“Untuk para peserta silahkan pergi ke tempat kalian masing-masing,” kata Tomair, pembawa acara turnamen tersebut, mengarahkan para peserta untuk menuju ke sebuah tribun.
“Biar aku tebak… Kau pasti mengikuti turnamen ini karena ingin berhadapan denganku. Apa aku salah?” Saat menuju tribun terlihat Zeidonas terlihat bertanya pada Drakon.
Namun, Drakon tidak menggubris perkataan dari Zeidonas dan hanya memalingkan wajahnya saja.
“Dan tuan Elfman… Aku tidak menyangka bahwa kau juga adalah rekan dari Drakon. Sebelumnya aku meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh rekanku kemarin.” Karena Drakon tidak menggubris pernyataannya, Zeidonas pun nampak berbicara pada Raquille.
“Eh… Tidak usah dipikirkan, aku juga sudah melupakan hal tersebut,” respon Raquille.
“Hei, Zeidonas… Untuk apa kau bersikap sopan pada lawan-lawan kita?” Kata Gerhanther.
“Kau itu diam saja,” kata Zeidonas, menyuruh Gerhanther untuk diam.
**
“Baiklah… Pada turnamen ini terdapat dua macam pertandingan yang harus diikuti oleh para peserta.” Setelah semua peserta telah sampai, pembawa acara turnamen tersebut kemudian mengumumkan pertandingan yang akan diikuti para peserta.
“Pertandingan yang pertama adalah pertarungan individu, dimana dalam pertandingan ini lima petarung dari tim yang berbeda akan saling berhadapan sesuai dengan tingkatan Venerate mereka. Bagi petarung yang pertama kali mengalami kekalahan tidak akan mendapatkan poin untuk timnya. Bagi petarung yang bertahan pada posisi keempat sampai posisi kedua akan mendapatkan satu poin. Dan untuk pemenang dari pertandingan tersebut akan mendapatkan lima poin.”
“Kalau begitu… Langsung saja kita masuk pada pertandingan yang pertama dalam kelas District Venerate. Bagi anggota tim yang nama mereka tertera pada layar harap untuk segera turun kembali ke tengah arena.” Setelah pembawa acara itu mengatakan hal tersebut, layar yang berada di atas arena tersebut langsung mengacak nama-nama dari para peserta.
Tak lama kemudian, di layar langsung terlihat nama dari lima petarung pertama yang akan saling berhadapan.
Fuegonia A, Nizale Drown, 14 tahun, 163 cm, Human, District Venerate.
Fuegonia B, Heinz Flaus, 25 tahun, 175 cm, Human, District Venerate.
Machora Tira, Aleron Wilmond, 24 tahun, 179 cm, Vampireman, District Venerate.
Neodela, Jarrah Shores, 20 tahun, 171 cm, Beastman, District Venerate.
Asimir, Essal Nomos, 28 tahun, 255 cm, Giantman, District Venerate.
**
“Ayo turun Heinz… Tunjukkan pada mereka semua kekuatanmu,” kata Bohrneer, menepuk-nepuk punggung Heinz.
“Apa kau yakin aku harus melawan raksasa itu?” Heinz nampak merasa ragu saat melihat lawannya merupakan seorang Giantman.
“Sudahlah… Jangan takut dengannya, maju saja,” Namun, Bohrneer sontak meyakinkan pria itu agar tidak ragu lawannya.
“Tapi, aku perlu senjata,” kata Heinz.
“Ah benar juga,” kata Bohrneer, kebingungan.
Lalu Heinz sontak melihat pedang dari Drakon. “Hei, tuan prajurit pinjam pedangmu itu.”
“Apa tidak apa-apa? Ini hanya pedang biasa?” Kata Drakon sambil mencabut pedangnya tersebut dan memberikan pada Heinz.
“Itu tidak masalah,” Heinz kemudian mengambil pedang tersebut dan berjalan menuju tengah arena.
**
Begitu juga dengan empat petarung lainnya kini telah berada di tengah arena telah siap untuk saling berhadapan.
Terlihat seorang wasit terlihat ke tengah arena untuk memulai pertandingan tersebut.
“Semuanya bersiap… Mulai…!” Ucap seorang wasit, memulai pertandingan tersebut.
Sontak Nizale, anggota tim Fuegonia A langsung melompat ke arah Heinz lalu menendangnya dengan kuat.
Hal itu sontak membuat Heinz langsung terhempas karena tidak mengira serangan awal tersebut.
“Uwahh…!” Teriak Heinz, terhempas sampai membuatnya terkapar di tanah oleh tendangan dari gadis itu.
**
“Sial… Perempuan itu langsung melancarkan serangan kejut. Apa Heinz baik-baik saja?” Kata Bohrneer.
*
“Heh… Sesuai dugaanku ternyata orang ini lemah,” gumam Nizale dalam hati.
**
“Hei, gadis kecil… Ternyata kau bersemangat juga yah... Kalau begitu cobalah lawan aku sekarang,” Beastman perempuan bernama Jarrah sontak mendekati Nizale untuk menantangnya bertarung.
Tak tanggung-tanggung, Nizale langsung berlari dengan cepat ke arah Beastman perempuan itu lalu melompat untuk melancarkan tendangannya. Namun, Beastman perempuan itu dengan sigap langsung memegang kaki Nizale, kemudian membantingnya ke tanah.
Setelah Beastman tersebut membanting Nizale ke tanah, dia kemudian mengangkat kakinya hendak menginjak gadis itu.
Sontak, hal tersebut membuat Nizale langsung memutar tubuhnya menghindari serangan tersebut dan kembali berdiri.
“Itu hampir saja...” Kata Nizale.
“Kalau begitu… Aku akan serius sekarang,” lanjutnya, yang kemudian mengeluarkan sebuah kipas lipat.
Dia lalu membuka kipas lipatnya itu dan kemudian berkonsentrasi, sampai memunculkan kobaran api pada kipasnya tersebut.
Tak menunggu lama, gadis itu pun langsung meluncurkan serangan api dari kipasnya mengarah ke Beastman tersebut secara berturut-turut.
**
Di lain sisi Essal yang menonton pertarungan mereka berdua seketika langsung dibuat terkejut oleh sebuah serangan belati dari Vampireman bernama Aleron yang hampir mengenainya.
“Hei, orang besar… Kau disini bukan untuk menonton pertarungan mereka. Fokuslah dalam pertarungan ini,” kata Aleron pada Essal.
“Hahaha…! Kurasa lebih baik aku harus berhadapan denganmu,” Mendengar peringatan dari Vampireman itu, Essal kemudian langsung mengayunkan gada yang dipegangnya ke arah Vampireman tersebut.
Melihat ayunan gada tersebut mengarah padanya, Aleron seketika dengan sekejap menghilang dan kemudian muncul di atas Giantman itu.
Tanpa pikir panjang Aleron langsung melancarkan tebasan secara bertubi-tubi kepada Giantman tersebut.
Nampak serangan yang dilancarkan oleh Aleron masih belum efektif untuk melukai Giantman tersebut.
“Hmph… Kuat juga pertahanan fisikmu itu Giantman,” kata Aleron memuji kemampuan Essal.
“Aku juga tidak paham, apakah pertahanan fisikku yang kuat… Atau seranganmu yang lemah?” Balas Essal, yang kemudian langsung mengayunkan kembali gadanya ke arah Aleron.
Tidak mengira ayunan gada dari Giantman itu, Aleron sontak menahannya dengan kedua tangannya. Hal tersebut membuatnya seketika terhempas.
“Argh…!” Teriak Aleron, terhempas.
Setelah terkapar di tanah, Vampireman tersebut kemudian kembali berdiri.
“Hmph… Kuat juga pertahanan fisikmu itu Vampireman,” kata Essal, mengulangi perkataan Aleron sebelumnya.
Aleron kemudian mengambil dua belati lalu berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya. Terlihat proyeksi energi berwarna putih langsung melapisi kedua pisaunya tersebut.
Hal tersebut membuat Essal pun menjadi waspada terhadap Vampireman itu.
Namun, tanpa dia sadari Aleron dengan sekejap menghilang kembali dan muncul di belakangnya.
Essal yang terlambat merespon keberadaan sontak langsung ditebas oleh Vampireman itu secara berulang kali.
“Argh…!” Karena tidak kuat lagi menahan serangan dari Vampireman tersebut, Essal sontak jatuh berlutut.
“Ternyata kau tidak kuat menahan seranganku yah?” Kata Aleron kini berada di depan Essal.
Sekali lagi Aleron menghilang dan muncul di dekat Essal tanpa sepengetahuannya.
Namun, Essal kini tidak tinggal diam, dia kemudian memunculkan tanah di sekelilingnya. Hal tersebut membuat Aleron menghantam tanah tersebut sampai membuatnya terpental ke atas.
Kesempatan tersebut digunakan Essal dengan langsung mengayunkan gadanya sekuat mungkin menghantam tubuh Vampireman itu hingga membuatnya terhempas cukup jauh sehingga membuatnya langsung mengalami kekalahan.
**
Berpindah pada pertarungan Nizale dengan Jarrah. Nampak Nizale masih mencoba menyerang Jarrah serangan elemen apinya secara berulang kali.
Karena sedari tadi menghindari serangan gadis tersebut, Beastman perlahan-lahan mulai kelelahan.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Nizale dengan langsung melakukan lompatan putaran dan menendang Jarrah sekuat mungkin. “Flame martial… Tornado kick...”
Jarrah yang menerima serangan tersebut sempat mencoba menangkis menggunakan tangannya. Namun, tekanan dari tendangan tersebut tetap membuatnya terhempas sampai menghantam dinding arena.
“Argh…!” Teriak Jarrah.
**
“Gadis aneh… Boleh juga serangan saudaramu itu. Bahkan Beastman itu sampai terpental dibuatnya,” kata Raquille pada Neyndra, memuji serangan dari Nizale tersebut.
“Iya… Namun, aku khawatir jika dia terus-terus memakai energinya…” Kata Neyndra.
“Eh… Memangnya ada apa?” Tanya Raquille.
**
“Boleh juga serangan fisikmu gadis kecil... Kalau begitu aku akan memperlihatkan serangan fisik yang sebenarnya padamu,” kata Jarrah kemudian kembali berdiri.
Dia lalu berkonsentrasi sehingga membuatnya perlahan-lahan berubah menjadi wujud manusia setengah kuda.
**
“Dia berubah ke bentuk Beastmannya… Ini berbahaya…” Kata Dierill, yang berada di tribun para peserta, melihat pertarungan Nizale dan Jarrah.
“Apa maksudmu…?” Tanya Afucco.
“Aku tidak yakin jika Nizale bisa mengimbangi kekuatan fisik dari Beastman itu,” jawab Dierill.
**
“Baiklah gadis kecil aku akan mulai sekarang serius sekarang,” kata Jarrah langsung berlari dengan cepat memutari gadis itu.
Nampak Nizale mengalami kesulitan untuk dapat menyerang Beastman tersebut secara akurat karena pergerakannya yang cukup gesit.
Melihat kesempatan yang ada, Jarrah pun mengubah arah larinya ke arah gadis tersebut lalu menyeruduknya dengan kuat.
Hal tersebut sontak membuat Nizale terhempas sampai menghantam dinding arena, seperti yang dilakukannya pada Beastman tersebut tadi.
Masih baik-baik saja, Nizale pun langsung kembali berdiri. Nizale lalu melancarkan serangan api pada Beastman perempuan itu secara berturut-turut.
Tetapi, serangan tersebut dapat dengan mudah dihindari oleh Beastman tersebut dengan pergerakannya yang cepat. Jarrah kemudian langsung berlari memutari Nizale kembali untuk membuatnya kesulitan membaca pergerakannya.
Namun, kali ini Nizale langsung melompat ke atas dan memunculkan bola api yang besar.
**
“Apa…? Dasar bodoh… Kenapa dia mau menggunakan serangan itu? Itu akan menguras energinya.” Nampak Afucco menjadi khawatir saat melihat saudaranya memunculkan serangan bola api.
**
“Flame projection… Flame ball…” Nizale kemudian langsung meluncurkan bola api tersebut ke tanah sehingga efek dari serangan serangan tersebut mengenai Jarrah hingga membuatnya kembali terhempas.
“Argh…!” Teriak Jarrah, saat menerima efek serangan dari bola api Nizale.
Namun, setelah dia meluncurkan serangan bola api tersebut, Nizale pun terlihat jatuh tersungkur lalu mengeluarkan darah dari mulutnya.
**
“Sudah kukatakan padanya sebelumnya untuk tidak menggunakan serangan itu...” Kata Dierill melihat saudaranya tersebut mengeluarkan darah dari mulutnya.
**
“Wah… Wah… Ku akui seranganmu tadi itu memang hebat. Tapi itu juga membuat efek yang buruk untuk tubuhmu yah?” Jarrah yang sebelumnya terhempas akibat serangan sebelumnya kini terlihat telah berdiri kembali.
Melihat keadaan dari Nizale yang terlihat buruk, Beastman perempuan itu pun ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk dengan cepat mengalahkan gadis itu.
“Beastman technique… Butting death...” Kata Jarrah, yang kemudian langsung maju dan untuk menyeruduk Nizale.
Nizale yang sudah lemah karena kondisinya tidak bisa berbuat apa-apa dan dengan pasrah menerima serangan serudukan bertubi-tubi dari Jarrah.
**
“Hei…! Hentikan pertarungannya…! Dia sudah kalah, jangan berlebihan!” Teriak Neyndra.
**
Kemudian pada serudukan yang terakhir dari Jarrah, sontak membuat Nizale langsung terhempas sampai menghantam dinding arena dan langsung mengalami kekalahan.
Masih belum puas dengan serangannya tadi, Jarrah kemudian berlari dengan cepat ke arah gadis itu untuk menyeruduk sekali lagi.
**
“Nizale…!” Teriak Afucco.
**
Terlihat raut wajah yang khawatir dari tim Fuegonia A, Neyndra, serta Rourke dan Rox melihat Beastman tersebut akan melancarkan serangannya pada Nizale kembali.
Namun, tiba-tiba Heinz yang ternyata masih sadarkan diri, seketika datang menghampiri Jarrah dan langsung menebas Beastman itu dengan menggunakan pedangnya yang berapi sampai membuat Beastman itu tersungkur di tanah.
“Argh…!” Teriak Jarrah.
“Hei… Apa kau tidak mendengar kalau itu sudah berlebihan?” Kata Heinz yang kini dengan gagahnya berada di depan Nizale.
“Sialan… Kukira kau sudah kalah saat ditendang oleh gadis itu sebelumnya.”
“Hahaha… Hanya dengan tendangan lemah seperti itu tidak mungkin aku akan kalah.”
“Kalau begitu, Beastman sekarang lawanlah aku.” Kata Heinz menantang Beastman perempuan itu.
Mendengar tantangan tersebut, Jarrah kemudian langsung berlari ke arah Heinz untuk menyeruduknya.
Heinz pun dengan sigap langsung menghindari serudukan dari Beastman tersebut dan langsung menebasnya berkali-kali sampai membuatnya tersungkur di tanah.
Jarrah yang tersungkur itu nampak kembali ke wujudnya semula.
“Aku penasaran dengan serangan bola api dari perempuan itu jika mengenai langsung padamu,” kata Heinz, yang langsung memunculkan bola api seperti yang dilakukan oleh Nizale sebelumnya.
“Fire projection… Ball of fire…” Heinz lalu meluncurkan serangan tersebut ke arah Jarrah sampai membuatnya terhempas menghantam dinding arena dan langsung mengalami kekalahan.
**
“Wah… Hebat juga dia...” Kata Neyndra, terkagum melihat serangan api dari Heinz.
“Tapi… Aku belum pernah mendengar clan Flaus sebelumnya… Kalian itu sebenarnya berasal dari mana? Dan serangan kalian juga mirip dengan clanku?” Neyndra pun sontak bertanya pada Bohrneer.
“Eh kami… Kami berasal dari daerah Akalsa yang berada di bagian timur Fuegonia. Clan kami juga adalah clan pengguna elemen api,” jawab Bohrneer.
“Akalsa yah… Aku tidak tahu ternyata ada clan api yang tinggal di daerah sana.”
**
Setelah Jarrah kalah akibat serangan api dari Heinz, pria itu pun kemudian menatap Essal yang dari tadi sudah mengalahkan lawannya dengan cepat dan hanya menonton pertarungan mereka sedari tadi.
“Hei… Pria besar… Sekarang giliranmu. Apa kau takut? Sedari kau tadi hanya melihat pertarungan kami,” kata Heinz pada Essal.
“Aku sebenarnya hanya menunggu salah satu dari mereka kalah… Tetapi kau langsung saja ikut campur dan mengalahkan si Beastman itu,” balas Essal.
“Begitu yah... Lagi pula sekarang hanya tersisa kita berdua... Ayo selesaikan ini dengan cepat,” kata Heinz yang langsung maju untuk menyerang Essal.
“Memang itu yang mau kulakukan,” kata Essal nampak menghentakkan kakinya sekali.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Heinz, langsung berhenti.
Seketika tanah dibawah Heinz muncul ke atas dan menghantamnya hingga membuatnya terhempas ke atas.
“Argh…!” Teriak Heinz.
Saat mencapai titik tertinggi Heinz pun kemudian langsung jatuh meluncur ke bawah.
Melihat sebuah kesempatan, Essal lalu dengan santai berjalan mendekati titik jatuhnya Heinz. Essal kemudian mengayunkan gadanya dengan kuat pada pria tersebut, sehingga membuat Heinz terhempas dan menghantam dinding arena sehingga mengalami kekalahan.
*
“Apa…?! Tidak mungkin...!” Bohrneer pun nampak terkejut melihat kekalahan telak Heinz dari Giantman itu.
**
Kini di tengah arena hanya tersisa Essal yang berdiri, dan hal itu menandakan bahwa dialah yang menjadi pemenang dalam pertarungan kali ini.
**
Beberapa saat kemudian wasit pun terlihat memasuki tengah arena untuk mengumumkan pemenangnya.
“Pemenangnya adalah Essal Nomos dari tim Asimir.”
Lalu terlihat di layar, perolehan poin dari semua tim.
Asimir (5), Fuegonia A (1), Fuegonia B (1), Neodela (1), Lightio (0), Machora Tira (0), Mormist (0), Vielass (0), Cielas (0).
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments