“Hei kalian yang diatas! Cepat turun kemari atau aku yang kesana untuk menyeret paksa kalian!” Teriak salah satu perampok melihat Raquille dan Fluke berada di atas menara pengawas.
Dengan tangan yang gemetaran Fluke kemudian mengambil sepotong kayu di atas menara tersebut untuk bersiaga pada para perampok yang berada dibawah.
“Hei nak, bagaimana ini? Mereka datang kemari.”
“Biarkan saja mereka yang kemari paman… Lihat saja apa yang akan kulakukan pada mereka jika mereka berani melawanku,” kata pemuda itu dengan percaya dirinya.
Karena Raquille dan Fluke tidak kunjung turun dari atas menara, para perampok yang berada dibawah kemudian dengan cepat naik ke atas.
“Hei kalian berdua cepat kemari, kalau tidak mau terjadi hal buruk kepada kalian.” Dengan menodongkan sebuah kapak salah satu perampok itu mengancam Raquille dan Fluke.
“Kalau aku tidak mau memangnya kenapa? Memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan kapak itu?” Dengan perkataan yang agak meremehkan pemuda itu sontak langsung menantang perampok yang sedang menodongkan kapak padanya.
Merasa diremehkan oleh Raquille, perampok tersebut seketika langsung mengayunkan kapaknya ke arah pemuda itu.
**
Berpindah kepada para perampok yang telah membawa paksa keluar para warga, yang bersembunyi di dalam rumah mereka. Para perampok kemudian mengumpulkan para warga tersebut yang diseret mereka menuju ke tengah kota.
Petinggi dari perampok yang bernama Heinz lalu menarik salah seorang gadis muda yang berada diantara mereka. Tiba-tiba pria itu mengeluarkan sebuah pistol.
“Cepat bawakan barang-barang yang aku suruh atau hal yang buruk akan terjadi pada gadis ini.” Heinz lalu mengancam para warga dengan menodongkan sebuah pistol yang dipegangnya ke kepala gadis tersebut.
Tak lama kemudian, saat Heinz hampir saja menarik pelatuk dari pistol yang pegangnya, seketika semua orang yang berada di tempat itu terkejut karena melihat salah satu perampok seketika jatuh menimpa Heinz yang sedang menodongkan pistol pada gadis tersebut, lalu disusul dengan rekan-rekannya yang juga jatuh menimpa perampok-perampok lain, yang berada didekat Heinz.
Para perampok yang menimpa rekan-rekannya itu merupakan orang-orang yang barusan tadi naik ke atas menara mengancam Raquille dan Fluke, dan salah satu dari mereka juga sempat mengayunkan kapaknya ke arah Raquille.
Heinz langsung mendorong salah satu perampok yang menimpanya itu dan dengan cepat kembali berdiri.
“Siapa…?! Siapa yang berani melakukan hal ini?!” Teriak perampok bernama Heinz itu pada semua orang yang berada di tempat tersebut.
Dengan kebingungan para perampok melihat-lihat ke segala arah untuk memastikan siapa yang melakukan hal tersebut pada rekan-rekan mereka.
“Aku yang melakukannya!” Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan, yang asal suara tersebut merupakan Raquille yang sedang berteriak.
“Hei…! Sebelah sini…!” Teriaknya sambil melambaikan tangan kepada para perampok dari kejauhan.
“Siapa dia? Apa dia yang melakukan semua ini?” Tanya Heinz melihat seseorang yang berada di atas menara.
“Hei kalian cepat bawa orang itu kemari, beraninya dia melakukan hal seperti pada kita.” Heinz lalu menyuruh beberapa perampok untuk pergi membawa pemuda itu ke hadapannya.
Namun, baru saja dia menyuruh para perampok untuk menangkap Raquille, seketika dalam sekejap mata pemuda itu sudah berada tepat di belakangnya.
“Tidak usah repot-repot… Aku sudah ada disini,” kata Raquille kini berada di belakang Heinz.
Mendengar seseorang berbicara dengannya dari belakang, Heinz lalu memalingkan pandangannya ke belakang.
Seketika Raquille langsung menampar petinggi perampok itu dengan menggunakan tangan kirinya, yang membuat pria itu terhempas ke arah kanan sampai menghancurkan dinding bangunan yang ditabraknya, dan membuatnya seketika tak sadarkan diri saat itu juga.
Perampok-perampok yang melihat petinggi mereka telah dihempaskan akibat perbuatan pemuda itu, sontak menyerangnya secara bersamaan dengan mengayunkan kapak mereka.
Tetapi, hal itu percuma saja karena dengan sangat cepatnya Raquille dapat menghindari semua serangan dari ayunan kapak yang ditujukan padanya. Raquille pun kemudian melayangkan pukulan serta tendangan yang keras pada para perampok sampai membuat mereka semua terpental.
Tiba-tiba Raquille langsung dikejutkan oleh sebuah tembakan dari sebuah senapan, yang hampir mengenainya.
Dia kemudian dengan cepat melumpuhkan salah satu perampok yang belum maju menyerangnya dengan mencekik dan membantingnya ke tanah lalu mengambil kapak yang dipegang oleh perampok tersebut dan mendekati para perampok lain yang menggunakan senapan tersebut.
“Biar kubantu agar tembakan kalian bisa mengenaiku. Apa jarak ini sudah cukup?” Dengan memainkan kapak yang direbutnya tadi, dia mempersilahkan para perampok untuk menembaknya.
Tanpa pikir panjang para perampok pun langsung menembakkan senapan serbu mereka pada Raquille yang sedang berdiam di tempat itu.
Anehnya, walau hanya berdiam ditempat, Raquille dengan mudahnya menipis segala tembakkan peluru yang datang mengarah padanya dengan hanya menggunakan kapak yang dipegangnya itu.
Kecepatan tangannya menipis peluru-peluru tersebut bahkan sulit terlihat oleh mereka semua. Para perampok yang melihat aksi dari Raquille itu sontak langsung takut dan berhenti menembakinya lagi.
“Hei ada apa? Kenapa kalian semua menghentikan tembakkannya? Padahal kalian belum kehabisan peluru kan?” Tanya Raquille memanas-manasi para perampok untuk menembaknya kembali.
Namun, para perampok tetap saja masih merasa ketakutan setelah apa yang telah dilakukan oleh Raquille. Mereka merasa percuma saja menyerang Raquille dengan cara apapun yang pada akhirnya akan merugikan mereka sendiri.
Tak berapa lama setelah itu, seseorang turun dari kendaraan para perampok tersebut.
“Hei… Kenapa kalian takut padanya?” Ternyata orang itu merupakan Bohrneer, pemimpin dari para perampok gunung.
“Hahaha…! Aku paham sekarang... Kekuatan besar yang jatuh dari langit kemarin ternyata adalah kau dan bukanlah seekor makhluk suci,” kata pemimpin perampok itu dengan tersenyum menyeringai pada Raquille.
“Hmph... Berbeda dari yang lain, kau bisa merasakan tekanan kekuatanku, pasti tingkatan kekuatanmu berada di Regional Venerate… Atau mungkin lebih dari itu.”
Dengan masih tersenyum menyeringai pada Raquille, pemimpin perampok itu kemudian mengambil sebuah kapak besar dari dalam kendaraan.
“Kalian semua mundur… Biar aku saja yang melawannya,” ucap pemimpin perampok tersebut, memegang erat kapaknya bersiap menyerang Raquille.
Seketika orang itu mengaktifkan kekuatan dari kapaknya yang membuat bilah tajam dari kapaknya itu pun langsung mengeluarkan kobaran api.
“Senjata suci elemen api... Hahaha… Kurasa kau salah berhadapan denganku karena aku sebenarnya adalah pengguna elemen es,” kata Raquille nampak meremehkan kekuatan dari kapak yang dipegang oleh pemimpin perampok itu.
Raquille lalu memunculkan es disekelilingnya. Es yang dimunculkannya itu kemudian berubah bentuk menjadi berbentuk pedang, dan tanpa pikir panjang lagi Raquille lalu menghempaskan pedang-pedang es tersebut ke arah pemimpin perampok itu.
Dengan mudah pemimpin perampok itu menepis serangan pedang es Raquille. Bohrneer kemudian berlari mendekati Raquille lalu melompat sambil mengayunkan kapak berapinya itu pada pemuda Elfman itu.
Serangan awal dari Bohrneer dengan mudah ditangkis oleh Raquille, namun tekanan dari serangan kapak tersebut membuat Raquille sontak langsung terhempas. Akibat dari serangan itu, kapak yang dipegang oleh Raquille terlihat mengalami retak karena efek dari serangan tersebut.
Tidak sampai disitu, perampok itu lalu kembali melakukan serangannya dengan mengayunkan kapaknya secara bertubi-tubi pada pemuda itu.
Raquille pun menghindari setiap serangan tersebut. Tetapi, efek dari serangan kapak perampok itu mengeluarkan percikan api yang langsung mengarah ke rumah-rumah warga.
“Ah sialan… Rumah-rumah warga.” Umpat Raquille melihat rumah-rumah warga yang terbakar karena serangan api dari kapak Bohrneer.
Tidak mau membuang kesempatan yang bagus saat pemuda itu mengalihkan pandangannya, pemimpin perampok itu kemudian meningkatkan kekuatan pada kapaknya, yang kemudian membuat kobaran api pada kapaknya itu menjadi lebih besar. Dia lalu dengan kuatnya mengayunkan kapaknya itu pada Raquille.
Secara refleks Raquille langsung menangkis serangan dari pemimpin perampok itu dengan menggunakan kapak yang dipegangnya. Seketika kapak yang dipegangnya itu dengan sekejap hancur berkeping-keping, serta membuatnya kembali terhempas.
Tak membuang waktu, Raquille kemudian berdiri kembali lalu membersihkan pakaiannya yang kotor akibat efek dari serangan tersebut.
“Hei… Coba serang aku lagi dengan seranganmu tadi.” Belum puas setelah terhempas dua kali oleh serangan pemimpin perampok tersebut, Raquille pun kini menantang pria itu untuk menyerangnya kembali.
Tanpa pikir panjang, Bohrneer langsung berlari dengan cepatnya ke arah Raquille sambil memutar-mutar kapaknya lalu dengan kuatnya mengayunkan kapak tersebut kembali ke arah Raquille.
Kali ini Raquille tidak tinggal diam, dia mengeluarkan serangan elemen angin yang efek kekuatannya tersebut membuat pemimpin perampok itu langsung terhempas dan sampai membuat rumah-rumah warga yang terbakar menjadi padam.
Kemudian Raquille juga membekukan tangan kanan Bohrneer yang memegang senjata sampai membuat kobaran api pada kapaknya tersebut padam.
Walaupun dengan tangan yang membeku memegang sebuah kapak, Bohrneer kemudian dengan cepat mengayunkan kapaknya ke leher Raquille bermaksud untuk memenggal kepalanya.
Namun, betapa terkejutnya pemimpin perampok itu melihat kapak yang diayunkannya tersebut tak bisa memenggal kepala pemuda itu.
“Sayang sekali… Kau tidak bisa melukaiku jika tidak mengaktifkan kekuatan dari senjatamu ini.” Dengan senyuman seringai Raquille merespon ekspresi terkejut dari pemimpin perampok itu.
Bagi ras Elfman dan beberapa ras keturunan campuran lainnya, senjata biasa tidak dapat melukai mereka sedikitpun. Hal ini karena fisik dari ras keturunan campuran berkali-kali lipat lebih kuat dibanding manusia biasa, sehingga hanya senjata suci atau sebuah senjata yang dialiri sebuah kekuatan yang mampu melukai fisik mereka.
Namun, walaupun kapak yang dipegang Bohrneer merupakan senjata suci, namun Raquille telah membekukan kapak tersebut sehingga Bohrneer tidak bisa dengan mudah untuk mengaktifkan kekuatan dari kapaknya tersebut.
Raquille kemudian melancarkan sebuah pukulan yang kuat pada perut pemimpin perampok itu sehingga membuatnya sangat kesakitan dan jatuh berlutut.
“Akh…!” Teriak pemimpin perampok itu merasa kesakitan.
Pemimpin perampok itu nampak mengeluarkan sedikit darah dari dalam mulutnya akibat pukulan tersebut.
“Waktunya kau untuk menyerah perampok,” ucap Raquille yang kini dengan ekspresi serius.
“Sialan… Dari awal aku melihatmu, aku memang sudah menduganya. Hei… Apakah kau salah satu dari ras rambut putih yang pernah datang kemari?” Tanya pemimpin perampok itu menduga sesuatu dari Raquille.
“Iya... Aku memang salah satu dari mereka. Tapi kali ini berbeda, kau tidak bisa lari dariku,” jawab Raquille mengancam pemimpin perampok dengan menggenggam erat pundaknya.
“Ukh… Kalau begitu jawab aku… Apa kau lebih kuat… Dari prajurit berambut putih yang datang sebelumnya?” Tanya Bohrneer sekali lagi padanya.
“Tentu saja aku lebih kuat darinya. Aku bahkan sekarang cuma sedang bermain-main dengan kalian semua para perampok,” jawabnya dengan nada yang mengejek pada pemimpin perampok gunung tersebut.
*
“Dia lebih kuat… Dan bahkan cuma sedang bermain-main? Jika begitu… Aku tidak punya pilihan lagi. Aku harus menggunakan kekuatan itu untuk bisa mengalahkannya,” gumam pemimpin perampok dalam hati sambil melihat kapaknya.
**
Pemimpin perampok itu kemudian sekali lagi mengayunkan kapaknya ke arah Raquille yang sontak membuat pemuda itu langsung melompat ke belakang menghindarinya. Pemimpin perampok itu lalu mengambil sebuah bom dari sakunya dan membantingnya ke tanah. Sontak sebuah asap yang tebal langsung keluar saat bom tersebut menyentuh tanah.
Dengan kesempatan itu, Bohrneer kemudian langsung melarikan diri dari pemuda tersebut.
Raquille yang tersenyum menyeringai di balik kepungan asap kemudian langsung mengejar Bohrneer yang melarikan diri dan menendangnya hingga terhempas.
“Akh…!” Teriak pemimpin perampok tersebut terhempas keluar dari kepungan asap yang dibuatnya.
Walaupun sudah sangat terdesak saat melawan Raquille, pemimpin perampok itu kemudian nampak berdiri kembali dan masih saja tidak mau menyerah dengan keadaannya.
“Kalau begitu kali aku akan melawanmu dengan menggunakan kekuatan pelepasan kedua dari senjata suci ini,” kata perampok itu dengan percaya diri dapat mengalahkan Raquille.
“Wah… Wah… Bagus sekali… Aku sangat penasaran mau melihat bagaimana bentuk kekuatan Ekdosimu itu.” Dengan santai Raquille merespon perkataan pemimpin perampok itu sambil mengibaskan tangannya, yang sontak langsung melenyapkan asap yang berada di sekitarnya.
Bohrneer pun kemudian langsung menguatkan genggaman tangannya. Tampak tangan yang beku memegang kapak tersebut terlihat bergetar.
“I defteri ekdosi… Tandvark the pull of chariot…” Dia mengatakan kata tersebut, yang sontak membuat es yang membekukan tangan serta kapaknya mencair.
Tiba-tiba saja kobaran api yang lebih besar lagi keluar dari kapak tersebut dan langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Apa itu...?”
“Kenapa dia terbakar…?”
“Kekuatan macam apa itu…?”
Orang-orang yang berada di tempat itu, sontak terkejut dan bertanya-tanya melihat apa yang terjadi pada pemimpin perampok itu.
“Itu adalah kekuatan yang berasal dari kapaknya. Dia mengalirkan kekuatan yang lebih besar dari kapak itu ke dalam tubuhnya untuk menjadi lebih kuat,” kata Raquille menjelaskan hal tersebut pada mereka.
“Nah… Mari kita lihat bagaimana penampilanmu sekarang,” lanjutnya.
Kini mereka semua lebih terkejut lagi, setelah melihat perubahan dari pemimpin perampok itu. Dia kini terlihat memiliki dua tanduk yang meruncing pada kepalanya, seperti layaknya tanduk dari seekor kambing. Terlihat juga perubahan pada kulitnya tersebut, yang kini berwarna kemerahan, serta kapak yang dipegangnya menjadi lebih besar dan diselimuti api hampir di setiap bagiannya.
“Hei… Kali ini apa kau bisa menghindari lagi seranganku?” Tanya pemimpin perampok tersebut.
Dengan sekejap mata pemimpin perampok itu langsung menghilang, yang membuat Raquille kini meningkatkan fokusnya.
“Kecepatannya meningkat,” kata Raquille terkejut.
Bohrneer kemudian secara mendadak menyerang Raquille dari samping, yang membuat pemuda itu dengan refleks langsung membuat sebuah dinding es untuk pertahanan.
Namun, dinding es itu seketika hancur saat ditebas oleh Bohrneer dan membuat Raquille terhempas sampai membuatnya terkapar di tanah.
“Ada apa…? Apa sekarang kau kehabisan akal untuk melawanku?” Tanya Bohrneer yang kini nampak meremehkan pemuda Elfman itu.
“Kalau begitu… Aku juga akan memakai senjataku. Tidak adil juga kan jika hanya kau yang memakainya.” Kata Raquille yang kemudian berdiri setelah terhempas oleh serangan Bohrneer.
Dia kemudian mengangkat tangan kirinya ke atas dan seketika muncul sebuah cahaya berwarna biru di sekitar tangannya. Cahaya tersebut perlahan mulai redup dan muncul sebuah pedang di tangannya.
“Oke… Sekarang aku mau melihat apa kapak itu bisa menandingi kekuatan dari pedang ini?” Kata Raquille yang sekarang siap melawan pemimpin perampok itu dengan menggunakan pedangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments