“Hei, tuan prajurit… Bagaimana bisa kau menjebakku seperti ini.” Tiba-tiba Bohrneer datang menghampiri Drakon dan langsung mengeluh pada pria itu.
“Menjebakmu…? Apa yang kau maksud sebenarnya? Aku tidak tidak mengerti,” tanya Drakon tidak paham dengan maksud mantan perampok itu.
“Aku tidak menyangka bahwa turnamennya akan dimulai malam ini. Bagaimana mungkin kita mengikuti sebuah turnamen tanpa persiapan apapun?” Kata Bohrneer dengan nada tinggi.
“Jadi itu yang kau khawatirkan,” respon Drakon agak tersenyum.
“Aku mengikut sertakan kalian itu hanya untuk melengkapi anggota tim saja,” lanjutnya.
“Jadi kau mau menyulitkanku dengan mengikutsertakan aku dalam turnamen ini?”
“Kau tidak perlu khawatir, karena di tim kita ada orang ini. Itu bahkan sudah lebih dari cukup.” Drakon sontak menunjuk Raquille menjelaskan bahwa mantan perampok itu tidak perlu khawatir karena bagaimana pun dengan adanya pemuda Elfman itu kekuatan mereka jauh di atas tim yang lain.
“Tetapi kan, aku juga tidak mau menyulitkan tuan Raquille,” respon Bohrneer.
“Menyulitkannya…? Kau pikir orang ini akan kesulitan. Kecuali, jika tim lain juga menyembunyikan seorang World Venerate dalam timnya,” kata Drakon dengan nada pelan agar tidak terlalu didengar oleh orang lain.
“Heh, baiklah… Lakukan sesukamu saja.” Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Drakon barusan, Bohrneer pun langsung pergi meninggalkannya walau dengan ekspresi yang agak kesal.
“Memangnya kenapa kau ingin untuk mengikuti turnamen ini?” Tanya Raquille.
Mendengar pertanyaan dari Raquille, Drakon sontak langsung memikirkan sesuatu.
“Ada seseorang yang ingin kulawan, mungkin dia juga mengikuti turnamen ini,” jawab Drakon.
“Memangnya siapa dia?” Tanya Raquille, penasaran.
“Dia adalah seseorang yang ingin aku kalahkan sejak dulu,” kata Drakon.
“Hmph… Jadi kau mau mengikuti turnamen ini karena yakin seseorang yang kau katakan itu akan mengikutinya juga? Apa mungkin kau memiliki dendam pada orang itu?”
“Mungkin bisa dibilang seperti itu.”
***
Di lain tempat, di sebuah pegunungan yang merupakan tempat pemuda bernama Rourke berlatih sebelumnya. Terlihat para prajurit dari Lightio sedang latihan untuk persiapan turnamen.
Nampak salah satu dari mereka, terlihat memukul hancur sebuah batu besar yang berada di tempat itu. Orang tersebut tidak lain adalah Zeidonas, dia terlihat menghancurkan batu tersebut dengan menggunakan sebuah sarung tangan besi yang sepertinya merupakan senjata suci.
Belum puas dengan hal tersebut, Zeidonas kembali meluncurkan pukulan bertubi-tubi pada batu-batu yang lain didekatnya sehingga membuat batu-batu tersebut hancur berkeping-keping.
“Hei Zeidonas… Kenapa hari ini kau terlihat sangat serius berlatih?” Erklis yang melihat hal tersebut sontak merasa aneh dengan pria itu.
“Kau tenang saja… Sesantai apapun kau, kau pasti tetap akan memenangkan turnamen ini. Lagipula kau ini adalah andalan dalam tim kita.”
“Entah kenapa aku dari kemarin seperti merasa harus serius pada turnamen ini? Aku seperti merasa bahwa lawan-lawan kita nanti di turnamen ini akan berbeda dari turnamen yang sebelumnya,” kata Zeidonas.
“Hahaha… Kau itu hanya berlebihan saja. Sekuat apapun mereka tetap saja tidak bisa mengalahkan kita, karena kitalah yang terbaik selama ini.” Rekannya tersebut seketika tertawa setelah mendengar dan tidak menyangka dengan hal yang diungkapkan oleh pria itu.
**
Di sisi lain terlihat Gerhanther yang duduk di sebuah pinggiran tebing sambil memainkan sebuah belati ditangannya.
Ketika melihat seekor elang yang terbang melewatinya, pemuda itu sontak langsung melempar belati tersebut ke arah elang itu. Belati yang dilemparkannya itu dengan cepat meluncur mengejar elang tersebut, yang bagaimana pun arah terbang dari burung itu, belati tersebut tetap dapat mengikutinya.
Seketika, dikarenakan kecepatan dari elang itu tidak bisa menandingi kecepatan dari belati tersebut, sontak langsung membuat belati yang dilemparkan oleh pemuda itu menembus tubuh dari elang tersebut hingga membuat hewan tersebut seketika jatuh.
Kemudian setelah belati itu menembus tubuh elang tersebut, seketika benda itu dengan cepat meluncur kebawah dan jatuh didekat Erklis dan hampir mengenainya.
“Hei…! Hati-hati dengan belatimu itu!” Teriak Erkils terkejut karena belati tersebut hampir mengenainya.
“Tenang saja… Jika aku tidak menargetkanmu maka belati itu tidak akan mengenaimu,” kata Gerhanther.
“Benarkah begitu…? Kalau begitu coba kau lemparkan beberapa belati padaku. Aku ingin melihat, apakah belati itu bisa mengenaiku.” Mendengar hal tersebut, sontak membuat Erklis langsung menantang Gerhanther untuk melemparkan belati padanya.
“Baiklah… Dengan senang hati.” Tak tanggung-tanggung Gerhanther langsung mengambil delapan belati dari dalam sakunya kemudian meluncurkannya ke arah Erklis.
Dengan pergerakannya yang sangat gesit Erklis pun mampu menghindari semua belati yang dilemparkan ke arahnya tersebut.
Namun, belati-belati yang sempat dihindarinya tersebut kemudian berbalik dan kembali mengejarnya.
Erklis kemudian berlari lebih cepat lagi untuk menghindari belati-belati tersebut. Terlihat saat berlari dia dapat dengan mudah menghentikan pergerakkan belati-belati itu dengan memanfaatkan keadaan di sekitarnya. Dimana pria itu berlari dengan cepatnya ke arah sebuah pohon besar dan seketika langsung mengubah arah larinya kesamping saat berada satu titik dihadapan pohon tersebut, yang kemudian membuat belati yang mengejarnya di belakang langsung tertancap pada pohon itu.
Hal yang sama juga dia lakukan pada belati-belati yang lain dengan memanfaatkan pohon yang lain serta berbatuan besar, yang akhirnya membuat semua belati tersebut berhenti mengejarnya karena telah tertancap.
“Waah… Kau memang hebat yah...” Kata Gerhanther memuji kemampuan dari Erklis.
“Kalau begitu mungkin aku harus meningkatkan kecepatan dari belatinya,” lanjutnya, yang kemudian mengambil lagi satu buah belati kembali.
Gerhanther lalu melemparkan belati tersebut ke arah Erklis kembali, yang kini terlihat bahwa kecepatan dari belati itu lebih cepat dari belati-belati yang dia lemparkan sebelumnya.
“Sialan…” Kata Erklis nampak terkejut melihat belati tersebut hampir mengenainya.
Erklis pun berlari kembali untuk menghindari kejaran belati yang dilemparkan oleh Gerhanther tersebut.
Karena terlalu fokus menghindari kejaran belati itu, Erklis sampai tidak memperhatikan bahwa di depannya terdapat sebuah batu. Dia kemudian menabrak batu tersebut, yang membuat jatuh tersungkur.
“Argh…!” Teriak Erklis.
Namun, seketika dengan sigap Zeidonas langsung menepis belati yang hampir mengenai Erklis itu.
“Haah… Hampir saja...” Erklis pun lega karena belati tersebut tidak mengenainya.
“Sudah cukup… Sampai disini saja latihan kita hari ini, ayo kita kembali ke kota sekarang,” kata Zeidonas mengakhiri latihan mereka.
“Hei itu tadi hampir saja bodoh, untung saja saja ada Zeidonas,” keluh Erklis dengan nada tinggi pada Gerhanther.
“Hahaha…! Kalau begitu kau jangan terlalu berlagak hebat bisa menghindari kejaran belatiku,” Namun pemuda itu merespon keluhan Erklis dengan tertawa.
“Tapi, sebelum kita pergi ada yang harus kuperlihatkan dulu kepada kalian berdua,” kata Gerhanther.
“Apa itu?” Tanya Zeidonas.
“Coba kalian kemari dulu.”
Mendengar hal tersebut, Zeidonas serta Erklis yang berada di bawah dengan cepatnya melompat ke atas menghampiri Gerhanther.
“Lihat itu, puncak dari gunung-gunung seperti terkikis oleh sebuah serangan,” kata Gerhanther.
“Sepertinya tempat ini sering dijadikan tempat berlatih,” kata Erklis.
“Zeidonas, apa mungkin ini perbuatan dari clan Drown?” Lanjutnya bertanya.
“Kurasa begitu,” jawab Zeidonas.
“Kurasa kekuatan dari tim Fuegonia kini telah meningkat... Benar katamu, mungkin tim lawan memang mulai meningkatkan kekuatan mereka,” kata Erklis.
“Tapi… Kurasa ini bukanlah serangan yang bisa dikeluarkan oleh tingkatan Land Venerate. Lebih tepatnya, ini merupakan perbuatan dari Venerate yang berada ditingkatan yang lebih tinggi,” kata Zeidonas.
“Kalau begitu ayo kita pergi sekarang,” lanjutnya, mengajak mereka beranjak.
***
Setelah sampai di kota, mereka kemudian bertemu dengan Dimira dan Athira. Nampak raut wajah kesal dari Dimira saat melihat mereka bertiga datang.
“Darimana saja kalian bertiga…? Sejak dari tadi pagi aku tidak melihat kalian berada disini.” Tanya Dimira kesal pada ketiga pria tersebut.
“Maaf… Tadi aku mengajak Erklis dan Gerhanther untuk latihan di pegunungan sana,” kata Zeidonas menjelaskan kemana mereka pergi sebelumnya.
“Apa…? Kalian latihan…? Memangnya untuk apa?” Mendengar Zeidonas dan yang lain ternyata berlatih sedari pagi, perempuan itu pun nampak tidak percaya.
“Aku juga tidak mengerti dengan Zeidonas… Kenapa hari ini dia terlihat sangat bersemangat latihan,” kata Erklis.
“Zeidonas… Walaupun tanpa latihan kita tetap akan memenangkan turnamen ini. Kita ini adalah juara bertahan turnamen ini sejak pertama kali kita mengikutinya,” kata Dimira dengan sangat percaya diri mengatakan hal tersebut.
“Itu memang benar… Tapi, karena tim kita selalu memenangkan turnamen secara berturut-turut bagaimana jika nantinya tim yang lain di tahun ini telah meningkatkan kekuatan mereka agar bisa mengalahkan kita nantinya. Jika itu memang terjadi, pastinya itu bisa menjadi hal sulit bagi kita juga kan,” kata Zeidonas.
“Jadi apa salahnya jika kita berlatih untuk juga meningkatkan kemampuan kita juga. Apa aku salah?” Lanjut Zeidonas berkata.
“Jadi itu yang kau pikirkan… Tenang saja Zeidonas, kau tidak perlu khawatir tentang itu. Kita pasti tetap yang terbaik dalam turnamen ini,” Walaupun sudah mendengarkan penjelasan dari rekannya tersebut, perempuan itu tetap merasa percaya diri akan kemampuan dari timnya.
***
Kembali pada Drakon yang masih berada di kediaman clan Drown. Terlihat dia duduk sendirian dan sedang memikirkan sesuatu.
Tak berselang lama, Raquille pun datang menghampirinya. “Hei tuan prajurit… Aku tetap saja masih penasaran kenapa kau ingin mengikuti turnamen ini? Apa kemarin sebenarnya kau bertemu dengan seseorang yang membuatmu termotivasi untuk mengikuti turnamen nanti malam?”
“Heh, kau ini seperti peramal saja.”
“Yah… Kau benar… Entah kenapa saat kemarin aku bertemu dengan beberapa orang yang kukenal sebelumnya, aku menjadi merasa bersemangat untuk mengikuti turnamen ini, karena mereka mengatakan bahwa mereka juga akan mengikuti turnamen ini,” kata Drakon.
“Jadi seperti itu yah... Mungkin kau memiliki kenangan yang buruk dengan mereka?” Tanya Raquille.
“Kenangan buruk…? Hah… Mungkin bisa dikatakan seperti itu,” jawab Drakon.
“Jadi... Kalau begitu… Apa yang harus kulakukan nanti saat berhadapan dengan mereka di turnamen? Apa aku tidak usah ikut campur dan membiarkan kau saja yang melawan mereka?” Tanya Raquille lagi.
“Satu orang saja... Karena orang itu yang sebenarnya membuatku bersemangat untuk mengikuti turnamen ini.”
“Hmph… Baiklah jika itu yang kau inginkan, akan kulakukan sesuai apa yang kau katakan.”
***
Kemudian terlihat sebuah pesawat besar tepat berada di atas langit kota Novacurve. Terlihat di badan pesawat tersebut, sebuah lambang bintang berwarna putih dengan berlatarkan lingkaran biru serta dedaunan yang melingkari lingkaran tersebut, yang merupakan lambang dari negeri Cielas, salah satu negeri di benua Aizolica yang juga berpartisipasi dalam turnamen Venerate.
“Dimana yang lain? Apa mereka sudah bersiap?” Tanya seorang pria, yang berada di ruang kendali pesawat tersebut.
“Tuan… Mereka semua masih berada di ruangan istirahat mereka masing-masing,” jawab salah satu prajurit.
“Kalau begitu tunggu apa lagi… Cepat panggil mereka kemari sekarang.” Dengan tegas pria itu menyuruh prajuritnya untuk memanggil orang-orang yang dia bicarakan.
“Baik tuan…” Prajurit itu pun kemudian langsung bergegas keluar dari ruangan kendali itu untuk memanggil orang-orang yang dikatakan oleh pria itu.
“Akhirnya kita telah sampai… Aku sudah tidak sabar lagi untuk mengalahkan para petarung dari Lightio itu. Kali ini, tim kita yang akan memenangkan turnamen ini,” kata pria tersebut.
“Cepat persiapkan pendaratannya…” Lanjutnya, memberi perintah untuk mendaratkan pesawat tersebut.
Tak berapa lama berselang, seseorang datang ke ruang kendali tersebut.
“Kakak… Ada apa…? Apa kau memanggilku tadi?” Tanya seseorang yang baru datang tersebut pada pria itu, yang ternyata merupakan saudaranya.
“Kita akan segera mendarat… Bagaimana kalian semua masih berada di ruangan istirahat kalian,” Kata pria itu dengan tinggi pada adiknya.
“Biarkan aku beristirahat dulu... Lagi pula turnamennya kan akan dimulai pada malam hari.”
Mendengar kata dari adiknya tersebut, pria itu sontak langsung menatapnya dengan tatapan tajam, yang seketika membuat adiknya tersebut langsung merasa takut.
“Eh… Baiklah… Aku hanya mau memanggil yang lain,” kata orang itu seketika meninggalkan ruang kendali tersebut.
**
Di samping itu, Raquille dan yang lain yang berada di Sprintrope mendengar suara cukup berisik dari luar ruangan. Beberapa dari mereka kemudian langsung keluar untuk melihat asal suara tersebut yang ternyata merupakan suara dari beberapa pesawat, selain pesawat dari negeri Cielas tersebut, kini telah berada di langit kota Novacurve.
“Waw… Kenapa banyak kapal terbang disini? Apa ada sesuatu?” Tanya Raquille, penasaran.
“Tidak salah lagi… Itu adalah mereka. Para peserta turnamen yang berasal dari negeri lain di benua ini,” kata Drakon.
“Satu… Dua… Tiga… Empat…” Sontak Raquille langsung menghitung jumlah pesawat yang berada di atas langit kota tersebut.
Terdapat empat pesawat yang berada di langit kota Novacurve. Salah satunya merupakan pesawat dari negeri Cielas. Sedangkan tiga pesawat lainnya merupakan kapal terbang dari negeri Neodela, negeri Vielass serta negeri Asimir.
Keempat negeri tersebut merupakan negeri yang terletak di bagian selatan benua Aizolica dan merupakan negeri-negeri yang paling jauh jaraknya dengan negeri Fuegonia sehingga untuk perjalanan harus ditempuh dengan pesawat agar tidak terlalu memakan waktu.
**
Di lain pihak, Zeidonas dan lain pun melihat kedatangan beberapa pesawat dari para peserta turnamen tersebut.
“Jadi para peserta sudah berkumpul yah...” Kata Zeidonas.
“Aku sekarang semakin menjadi lebih bersemangat lagi.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments