“Ternyata benar itu kau... Lama tidak bertemu,” kata Dimira, salah satu dari tiga orang tersebut.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Drakon dengan ekspresi serius.
“Apa yang kami lakukan disini? Memangnya itu ada urusannya denganmu jika kami berada di tempat ini?” Dengan angkuhnya perempuan itu merespon pertanyaan Drakon.
“Aku bertanya… Kenapa kalian berada di tempat ini?” Walaupun begitu Drakon sontak bertanya kembali dengan menatap tajam wanita dan mendekatinya.
Melihat hal tersebut, seketika Erklis, satu-satunya pria diantara tiga orang itu pun langsung menahannya untuk mendekati perempuan bernama Dimira itu.
“Hei… Santai saja, kenapa kau merasa kesal seperti ini?” Pria nampak mendorong Drakon dengan kasarnya.
“Hei kau… Beraninya kau melakukan hal itu pada Drakon.” Melihat Drakon didorong oleh pria tersebut, Neyndra pun tidak tinggal diam dan ingin melabraknya.
Sontak wanita bernama Athira kemudian menghadangnya untuk mendekati pria yang mendorong Drakon itu.
“Minggir kau… Kenapa kau menghalangiku?” Kata Neyndra, dihadang oleh perempuan itu.
“Nona Drown, untuk kebaikanmu lebih baik kau tidak ikut campur masalah kami disini,” balas wanita bernama Athira itu, nampak mengetahui identitas dari Neyndra.
“Kami datang kemari untuk mengikuti turnamen Venerate, mewakili negeri Lightio,” kata pria bernama Erklis.
“Apa maksudmu? Kalian sekarang adalah prajurit Lightio?” Tanya Drakon.
“Erklis, Athira, ayo kita pergi, jangan mencari masalah disini. Lagi pula kita hanya kebetulan melihatnya, jadi aku langsung menyapanya, karena kita kan memang saling mengenal sebelumnya.” Dimira kemudian mengajak kedua rekannya untuk beranjak meninggalkan tempat itu tanpa menjawab pertanyaan Drakon.
Namun, baru saja beberapa langkah mereka berjalan, wanita bernama Dimira itu kemudian berhenti dan menoleh pada Drakon dan Neyndra.
“Oh… Zeidonas juga ada disini, dia datang bersama kami kemari,” Ucap Dimira pada Drakon, yang kemudian benar-benar meninggalkan dari tempat itu.
Seketika setelah mendengar orang yang disebut oleh wanita tersebut, pria itu sontak menjadi terkejut.
“Aku baru ingat sekarang… Ternyata mereka adalah kelompok itu.” Tiba-tiba Neyndra mengingat identitas lain dari ketiga orang itu.
“Apa maksudmu kelompok itu?” Tanya Drakon.
“Iya… Mereka adalah para juara bertahan dari turnamen Venerate yang sering diselenggarakan di kota ini,” jawab Neyndra.
Mendengar perkataan dari perempuan itu, Drakon pun terpikir akan sesuatu.
“Nona Neyndra… Kalau begitu, bagaimana caraku untuk bisa mengikuti turnamen itu?”
“Apa…? Kau ingin mengikuti turnamen itu?”
“Iya… Entah kenapa… Aku menjadi bersemangat saat mendengar orang yang dibicarakan oleh wanita tadi,” kata Drakon.
“Memangnya siapa orang itu?” Tanya Neyndra.
“Seseorang yang kukenal. Aku yakin dia juga akan mengikuti turnamen tersebut.”
“Kalau kau ingin mengikuti turnamen itu, ayo sekarang kau ikut denganku.” Tiba-tiba Neyndra menarik kembali Drakon beranjak dari tempat itu.
“Eh… Memang kita mau kemana?.”
“Kemana lagi, jika bukan tempat pendaftarannya.”
“Memangnya harus sekarang?”
“Ayo ikut saja denganku, pendaftarannya akan ditutup malam ini.”
**
Beberapa saat kemudian, setelah berjalan cukup lama mereka berdua sampai di depan sebuah arena.
“Tempat pendaftarannya berada di dalam sana.”
Setelah Neyndra menunjuk arena tersebut, mereka pun kemudian masuk ke dalam gedung arena itu.
**
Di dalam nampak sangat sunyi dan hanya terlihat seseorang yang berada di sebuah tempat pendaftaran.
“Bisa kutebak… Kau kemari ingin mendaftar pada turnamen besok. Tenang saja… Pendaftarannya masih tetap dibuka,” kata orang yang berada di tempat pendaftaran itu.
“Kalau begitu, katakan apa saja syarat jika ingin mengikuti turnamen ini?” Tanya Drakon.
“Syaratnya… Hmph… kau harus merupakan seorang Venerate, agar kau bisa mengikuti turnamen ini,” Gurau orang itu.
“Itu tidak lucu… Aku serius bertanya, apa syarat-syaratnya?” Tanya Drakon kembali yang kini nampak serius.
“Baiklah… Syarat pertama… Kau harus memiliki tim yang berjumlah lima orang, dan itu sudah termasuk kau. Karena dalam pertandingan puncaknya merupakan pertarungan antar tim.”
“Yang kedua… Venerate yang mengikuti turnamen ini harus berada di tingkatan Division sampai Land, dan tidak boleh lebih rendah ataupun lebih tinggi dari itu.”
“Tapi… Aku belum memiliki anggota tim untuk mengikuti turnamen ini.” Mendengar syarat-syarat dari turnamen tersebut, seketika membuat Drakon yang sebelumnya bersemangat kini menjadi tidak bersemangat lagi.
“Kalau begitu, aku akan ikut menjadi anggota timmu.” Melihat Drakon yang patah semangat akan syarat turnamen tersebut, membuat Neyndra akhirnya memutuskan bergabung menjadi anggota timnya, agar pria itu bersemangat kembali.
“Apa Nona Neyndra, kau juga ingin mengikutinya?” Tanya Drakon.
“Sebelumnya aku juga sering mengikuti turnamen ini mewakili Fuegonia bersama dengan para saudaraku. Namun, aku menjadi jengkel dan tidak mau mengikutinya lagi karena sering kali mengalami kekalahan.”
“Tapi, demi kau aku akan mengikuti turnamen ini lagi bersama denganmu.”
“Tapi… Jika clanmu mengetahui ini… Apa tanggapan mereka?” Tanya Drakon, cemas.
“Kau tak usah memikirkan hal itu, soal orang-orang di clanku mereka tidak akan melarangku untuk bergabung dengan tim lain asalkan anggota tim berasal dari Fuegonia,” jawab Neyndra, meyakinkan Drakon.
“Tapi…?”
“Sudahlah, ditambah aku tim kita menjadi dua orang. Kita tinggal mencari tiga orang lagi. Tapi, siapa yah…?”
“Bagaimana… Jika pria menyebalkan tadi ikut dalam tim kita? Yah… Walaupun aku benci jika ada dia,” Usul Neyndra.
“Dia dan satu orang bawahannya... Dengan ini sudah ada 4 anggota.”
“Berarti tinggal satu orang lagi...” Neyndra pun berpikir untuk mencari orang yang mungkin bisa diajaknya untuk masuk ke dalam tim yang akan mereka bentuk.
“Kalau begitu anggota kelima adalah aku…”
Mendengar seseorang tiba-tiba berbicara dari belakang, sontak membuat mereka berdua langsung terkejut.
“Aaahhh…!” Teriak Neyndra.
“Kau…! Kenapa kau ada disni…?” Tanya Drakon dengan nada tinggi.
Tampak seseorang yang berada di belakang mereka berdua adalah Raquille, yang tanpa disadari oleh mereka sudah berada di tempat itu sedari tadi.
“Apa, aku…? Tentu saja aku ingin mengikuti turnamen ini,” jawab pemuda itu.
“Apa…? Kau itu kan seorang Wo… Lupakan…” Perkataan dari Drakon tersebut hampir saja membuka identitas Raquille yang sebenarnya pada Neyndra.
“Drakon, siapa pria cantik ini?” Tanya Neyndra pada Drakon, melihat Raquille.
“Drakon, siapa perempuan aneh ini?” Tanya Raquille pada Drakon juga.
Mendengar pertanyaan dari mereka berdua, membuat pria itu menjadi kebingungan untuk menjawab.
“Hei pria cantik… Beraninya kau dengan sembarangan menyebutku seperti,” ucap Neyndra nampak kesal.
“Memang kau itu aneh... Seharusnya kau itu memuji ketampananku ini, bukan mengatakan bahwa aku ini cantik, memangnya aku ini perempuan, haah…” Balas Raquille dengan menatap tajam perempuan itu.
“Tunggu dulu… Biar aku jelaskan. Perempuan ini adalah Nona Neyndra. Dia adalah putri dari pemimpin clan Drown,” kata Drakon pada Raquille.
“Dan pemuda ini… Dia adalah… Bawahanku, namanya….” Dengan terbata-bata pada Neyndra, Drakon yang kemudian mengisyaratkan kode pada Raquille.
“Namaku… Eh… Laventille… Noroh…” Kata Raquille, yang juga terbata-bata saat berbicara.
“Hahaha… Laventille… Bahkan namamu saja seperti nama perempuan. Hei, apa mungkin keluargamu salah mengira bahwa kau adalah perempuan ketika masih di dalam kandungan ibumu?” Sontak perempuan itu langsung mengejek pemuda Elfman tersebut saat mendengar namanya yang terdengar seperti nama dari seorang gadis.
Mendengar ejekan dari Neyndra, Raquille pun menjadi kesal. “Apa kau bilang… Sini kau, akan kugantung kau beraninya mengejekku.” Dengan nada tinggi Raquille pun nampak mendekati Neyndra.
“Hei… Tunggu jangan lakukan itu bodoh.” Melihat Raquille mendekati Neyndra, Drakon pun kemudian langsung menahannya.
“Hei perempuan aneh, awas saja kau nanti,” kata Raquille, kesal.
Nampak Drakon terlihat kesulitan mengimbangi kekuatan dorongan Raquille sampai membutuhkan kedua tangannya untuk menahan pemuda itu.
*
“Sial… Orang ini kuat sekali,” gumam Drakon dalam hati, kesulitan menahan pemuda itu.
**
Drakon kemudian melepaskannya Raquille setelah kekesalannya mulai mereda.
“Drakon aku takut… Tapi… Apa mungkin hanya dia yang bisa masuk dalam tim kita?” Kata Neyndra langsung bersembunyi di belakang Drakon.
“Aku juga tidak punya pilihan,” kata Drakon.
*
“Sialan… Kenapa juga aku hanya bisa memikirkan nama perempuan untuk nama samaranku. Itu malah membuatku lebih diejek lagi,” gumam Raquille dalam hati.
**
“Hei… Laventille… Apa kau mau bergabung dengan tim kami?” Tanya Drakon.
“Jika kau menginginkannya, maka aku akan bergabung dengan kalian,” jawab Raquille.
“Baiklah dengan ini tim kita lengkap.” Kata Drakon.
**
Setelah Raquille setuju untuk bergabung ke dalam tim yang akan dibentuk, mereka pun kemudian mereka menulis nama-nama mereka ke dalam daftar peserta.
“Baiklah… Dengan ini kalian sudah resmi menjadi peserta dalam turnamen ini,” kata orang yang berada di tempat pendaftaran.
“Drakon, hanya kali saja. Setelah itu jangan bergaul lagi dengan orang-orang menyebalkan seperti mereka,” kata Neyndra.
“Aku juga sebenarnya tidak mau bersama-sama dengan mereka. Dasar orang yang menyebalkan, membuatku sudah saja,” ucap pria itu, agak kesal.
“Ayo kita kembali kalau begitu,” kata Neyndra.
Kemudian Drakon, Neyndra serta Raquille meninggalkan tempat pendaftaran tersebut untuk kembali ke Sprintrope.
***
Di tempat lain, nampak tiga orang yang tadi bertemu dengan Drakon dan Neyndra. Disusul dengan pemuda yang sebelumnya menantang Raquille, serta orang yang menghentikannya terlihat berkumpul bersama.
“Zeidonas… Aku tadi bertemu dengan orang itu,” kata wanita bernama Dimira, membicarakan mereka dengan Drakon.
“Siapa maksudmu…?” Namun pria bernama Zeidonas itu tidak mengerti karena Dimira tidak menyebutkan nama Drakon.
“Orang itu adalah Drakon. Dia ada di kota ini.”
“Drakon…? Orang itu masih hidup…?” Mendengar hal tersebut pria itu nampak terkejut.
“Dia memang Drakon, aku bahkan sempat berbicara dengannya tadi. Dan juga, dia sedang bersama dengan salah satu orang dari clan Drown. Sepertinya dia menjadi pengawal mereka?” Kata Dimira.
“Drakon… Beraninya dia muncul di hadapan kalian setelah apa yang telah dia lakukan pada kita semua.” Nampak pria tersebut terlihat kesal setelah mendengar mereka bertemu dengan Drakon.
“Orang yang kalian bicarakan ini… Apa mungkin adalah saudara kalian yang itu?” Sambung Gerhanther dengan bertanya.
Mendengar Gerhanther mengatakan hal tersebut, sontak membuat kekesalan Zeidonas semakin menjadi-jadi sehingga membuatnya langsung menarik kerah baju pemuda itu.
“Diam kau... Orang itu bukanlah saudara kami,” kata Drakon yang kesal.
“Hei… Memangnya aku mengatakan sesuatu yang salah?”
“Gerhanther... Aku tadi mendengar ada sebuah pertengkaran di kota tadi. Apa mungkin orang itu adalah kau?” Tanya pria bernama Erklis.
“Apa, pertengkaran…? Tidak… Aku hanya mengetes kemampuan orang yang tadi,” jawab Gerhanther.
“Zeidonas, apa dia mencari masalah dengan orang lain lagi?” Tidak mendapat jawaban yang memuaskan, pria itu sontak melempar pertanyaannya pada Zeidonas.
“Untuk apa kau bertanya. Sudah pasti itu adalah dia,” jawab Zeidonas sambil melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Gerhanther.
“Dia tadi menantang seorang Elfman,” lanjutnya.
“Elfman…? Bukannya mereka adalah ras yang memiliki ilmu sihir yang setara dengan clan Silkbar? Bagaimana bisa kau menantang orang seperti itu?”
“Karena itu aku ingin mengetes kekuatannya. Tapi, kemungkinan dia hanyalah seorang bawahan di dalam clannya, kemampuannya tidak terlalu hebat,” kata Gerhanther dengan angkuhnya merendahkan Raquille yang tidak diketahuinya jauh lebih kuat dibanding dirinya tersebut.
Kekesalan Zeidonas pun nampak kembali setelah mendengar perkataan dari pemuda itu, yang terlalu merendahkan seseorang tanpa mengetahui tingkatan kekuatan orang yang diremehkannya tersebut.
“Hei… Anak muda. Lebih baik kau menjaga sikapmu, ini bukanlah negeri kita. Jika terjadi hal yang buruk padamu, apa yang akan kukatakan pada tuan Levianther nantinya,” kata Zeidonas menasehati pemuda yang angkuh itu.
“Zeidonas… Hentikan. Kita tidak harus berseteru seperti. Lepaskan dia.”
Merasa bahwa akan terjadi hal yang tidak diharapkan oleh mereka karena kekesalan Zeidonas pada pemuda tersebut membuat Erklis sontak langsung memisahkan kedua orang tersebut.
“Drakon… Jadi orang itu masih hidup setelah kejadian itu. Dan sekarang dia muncul kembali dihadapan kalian,” gumam Zeidonas.
***
Berpindah pada Raquille, Drakon, serta Neyndra, yang kini telah sampai di kediaman clan Drown.
"Nona Neyndra masuklah sekarang,” kata Drakon.
“Kalau begitu aku masuk dulu,” kata Neyndra yang kemudian meninggalkan mereka.
“Hei, kelihatannya perempuan itu menyukaimu,” kata Raquille pada Drakon.
“Apa maksudmu? Untuk apa dia menyukaiku,” kata Drakon nampak tidak pekah dengan perkataan Raquille.
*
“Dasar orang bodoh ini. Dia ini tidak pekah yah…?” Gumam Raquille dalam hati.
**
Setelah sampai di depan paviliun mereka, terlihat Bohrneer serta Heinz nampaknya telah menunggu Raquille sedari tadi.
“Tuan Raquille… Kau darimana saja? Dan juga kenapa kau bisa bersamanya?” Tanya Bohrneer.
“Aku tadi hanya jalan-jalan ke kota, dan kemudian bertemu dengannya,” jawab Raquille.
“Seharusnya aku juga ikut denganmu, walau hanya mendampingi.”
“Itu tidak perlu. Lagi pula… Jika kau tadi ikut mungkin tadi akan lebih kacau.” Kata Raquille.
“Eh… Memangnya apa yang terjadi? Apa ada yang mencari masalah denganmu tadi?” Tanya Bohrneer lagi.
“Hei… Tuan prajurit apa sebenarnya yang terjadi sewaktu kalian di kota tadi?”
“Aku juga tidak tahu.” jawab Drakon.
“Eh, bukan apa-apa.” Sambung Raquille.
“Bohrneer… Dan kau… Eh… aku lupa namamu… Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian.”
Kemudian Drakon pun bertanya pada Bohrneer dan Heinz. Sepertinya pria itu mau membicarakan tentang turnamen Venerate yang akan diikuti oleh mereka.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Mendengar Drakon ingin berbicara dengan mereka, mereka berdua pun mendekat.
“Begini aku akan mengikuti sebuah turnamen Venerate. Namun… Untuk bisa mengikutinya aku harus memiliki anggota tim. Jadi aku terpaksa mengikutsertakan kalian berdua juga menjadi timku dalam turnamen tersebut,” kata Drakon.
“Hei… Beraninya kau mengikutsertakan aku dan Heinz tanpa sepengetahuan kami. Tidak… Aku menolak.” Sontak mantan perampok itu langsung melontarkan nada tinggi pada pemimpin prajurit itu kerana dengan semaunya mengikutsertakan mereka ke dalam turnamen.
“Tapi, aku mendaftarkan kalian berdua.”
“Aku juga ikut dalam timnya di turnamen itu,” Kata Raquille, menyambung pembicaraan mereka.
“Apa tuan…? Baiklah aku setuju untuk ikut.”
“Aku juga setuju untuk ikut. Karena ada tuan Raquille.”
Tiba-tiba kedua orang itu pun seketika setuju setelah mendengar bahwa Raquille juga akan mengikuti turnamen tersebut.
*
“Lihat mereka berdua… Sekarang mereka sudah menjadi pengikut setia orang itu,” Kata Drakon dalam hati merasa kesal.
***
Berpindah di kota Wattao. Terlihat Aguirre, saudara dari Raquille sedang duduk di dalam ruangan kerjanya. Tiba-tiba seorang prajurit datang tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan itu.
“Maaf mengganggu anda Tuan Aguirre. Aku ingin menyampaikan bahwa Tuan Cyffredinol serta Tuan Achilles telah mengalami kekalahan dalam perang. Sekarang mereka telah ditangkap dan telah bergabung ke kubuh timur,” kata prajurit tersebut.
Mendengar hal tersebut Aguirre sontak terkejut dan langsung berdiri dari kursinya
.
“Apa katamu…? Mereka telah ditangkap dan telah bergabung ke kubuh timur.” Kata Aguirre nampak tidak percaya dengan hal yang disampaikan tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments