubuh dalam beberapa waktu. Jadi, mohon tunggu sejenak!"

Memang benar, Antonie merasakan perbedaan luar biasa secara tiba-tiba pada dirinya. Stamina yang tadi terasa begitu lemah, dengan ajaibnya berubah seakan memiliki tenaga yang luar biasa.

Tubuh yang tadinya kurus kering, kini terasa penuh dengan otot. Punggungnya yang sedikit bungkuk, kini mampu berdiri dengan tegak dan terlihat tinggi semampai. Rasa kepercayaan dirinya pun jadi meningkat.

"Sekarang bagaimana, Tuan? Apakah Anda sudah beradaptasi dengan keadaan yang baru?"

"Sudah ... Entah kenapa, tubuhku terasa lebih ringan?"

"Sistem telah mengubah diri Anda secara keseluruhan. Sistem harap mulai hari ini Anda tidak terkejut bila melihat bayangan diri sendiri di depan cermin."

Antonie tidak sempat memaknai maksud apa yang diucapkan oleh Sistem. "Kali ini Anda bisa langsung melaksanakan misi level pertama. Jika Anda sukses menjalani misi ini, Anda akan mendapat reward satu keping emas murni 24 karat seberat satu gram."

Antonie berjalan sesuai panduan sistem yang terletak pada kaca mata yang dia kenakan. Sistem memandunya menuju sebuah rumah yang tak jauh dari Rumah Pak Hasan tadi. Ketika melangkahkan kaki semakin mendekati rumah tersebut, terdengar suara tangisan anak kecil yang tadi.

Kaca mata ini secara otomatis membuat Antonie melihat secara langsung pasien yang hendak dicari.

dugh

Terpopuler

Comments

Inyoman Raka

Inyoman Raka

dikit sekali dapat rewadnya

2025-03-03

0

Sang M

Sang M

System guoblok...

2025-02-27

0

DINA OCTAVIA

DINA OCTAVIA

knpa system nya gak langsung nyatu aj sama jiwa mc nya , jadi gak pke hilang" segala

2022-10-25

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 104 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!