–10 Juni 3029–
Keesokan harinya, nampak rombongan pasukan tersebut telah kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Novacurve.
“Jadi… Kapan kita akan segera sampai di kota itu?” Tanya Raquille pada Drakon, yang duduk disampingnya.
“Kemungkinan kita sampai di kota Novacurve pada malam hari.”
“Aku sudah tidak sabar untuk menguji kemampuan dari World Venerate baru itu.”
Walaupun dengan bergurau ingin menantang World Venerate baru itu, namun Drakon nampak terkejut setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh pemuda itu.
“Apa…! Apa kau mau menghancurkan kota itu!” Katanya dengan nada tinggi.
“Dan asal kau tahu saja, kota itu sudah berbatasan langsung dengan negeri Lightio. Apa kau mau menyulut konflik antar dua negeri? Jika pertarungan kalian berimbas pada kota di negeri seberang itu.” Dengan sangat kesalnya dia menjelaskan hal tersebut kepada pemuda itu.
“Hei tenang-tenang… Kali ini aku tidak sungguh-sungguh mengatakan hal itu, aku hanya bergurau saja tuan prajurit. Aku juga tahu apa yang akan terjadi jika dua World Venerate bertarung,” kata Raquille menangkan Drakon yang sedang marah akibat perkataannya dengan memukul-mukul pundaknya.
Kota Novacurve yang dibicarakan oleh Drakon adalah kota terbesar yang berada di daerah Camburstile, negeri Fuegonia, dan juga merupakan pusat pemerintahan dari daerah tersebut. Letak kota ini berbatasan telah langsung dengan negeri Lightio, negeri yang berada di sebelah selatan negeri Fuegonia.
Walaupun berbatasan langsung dengan negeri lain, namun kota tersebut sebelumnya tidak pernah satu kali pun mendapat serangan dari negeri yang bersebrangan langsung dengan kota itu. Alasannya karena kota Novacurve, serta daerah Camburstile dilindungi oleh clan Drown, yang merupakan salah satu clan terkuat Fuegonia, yang dipimpin oleh seorang Continent Venerate. Terlebih lagi, kini clan Drown telah memiliki seorang World Venerate, yang menambah pertahanan dari kota tersebut.
**
Berpindah ke kendaraan lain, dimana tempat beradanya Bohrneer, Heinz serta para perampok yang lain.
“Tuan Bohrneer, aku yakin malam ini akan terjadi gerhana bulan. Apa kau sudah siap…?” Tanya Heinz.
“Bahkan lebih siap darimu.” Dengan memperlihatkan sebuah kawat yang dipegangnya untuk membuka borgol, Bohrneer nampak siap untuk menjalankan rencanannya.
“Tapi tuan… Salah satu dari kita harus memancing para prajurit agar mereka bisa menghentikan kendaraan-kendaraan mereka.”
“Tenang saja… Aku akan berpura-pura untuk mau buang air, dan keluar untuk melihat apakah gerhana bulannya sudah atau belum.”
“Benar sekali tuan, itu ide yang bagus, setelah mereka berhenti dan kau keluar, kita serang mereka dan merebut kendaraan-kendaraan ini, lalu melarikan diri,” kata Heinz setuju dengan ide dari Bohrneer.
**
Kembali pada kendaraan yang dinaiki oleh Raquille dan Drakon. Nampak Raquille tersenyum sendiri melihat pemandangan yang berada di luar.
“Hei… Kenapa kau senyum-senyum sendirian? Apa kau sudah gila?” Melihat pemuda itu nampak tersenyum sendiri, Drakon mengira bahwa dia sudah gila.
“Memangnya tidak boleh yah…? Kalau aku tersenyum saat melihat pemandangan yang indah itu,” kata Raquille, menjelaskan kenapa dia tersenyum sendiri.
*
“Gerhana bulan yah…? Hebat juga mereka bisa mengetahui kelemahanku. Aku harus waspada atau tidak yah…?” Ternyata alasan dari pemuda itu tersenyum karena dapat mendengar perbincangan dari para perampok dengan indera pendengarannya yang tajam.
***
Kemudian beralih ke benua Greune, tepatnya di kota Swaraw, kota yang sebelumnya telah porak-poranda akibat peperangan sebelumnya. Terlihat Achilles dan saudaranya Cyffredinol, serta para prajurit mereka telah tertangkap oleh pasukan kubuh timur.
Nampak seorang prajurit World Venerate datang mendekati mereka dengan memegang sebuah tombak kapak. Prajurit tersebut sebelumnya merupakan orang yang telah mengalahkan Achilles dan armadanya sendirian.
“Dua ras Elfman yah... Hmph… Ini menarik. Sayang sekali jika harus membunuh kalian berdua, karena kemampuan kalian sebenarnya akan diperlukan oleh negeri Pavonas. Bagaimana kalau kalian menyerah saja dan bergabung dengan kami?” Kata prajurit tersebut langsung menawarkan mereka untuk bergabung ke kubuh timur.
“Lebih baik kau bunuh saja aku, daripada harus bergabung dengan orang-orang seperti kalian itu.” Dengan jelas Achilles langsung menolak mentah-mentah tawaran prajurit tersebut.
“Kau menolak yah… Kalau begitu bagaimana dengan kau, apa kau mau menerima penawaranku?” Kata Prajurit tersebut pada Cyffredinol.
“Jawabanku juga sama dengannya. Aku juga menolak untuk bergabung dengan kalian.” Prajurit bernama Cyffredinol itu pun sontak langsung menolak tawaran tersebut seperti Achilles.
“Hahahaha…! Sepertinya bernegosiasi seperti ini dengan kalian adalah hal yang percuma saja. Aku terpaksa harus melakukannya dengan ancaman,” kata prajurit itu.
“Hei, Apa maksudmu…?” Tanya prajurit bernama Cyffredinol tersebut.
“Hei… Kalian pindahkan mereka berdua ke tempat lain,” kata prajurit itu, menyuruh anak buahnya agar memindahkan Achilles dan Cyffredinol.
Setelah mendengar perintah tersebut, para anak buah dari prajurit itu langsung membawa kedua Elfman itu untuk memindahkan mereka ke tempat lain.
“Apa yang ingin kau lakukan… Hei…!” Teriak Cyffredinol, melawan saat diseret oleh para prajurit kubuh timur.
“Aku ingin membuat kesepakatan dengan kalian berdua. Sekali lagi kukatakan, bergabunglah dengan kami, jika kalian setuju maka aku akan melepaskan anak buah kalian, atau akan hal yang buruk pada mereka semua,” kata prajurit itu, yang kemudian mengangkat tombak kapaknya ke atas.
Seketika muncul gemuruh serta petir dari atas langit yang langsung menyambar bangunan-bangunan yang berada di sekitar mereka sampai hancur. Hal tersebut sontak membuat Achilles serta Cyffredinol menjadi begitu terkejut.
“Kuhitung sampai tiga, jika kalian belum menjawab, maka petir akan menyambar anak buah kalian dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada para bawahan kalian…”
“Satu… Dua… Ti…”
“Baiklah… Baiklah… Aku menerima tawaranmu untuk bergabung.” Tanpa pikir panjang lagi, Cyffredinol tiba-tba saja langsung menerima tawaran dari prajurit World Venerate tersebut.
“Aku juga… Aku akan bergabung dengan kalian. Jadi tolong lepaskan mereka semua.” Begitu juga dengan Achilles.
“Bagus sekali… Sesuai permintaan kalian, aku tidak akan berbohong pada apa yang kukatakan sebelumnya.”
Mendengar bahwa Achilles dan Cyffredinol telah memutuskan untuk bergabung ke kubuh timur, prajurit itu kemudian langsung menurunkan tombak kapaknya.
“Kalian lepaskan yang lain, kita hanya akan membawa dua orang ini,” kata prajurit itu memerintahkan anak buahnya untuk melepas para prajurit Fuegonia.
Kemudian para prajurit kubuh timur pergi meninggalkan kota tersebut membawa Achilles serta Cyffredinol dengan menaiki pesawat mereka, dan meninggalkan para prajurit Fuegonia.
**
“Mereka mengorbankan diri mereka demi menyelamatkan kita,” kata salah satu prajurit Fuegonia.
“Tunggu saja, tuan Cyffredinol, tuan Achilles, kami pasti akan membawa bantuan untuk menyelamatkan kalian berdua,” kata salah satu prajurit yang lain.
“Ayo kita lebih baik ke kota Nerbil terlebih dahulu sebelum melaporkan hal ini ke Fuegonia.”
Kemudian para prajurit tersebut pergi bergegas kearah kota yang dibicarakan mereka barusan.
***
Pada malam harinya beralih lagi pada Raquille dan Drakon yang kini masih dalam perjalanan menuju kota Novacurve.
“Sebentar lagi kita sampai di kota Novacurve,” kata Drakon.
“Haah… Sepertinya sekarang sedang terjadi gerhana bulan yah…” Gumam Raquille, menatap ke langit malam.
**
“Tuan Bohrneer… Kurasa gerhana bulan sudah terjadi. Ini saatnya, kita harus segera melakukan rencana kita sekarang sebelum gerhana bulan berakhir,” bisik Heinz.
“Hei…! tolong berhenti dulu, aku sudah tidak tahan untuk buang air.” Bohrneer pun langsung menyuruh prajurit yang mengemudi di depan untuk berhenti.
“Tidak… Sebentar lagi kita sampai. Lakukan disana saja jika kau mau buang air,” kata prajurit yang duduk disebelah pengemudi.
“Tapi, aku sudah tidak tahan lagi… Argh…! Akan kulakukan disini saja.”
“Hei… Tunggu, jangan lakukan itu,” kata prajurit di sebelah pengemudi.
“Coba kau hubungi saja tuan Drakon,” kata prajurit yang mengemudi.
Prajurit di sampingnya pun langsung mengambil alat komunikasi lalu kemudian menghubungi Drakon.
**
“Iya, ada apa?” Tanya Drakon, yang berada di kendaraan lain.
“Tuan, si pemimpin perampok itu, ingin buang air,” jawab prajurit yang menghubungi tersebut.
“Bilang padanya dia bisa melakukannya jika kita sudah sampai di Novacurve.”
“Sudah kukatakan tuan. Namun, orang itu tetap bersikeras ingin melakukannya di dalam kendaraan.”
“Eh baiklah… Kita berhenti sejenak,” kata Drakon memerintahkan untuk berhenti sejenak.
“Baik tuan,” kata prajurit tersebut.
Kemudian kedua kendaraan tersebut terlihat langsung berhenti.
**
“Kenapa berhenti? Memangnya ada apa?” Tanya prajurit yang berada di kendaraan lain.
Melihat dua kendaraan tersebut berhenti, kendaraan-kendaraan yang lain pun langsung mengikuti kedua kendaraan tersebut untuk berhenti.
**
“Lakukan dengan cepat. Dasar, membuat repot saja,” kata salah satu prajurit.
Mereka kemudian menurunkan Bohrneer, yang kemudian si pemimpin perampok itu langsung pergi dibalik semak-semak untuk buang air.
Di dalam kendaraan terlihat Heinz dan para perampok lain bergantian membuka borgol mereka dengan menggunakan kawat.
Setelah borgol dari para perampok tersebut terlepas, mereka kemudian langsung keluar secara bersamaan dan menyerang para prajurit yang ada di dekat mereka.
**
“Suara ribut apa itu?” Tanya salah satu prajurit yang mengantarkan Bohrneer buang air di balik semak-semak.
Seketika pemimpin perampok itu langsung membuka borgolnya dengan menggunakan kawat lalu menyerang prajurit yang berada di dekatnya itu dengan membanting kepala prajurit itu ke tanah.
**
“Heh, apa yang terjadi di luar, kenapa ribut sekali?” Tanya Drakon.
Kemudian Raquille yang duduk di samping pintu kabin kendaraan langsung menengok keluar.
“Tuan prajurit… Para perampok telah melepaskan diri.” Terkejutnya dia saat melihat para perampok telah melepaskan diri.
“Apa…? Hei… Coba geser dulu.” Dengan cepat Drakon pun langsung melewati Raquille dan turun dari kendaraannya dan menghentikan para perampok.
Namun, seketika Drakon langsung menerima serangan mendadak dari Bohrneer, yang sudah melepaskan borgolnya.
Drakon yang secara mendadak diserang oleh Bohrneer, terhempas sampai menabrak kendaraan yang berada di dekatnya.
**
Melihat bahwa gerhana bulan ternyata sudah berlangsung, Heinz dengan cepat langsung berlari mengincar Raquille.
Raquille yang masih berada di dalam kendaraan, dengan cepat langsung keluar saat melihat Heinz berlari mengarah padanya. Pemuda itu pun langsung berlalri menjauhi Heinz yang mengejarnya.
“Hei kau…! Jangan lari…!” Teriak Heinz mengejar Raquille yang lari.
**
Berpindah pada Drakon dan Bohrneer yang sekarang saling berhadapan.
“Jadi, kau memutuskan untuk melarikan diri yah…? Pasti ada alasan kuat sehingga kau sampai berani berbuat hal seperti ini.” Drakon langsung mengeluarkan pedangnya dan siap menyerang Bohrneer.
“Tak usah banyak omong kau, sekarang lawan aku.”
Bohrneer kemudian merebut pedang dari salah satu prajurit, dan maju menyerang Drakon.
Serangan dari Bohrneer tersebut, sontak langsung ditangkis oleh Drakon. Drakon pun kemudian melancarkan serangan balik dengan melancarkan serangan tebasan pada pemimpin perampok itu.
Tebasan pedang tersebut sontak mengenai Bohrneer hingga membuat bahu serta dadanya terluka. Namun, luka yang diterimanya tersebut tidaklah terlalu dalam karena Drakon bermaksud untuk mengurangi pergerakkan dari pemimpin perampok itu tanpa harus membunuhnya.
Nampak Bohrneer mulai merasakan sakit pada lukanya tersebut hingga membuat ragu untuk maju menyerang pemimpin prajurit itu.
“Ada apa? Apa lukanya sudah terasa sakit sekarang?” Tanya Drakon.
“Ini tidak seberapa bagiku,” jawab Bohrneer.
“Kalau saja, aku memakai kapakku, kau pasti yang akan kesulitan mengatasi serangan dariku,” lanjutnya.
“Oh… Tidak usah khawatir… Walaupun memakai senjata sucimu, itu tidak akan mengubah apapun,” kata Drakon yang langsung kembali menyerang Bohrneer.
Bohrneer pun dengan sigap langsung menghindari serangan dari pemimpin prajurit itu. Tetapi, dengan cepat Drakon langsung menendangnya hingga membuat pria itu terhempas.
**
Beralih pada Raquille yang kabur dari kejaran Heinz dan para perampok yang lain. Tampak mereka kini sudah terpisah cukup jauh dari yang lain.
“Hei… Kenapa kau lari… Apa kau ketakutan untuk melawanku saat gerhana bulan terjadi...?” Tanya Heinz yang mengejar Raquille.
Mendengar perkataan dari petinggi para perampok tersebut, seketika Raquille langsung berhenti berlari, lalu berbalik menatapnya.
“Hei perampok, bagaimana kau bisa mengetahui bahwa kelemahanku adalah gerhana bulan?” Tanya Raquille sambil menunjuk bulan.
“Itu tidaklah penting darimana mendapatkan informasi tersebut, karena sekarang aku harus segera membunuhmu sebelum gerhana itu berakhir,” kata Heinz, yang bersiap menebas Raquille dengan pedang yang dia rebut dari salah satu prajurit.
Betapa terkejutnya perampok itu, saat ditebasnya pemuda itu seketika hancur menjadi serpihan es.
“Apa…? Bagaimana bisa…?” Tanya Heinz kebingungan.
“Hahahaha… Mungkin kau telah salah mengorek sebuah informasi. Bahwa yang sebenarnya, kekuatanku tidak akan menghilang saat gerhana bulan.” Tiba-tiba suara pemuda itu terdengar namun tidak menampakkan wujudnya.
“Apa maksudmu…?!” Teriak Heinz, melihat-lihat ke sekitar memastikan dimana keberadaan pemuda tersebut.
“Sayang sekali perampok, kelemahanku itu sebenarnya adalah gerhana matahari bukanlah gerhana bulan.” Nampak Raquille kini telah berada di belakang Heinz.
Saat perampok itu akan menoleh ke belakang, dengan sekejap Raquille langsung membekukannya.
Melihat hal tersebut, para perampok yang lain sontak langsung ketakutan dan lari menjauhi Raquille saat melihat petingginya tersebut dengan sekejap dibekukan oleh pemuda itu.
Dengan satu jentikkan jari dari Raquille tiba-tiba saja membuat para perampok yang lari menjauhinya seketika membeku.
**
“Uwaahh…!” Teriak Bohrneer, terhempas.
“Menyerahlah… Kau yang sekarang bukanlah tandinganku,” kata Drakon menyuruh pemimpin perampok itu agar menyerah.
Masih berikeras ingin mengalahkan Drakon, si pemimpin perampok itu kembali berdiri kemudian berkonsentrasi. Seketika pedang yang dipegang olehnya langsung mengeluarkan kobaran api.
“Rasakan ini…!.” Teriak Bohrneer, melompat ke arah Drakon untuk menyerangnya.
Drakon yang melihat serangan tersebut, sontak langsung bersiap untuk menangkisnya. Namun, seketika muncul kobaran api yang besar menghantam pemimpin perampok itu hingga membuatnya terhempas kembali.
“Argh…!” Teriak Bohrneer menerima serangan api tersebut langsung membuatnya mendapatkan luka bakar yang cukup parah.
“Apa…? Darimana itu…? Apa si rambut putih yang melakukannya?” Nampak pemimpin prajurit itu bertanya-tanya dengan melihat ke sekitaran.
Tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiri Drakon yang nampak kebingungan tersebut.
“Siapa kau…?” Tanya Drakon pada pemuda tersebut.
“Tuan prajurit… Orang ini pasti tawanan kalian yang mau kabur yah…? Tak perlu repot-repot untuk melawannya, biar aku saja yang mengahirinya disini,” kata orang tersebut, yang kemudian mengangkat tangannya.
Seketika muncul sebuah bola api ditangannya yang lama-kelamaan semakin membesar. Tanpa pikir panjang, pemuda itu pun langsung menghempaskan bola api tersebut mengarah pada Bohrneer.
Bohrneer yang melihat serangan bola api itu mengarah padanya, hanya bisa pasrah karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa akibat luka yang diterimanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments